Share

Bab 49 Mujur

Author: Jackie Boyz
last update publish date: 2026-04-17 08:19:28

Darto berjalan terburu-buru, pria itu tanpa sadar menabrak kaki kursi meja di dekat ambang pintu hingga timbul suara gaduh.

Brak!

"Aduh, kakiku! sakit sekali!" Keluh Darto sambil meringis memijiti kakinya yang kini terasa sakit dan nyeri.

Amina yang tadinya menungging spontan langsung menarik tubuhnya ke samping gara-gara mendengar suara tersebut..

Anto juga langsung beranjak duduk, begitu juga Devan ikut terjaga dari tidurnya. Pertama yang Devan lihat adalah Amina, wanita itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 73 Ajakan Wati, desahan yang menjengkelkan

    Amina berdiri di ruang tengah hanya dengan sehelai kain. Tak lama kemudian Wati masuk ke dalam, dia tidak terkejut melihat Amina berdiri dengan setengah telanjang. Wati memilih mengabaikan Amina dan langsung masuk ke dalam kamarnya.Di dapur Sarinten baru selesai menyiapkan makan malam, wanita itu segera membawanya ke ruang makan.“Apa sih tadi ribut-ribut? Kayak suara Devan sama Wati? Mereka bertengkar?” Gumam Amina seraya memutar badan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Amina melewati ruang makan. Dia melihat Sarinten sedang sibuk menata menu makan malam di meja makan.“Sudah siap, Ten?” Tanya Amina pada Sarinten.Sarinten mengalihkan pandangan matanya dari meja makan ke arah Amina yang sedang berdiri tak jauh darinya. Dia melihat buah dada Amina hampir keluar dari dalam kemben kainnya. Terlihat kencang dan sangat bulat menonjol. Belum lagi lekuk tubuh seksi mirip gitar spanyol. Kulit Amina yang bersih dan mulus, Sarinten merasa dirinya sendiri tidak ada apa-ap

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 72 Asem

    Darto menarik celana dalam Sarinten ke samping menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus organ intim berbulu milik Sarinten. Baru beberapa kali usapan Darto merasakan jemari tangannya sudah banjir dan basah penuh lendir.“Becek sekali Ten, mau aku genjot sekarang? Mumpun sepi Ten.” Darto menarik Sarinten agar berdiri menghadap padanya. Sarinten buru-buru mematikan kompor, bibir pelayan dan majikan itu saling melumat satu sama lain. Darto menarik turun celana dalam Sarinten lalu mengikat ujung daster Sarinten agar tinggal di atas pinggang wanita itu. Setelah itu dia menaikan satu kaki Sarinten sambil mendorong masuk tongkatnya yang sudah mengeras.“Oukhhh, Ten agak susah!” Keluh Darto karena kejantanannya gagal memasuki liang intim Sarinten dan malah meleset ke depan kadang ke samping.“Sebentar Pak,” Sarinten menyandarkan punggungnya pada meja dapur sembari menumpukan satu kakinya di atas kursi. “Ayo Pak, sekarang! Genjot aku Pak! Ak

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 71 Aku Ndak mau

    Santi langsung menarik tangannya dari pinggang Devan, dia enggan melayani Devan jika Devan meminta sepanjang malam.Devan sendiri terkejut lantaran sikap Santi mendadak berubah drastis. “Kenapa San? Apa aku salah ngomong?” Tanya Devan pada Santi. Devan segera bangun dari posisi tidurnya. Santi lebih dulu bangun dan sekarang sudah memakai bajunya kembali.“Ya salah Mas! Masa mau sepanjang malam? Aku ya ndak bisa to! Aku besok harus kerja! Harus ke peternakan! Kalau ndak kerja aku makan apa Mas?” Ketus Santi dengan bibir cemberut.Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa bersalah karena tidak mengetahui seperti apa kondisi Santi. Serta Santi yang tadinya terlihat sangat mengaguminya mendadak berubah drastis.“Maaf, San. Jangan marah ya? Aku akan pulang setelah ini. Aku pakai baju dulu!” Devan dengan tergesa-gesa segera memakai bajunya.Santi malah melengos ke arah lain, gadis itu duduk memeluk kedua lututnya dan tidak peduli dengan ucapan Devan barusa

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 70 Desahan di rumah kos

    Puas menghisap kedua bukit kembar Santi, Devan beralih berjongkok di depan rok Santi.“Mas Devan? Mau ngapain? Mas, jangan!” Tolaknya saat Devan menarik turun celana dalam yang membalut organ intim Santi. Devan menatap organ intim Santi yang ditumbuhi oleh bulu lebat tersebut. Kedua buah dada Santi juga masih terekspos di luar kaos akibat ulah Devan barusan. Devan menatap penampilan Santi yang sekarang, kulit Santi yang putih itu, terlihat sangat menggairahkan. Tubuh Santi juga lebih sekal dan padat jika dibandingkan dengan tubuh Mita yang kurus, keceng, kerempeng. Devan menyeruak bibir liang intim Santi, pria itu mengelusnya hingga cairan kewanitaan Santi membasahi jemarinya.“Ouhhh, Mas, jangan, ouhhh, ampun, Mas.” Santi merintih sambil memegangi dinding di sebelahnya. Kedua kakinya terasa lemas sejak Devan menghisap kedua bukit kembar miliknya. Kini Santi sungguh ingin dipuaskan oleh Devan.“Basah banget San,” Devan kembali berdiri lalu melumat bibir Santi seraya teru

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 69 Mulusnya Susanti

    “Loh, Ten, kok kamu? Karyawan yang biasa ngantar ke sini mana? Kan ada banyak di sana. Lindar, Narti, Santi, terus siapa lagi itu, banyak di sana!” Serunya pada Sarinten seolah dia enggan menerima makanan dari pelayan rumahnya itu.“Bapak kenapa? Biasanya di rumah juga aku yang layani. Ini tumben malah protes? Ya sudah Rinten bawa balik ke belakang ya? Nanti aku suruh Narti yang antar ini ke Bapak.” Ujarnya seraya membawa rantang tersebut kembali.“Gimana to! Ya jangan! Aku sudah kelaparan! Sudah bawa sini!” Darto mengambil rantang tersebut dari genggaman tangan Sarinten lalu segera menyantap makan siangnya.Sarinten berniat kembali ke ruangan di mana karyawan sedang berkumpul. Baru memutar badan Darto segera memanggilnya.“Ten! Masuk! Malah pergi! Mau ke mana buru-buru?” Tanya Darto padanya.“Mau merapikan barang-barang Pak, seperti biasa aku bawa balik ke rumah.” Ujarnya.“Jadi aku makan sendirian?”“Iya, Pak. Bapak mau Rinten temani?” Tawarnya karena b

  • Lika-liku Cinta Terlarang   Bab 68 Ya kamu, masa sapi?!

    ***Di sisi lain, Darto sudah berada di peternakan. Pria itu menatap laporan hasil penjualan susu dan daging yang dijual hari ini dari peternakan miliknya. Hatinya merasa tidak tenang. Dia pikir Yuyun akan datang ke peternakan seperti pesan darinya beberapa hari lalu pada Yuyun. Malahan pagi ini Yuyun memilih mengabaikan dirinya di kursi meja makan.“Kapan kira-kira Yuyun mau menerimaku seperti beberapa hari lalu? Belakangan ini meski aku memaksa dan dia mau melayaniku itu pun dia lakukan karena terpaksa. Rasanya nggak enak! Aku mau Yuyun yang meminta seperti saat pertama kali aku sentuh tubuhnya.” Gumam Darto pada dirinya sendiri.Di kandang, Narti dan Samsudin sedang bekerja, kebetulan mereka berada di kandang yang sama. Nardi juga ada di sana ikut membersihkan kotoran sapi bersama Samsudin.“Sudah semuanya San?” Tanya Narti pada Santi.“Iya Mbak, sudah semuanya.” Santi memeriksa tabung susu yang mereka bawa dalam kereta dorong. Semuanya sudah terisi penuh.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status