Masuk
Gerbang kayu ek hitam Klan Lian selalu tampak dingin, tetapi malam itu, dinginnya terasa seperti cengkeraman maut. Angin akhir musim gugur menerpa wajah Lian Yue, membawa serta aroma pahit dedaunan basah dan janji nasib buruk. Besok, fajar akan menyingsing pada usia delapan belas tahunnya, dan bagi gadis-gadis di Qingxia Realm yang gagal membangkitkan inti spiritual, delapan belas adalah batas antara kehidupan yang menyedihkan dan kematian yang direstui.
“Gadis tanpa inti spiritual tidak lebih berharga dari kotoran babi,” bisikan Lian Huayan—sepupu yang selalu menjadi bayangan sempurna—masih melekat di telinga Yue, seolah terukir langsung di tengkoraknya. Yue menunduk, mencengkeram erat lengan bajunya. Di usianya yang hampir genap, tubuhnya masih kurus, pakaiannya dari kain linen kasar yang kontras dengan sutra-sutra mewah para anggota klan lainnya. Ia bukan hanya tidak berbakat; ia adalah aib yang berjalan. Malam ini adalah penangguhan terakhir sebelum para tetua memutuskan: Tumbal ritual untuk sekte di Utara, atau dijual ke rumah bangsawan Timur sebagai selir kelas budak. Dia berjalan tanpa tujuan melewati halaman Klan Lian yang luas. Lampu lentera merah menggantung di koridor, tetapi cahayanya seolah enggan menyentuh Lian Yue. Ia merasa seperti hantu di rumahnya sendiri—dikecualikan dari kehangatan, diasingkan dari harapan. Langkahnya terhenti di sudut paling gelap kompleks klan. Di sana, tersembunyi di balik pohon ginkgo tua yang hampir meranggas, berdiri sebuah gudang penyimpanan kuno. Bangunan itu sudah ditinggalkan puluhan tahun, diselimuti lumut tebal dan mitos seram yang melarang siapa pun mendekat. Pintu gudang itu, yang seharusnya terkunci dan dirantai, kini setengah terbuka, seolah dihempas oleh napas angin yang terlampau kuat. Lian Yue mengerutkan dahi. Perasaan waswas dan penasaran bertarung di dadanya. Apakah ada seseorang? Maling? Atau—jangan-jangan—roh yang dilarang? Sejak kecil, ia selalu lebih tertarik pada hal-hal yang terlarang atau terlupakan, mungkin karena ia sendiri merasa seperti salah satu dari keduanya. Dengan jantung berdebar seperti genderang perang, Lian Yue melangkah masuk. Udara di dalam gudang terasa tebal, dingin, dan sangat kuno. Aroma debu, kayu lapuk, dan bau tinta yang sangat samar menyergap indra penciumannya. Di tengah tumpukan peti dan gulungan yang rusak, satu benda memancarkan aura yang berbeda. Di atas meja batu yang pecah, terbungkus kain sutra merah gelap yang tampak baru—kontras dengan lingkungan yang membusuk—teronggok sebuah lukisan panjang. Kainnya bukan sekadar pelindung, melainkan sejenis segel. Yue mendekat perlahan, napasnya tertahan. Kain itu terasa dingin di bawah jemarinya. Begitu dia menyentuhnya, sensasi pusing dan bisikan-bisikan aneh yang tak ia mengerti mulai menyerang indranya. Ini bukan hanya benda tua. Ini adalah... sesuatu yang disegel. Didorong oleh rasa penasaran yang mematikan, ia menarik ujung kain itu. Kain merah itu ternyata sangat rapuh. Jari telunjuknya tergores tepi kain yang tajam, meninggalkan sayatan kecil. “Ah—!” Yue meringis, refleks menarik tangan. Setetes darahnya yang hangat, darah yang selama delapan belas tahun dianggap "hambar" dan tak memiliki kekuatan, jatuh tepat ke tengah kain merah gelap itu. Saat darah Yue meresap, gudang itu bergetar hebat, bukan guncangan fisik, melainkan resonansi spiritual yang mencabut udara dari paru-paru Yue. Kain merah itu hancur menjadi debu, menampakkan lukisan di bawahnya. Itu bukan pemandangan alam, bukan pula naga emas keberuntungan yang biasa dipajang klan bangsawan. Itu adalah potret seorang pria. Matanya, meski hanya lukisan, tampak hidup—merah gelap, seperti warna darah yang membeku di malam bulan. Rambutnya hitam seperti malam pekat, dihiasi untaian perak halus. Wajahnya tampan tak terlukiskan, namun terkesan dingin, angkuh, dan penuh bahaya. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, begitu nyata, hingga membuat bulu kuduk Yue berdiri. Saat lukisan itu tersentuh darahnya, mata merah gelap di dalam kanvas itu berkedip. Cahaya hitam pekat, seperti tinta yang merembes ke dalam air, meledak dari lukisan itu. Cahaya itu bukan hanya memancarkan kegelapan, tetapi juga panas yang menyengat, energi yang begitu liar hingga membuat tubuh Yue menggigil tak terkendali. Yue terlempar ke belakang, punggungnya menghantam tumpukan gulungan tua. Napasnya tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Otaknya berdengung, dipenuhi suara-suara kuno yang berteriak. Tiba-tiba, suara-suara itu mereda. Hanya tersisa satu suara. Dalam. Dingin. Indah, tetapi mematikan. Sebuah suara yang terasa seperti sentuhan sutra di kulit telanjang. “Jadi kau… yang membangunkanku?” Dan kegelapan merenggut kesadarannya.Perjalanan menuju Celah Naga Tersembunyi adalah ujian sejati bagi Lian Yue. Daerah itu dikenal akan medan yang brutal: jalur pegunungan terjal, jurang dalam yang diselimuti kabut tebal, dan roh jahat yang mendiami hawa dingin. Energi Bayangan Bulan Lian Yue, yang merupakan energi gelap, menarik makhluk-makhluk itu seperti ngengat. Xuan Nightblade tidak membiarkan Yue sendirian sedikit pun. Ia berjalan di sampingnya, selalu sedikit di belakang, atau setengah melangkah di depan, auranya seperti perisai tak terlihat. Ia menggunakan energi Yue untuk menjaga kabut menjauh, tetapi itu berarti mereka harus tetap berdekatan. “Kabut ini diresapi dengan Spirit Qi yang mati,” jelas Xuan, suaranya pelan di tengah kesunyian pegunungan. “Itu melukai inti spiritual murnimu. Biarkan aku menutupi auramu dengan Bayangan Bulanku.” Ia mengulurkan tangan, dan kali ini, Yue tidak menolak. Tangan rohnya yang padat menyentuh punggung Yue. Seketika, rasa dingin kabut menghilang, digantikan oleh kehanga
Matahari terbit, mewarnai langit timur dengan gradasi merah tua dan emas, tetapi di hutan lebat itu, hanya sedikit cahaya yang mampu menembus kanopi daun purba. Lian Yue dan Xuan Nightblade masih berada di tepi sungai. Mereka telah merencanakan langkah selanjutnya: mencari Gulungan Kunci yang disebutkan oleh Elder Wen. Yue menatap Xuan. Pria itu tampak tenang, seperti patung yang diukir dari es dan perak. Ketampanannya sangat tidak manusiawi, dan aura gelap yang mengitarinya terasa begitu kuat setelah ia mengambil alih tubuh Yue semalam. “Ke mana kita harus pergi?” tanya Yue, suaranya pelan. Ia berusaha menjaga jarak fisik, meskipun tanda segel di pinggangnya terus-menerus memancarkan kehangatan yang mendesak. “Gulungan Kunci itu tidak akan berada di ibu kota atau sekte. Klan Lian menyembunyikan hal terpenting mereka di tempat-tempat yang dipenuhi energi spirit kuno,” jelas Xuan, matanya yang merah gelap menatap ke kejauhan. “Tempat terdekat yang bisa menyimpan rahasia leluhur
Keputusan sudah dibuat. Setelah ancaman Dewa Jinlong dan intrik Elder Wen, Sekte Bintang Surya terlalu berbahaya. Lian Yue harus mencari sisa gulungan kuno yang berisi detail ritual leluhur Klan Lian. Malam adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk melarikan diri tanpa terdeteksi. Lian Yue berdiri di depan cermin, mengenakan jubah gelap dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menyembunyikan tanda-tanda kebangkitan Bayangan Bulan. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan denyutan hangat di pinggangnya, tempat lunar mark Xuan bersinar redup. Xuan Nightblade muncul di belakangnya, auranya sedingin bayangan, tetapi matanya memancarkan kehangatan eksklusif untuk Yue. “Kau terlalu lama, Yue. Jika kau gagal bertindak cepat, mereka akan mengerahkan formasi pencarian spiritual,” bisik Xuan, suaranya seperti sutra dingin. “Aku tahu,” balas Yue, mencoba menenangkan detak jantungnya. “Tapi aku belum pernah menyelinap dari sekte elit. Aku takut.” Rasa takut yang jujur itu memicu reaksi insta
Setelah Dewa Jinlong menghilang, suasana di Sekte Bintang Surya bukan lagi sekadar hormat, melainkan ketakutan yang mencekam. Murid-murid memandang Lian Yue seolah dia adalah bom waktu berjalan, bukan gadis lemah yang mereka kenal sebelumnya. Yue kembali ke kamarnya, kakinya lemas. Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya masih berdebar kencang. Itu adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan makhluk setingkat Dewa, dan fakta bahwa Xuan mampu melindunginya hanya menegaskan betapa berbahayanya roh itu—sekaligus betapa ia membutuhkannya. Xuan Nightblade muncul sepenuhnya di hadapannya, auranya kini tenang, namun tatapan matanya yang merah gelap dipenuhi perhitungan. “Dinding di Sekte ini sudah terlalu tipis,” kata Xuan, suaranya dingin. “Kemunculan Jinlong adalah peringatan. Ia menguji seberapa cepat aku bangkit. Dan sekarang, mereka akan bergerak.” “Siapa yang akan bergerak?” tanya Yue, suaranya bergetar. “Semua orang. Dewa Jinlong akan mencari cara lain untuk menyegelm
Lian Yue terbangun di kamarnya yang sunyi di Sekte Bintang Surya. Bayangan ungu yang membawanya dari Lembah Bayangan Bulan telah menghilang, dan jubah yang ia kenakan sudah kering. Tubuhnya terasa berat, tetapi pada saat yang sama, ia merasakan lonjakan energi Bayangan Bulan yang stabil—semua berkat Kristal Darah dan intervensi Xuan. Namun, yang paling mendominasi adalah sensasi di pinggangnya. Lunar mark yang kini permanen itu terasa hangat, berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang hanya berdetak untuk dia. “Jangan bergerak terlalu cepat,” suara Xuan Nightblade terdengar dalam dan dingin di benaknya. Ia tidak perlu muncul untuk memancarkan dominasinya. “Energi segel sedang menyatu dengan Inti Bayangan Bulanmu. Setiap langkahmu kini memperkuat ikatan kita.” Yue mencoba duduk. Rasa lemas membanjiri dirinya. “Ini salahmu,” gumamnya, meskipun ia tahu protes itu sia-sia. Xuan muncul setengah fisik, duduk santai di ambang jendela kamar Yue, seolah ruangan itu adalah takhtanya.
Setelah Shenya menghilang dengan cekikikan terakhirnya, suasana di gua menjadi tegang. Energi gelap Xuan Nightblade terasa seperti kabut pekat yang siap meledak. Ia marah karena rahasianya—bahwa pemutusan ikatan melibatkan emosi dan hasrat—telah dibocorkan. “Lupakan omong kosong Rubah itu,” desis Xuan, tanpa perlu mengeluarkan suara. “Fokus. Kita harus menemukan Kristal Darah. Itu adalah sisa-sisa dari inti spiritual makhluk kuno yang kupaksa tunduk ribuan tahun lalu. Jika kau menyerapnya, inti Bayangan Bulanmu akan melompat setidaknya dua tingkat.” Yue mengangguk, tetapi pikirannya sibuk memproses informasi Shenya. Cinta dan hasrat. Itu adalah kelemahan Xuan, dan sekaligus kunci kebebasannya. Mereka keluar dari gua. Lembah Bayangan Bulan, sesuai namanya, dipenuhi bayangan yang menari. Yue mulai menggunakan energi Bayangan Bulannya untuk melihat dan bergerak lebih cepat. Ia harus mencapai jantung lembah. “Kau terlalu lambat. Gunakan bayangan di kakimu sebagai penopang,” instr







