Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 25 - Kembali ke Qingfeng

Share

Bab 25 - Kembali ke Qingfeng

Author: Akaiy
last update publish date: 2026-02-04 00:43:14

Langit di atas Kota Lihuo mulai memerah saat karavan akhirnya meninggalkan gerbang utama. Angin pagi membawa aroma debu jalan dan asap dari dapur kota yang baru bangun. Empat kereta kayu berderit pelan, kuda-kuda spirit mengibaskan ekor dengan gelisah seolah merasakan ketegangan yang menyelimuti setiap orang di dalam rombongan.

Lian Xue berjalan di depan, jubah birunya berkibar ditiup angin dingin. Matanya tajam memandang ke utara, arah Qingfeng. Di belakangnya, Zhao Chen mengawasi karavan den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 154: Pelarian Melintasi Langit Ibu Kota

    Debu pekat dan puing-puing Istana Giok masih melayang di udara saat Liang Xiao melesat keluar dari reruntuhan dengan ledakan energi yang memekakkan telinga. Di pelukannya, Ling Er mencengkeram erat jubah Liang Xiao, mencoba menstabilkan diri di tengah kecepatan yang ekstrem, sementara tangan kanan Liang Xiao memegang kotak hitam berisi fragmen pertama Segel Kunci seolah itu adalah nyawanya sendiri. Di bawah mereka, ribuan prajurit elit kekaisaran telah membentuk barisan kura-kura yang rapat, dengan ujung-ujung tombak panjang yang berkilau mengarah tajam ke langit."Pemanah, lepaskan hujan kematian!" teriak seorang komandan dari atas kuda perangnya di kejauhan.Ribuan anak panah yang ujungnya telah dilapisi energi api spiritual meluncur deras bagaikan hujan meteor yang jatuh ke bumi. Namun, Liang Xiao tidak lagi merasakan ancaman yang berarti dari senjata-senjat

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 153: Cahaya Penghakiman Naga

    Jenderal berpakaian zirah hitam itu melangkah maju dengan kaku, setiap gerakannya memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di labirin terasa membeku. Namanya adalah Jenderal Shen, seorang pahlawan perang kekaisaran yang legendaris, namun kini ia hanyalah raga kosong yang dikendalikan sepenuhnya oleh Parasit Jiwa dari Sekte Tanah Suci. Matanya yang hitam pekat tanpa putih mata tidak lagi memancarkan emosi manusia, hanya haus darah yang tak terhingga dan dingin."Mundur, Ling Er! Dia bukan lagi manusia yang bisa kau ajak bicara!" teriak Liang Xiao, suaranya bergema di dinding labirin yang mulai retak.Jenderal Shen mengayunkan pedang raksasanya dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Serangan itu tidak hanya membawa beban fisik yang mampu menghancurkan gu

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 152: Labirin Bawah Tanah Istana Giok

    Setelah memulihkan sedikit tenaga dan menenangkan gejolak emosi yang sempat meluap di antara mereka, Liang Xiao dan Ling Er bergerak cepat menembus bayang-bayang menuju pusat Ibu Kota. Tujuan mereka adalah Istana Giok, sebuah kompleks bangunan megah yang dulunya merupakan tempat pemujaan sakral para kaisar terdahulu, namun kini diyakini sebagai tempat penyimpanan fragmen pertama Segel Kunci yang sangat dijaga ketat."Hati-hati, Liang Xiao. Indra spiritualku menangkap adanya fluktuasi energi yang sangat tidak stabil di bawah tanah istana ini," bisik Ling Er sambil menahan napas, matanya waspada memindai sekeliling. Mereka kini telah berada di depan sebuah pintu rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik patung singa giok raksasa yang tampak angkuh.Dengan menggunakan tenaga dalam yang telah dimurnikan melalui

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 151: Tarian Maut di Bawah Rembulan

    Pria berjubah putih itu melangkah maju dengan tenang, namun setiap tapakannya meninggalkan jejak hangus yang dalam di tanah berbatu, seolah-olah bumi itu sendiri merasa kesakitan. Lambang matahari hitam di dadanya seakan berdenyut secara ritmis, memancarkan aura kegelapan yang sangat kontras dengan pakaian putihnya yang bersih tanpa noda. Dia adalah Penatua Mo, salah satu dari tujuh "Bayangan Matahari" milik Sekte Tanah Suci yang dikenal karena kekejamannya yang dingin dan efisiensi dalam melenyapkan musuh."Liang Xiao, kau hanyalah seekor lalat yang mencoba menembus cakrawala langit dengan sayap rapuhmu," suara Penatua Mo bergema, mengandung getaran energi resonansi yang membuat gendang telinga siapa pun yang mendengar berdenging hebat. "Serahkan kunci itu sekarang, dan aku akan memberikan kemurahan hati berupa kematian yang cepat tanpa siksaan."Liang Xiao ti

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 150: Penyusupan di Gerbang Fajar

    Suasana di pinggiran Ibu Kota Kekaisaran terasa semakin mencekam saat sang surya mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat merah darah di langit yang seolah menjadi pertanda akan tragedi yang segera menyusul. Liang Xiao berdiri di atas dahan pohon tinggi yang tersembunyi, matanya yang tajam dan memiliki pupil vertikal naga menatap tembok raksasa yang membentengi pusat kekuatan kekaisaran tersebut. Di sampingnya, Ling Er berdiri dengan tenang, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam yang membawa aroma amis besi dan debu kota."Sistem keamanan di Gerbang Fajar telah ditingkatkan dua kali lipat sejak jejak mata-mata Sekte Tanah Suci terdeteksi di sekitar sini," bisik Ling Er, suaranya nyaris tak terdengar namun jelas di telinga Liang Xiao berkat koneksi spiritual mereka. "Ada formasi deteksi energi Yuan yang sangat sensitif tertanam di setiap blok batu dinding itu. Jika kita merangsek masuk

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 149: Menuju Jantung Kekaisaran

    Sinar matahari pagi menyinari reruntuhan Sekte Awan Surgawi, namun suasana di sana tidak lagi mencekam; hanya ada sisa-sisa debu yang tertiup angin sepoi-sepoi. Liang Xiao berdiri di puncak gerbang yang telah hancur, menatap ke arah barat daya—ke arah Ibukota Pusat yang megah dan penuh intrik. Di belakangnya, Shi Qing dan para pemimpin Kelompok Bayangan Hitam telah bersiap dengan kuda-kuda perang terbaik yang mereka rampas dari kandang elit sekte."Tuan Muda, semua dokumen rahasia dari perpustakaan pribadi Gu Yan telah kita amankan sepenuhnya," lapor Shi Qing dengan sikap militer yang tegas. "Ada peta kuno yang menunjukkan jalur rahasia melalui pegunungan menuju Ibukota tanpa harus melewati pos pemeriksaan utama militer kekaisaran."Liang Xiao mengangguk perlahan. "Bagus. Kita tidak bisa menarik perhatian tentara kekaisaran terlalu dini. Tujuan kita adala

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 20 - Badai yang Lahir dari dalam

    Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan sabit tersembunyi di balik awan tebal, dan angin dingin menyusup melalui celah-celah jendela asrama. Lian Xue duduk bersila di lantai kamar kecilnya, Lian Mei sudah tertidur lelap di tempat tidur sebelah dengan selendang ibu melingkari tubuh mungiln

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 19 - Langkah ke Qi Tingkat Menengah

    Pagi itu, matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Lian Xue sudah berdiri di lapangan latihan pribadi kecil di belakang bukit sekolah, tempat yang jarang dikunjungi murid lain. Udara masih dingin, embun menempel di rumput, tapi tubuh Lian Xue sudah basah keringat sebelum latihan benar-benar d

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 15 - Laporan di Aula

    Fajar baru saja menyingsing ketika Lian Xue, Zhao Chen, dan Mei Hua tiba di gerbang Sekolah Kultivasi Qingfeng. Tubuh mereka penuh luka gores, jubah robek di beberapa bagian, dan wajah pucat karena kelelahan serta kehilangan darah. Lima tubuh Shadow Fang Wolf yang mereka bawa ditarik dengan tali qi

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 14 - Jejak yang Mengarah ke Kegelapan

    Malam mulai datang. Di hutan pinggiran utara, langit yang tadinya jingga kini berubah menjadi ungu gelap, dan kabut tipis mulai naik dari tanah lembab. Lian Xue, Zhao Chen, dan Mei Hua berjalan lebih hati-hati setelah menemukan tanda segel gelap di leher serigala pertama. Udara terasa lebih menceka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status