LOGINAfter a she-wolf who is the only child of the Alpha and Luna of her pack is burdened with high expectations, she feels overwhelmed and flees: heading from the werewolf territory and into human territory to start a new life. In this new life, she becomes an influencer and falls in love with a CEO and everything is just how she had always wanted; only for her to receive a text from an unknown person that would tear her whole life back to the ground, forcing her to return to her pack and be who she was truly meant to be: the female Alpha!
View MoreMatahari telah condong ke arah barat. Langit biru sudah berubah warna menjadi jingga. Sinar mentari mulai redup. Masih tampak cantik di langit yang luas.
Seorang wanita berparas ayu usai memberi privat pada beberapa murid-muridnya, tentang pelajaran dan pekerjaan rumah yang diberikan guru disekolah."Untuk pertemuan sore ini, Kakak Aisyah akhiri ya adik-adik, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka serempak.Sikap lembut yang dimiliki Aisyah membuat anak-anak menyayanginya seperti kakak sendiri. Tidak ada upah untuk pekerjaannya. Ia lakukan semua dengan ikhlas.Kehidupannya yang sendiri tidak menjadikan semua itu beban. Ia akan terus berusaha mewarnai hidupnya dengan kegiatan yang bermanfaat.Aisyah menarik tas kecil selempangnya lalu menata kembali meja dan kursi yang telah dipakai. Didekat balai desa, ada sebuah tempat untuk Aisyah mengajar. Meski tidak tidak terlalu luas. Cukup untuk menampung banyak muridnya. Dibanding kontrakan miliknya.Setelah anak-anak mencium tangan Aisyah, mereka kembali pulang. Ia pun menyusulnya. Wajahnya yang cerah membuat ia tampak terlihat cantik meski tanpa make up.Wanita itu berjalan melewati tepi jalan, biasa bersenandung dengan bacaan sholawat-nya yang merdu.Beberapa saat – ia tidak bisa membuka mulutnya, sebuah sapu tangan putih membungkamnya. Tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri.Beberapa jam kemudian. Setelah obat bius tidak lagi bekerja – kedua matanya terbuka. Ia melihat tubuhnya terbujur dilantai tanpa alas. Kedua tangannya terikat."Lepaskan! Kumohon!"Ia melihat kondisi tubuhnya lemah, berusaha keras melindungi diri dari pria yang tak dikenalnya. Berdiri, membawa cambuk berupa sabuk yang baru ditarik dari celana yang dipakai.Satu cambukan mengenai tubuhnya. Gadis itu menjerit kesakitan. Ia menarik ikatannya dan terlepas.Ia segera bersimpuh meminta ampun padanya. Tak sedikitpun pria berotot kekar itu menggubris. Malah ia menendang tubuh Aisyah.Pria itu menarik rambutnya yang menjuntai dan melepaskannya dengan kasar. Hingga kepala-nya terbentur serta tubuhnya pun ikut terjungkal.Kedua tangan sang wanita saling menyilang, melindungi bagian tubuh dengan kedua paha mengapit, dalam kungkungannya sendiri.Tak ingin hidupnya akan sia-sia di tangan pria yang berdiri tegap – memandangnya dengan tatapan ganas itu.'Apakah pria ini berniat membunuhku?' batinnya terus bertanya dengan tubuh gemetar."Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan!" gertaknya dengan bengis.Entah apa yang sedang terjadi saat ini. Bulir air mata yang semula menggenang di pipi, berjatuhan tiada henti.Begitu cepat kejadian itu, hingga setelah dia sadar. Sudah berada diperangkap macan jantan yang ganas."Tuan, tolong. Sebenarnya Anda ini siapa? Dan kesalahan apa yang saya perbuat hingga Anda menyiksa saya seperti ini?" tanya Aisyah, wanita berusia 22 tahun, bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran besar di kota Jakarta – sedikit waktunya ia luangkan untuk mengajar anak-anak."Setelah aku melakukan semua yang aku inginkan, kau akan mengetahui letak kesalahanmu Aisyah Sarasvati!" tukasnya, ia masih menggeleng tidak mengerti.'Pria itu mengenalku?' batinnya.Ia berjalan ke arahnya, dan membuka perlindungan tangannya yang sudah lemah, ia menggenggam kedua tangan Aisyah dengan satu genggam tangan, menarik dan melemparnya ke atas ranjang."Tidak! Jangan! Jangan lakukan apapun terhadap saya! Kumohon Tuan!" Tubuhnya sudah penuh luka, dan kini pria itu hendak melecehkannya jua. "Lindungi hamba Ya Rabb ..." pintanya pada Sang Pemberi Hidup."Tidak perlu mengadu pada Tuhan, kamu itu wanita biadab! Iblis bertopeng malaikat!""Astaghfirullah ... Ucapan Anda menyakiti saya. Tolong jangan nodai saya Tuan, kumohon ..." lagi, pintanya dengan berteriak pada pria yang sudah melepas sebagian pakaiannya.Usaha Aisyah berakhir sia - sia. Tenaga wanita tidak akan bisa melawannya. Ia terlalu lemah untuk bisa melindungi dirinya sendiri."Tolong!" teriaknya serak, suaranya sedikit parau.Hingga sebuah gulungan kain menjejali mulutnya. Ia tidak bisa berbuat apapun lagi. Selain rintihan dalam tenggorokan. Bulir air mata sudah membanjiri pipi Aisyah.'Manusia kejam!' umpatnya dalam hati. Ia memperhatikan wajah pria itu -- terlihat ia seperti bukan orang biasa. Tidak ada dalam impiannya – jika kelak mahkota indahnya akan diberikan pada pria yang bukan mahramnya. Harapannya sia - sia.Bercak darah sudah menodai sprei berwarna putih. Isak tangis yang menjadi -- mengiringi luapan kesedihannya. Ia merintih dalam hati menahan sakit.Pria itu tidak memberi jeda di tiap ambisinya, di otaknya hanya kebencian. Tidak ada gairah apapun untuk menikmati tubuhnya. Hingga tersadar, ada sesuatu yang berbeda. 'Ah sudahlah!'Aisyah hanya bisa menjerit dalam hati. Ingin meloloskan diri namun ia terlalu lemah."Ternyata kamu masih perawan!" ucapnya lirih tak percaya. Ia memicingkan mata. Merasa senang -- perasaan sesak di dadanya mulai terbalaskan.Pria itu melihat sinis kearahnya. 'Ini baru permulaan, kamu akan merasakan sakit luar biasa pada kehidupanmu mendatang!'Wajah pria itu masih terlihat penuh dendam. Ia menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Entah apa yang dipikirkan saat ini. Tak dapat Aisyah menerkanya. Pria berotot itu menarik kain di mulutnya, ia buang begitu saja. "Apa kamu belum puas memperlakukan aku seperti ini! Hah!" jerit Aisyah setelah mulutnya bisa mengeluarkan suara, ia mengharapkan kejelasan tentang perbuatan pria brengsek itu."Sudah diamlah! Aku muak mendengar suara teriakan dan tangisanmu!" bentaknya kasar.Gegas, ia menarik selimut dan menutupi tubuh Aisyah yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.Pria dengan tubuh exotic itu melenggang menarik handuk menuju kamar mandi tanpa merasa bersalah."Pria brengsek!" umpat Aisyah. Tidak ada gunanya ia berteriak lagi, pria itu acuh. Meski pria itu memiliki wajah dan bentuk tubuh yang istimewa, namun semua sudah tertutup oleh kepribadian buruknya.Beberapa saat ia keluar dengan tubuh yang sudah bersih, memakai pakaian seperti orang terhormat. Segera ia memungut pakaian yang berserakan di lantai dan melemparkan ke tubuh Aisyah dengan kasar."Pakailah!" perintahnya."Bedebah!! Kau sudah rusak hidup ku! Bajingan!" umpat Aisyah tiada henti. Ia sudah tidak peduli dengan ucapan kotornya. Meski dari kecil ia sudah dididik oleh ibu panti untuk berbicara baik, sesuai dengan ajaran agama yang telah dianutnya.Namun kali ini, dirinya sudah kotor. Ia tidak pantas lagi menjaga mulut dengan perkataan yang baik. Hidupnya seakan tiada guna. Linangan air matanya sudah hampir mengering. Meninggalkan bola merah dan sembab."Terkutuk kau pria biadab! Aku tidak pernah menjumpai pria sepertimu" umpat Asiyah tiada henti."Jangan banyak mengumpat! Kamu pantas menerima semua ini, hai wanita iblis!" ucapnya dengan senyum penuh derita.Pria itu segera membuka pintu kamar -- pergi meninggalkan Aisyah sendiri. Aisyah lagi menitihkan air mata, ia tidak kuasa menahan penderitaan itu. Ia mengambil pakaian dan memakainya."Apa sebenarnya yang terjadi? Aku lihat wajah pria itu penuh dengan kebencian melihatku!"The peaceful years that followed allowed Lin and Hunter to witness the pack's growth and the positive impact they had on both the mystical and human communities. The once-divergent paths of the supernatural and human realms had merged into a tapestry of coexistence, woven by the strong leadership and unwavering unity Lin and Hunter had cultivated.The pack, now a symbol of harmony and cooperation, expanded its influence, becoming a beacon for other supernatural beings seeking refuge and understanding. Lin and Hunter's home became a place where differences were celebrated, not feared, and alliances were forged, strengthening the bond between the mystical and human worlds.Despite the challenges they faced along the way, Lin and Hunter's connection remained steadfast. The diamond stone, a constant reminder of their shared vision, radiated with an otherworldly glow, symbolizing the strength they drew from one another. Their love had transcended the boundaries of their roles as alphas, in
In the aftermath of the battle, the pack gathered around Lin, their eyes filled with gratitude and trust. The victory had come at a cost, and Lin couldn't shake the feeling that her choices had consequences beyond the supernatural realm. As she turned to address her boyfriend, the pack watched the unfolding scene with a mix of curiosity and concern.Lin's boyfriend stepped forward, his expression a blend of confusion and worry. "Lin, what is all this? I saw... I saw things that I can't explain. Wolves, magic, and that ominous figure. What's happening?"Lin took a deep breath, knowing that explaining her supernatural life to someone outside the pack was a delicate task. "I never meant to keep this from you, but there are things beyond our understanding. The pack and I, we're connected by something more than just friendship. It's a bond that goes beyond the ordinary."Her boyfriend struggled to comprehend the revelation, glancing at the pack, who observed in silence. "Connected? Wolves?
Hunter's mom, the Luna, exchanged a knowing glance with her mate, then turned to Lin with a compassionate expression. "Lin, sometimes the path to redemption is challenging. But if you truly believe that returning willingly is the key to breaking the curse, then we support you."Hunter's dad, though still skeptical, added, "But remember, your actions will determine whether the pack can trust you again. This is your chance to make amends, not just for yourself but for the entire pack."Lin nodded, gratitude in her eyes. "Thank you. I won't let you down."The Reaper, sensing the shift in dynamics, grinned maliciously. "So, the little she-wolf chooses to play hero. Let's see how well you dance to my tune."As Lin walked away with determination, The Reaper's laughter echoed behind her. The pack, unsure of what to make of this development, watched with a mix of hope and anxiety.Back at the pack's home, Lin faced the challenge of regaining the trust she had lost. Conversations with pack mem
In a secluded corner of the pack's territory, Lin found herself face-to-face with Hunter's dad and mom, the temporary alpha and Luna. The air was thick with tension as they prepared to discuss Lin's sudden return and the pressing issues that had gripped the pack in her absence.Hunter's dad, his expression a mix of sternness and disappointment, began the conversation with a direct question. "Lin, your return has stirred both intrigue and skepticism. What brings you back, and can we trust that history won't repeat itself?"Lin took a deep breath, acknowledging the gravity of the situation. "I left without explanation, and for that, I'm truly sorry. But I can't stand by while The Reaper's influence grows, and Hunter's fate remains uncertain. I need your help to confront him and unravel the truth."However, before Lin could delve further into her reasons, Hunter's dad interjected with a harsh tone. "This isn't the first time you've abandoned the pack without a word. Leaving abruptly seem
The Reaper knew of his power, he knew that Hunter was nothing compared to him. He had defeated greater foes and saw the guy as nothing but a waste of time. Who he truly wanted was Lin, the she-wolf. He wanted her out of the quest, but not the way she had chosen. He wanted to be the one to guide her
Hunter stood there, stunned and heartbroken, as the weight of Lin's decision sank in. The Reaper, reveling in the chaos he had sown, continued to taunt them.“Well, isn’t this just a delightful turn of events?” The Reaper gloated, circling around the couple. “A rejected mate and a broken duo. I must
Despite her attempts to find closure, Lin's mind was clouded by an inexplicable haze. As she contemplated reaching out to Hunter, she suddenly remembered that he was placed in the magical jar by The Reaper—a crucial detail she had inexplicably kept forgetting. The revelation added a new layer of urg
As Lin stood before the council, seeking permission to end her quest and return to the human territory, the atmosphere was tense. The Alpha, after a brief deliberation, acknowledged Lin's decision. "Your loyalty lies with the pack, but the path of the quest is not for everyone. You have our permissi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.