LOGINDengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke
Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening
Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa
Mila tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyisir rambutnya dengan jari. Mencoba meredakan kegalauan di hatinya.“Lo selalu ngomong kayak semua ini gede banget,” gumamnya berusaha terdengar ringan. “Padahal mungkin nggak se-serius itu.”Hans tidak tersenyum. Ia hanya menatap Mila.“Kalau nggak serius,” katanya pelan, “…gue nggak akan repot jagain lo, Mil.”Mila memiringkan kepalanya, matanya menyipit meragukan ucapan Hans yang bersandar lagi di kursinya, seolah tidak peduli apakah Mila tetap menuntut jawabannya atau tidak.“Terserah lo,” kata pria itu santai.Mila mendengus.“Gue udah cape nebak-nebak,” jawabnya. “Mending lo kasih tau gue deh, Hans.”Hans tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Mila beberapa detik lebih lama, seolah memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.“Lo keras kepala juga ya,” gumamnya.Ia bangkit dari kursinya, melangkah mendekat. Tatapannya turun ke arah tulang selangka Mila.“Tato ini bukan hiasan, Mil. Bukan ju
Pintu mobil tertutup di belakangnya. Mila melangkah cepat sampai di seberang jalan. Pikirannya kosong atau terlalu penuh, Mila sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia tidak punya rencana apapun mau berkata apa pada pria itu.Riven berdiri di depan minimarket, ponsel di tangannya. Jaket gelap yang ia pakai terlihat familiar. Seolah waktu tidak bergerak sejak terakhir kali mereka bertemu.Mila menahan napasnya menatap punggung pria itu sebelum membuka suara dan memaksa mulutnya memanggil nama itu.“Riv…”Riven menoleh lalu membalikkan badannya. Menatap Mila dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Mila dengan tindakannya.“Mil? Lo… Gue… tiba-tiba banget lo ada di sini?”Mila memaksakan tawa yang malah jadi terdengar aneh. “Gue liat lo, jadi pikir nyamperin aja.”Riven mengangguk. Tangannya menggenggam dua gelas kopi. Tatapan Mila turun pada gelas yang dipegang Riven. Ada dua.“Lo sendirian?” tanya Riven.Mila mengangguk lalu menggeleng, “Gue abis kerja…”Riven menatap Mila dengan tatapan
Ruangan meeting itu terasa lebih formal dibanding sebelumnya. Meja panjang dengan dokumen yang sudah tersusun rapi, layar presentasi di ujung ruangan, dan beberapa orang yang tampak sudah siap dengan peran masing-masing.Mila duduk tegap di samping Alex dengan tangan bertaut di atas meja. Alex meletakkan beberapa lembar dokumen di hadapannya.Meeting dimulai dengan ritme percakapan yang cukup cepat. Beberapa istilah yang sebelumnya terasa asing kini mulai bisa Mila tangkap meskipun tidak semuanya.“Ibu Mila, bisa bantu saya jelaskan skema yang ini?” tanya Alex ketika di tengah-tengah meetingMila sedikit terdiam. Tatapannya turun ke lembar dokumen di hadapannya. Sebelum meeting tadi, Alex sempat menjelaskannya sekilas.Ia menarik napas pelan.“Kalau dari yang saya tangkap…” ucapnya hati-hati, suaranya tetap tenang, “…ini sebenarnya bukan soal pembagian angka utamanya.”Ia berhenti sejenak, matanya masih menyapu dokumen itu.“…tapi lebih ke bagaimana alurnya dijalankan supaya kedua pih
Sesuai janji yang sudah disepakati, akhirnya hari itu ketika Mila off dan Riven tidak ada job manggung, mereka memutuskan untuk pergi ke supermarket.“Sesungguhnya, gue ngga bisa masak, Riv,” ujar Mila ketika mereka melangkah memasuki ruangan dengan AC yang dingin itu.Pria itu menoleh dan menatap
Kalau bisa memilih, sebenarnya Mila lebih suka melayani tamu yang jelas maunya apa. Mau curhat, mau menggoda, mau nyanyi tanpa di-judge, mau mabuk. Mila bisa terima itu semua. Sudah beratus-ratus tamu dia lewati.Tapi kali ini, tamunya membuat Mila harus menahan sabar.
Mila sudah tidak ingat kapan kain-kain itu berserakan di lantai. Ketika napas mereka semakin memburu, Hans membuatnya bertukar posisi.Mila menunduk, menopang tubuhnya dengan tangannya yang menumpu pada bahu Hans. Menatap pria itu lekat sebelum menurunkan pinggulnya lebih dalam. Membuat pr
Siang itu, Mila membuka ponselnya yang bergetar. Pesan dari Toni yang menginfokan dirinya off dua hari. Mila tahu, Hans yang melakukannya.Di bawah nama Toni, nama itu hadir. Pesan yang terakhir Mila baca.Lo jaga diri ya. See you soon.Mila menghela napas dalam-dala







