LOGINPria itu mencengkram pinggul Mila, menggerakannya pelan. Mila paham lalu mengikuti iramanya. Meliuk sambil mengibaskan rambutnya ke samping. Kepalanya mendongak dan sikunya mendarat di kedua bahu pria di hadapannya. Membiarkan buah dadanya dinikmati seraya bagian bawahnya beradu sampai cukup untuk meluncur masuk.
“Huffft,” desis pria itu sambil memasukkan miliknya ke dalam area intim Mila. Mila dapat merasakan ototnya menegang. Tubuhnya merespon seperti biasa. Mila mendesah pelan dan m
Malam itu Mila kembali ke apartementnya dengan pikiran yang bercampur aduk. Malam belum terlalu larut namun ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Mila tidak keberatan, malah rasanya ringan kalau hanya seperti tadi. Yang berat baginya hanya ketika ia harus menjaga ucapannya.“Aneh juga sih ya,” kata Mila. Akhirnya ia menelepon sahabatnya Tiara yang sudah lama tidak berbincang-bincang.Di ujung sana, Tiara menarik napas panjang, “Tapi kalau bayarannya besar sih gue ngga nolak.”“Jangan tanya, Tir…” ujar Mila, “Pensiun dini bisa lebih awal kalau kerjaannya kayak gini sih.”Lalu mereka tertawa.“Menurut lo, bahaya ngga sih Mil?” tanya Tiara ketika tawanya mereda.MIla mengangkat bahu. “Entahlah. Tamu gue tadi bilang, gue yang berbahaya. Kok jadi gue ya yang bahaya?”“Jadi tadi lo cuman nemenin makan malam doang?” tanya Tiara lagi.“Iya, makan malam, ngobrol sama ibu-ibu sosialita. Udah gitu aja. Gue buka baju depan dia aja engga.. Hahhaa” cerita Mila sambil mengunyah cemilannya.
“Mila,” ujar pria di hadapannya sambil mengulurkan tangan. “Kamu ingat aku?”Mila memiringkan kepalanya sedikit, rambutnya bergerak pelan jatuh dari bahunya. Matanya menatap pria itu lalu menyambut uluran tangannya.“Rahasia,” jawabnya ringan sambil tersenyum penuh arti.Tentu saja ia ingat. Pria itu yang menjadi tamunya setelah ciuman pertamanya dengan Riven.Alex terbahak sambil mengangguk-angguk.“Iya, waktu itu kamu juga bilang rahasia. Aku suka rahasia.”Mila tidak ingat kalau dulu ia bilang rahasia. Tapi hatinya lega karena tampaknya Alex suka dengan jawaban itu. Sementara di belakang, Edo sudah keluar dari ruangan, tidak ingin mengganggu.“Kamu tambah cantik, Mil,” ujar Alex sambil menelusuri tubuh Mila dengan tatapannya.Mila tersenyum sambil sedikit mengerakkan kepalanya, membiarkan tatapan Alex jatuh lebih lama. Perlahan ia melangkah mendekat.“S
Ketika Mila sudah sampai apartementnya dan membiarkan pikirannya lebih tenang, sambil mendekatkan bahunya ke cermin wanita itu menatap tatonya dengan seksama. Detailnya, angkanya.Ponselnya sudah ditangan tapi Mila masih ragu untuk menghubungi Hans.Kalau memang ia ingin tahu makna dibalik tatonya ini, sudah jelas orang yang harus ia tanya adalah Hans. Tapi Mila yakin pria itu tidak akan memberitahunya dengan begitu saja.Akhirnya Mila memutuskan untuk menundanya dan beranjak ke atas kasur untuk tidur.***“Gimana Bali?” tanya Toni sesampainya Mila di ruang locker.Hari itu Mila kembali bekerja. Energinya sudah kembali normal. Sambil memberikan Toni bungkusan oleh-oleh, Mila menepuk-nepuk bahu Toni pelan.“Panas, Ton… Bali panas.”Toni terbahak sambil menerima bungkusan dari Mila. “Thanks ya oleh-olehnya.”Mila mengangguk lalu mengeluarkan peralatan make upnya. Bersiap-siap untu
“Tanya pacar lo deh, dia pasti tau.”Kalimat itu masih menggantung di kepala Mila.Sepulang dari Bali, butuh beberapa hari sampai tubuhnya benar-benar terasa kembali normal. Tiga hari istirahat cukup untuk mengembalikan energinya.Tapi tidak dengan pikirannya.Tiga hari itu, Riven tidak menghubunginya sama sekali.Mila menghela napas pelan, duduk di depan meja riasnya. Jemarinya sempat diam di atas layar ponsel, ragu untuk mengirim pesan duluan.Aneh juga, harusnya ia bisa saja menghubungi duluan tanpa banyak pertimbangan. Tapi entah kenapa, bayangan sarapan pagi itu kembali muncul. Tatapan Astri dan teman-teman Riven yang lain.Untuk pertama kalinya, ada sedikit rasa sungkan.Mila menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu akhirnya mengetik.Riv, ketemuan yuk.Tidak lama, balasan masuk.Nanti malam? Gue manggung. Gue jemput atau lo ke sini?Mila
Pria itu mencengkram pinggul Mila, menggerakannya pelan. Mila paham lalu mengikuti iramanya. Meliuk sambil mengibaskan rambutnya ke samping. Kepalanya mendongak dan sikunya mendarat di kedua bahu pria di hadapannya. Membiarkan buah dadanya dinikmati seraya bagian bawahnya beradu sampai cukup untuk meluncur masuk.“Huffft,” desis pria itu sambil memasukkan miliknya ke dalam area intim Mila. Mila dapat merasakan ototnya menegang. Tubuhnya merespon seperti biasa. Mila mendesah pelan dan matanya terpejam menahan sensasinya.Ketika hasratnya semakin tinggi, posisi pun berganti-ganti. Buah dadanya sudah bergoncang entah berapa lama. Tubuhnya sudah menerima hentakan entah berapa kali.“Lo pakai apa sih,” gumam pria itu diantara napasnya. “Enak banget, Mil.”Mila hanya mengerling, “Iya dong enak.”Pria itu semakin bergairah, ketika gerakannya semakin cepat, Mila refleks membuka mulutnya dan mengerang pelan. Pria itu tersenyum, memainkan posisinya sambil me
Mila mencium Riven tanpa ragu. Bibirnya mendarat ringan lalu berhenti, memberi kesempatan pada Riven untuk membalas atau menarik mundur.Ketika Riven memutuskan untuk membalasnya, Mila pun memperdalam ciumannya. Seolah mencari jawaban yang lebih pasti.Tangan pria itu yang tadi masih digenggam Mila, kini bergerak menyentuh sisi tubuh wanita itu dan membalas ciumannya dengan gerakan yang sama dalamnya. Setelah Mila merasa yakin, ia pun menarik ciumannya.Matanya mengunci pada tatapan Riven, mencoba memastikan arti ciumannya.“Gue susah ngebaca lo, Riv” ujar Mila akhirnya. Wajahnya masih dekat dengan pria itu.Riven tersenyum pada ucapan Mila, “Masa? Bukan susah, Mil. Lo aja yang belum bisa.”Mila mendorong tubuh Riven pelan sambil tertawa.“Rese. Udah sana bantuin Bima.”Riven pun kembali beranjak berdiri sambil sekilas jemarinya mengusap pipi Mila dan melangkah menuju balik panggung. Mi







