LOGINPagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun.
Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol kecil dari giok hijau, di dalamnya terlihat cairan bercahaya samar seperti embun yang menangkap cahaya petir. "Ini adalah Cairan Pembuka Meridian Kelas Rendah," kata Feng Ying tanpa menoleh. "Dibuat dari ramuan langka yang kutemukan di reruntuhan purba. Satu tetes saja cukup untuk membuka jalur pertama di Dantian Bawah. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan." Lian Xue menelan ludah. "Berapa lama?" "Bisa satu jam, bisa seharian, bisa tiga hari. Tergantung ketahanan jiwamu. Jika kau pingsan terlalu lama atau qi-mu berbalik arah, meridianmu bisa rusak permanen. Kau akan menjadi cacat seumur hidup bahkan bisa mati." Lian Mei masih tertidur di sudut gua, dibungkus selendang ibu mereka. Lian Xue memandang adiknya sejenak, lalu kembali menatap guru itu. "Aku siap." Feng Ying mengangguk. Ia menuang satu tetes cairan giok ke telapak tangan Lian Xue. Cairan itu dingin saat menyentuh kulit, tapi seketika berubah panas seperti bara yang hidup. "Duduk bersila. Letakkan tangan di perut bawah, tepat di bawah pusar. Tutup mata. Tarik napas dalam. Saat cairan masuk, jangan lawan. Biarkan ia mengalir seperti air yang mencari celah. Saat rasa sakit datang bertahanlah." Lian Xue menurut. Ia menelan cairan itu. Rasanya seperti menelan petir cair panas membakar tenggorokan, lalu menyebar ke dada, lalu turun ke perut bawah. Awalnya hanya hangat. Nyaman bahkan menenangkan Lalu... "Duuaaarr". Ledakan didalam tubuhnya. Rasa sakit meledak dari Dantian Bawah seperti ribuan jarum panas menusuk dari dalam. Lian Xue tersentak, giginya bergemeretak keras hingga hampir patah. Tubuhnya gemetar hebat, keringat membanjiri seperti hujan deras. Ia merasakan aliran qi yang tadinya lembut kini menjadi arus ganas, menghantam dinding meridian yang tertutup seperti ombak menghantam tebing batu. "Arrrghhh !" Ia tak bisa menahan rasa sakit yang menerjangnya. Suaranya bergema di gua, membuat Lian Mei terbangun dan menangis ketakutan. "Kakak ! Kakak kenapa?!" Feng Ying mengangkat tangan, menahan Lian Mei dengan lembut menggunakan hembusan angin qi. "Jangan mendekat. Jika mengganggu proses nya, ia akan mati." Lian Xue jatuh ke depan, tangannya mencengkeram tanah batu hingga berdarah. Penglihatannya kabur. Di dalam tubuhnya, ia bisa "melihat" meridian utama seperti sungai kering yang tiba-tiba dibanjiri air deras. Dinding-dindingnya retak, pecah, lalu terbuka paksa. Setiap retakan terasa seperti tulang dipatahkan, urat dipotong, daging dibakar hidup-hidup. Waktu terasa melambat. Satu menit terasa seperti satu jam. Satu jam terasa seperti seabad. Di tengah rasa sakit itu, kenangan muncul tanpa diundang, wajah ayahnya yang robek, ibunya yang tersenyum lembut sebelum mati, Lian Mei yang menangis memanggilnya. Perasaan itu berubah menjadi bahan bakar. Setiap kali rasa sakit hampir membuatnya pingsan, ia mengingat jeritan desa Yunhe dan ia memaksa diri untuk bertahan. "Aku... aku tidak akan... mati... di sini..." gumamnya di antara gigi yang bergemeretak. Feng Ying memperhatikan dengan mata tajam. Ia tak bergerak membantu. Ini adalah ujian pertama. Jika muridnya tak bisa melewati ini, ia tak layak untuk menjadi murid nya. Tiba-tiba, sesuatu berubah. Di Dantian Bawah Lian Xue, pusat kecil bercahaya mulai terbentuk. Awalnya redup, lalu semakin terang. Qi air yang dingin mulai berputar di sana, membentuk pusaran kecil seperti danau mini di dalam tubuhnya. Rasa sakit perlahan mereda, digantikan oleh sensasi sejuk yang menyebar ke seluruh meridian yang baru terbuka. Lian Xue terengah-engah. Tubuhnya ambruk ke depan, tapi ia tak pingsan. Ia masih sadar, dan masih bernapas. Feng Ying akhirnya bergerak. Ia meletakkan tangannya di punggung Lian Xue, mengalirkan sedikit qi petirnya sendiri untuk menstabilkan pusaran qi didalam tubuh muridnya. "Bagus," katanya pelan. "Kau berhasil membuka Dantian Bawah. Tahap Qi Tingkat Awal pertama. Selamat datang di jalan kultivasi, Lian Xue." Lian Xue mengangkat kepala perlahan. Wajahnya pucat, bibirnya pecah karena menggigit terlalu keras, tapi matanya... matanya bersinar dengan cahaya baru. "Terima kasih... Guru." Feng Ying mengangguk, lalu menoleh ke Lian Mei yang masih menangis di sudut. "Adikmu membutuhkanmu. Istirahatlah sekarang. Besok kita akan lanjut, kau harus belajar mengendalikan qi yang baru ini, atau ia akan memberontak dan menghancurkan meridianmu dari dalam." Lian Xue merangkak ke arah adiknya, memeluknya erat meski tubuhnya masih gemetar. "Kakak baik-baik saja, Mei'er. Kakak tidak apa apa." Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tragedi, Lian Xue tidur dengan tenang. Di dalam tubuhnya, pusaran qi kecil itu terus berputar pelan. Di luar gua, hujan berhenti. Langit cerah, dan petir samar melintas di kejauhan seolah alam sendiri telah mengakuinya.Pagi itu, sinar matahari menembus kanopi hutan dengan lebih terang dari biasanya, seolah alam memberi isyarat bahwa hari ini akan menjadi titik balik. Lian Xue berdiri di depan sebuah batu besar setinggi pinggangnya permukaannya kasar, berlumut, dan tampak tak tergoyahkan. Bekas pukulan pohon kemarin masih terasa di telapak tangannya, tapi kini ada lapisan ketahanan baru yang membuatnya tak lagi gemetar. Feng Ying berdiri di samping, tongkat kayu hitamnya mengetuk tanah pelan. "Hari ini kau akan berlatih dengan batu ini. Ingat batu ini lebih keras, lebih tak kenal ampun. Jika qi-mu tak menembus cukup dalam, tulang tanganmu akan retak sebelum batu itu gores sedikit pun." Lian Xue mengangguk. Ia sudah siap. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah malam penuh pemulihan qi otot-ototnya seperti sudah terbiasa dengan aliran dingin yang terus-menerus memperbaiki dan memperkuat. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan qi air di Dantian Bawah hingga pusarannya berputar lebih cepat. Kali ini, ia
Hujan gerimis pagi itu sudah berhenti, meninggalkan udara segar dan tanah lembab di sekitar gua. Lian Xue berdiri di depan lingkaran batu, tubuhnya masih terasa berat setelah latihan kemarin, tapi ada semangat baru yang mengalir di nadinya seperti sungai yang akhirnya menemukan alur.Feng Ying berdiri di hadapannya, tangan di belakang punggung, ekspresi datar tapi mata tajam mengamati setiap gerak muridnya."Hari ini kita mulai berlatih Body Tempering tahap pertama," katanya. "Qi yang kau kumpulkan di Dantian Bawah bukan hanya untuk serangan atau manifestasi elemen. Ia harus memperkuat daging, tulang, dan organ dalam. Jika tubuhmu tetap lemah seperti manusia biasa, qi sebesar apapun hanya akan merusakmu dari dalam."Lian Xue mengangguk. Ia sudah merasakan sedikit perubahan sejak kemarin, napasnya lebih dalam, langkahnya lebih ringan, meski masih jauh dari kuat."Caranya?"" Kita gunakan metode sederhana tapi brutal, kau akan memukul pohon itu dengan telapak tangan, menggunakan qi air
Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang keras namun teratur. Matahari terbit, Lian Xue bangun sebelum fajar. Ia membersihkan tubuh dengan air dingin mata air gua, lalu duduk di lingkaran batu yang sama. Feng Ying tak pernah absen, kadang duduk diam mengawasi, kadang menghilang ke hutan untuk mencari ramuan atau makanan, tapi selalu kembali tepat saat latihan dimulai.Hari ini berbeda. Setelah pembukaan meridian pertama berhasil, Feng Ying memutuskan untuk mengajarkan Lian Xue cara mengendalikan qi yang sudah mengalir di tubuhnya. Bukan sekadar merasakan, tapi menggerakkannya sesuai kehendak."Kau sudah punya Dantian sekarang," kata Feng Ying sambil berdiri di depan Lian Xue. "Sekarang kau harus belajar mengalirkannya melalui meridian utama. Jika kau biarkan qi mengalir sendiri, ia akan seperti sungai liar yang bisa membanjiri dan menghancurkan tubuhmu. Kau harus menjadi bendungan sekaligus saluran."Ia mengulurkan tangan. Di telapaknya, muncul pusaran kecil qi petir berwarna bir
Pagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun. Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol kecil dari giok hijau, di dalamnya terlihat cairan bercahaya samar seperti embun yang menangkap cahaya petir."Ini adalah Cairan Pembuka Meridian Kelas Rendah," kata Feng Ying tanpa menoleh. "Dibuat dari ramuan langka yang kutemukan di reruntuhan purba. Satu tetes saja cukup untuk membuka jalur pertama di Dantian Bawah. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan."Lian Xue menelan ludah. "Berapa lama?""Bisa satu jam, bisa seharian, bisa tiga hari. Tergantung ketahanan jiwamu. Jika kau pingsan terlalu lama atau qi-mu berbalik arah, meridianmu bisa rusak permanen. Kau akan menjadi cacat seumur hidup bahkan bisa mati."Lian Mei masih tertidur di sudut gua, dibungkus selendang ibu mereka. Lian Xue m
Pagi itu, kabut masih menyelimuti lembah seperti selimut tebal yang enggan dilepas. Lian Xue membangunkan Lian Mei dengan lembut, memberinya sisa nasi dingin yang dibungkus daun bambu. Adiknya makan dalam diam, matanya masih merah karena menangis semalaman. "Kita akan pergi hari ini, Mei'er," kata Lian Xue pelan. "Kakak akan belajar menjadi kuat. Supaya tak ada lagi yang bisa menyakiti kita." Lian Mei mengangguk kecil, meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa kakaknya adalah satu-satunya yang tersisa. Tak lama kemudian, Feng Ying muncul kembali dari balik pepohonan. Jubah abu-abunya tampak lebih kusam di bawah sinar matahari pagi, tapi auranya tetap membuat udara bergetar samar. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat kayu hitam sederhana, ujungnya sedikit bercahaya seperti disambar petir. "Kau siap?" tanyanya singkat, tanpa basa-basi. Lian Xue berdiri, menggendong Lian Mei di punggungnya. "Ya." Feng Ying mengangguk, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju arah
Malam itu terasa tak berakhir. Di dalam gua kecil yang lembab di tepi sungai, Lian Xue memeluk tubuh kecil Lian Mei yang terus bergetar. Adiknya sudah kehabisan air mata, kini hanya isakan pelan yang tersisa, seperti hembusan angin dingin yang menyusup melalui celah-celah batu. Bau darah dan asap masih menempel di pakaian mereka, meski api desa sudah jauh di belakang. Lian Xue menatap kegelapan di luar mulut gua. Bulan purnama menyelinap di antara awan, menerangi reruntuhan Yunhe yang kini hanya puing-puing berasap. Rumah-rumah kayu yang dulu hangat kini menjadi bara merah yang perlahan padam. Tubuh-tubuh penduduk berserakan di jalan tanah. Beberapa utuh, sebagian lagi tak lagi bisa dikenali. Roh-roh liar itu telah pergi secepat mereka datang, meninggalkan kehancuran tanpa alasan yang jelas. "Kak... Ayah dan Ibu... mereka akan kembali, kan?" suara Lian Mei kecil sekali, hampir tak terdengar. Lian Xue menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti terbakar. Ia ingin berbohong, ingi







