Partager

Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!
Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!
Auteur: Kuldesak

Tempat Asing

Auteur: Kuldesak
last update Date de publication: 2026-05-07 23:25:13

“Ugh! Susah sekali masuknya!”

Suara itu terdengar jauh dan samar, seolah bergema dari ujung lorong panjang yang gelap.

“Dorong terus, paksa!” seru suara itu lagi.

Kepala Vania terasa seperti baru saja dihantam benda tumpul berkali-kali, berat dan denyutnya menjalar hingga ke pelipis. Kesadarannya masih sangat kabur. Terakhir yang ia ingat, ia masih berada di ruang operasi. Dan setelah itu, semuanya terasa gelap.

Iya… pasti ia pingsan. Dan orang-orang di sekitarnya sedang mencoba untuk menolongnya.

Namun entah mengapa… rasanya ada yang janggal.

Kenapa tidak ada bau alkohol atau antiseptik? Yang menyapa penciuman Vania justru aroma tanah basah, batu lembap, dan karat besi.

Dan ... ada satu aroma lagi yang sangat Vania kenali. Bau anyir darah segar.

Deg!

Jantung Vania seketika mencolos.

“Cepat masukkan! Sebelum dia sadar!”

Tiba-tiba, sesuatu yang keras, dingin, dan licin menekan bibirnya dengan kasar. Sebuah benda bulat didorong paksa masuk ke dalam mulutnya, menembus hingga nyaris menyentuh tenggorokan.

“Mmgh—!” Vania tersedak hebat.

Perutnya berkontraksi menahan refleks muntah yang menyerang begitu keras sampai matanya berair.

Ini sama sekali bukan tata cara medis. Tidak ada tenaga kesehatan yang memasukkan alat atau obat dengan cara sekasar ini.

Dengan sisa tenaga, Vania memaksa kedua matanya terbuka. Pandangan itu buram, tapi sukses membuat napas Vania tercekat.

Ini bukan langit-langit putih rumah sakit. Di atasnya hanya ada batu hitam yang retak, dengan lumut di sela-selanya.

Cahaya obor kecil di sudut ruangan membuat tempat itu remang, dingin, lembap, dan pengap. Tempat ini adalah sebuah penjara bawah tanah.

Vania membelalak panik. Kenapa dirinya harus berada di tempat ini? Apakah ia baru saja melakukan sesuatu kesalahan yang fatal?!

Di sela-sela kepanikan dan kebingungan itu, ujung mata Vania tak sengaja menangkap sesuatu di sudut ruangan.

Di balik jeruji besi berkarat, ada beberapa sosok bayangan yang tengah dirantai.

Salah satu yang bisa Vania lihat, dia memiliki bahu bidang. Di atas kepalanya, sepasang telinga runcing bergerak-gerak. Sisanya, mereka berdiri lebih jauh, tersamarkan oleh kegelapan.

Belum sempat otak Vania memproses, sepasang tangan besar tiba-tiba menyambar lehernya.

“Ugh!”

Cekikan itu begitu kuat dan tiba-tiba, memutus paksa aliran udara ke paru-paru Vania.

“Dia membuka mata!” seru seorang pria.

Vania menatap kabur ke depan. Seorang pria berambut pirang kini berjongkok di hadapannya.

Wajah pria itu tampan, nyaris sempurna bak pahatan patung, tetapi sepasang matanya menatap Vania dengan sorot kosong yang dingin.

Tidak ada belas kasihan di sana. Hanya ada kekejaman.

“Apa? Bagaimana bisa dia hidup lagi?!” Kali ini suara seorang perempuan terdengar melengking dari arah belakang. “Dicoba lagi!”

Dengan susah payah, Vania menggerakkan bola matanya. Seorang wanita berambut hitam panjang berdiri di dekat pintu besi

Gaun wanita itu mewah dan terlalu elegan untuk tempat sekotor ini. Wajahnya cantik rupawan, tetapi sorot matanya dipenuhi kebencian.

“Telan ini, Violetta!” bentak si pria pirang.

Siapa Violetta…?

Dalam keadaan tercekik dan kesulitan bernapas, Vania masih sempat kebingungan. Rasanya ia ingin berteriak bahwa ia bukan Violetta dan mereka telah salah orang. Tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

Tangan pria itu justru semakin kuat mencekik lehernya, sementara tangan satunya lagi memaksa sebuah kapsul masuk lebih dalam ke mulut Vania yang entah sudah keberapa.

“Ayolah, Violetta. Jangan mempersulitku. Aku hanya ingin menolongmu.”

“Iya, Kak, jangan melawan, Kakak,” ujar Ophelia. “Ini demi kebaikanmu sendiri.”

Tepat pada detik itu, kapsul di mulut Vania terdorong masuk menembus kerongkongan.

“Uhhh!”

Rasa panas seketika menjalar liar dari tenggorokan hingga ke dadanya. Tubuh Vania menegang kaku. Aroma dan rasa yang menempel di lidah langsung membuatnya tahu betul itu apa.

Rasa pahit, tajam, dan khas almond pahit.

Sianida.

Mereka bukan sedang berusaha menolongnya, lebih tepatnya, mereka ingin membunuh Vania!

Kepanikan merayap, jantung Vania berdetak kacau.

Tapi tubuhnya tidak mampu merespons. Tangannya hanya bergetar di atas lantai batu. Jemarinya mencoba mencakar, tapi tak bertenaga.

“Lepas…!”

“Diam!” bentak Rayner, justru mempererat cekikannya.

Pandangan Vania mulai berkunang-kunang, dunia terasa berputar. Tubuhnya semakin melemah hingga ia tidak mampu lagi sekadar mengangkat tangannya sendiri.

Tangan Vania pun jatuh lunglai ke lantai batu.

“Ugh… tolong…” Rintih Vania pelan.

Tak ada jawaban.

Hanya tekanan di leher yang semakin kuat.

Lalu Vania teringat. Tadi, sebelum dicekik, ia sempat melihat sesuatu di sudut ruangan. Dengan sisa tenaga, Vania memalingkan kepalanya ke samping. Lehernya nyaris tak bisa bergerak, tapi cukup untuk membuat matanya kembali menangkap sudut itu.

Mereka masih di sana. Lycan, pria bertelinga serigala itu menatapnya. Sorot mata Lycan begitu dingin. Penuh kebencian yang begitu kentara.

Apakah tidak ada satu pun yang berniat menolongnya…? Apakah yang sebenarnya sudah ia lakukan sehingga mereka sangat ingin membunuhnya?

Vania ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas patah yang menyakitkan.

Jadi beginikah akhirnya? Mati di penjara bawah tanah yang asing, diracun oleh orang-orang yang bahkan tidak ia kenal.

Kegelapan perlahan menelan kesadaran Vania. Pelan, namun pasti.

Dan, tepat di detik Vania memutuskan untuk menyerah…

Ting!

Suara nyaring berdenting. Memecah keheningan. Cahaya merah muda berpendar dari udara kosong. Lalu sesosok makhluk kecil melayang turun tepat di depan wajah Vania.

Mahkluk itu memiliki sepasang tanduk mungil dan sepasang sayap kelelawar mini. Senyum mahluk itu terlalu ceria untuk situasi seperti ini.

[Halo, Tuan Rumah!]

Suara itu langsung masuk ke dalam kepala Vania, bukan lewat telinga.

Vania membeku.

[Perkenalkan, namaku Sistem Eros Yang Agung!]

Makhluk itu berputar riang.

[Melihat nyawa Tuan Rumah terancam, Sistem memberikan misi pertama: tampar Rayner, pria menyebalkan itu. Hadiah: satu nyawa tambahan!]

Vania menatap makhluk kecil itu. Menatap Rayner yang masih mencekiknya. Menatap makhluk itu lagi.

Otak Vania yang nyaris mati tersentak kembali.

Hah?! Misi?!

Jangan katakan ... ia masuk ke dunia game?!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    TAMAT

    WUUUSHHH! BLAAAAAARRR!Sensasi ditarik dengan kecepatan cahaya melintasi pusaran ruang dan waktu membuat perut Vania seolah diaduk-aduk. Tubuhnya terasa ditarik ke jutaan arah yang berbeda.Begitu kilatan cahaya emas yang membutakan itu mereda, kakinya kembali berpijak pada sesuatu yang sangat keras dan dingin.Angin segar yang membawa aroma magis bunga teratai langsung menyapu wajahnya, membersihkan paru-parunya dari sisa polusi dan bau kaporit.Vania membuka kelopak matanya lebar-lebar. Ia tidak lagi berada di apartemen tiga puluh meter perseginya yang berantakan, apalagi di rumah sakit.Ia berdiri tegak di tengah-tengah aula kristal raksasa yang memancarkan pendaran galaksi. Mimbar tinggi dengan enam singgasana raksasa bertahtakan es, karang, magma, giok, dan kristal matahari menjulang anggun di hadapannya.Mereka kembali. Kembali ke jantung Elysium Court."Apa... bagaimana bisa?" Vania terengah-engah.Ia menunduk dan terkesiap melihat pakaian pasien rumah sakit tipis yang tadi di

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lima Suami, Satu Ranjang

    Seolah menjawab pertanyaan Vania, seluruh bangunan apartemen lantai dua puluh itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa bumi magnitudo tujuh. Kaca balkon bergetar keras hingga retak.Dari balik bayangan malam di luar balkon, sebuah tangan batu raksasa merobek terali besi pengaman apartemen Vania dengan sangat mudah seolah itu hanya ranting kering.TRANG! KRAAAK!Gargantua menyusutkan wujudnya secara paksa agar bisa memanjat masuk melalui pintu kaca balkon. Raksasa itu menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak plafon gipsum apartemen."Vio! Aku sangat merindukanmu!" suara bariton Gargantua menggelegar, membuat seluruh kaca piring di lemari dapur Vania berdenting keras. "Gedung kotak-kotak bersusun ini sangat rapuh, aku nyaris meruntuhkannya saat memanjat dari jalanan di bawah sana!""Kau memanjat dinding apartemen dari lantai dasar sampai lantai dua puluh dari luar?!" Vania membelalakkan matanya ngeri, membayangkan kehebohan warga saat melihat rekaman CCTV yang akan viral

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Diserbu Para Suami

    VROOOM! CIIIIT!Mobil sedan hitam milik Vania berhenti mendadak di area parkir basement apartemen mewahnya, menciptakan decitan ban yang melengking memecah kesunyian malam ibu kota.Di kursi penumpang depan, Orion mencengkeram dashboard plastik mobil itu dengan rahang mengeras. Wajah sang Kaisar Naga terlihat agak pucat di bawah temaram lampu parkir yang redup."Benda besi ini adalah monster paling buruk, lambat, dan paling berisik yang pernah kutunggangi," geram Orion, berusaha menarik sabuk pengaman modern itu dengan kasar hingga nyaris robek. "Dia berteriak, berguncang di setiap tanjakan, dan baunya seperti sisa pembakaran minyak bumi rendahan. Jika ini di Elysium, aku sudah melelehkannya menjadi abu sejak roda pertamanya berputar!""Berhentilah mengeluh, Kadal! Kau sendiri yang bersikeras duduk di depan demi mendominasi ruang pandang!" sahut Lycan dari kursi belakang.BZZZT... KLIK! BZZZT... KLIK!Raja Serigala itu sama sekali tidak memedulikan ketegangan Orion. Lycan justru as

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Dua Raja Abyss Yang Menyamar

    "Singgasana? Di dunia ini, singgasanaku adalah apartemen berukuran tiga puluh meter persegi, dan kau tidak akan menyentuh satu inci pun darinya malam ini!" desis Vania tajam, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada zirah Orion.Sayangnya, tubuh sang Kaisar Naga itu terasa seperti dinding baja padat yang tidak bergeming sedikit pun."Oh? Kau menolakku, Istriku?" Orion justru menyeringai semakin lebar, merapatkan pelukannya hingga Vania nyaris tidak bisa bernapas. Mata merah darahnya menatap nyalang ke sekeliling kamar VIP yang berantakan. "Lalu di mana kau tidur? Di atas ranjang putih pucat yang berbau kematian ini? Aku bisa menghancurkannya sekarang juga dan membuatkan ranjang dari emas murni untukmu.""Berhenti memonopolinya, Kadal Sombong!" raung Lycan dari sudut ruangan.WUSHHH!KRAAAK!Raja Serigala itu mengayunkan pedang esnya, menciptakan gelombang udara beku yang langsung membekukan selimut rumah sakit di atas ranjang Vania."Dunia ini terlalu rapuh, Betina!" seru Ly

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tamu Tak Diundang

    BZZZT...TRING!Layar LED raksasa di seberang jalan itu berkedip keras satu kali, lalu kembali normal. Grafis epik dan wajah sang Kaisar Naga lenyap tanpa jejak, digantikan oleh tayangan iklan mobil keluaran terbaru yang bergerak monoton seolah tidak pernah terjadi apa-apa."Tidak mungkin..." Vania mengusap wajahnya dengan kasar. "Otakku benar-benar sudah rusak. Ini pasti halusinasi."Namun, bantahan logis di kepala Vania langsung dipatahkan saat benda pipih di dalam saku jaketnya bergetar hebat.DRRRTTT... DRRRTTT!Vania merogoh saku jaketnya dengan tangan gemetar. Layar ponselnya tidak menampilkan notifikasi pesan biasa. Alih-alih antarmuka modern yang familier, layar itu didominasi oleh kotak dialog berwarna emas dengan font purba khas Administrator Abyss.[Proses Unduhan Realita: 10%...] [Menyinkronkan Koordinat Wadah Utama...]"Sistem?! Bagaimana mungkin program game bisa meretas ponselku secara langsung?!" desis Vania panik.Matanya menyapu layar dengan cepat. Ia mencoba menekan

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Tiga Hari Berlalu

    Jari telunjuk Vania yang bergetar melayang di atas layar ponselnya. Ragu, takut, namun didorong oleh keputusasaan yang tak terbendung, ia akhirnya menekan ikon aplikasi berwarna emas tersebut.Layar menjadi hitam sejenak.Sebuah alunan musik instrumen bergema dari speaker ponsel. Nada yang seharusnya terdengar megah dan epik itu terasa hampa di telinga Vania.Itu hanya versi MIDI digital dari paduan suara ribuan roh cahaya yang menyambutnya di Elysium Court.Layar memunculkan teks loading dengan font yang sangat ia kenal.[Menyinkronkan Data... 99%]Menu utama terbuka. Terdapat opsi Mulai Petualangan, Galeri Karakter, dan Pengaturan. Dengan napas tertahan, Vania menekan Galeri Karakter.Deretan ilustrasi dua dimensi muncul di hadapannya.Lycan dengan zirah bulu serigalanya, Zephyr dengan senyum liciknya, Aegir yang memegang trisula, Gargantua yang menjulang besar, dan di tengah... Orion, dengan rambut putih dan mata merah darahnya.Vania menyentuh wajah Orion di layar. Layar kaca yang

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Darah dan Permohonan

    “Panas… Tolong hentikan air panas ini!” Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap. “Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, men

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lembah Abyss

    Vania menatap telur hitam berukuran masif di hadapannya. Serat merah di cangkangnya berdenyut. Ini bukan sekadar barang sitaan. Vania tidak peduli seberapa bahayanya telur yang dikatakan oleh sistem. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari tempat ini. Membawa serta ke empat pria yang ma

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Lima Abyys

    "Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan. “Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?” Tatapan Lycan berubah. Vania melirik ke arah A

  • Lima Suami Buas Itu Tak Ingin Melepaskanku!    Perintah Sang Dokter

    “Merawat mereka dengan cinta dan kasih sayang?” Suara Vania naik setengah oktaf. Ia menatap gumpalan merah muda di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja dicekik, diracun, lalu hampir mati dua kali. Dan sekarang kau menyuruhku menjadi perawat berhati malaikat untuk monster yang jel

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status