로그인Darto berjalan terburu-buru, pria itu tanpa sadar menabrak kaki kursi meja di dekat ambang pintu hingga timbul suara gaduh.
Brak!"Aduh, kakiku! sakit sekali!" Keluh Darto sambil meringis memijiti kakinya yang kini terasa sakit dan nyeri.Amina yang tadinya menungging spontan langsung menarik tubuhnya ke samping gara-gara mendengar suara tersebut..Anto juga langsung beranjak duduk, begitu juga Devan ikut terjaga dari tidurnya. Pertama yang Devan lihat adalah Amina, wanita ituDi kediaman Darto, Amina tidur pulas di dalam kamarnya. Darto membuka mata dan dia melihat Amina sudah rebah di sebelahnya. Darto ingin buang air kecil, dia menyibak selimut dan turun dari atas ranjang menuju ke kamar mandi di dalam kamar tersebut. Saat melihat jam di dinding ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tadinya Darto pikir Yuyun juga merindukan dirinya sama seperti yang dia rasakan. Melihat keadaan rumah begitu tenang Darto tahu tidak ada seorang pun yang terjaga pada malam ini karena sudah lelah seharian bekerja.Darto keluar dari dalam kamarnya, niatnya bukan untuk mencari Yuyun tapi dia ingin mengambil beberapa makanan di ruang makan. Perutnya terasa lapar karena aktivitas yang dia lakukan sejak sore hingga malam. Di ruang makan Darto menarik kursi dan duduk di sana. Dia mulai menikmati makan malam.Tak lama setelah menyuap beberapa sendok ke dalam mulutnya dia mendengar suara pintu kamar terbuka, entah pintu siapa. Suara tersebut berasal dari ruang d
Yuyun dan Devan tinggal di dalam kamarnya. Amina merasa geram sekali, dia tidak mengira setelah sejauh ini kondisi hubungan antara Devan dengan Yuyun tetap sebaik sebelumnya, Amina pikir dia akan mendapatkan keuntungan ketika Darto dan Yuyun kepergok melakukan hubungan intim beberapa hari yang lalu.Amina berjalan menuju ke ruang makan, dia duduk di sana untuk menikmati makan malam. Tapi yang terjadi hatinya malah sakit sendiri karena Devan tak kunjung keluar dari dalam kamarnya. Amina pikir Devan akan merindukan dirinya.Tak lama setelah itu Wati tiba di rumah. Dia memarkir motor di sebelah rumah.“Semuanya sudah pada pulang, tapi kenapa suaranya nggak ada? Rumah sudah sepi kayak kuburan,” gumam Wati seraya melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang makan hanya ada Amina seorang diri. Amina sedang menikmati makan malam.“Tumben Mi, sendirian?” tanyanya pada Amina. Wati menarik kursi dan duduk di sana menemani Amina.Amina menghela napas panjang, dia menoleh ke sek
“Akh, Pak, uhhm, nghh, enak Pak, terus lumat Pak, masukin lidahmu ke dalam pepekku Pak, oukh, ssh, ah.”Amina terus mendesah keenakan tidak peduli mereka saat ini masih di meja makan.“Bu, ke kamar saja, ayo,” ajak Darto lagi. Akan tetapi Amina masih sibuk merem melek sambil meremas-remas buah dadanya sendiri, sementara kedua kaki mulusnya tetap mengangkang lebar.“Pak, nggak kuat aku, ssh, ukhhh, aahhh, Pak, kacangku, oukhh, hi-sap, oukhh, aahhh,” rintih Amina keenakan sambil memilin kedua puncak bukit kenyal mulus miliknya.Darto menatap Amina sambil berjongkok di depan liang intim Amina, posisi Amina sekarang bisa dikatakan hampir setengah telanjang. Kedua pahanya terlihat sangat putih bersih terbuka lebar-lebar, sementara sisi intimnya basah dan merah terus dilumat dan dikulum Darto. Bukit kembar yang kencang dan bulat nampak menarik ketika Amina sedang bergairah seperti sekarang. Wanita itu mendongak mengerjap nikmat sambil meremas-remas buah dadanya sendiri.
Anto mengemudikan mobilnya, sepanjang jalan Anto menguleni liang intim Amina karena Amina sangat suka dengan sentuhan jemarinya di sana. Anto baru melepaskannya saat mereka tiba di kediaman Darto sekitar pukul sembilan malam. Anto membawa mobilnya masuk ke dalam halaman lalu memarkirnya di garasi samping. Di sana Amina enggan turun dan malah memeluk kedua bahu Anto lalu melumat bibir Anto untuk memuaskan hasratnya karena enggan berpisah.Puas melumat bibir Anto Amina kembali duduk di kursi. “To, sebenarnya aku malas pulang ke rumah,” ujarnya dengan wajah menunduk.Anto tersenyum lalu turun dari dalam mobil, dia membukakan pintu mobil untuk Amina dari samping kiri. Anto melihat Amina belum membetulkan letak celana dalamnya, bulu-bulu kewanitaan Amina terlihat basah akibat ulahnya sepanjang jalan. Amina menggigit bibir bawahnya lalu menyentuh lengan Anto dan membawa tangan pria itu kembali menyentuh organ intimnya.“Tooo,” desisnya lirih seraya membuka pahanya lebar-lebar
Anto menyodok Amina dari belakang, sodokannya kian lama kian cepat, tubuh Amina sampai bergetar hebat akibat ulahnya.“Akh, akh, To, oukh, enak sekali, emh, terus To, sodok pepekku, oukhh,”“Bu Amina oukhh, nikmat pepekmu Bu, aku nggak tahan, oukhh, akh, ah,” Anto menuruti keinginan Amina, dia terus menyodok Amina hingga hari sore sampai-sampai liang intim Amina merah akibat ulahnya.Amina memeluk Anto dengan penuh kepuasan, duduk di atas pangkuan Anto dengan area intim menyatu. Anto melumat bibir basah Amina, Amina membalas lumatan Anto. Keduanya sama-sama puas.“To aku senang kamu selalu sedia setiap aku pengen digenjot, besok lagi ya?” bisik Amina seraya meyentuh pipi Anto. Berikutnya kembali mengecup lembut bibir Anto.“Iya, Bu, aku pasti mau, aku merasa beruntung Bu Amina yang seksi bersedia main beginian sama aku, rasanya nikmat dan memuaskan. Bu Amina sangat cantik dan seksi, ganas di ranjang,” desis Anto seraya menatap kedua mata Amina dengan penuh gairah
Sarinten celingukan melihat ke arah pintu samping ruang makan, biasanya tidak hanya satu orang yang datang mengambil makan siang. Tapi hari ini dia tidak melihat ada orang lain selain Nardi.“Kenapa? Malah celingukan Ten?” tanya Nardi pada Sarinten.Sarinten tidak menjawab tatapan matanya tetap tertuju pada pintu samping ruang makan. Sarinten menghela napas panjang karena tak kunjung ada orang yang masuk ke dalam.“Menurutmu kenapa? Ya nyari orang yang datang ke sini buat bantuin kita bawa makan siang ke peternakan, Nar. Masa kita berdua saja? Mana bisa bawa makanan sebanyak ini?” tanya Sarinten pada Nardi.Tak lama setelah itu muncul Juwanto dan Susanti. Mereka masuk ke dalam ruang makan. Nardi tidak berkata apa-apa. Sarinten melihat dua orang pria di dalam ruang makan. Pikir Sarinten, Nardi dan Juwanto bertengkar memperebutkan Susanti dan karena itu wajah Nardi babak belur sebelum sampai di kediaman Darto. Wajar saja Susanti jadi bahan rebutan karena Susanti memang
“Iya, Pak, udahan. Aku takut Mas Devan tahu aku di sini sama Bapak.” Ucapnya pada Darto.Darto tidak bisa menahan Yuyun agar terus tinggal di sisinya, Darto tidak lupa Yuyun sudah memiliki seorang suami. Darto hanya melihat Yuyun memakai baju mandinya, dan membiarkan Yuyun pergi meninggalkan
Devan masuk melewati pintu samping, dia mendengar suara sibuk Sarinten di dapur. Iseng-iseng Devan melihatnya ke sana, Sarinten kaget sekali ketika Devan sudah berada di sebelahnya tanpa terdengar suara langkah kaki. Devan menyentuh kedua sisi pinggang Sarinten mencium pipi kanannya tanpa permisi
Sampai di peternakan dia menurunkan Narti di sana, kebetulan Samsudin juga baru tiba. Dia turun dari motornya, Narti juga turun dari boncengan Anto. Samsudin menatap gagahnya suami Narti. Dulunya Anto tidak berpenampilan seperti itu karena menjadi supir daging dan susu, sekarang dia menjadi supir
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe







