Home / Pendekar / Luka Yang Menembus Langit / Bab 4 - Api Pembukaan Meridian

Share

Bab 4 - Api Pembukaan Meridian

Author: Akaiy
last update Last Updated: 2026-01-27 11:16:07

Pagi berikutnya datang dengan hujan gerimis tipis yang membuat udara gua terasa lebih dingin dan lembab. Lian Xue terbangun sebelum fajar, tubuhnya sudah basah keringat meski belum melakukan apa pun.

Feng Ying sudah duduk di lingkaran batu yang sama sejak subuh. Di depannya terletak sebuah botol kecil dari giok hijau, di dalamnya terlihat cairan bercahaya samar seperti embun yang menangkap cahaya petir.

"Ini adalah Cairan Pembuka Meridian Kelas Rendah," kata Feng Ying tanpa menoleh. "Dibuat dari ramuan langka yang kutemukan di reruntuhan purba. Satu tetes saja cukup untuk membuka jalur pertama di Dantian Bawah. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan."

Lian Xue menelan ludah. "Berapa lama?"

"Bisa satu jam, bisa seharian, bisa tiga hari. Tergantung ketahanan jiwamu. Jika kau pingsan terlalu lama atau qi-mu berbalik arah, meridianmu bisa rusak permanen. Kau akan menjadi cacat seumur hidup bahkan bisa mati."

Lian Mei masih tertidur di sudut gua, dibungkus selendang ibu mereka. Lian Xue memandang adiknya sejenak, lalu kembali menatap guru itu.

"Aku siap."

Feng Ying mengangguk. Ia menuang satu tetes cairan giok ke telapak tangan Lian Xue. Cairan itu dingin saat menyentuh kulit, tapi seketika berubah panas seperti bara yang hidup.

"Duduk bersila. Letakkan tangan di perut bawah, tepat di bawah pusar. Tutup mata. Tarik napas dalam. Saat cairan masuk, jangan lawan. Biarkan ia mengalir seperti air yang mencari celah. Saat rasa sakit datang bertahanlah."

Lian Xue menurut. Ia menelan cairan itu. Rasanya seperti menelan petir cair panas membakar tenggorokan, lalu menyebar ke dada, lalu turun ke perut bawah.

Awalnya hanya hangat. Nyaman bahkan menenangkan

Lalu...

"Duuaaarr". Ledakan didalam tubuhnya.

Rasa sakit meledak dari Dantian Bawah seperti ribuan jarum panas menusuk dari dalam. Lian Xue tersentak, giginya bergemeretak keras hingga hampir patah. Tubuhnya gemetar hebat, keringat membanjiri seperti hujan deras. Ia merasakan aliran qi yang tadinya lembut kini menjadi arus ganas, menghantam dinding meridian yang tertutup seperti ombak menghantam tebing batu.

"Arrrghhh !"

Ia tak bisa menahan rasa sakit yang menerjangnya. Suaranya bergema di gua, membuat Lian Mei terbangun dan menangis ketakutan.

"Kakak ! Kakak kenapa?!"

Feng Ying mengangkat tangan, menahan Lian Mei dengan lembut menggunakan hembusan angin qi. "Jangan mendekat. Jika mengganggu proses nya, ia akan mati."

Lian Xue jatuh ke depan, tangannya mencengkeram tanah batu hingga berdarah. Penglihatannya kabur. Di dalam tubuhnya, ia bisa "melihat" meridian utama seperti sungai kering yang tiba-tiba dibanjiri air deras. Dinding-dindingnya retak, pecah, lalu terbuka paksa. Setiap retakan terasa seperti tulang dipatahkan, urat dipotong, daging dibakar hidup-hidup.

Waktu terasa melambat. Satu menit terasa seperti satu jam. Satu jam terasa seperti seabad.

Di tengah rasa sakit itu, kenangan muncul tanpa diundang, wajah ayahnya yang robek, ibunya yang tersenyum lembut sebelum mati, Lian Mei yang menangis memanggilnya. Perasaan itu berubah menjadi bahan bakar. Setiap kali rasa sakit hampir membuatnya pingsan, ia mengingat jeritan desa Yunhe dan ia memaksa diri untuk bertahan.

"Aku... aku tidak akan... mati... di sini..." gumamnya di antara gigi yang bergemeretak.

Feng Ying memperhatikan dengan mata tajam. Ia tak bergerak membantu. Ini adalah ujian pertama. Jika muridnya tak bisa melewati ini, ia tak layak untuk menjadi murid nya.

Tiba-tiba, sesuatu berubah.

Di Dantian Bawah Lian Xue, pusat kecil bercahaya mulai terbentuk. Awalnya redup, lalu semakin terang. Qi air yang dingin mulai berputar di sana, membentuk pusaran kecil seperti danau mini di dalam tubuhnya. Rasa sakit perlahan mereda, digantikan oleh sensasi sejuk yang menyebar ke seluruh meridian yang baru terbuka.

Lian Xue terengah-engah. Tubuhnya ambruk ke depan, tapi ia tak pingsan. Ia masih sadar, dan masih bernapas.

Feng Ying akhirnya bergerak. Ia meletakkan tangannya di punggung Lian Xue, mengalirkan sedikit qi petirnya sendiri untuk menstabilkan pusaran qi didalam tubuh muridnya.

"Bagus," katanya pelan. "Kau berhasil membuka Dantian Bawah. Tahap Qi Tingkat Awal pertama. Selamat datang di jalan kultivasi, Lian Xue."

Lian Xue mengangkat kepala perlahan. Wajahnya pucat, bibirnya pecah karena menggigit terlalu keras, tapi matanya... matanya bersinar dengan cahaya baru.

"Terima kasih... Guru."

Feng Ying mengangguk, lalu menoleh ke Lian Mei yang masih menangis di sudut.

"Adikmu membutuhkanmu. Istirahatlah sekarang. Besok kita akan lanjut, kau harus belajar mengendalikan qi yang baru ini, atau ia akan memberontak dan menghancurkan meridianmu dari dalam."

Lian Xue merangkak ke arah adiknya, memeluknya erat meski tubuhnya masih gemetar.

"Kakak baik-baik saja, Mei'er. Kakak tidak apa apa."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tragedi, Lian Xue tidur dengan tenang. Di dalam tubuhnya, pusaran qi kecil itu terus berputar pelan.

Di luar gua, hujan berhenti. Langit cerah, dan petir samar melintas di kejauhan seolah alam sendiri telah mengakuinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 75 - Menguasai Array Kuno dan Penemuan Baru

    Dengan warisan pengetahuan array tingkat tinggi dari Liang Qiao yang kini bersemayam di benaknya, Liang Xiao segera memulai pelatihannya di ruang rahasia bawah tanah. Tempat ini adalah surga bagi seorang kultivator , kolam spiritual yang memancarkan energi murni, rak rak buku giok yang tak terhitung jumlahnya, dan prasasti prasasti kuno yang mengukir teknik teknik terlarang. Namun, fokus utamanya saat ini adalah menginternalisasi dan mempraktikkan pengetahuan array yang baru saja ia serap secara instan namun masif tersebut.Liang Xiao duduk bersila di dekat kolam spiritual. Uap hangat yang membawa esensi bumi meresap ke dalam pori porinya, mempercepat proses pemulihan meridian dan memperkuat fondasi kultivasinya. Di dalam benaknya, ribuan pola array berputar putar seperti galaksi kecil, mulai dari formasi penyegelan dasar hingga struktur kompleks yang bahkan para master formasi di dunia luar

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 74 - Warisan Array Agung dan Pengetahuan yang Mengalir

    Ruangan rahasia di bawah reruntuhan itu bukan sekadar gudang penyimpanan; ia adalah sebuah ekosistem spiritual yang mandiri. Udara di dalamnya terasa berdenyut, seolah olah dinding dinding batu giok itu sendiri sedang bernapas. Cahaya keemasan dari kolam spiritual di tengah ruangan memantul pada permukaan rak rak buku yang jernih, menciptakan spektrum pelangi yang menari nari di langit langit aula yang tinggi. Liang Xiao melangkah perlahan, merasakan sensasi menggelitik di permukaan kulitnya saat pori porinya mulai menyerap energi murni yang meluap luap. Di tempat ini, konsentrasi Qi setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di dunia atas."Ini adalah jantung warisan Keluarga Liang," bisik Liang Xun. Wujud spiritualnya tampak lebih tenang di sini, seolah olah ia telah pulang ke rumah yang sebenarnya. "Kolam spiritual ini adalah Nadi Bumi yang dialirkan secara paksa oleh leluhur k

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 73 - Peninggalan Leluhur

    Langkah kaki Liang Xiao menggema pelan di atas lantai batu yang retak. Debu tebal yang menyelimuti reruntuhan aula utama berterbangan setiap kali ujung jubahnya menyapu lantai. Di depannya, sosok transparan Liang Xun melayang dengan anggun, namun raut wajah spiritualnya memancarkan ketegangan yang nyata. Sisa jiwa itu berhenti tepat di depan sebuah dinding batu yang tampak tidak istimewa. Permukaannya kasar, ditumbuhi lumut kering, dan penuh dengan goresan akibat cuaca ekstrem selama bertahun tahun. Secara kasat mata, dinding itu hanyalah bagian dari struktur bangunan yang telah mati.Liang Xun mengangkat tangan kanannya yang berpendar biru pucat. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah titik spesifik yang terletak setinggi dada di permukaan batu tersebut. "Jangan tertipu oleh penampilan luar, Liang Xiao. Dunia luar mengenal klan kita sebagai keluarga bangsawan yang kaya, namun mereka tidak pernah tahu b

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 72 - Rahasia Tersembunyi Keluarga Liang

    Langkah kaki Liang Xiao terasa berat saat ia menapaki ubin batu yang retak di gerbang utama kediaman klan nya. Setelah bersujud sebagai tanda hormat terakhir kepada para leluhur di ambang pintu yang hancur, ia melangkah masuk ke dalam area yang kini lebih mirip pemakaman massal daripada sebuah kediaman bangsawan. Debu tebal yang telah mengendap selama bertahun tahun terbang tertiup angin, menyelimuti bayangan struktur struktur megah yang kini hanya tinggal kerangka kayu yang melapuk dan ditelan tanaman merambat liar. Di beberapa sudut, jejak kebakaran hebat masih terlihat jelas; arang hitam yang menyatu dengan batu menjadi saksi bisu betapa brutalnya api yang melahap tempat ini di masa lalu. Udara di sini terasa dingin dan menyesakkan, seolah setiap inci tanahnya masih menyimpan memori kesedihan dan teriakan kematian yang tak sempat terbalaskan.Liang Xiao melangkah dengan waspada, tangan kanannya menggeng

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 71 - Bersujud di Gerbang yang Membeku

    Kesunyian akademi saat masa liburan memberikan keleluasaan bagi Liang Xiao untuk menuntaskan rasa penasarannya. Berbekal akses dari Perpustakaan Terlarang Tingkat Tinggi, ia menghabiskan waktu berhari hari untuk membedah setiap inchi perkamen pemberian Feng Ying. Simbol simbol kuno yang awalnya tampak seperti coretan acak mulai bertransformasi menjadi koordinat geografis yang presisi. Setelah melalui penelitian intensif yang menguras energi mental, peta itu akhirnya menunjuk pada satu titik di ujung utara yang terisolasi, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama mengerikan: "Sungai Abu".Sungai Abu bukanlah sekadar nama kiasan. Wilayah ini adalah lembah kematian di mana vegetasi enggan tumbuh dan udara terasa seperti mengandung serpihan logam. Sungai yang mengalir di dasarnya membawa sedimen vulkanik berwarna abu abu pekat, menciptakan ilusi visual seolah olah seluruh dunia di sana telah hangus terbakar oleh api langit. Masyarakat sekitar menghindari tempat ini, menyebutnya sebagai tan

  • Luka Yang Menembus Langit   Bab 70 - Dendam yang Kembali Menyala

    Suasana hangat yang diciptakan oleh kehadiran Liang Mei di penginapan perlahan memudar seiring malam yang larut. Setelah memastikan adiknya tertidur lelap, Liang Xiao kembali ke kamarnya. Ia duduk bersila di atas kasur, matanya menatap kosong ke dinding di depannya, namun pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. Kemenangan atas Ming Yu dan posisi barunya di peringkat sepuluh besar Daftar Seratus Murid Berbakat adalah pencapaian yang membanggakan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan akhir.Pengingat akan senyum tulus adiknya, kemurnian hatinya, adalah tamparan yang lembut namun kuat. Semua yang ia lakukan, semua bahaya yang ia hadapi, semua intrik yang ia lalui, pada akhirnya adalah demi keamanan dan masa depan Liang Mei, serta untuk memenuhi sumpah yang telah ia ukir di hatinya: balas dendam atas pembantaian keluarganya.Dengan pijakan yang kini semakin kokoh di Akademi Bintang Jatuh, dengan akses ke sumber daya yang lebih luas, dan deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status