MasukWARNING ⚠️: This book contains some violence, explicit and mature content, BDSM, and is highly rated 18+. Just once, he thrust deeper and my lips gaped, trembling…my fingers squeezed his cloth tighter. “Why do you smell this way? Just why?” his voice was barely a whisper. I wanted to answer him…to tell him he was the whore here, but fućk…..he pushed into me deeper, once, twice and again. …… It was supposed to be a seven day contract and then we parted ways, but I didn't just end up being his rival…one whose mother he's been searching for all these years, but also I became the slave who the Alpha king relieves his stress in her damped fold. Was it the matebond? I doubted it. He wasn't just all over me, but I also prayed each day that he sends for me, have me tied up and f*cked until my body convulsed under him. He was dominant and possessive, and I submitted to every bit of him…
Lihat lebih banyak‘’Hp siapa yang berbunyi? Mas Deno? Nggak, aku hapal betul bunyi nada deringnya. Tapi hp siapa?’’
Aku yang sedang menidurkan si kecil, buru-buru mencari sumber bunyi tersebut di seluruh sudut ruangan, hingga lemari sekalipun. Namun tak kutemui. Aneh. Di mana sebenarnya ponsel itu? Suara deringnya kembali terdengar, kali ini lebih lama. Aku menunduk, mencoba melihat ke bawah lemari. Tampak kilauan cahaya di bawah lemari. Dengan susah payah aku meraih ponsel yang sulit aku gapai. Begitu ponsel asing itu berhasil kugenggam, mataku tertuju pada layar yang menyala. ‘’2 Panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari WA? Siapa?’’ Dengan hati terus bertanya bergegas kutelusuri. ‘’Chika sayangku?’’ Membaca nama itu membuat dadaku terasa sesak, seperti ada ribuan jarum yang menusuk. Tanpa kusadari, air mataku mulai berjatuhan. ‘’A—apa Mas Deno selingkuh di belakangku? Kalo nggak, kenapa nama kontaknya Chika Sayangku? Aku harus cek pesannya,’’ bisikku pelan, air mata terus mengalir membasahi pipiku. Tanganku bergetar saat menekan ikon pesan. ‘’Mas, kapan sih mau menikahiku? Kita udah 4 tahun pacaran loh, loh.’’ Tubuhku seolah kehilangan kekuatan, aku melempar ponsel itu ke atas tempat tidur. ‘’Empat tahun kamu selingkuh Mas? Kenapa aku nggak pernah tahu, begitu licik dan pandainya kamu menutupi semuanya dari aku! Tapi, bagaimana pun menyimpan bangkai suatu saat baunya akan tercium juga.’’ Tanganku mengepal, air mata semakin deras mengalir. ‘’Kamu mau bermain denganku, Mas! Oke, aku akan ikuti permainanmu.’’ Kuseka air mata dengan kasar. ‘’Lelaki brengs*k itu nggak pantas ditangisi. Air matamu akan terbuang sia-sia saja, Nelda!’’ Aku kembali mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar, aku memutuskan untuk menghapus pesan dan tanda panggilan dari wanita itu. Lalu, meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. ‘’Begitu rapatnya kamu tutupi dari aku, Mas.’’ Aku kembali merebahkan tubuh ke tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Pandanganku sesekali tertuju pada anakku yang masih terlelap, wajah polosnya membuat hatiku teriris. Aku harus tetap kuat demi anakku, meski hatiku hancur berkeping-keping. ‘’Yang bisa aku lakukan saat ini adalah berpura-pura ngga tahu perselingkuhan kamu, Mas. Sampai rencanaku berjalan dengan lancar.’’ bisik hatiku. Hatiku sungguh terasa perih sekali. Beraninya Mas Deno bermain api di belakangku apalagi sudah 4 tahun. ‘’Kamu kira aku ini wanita apaan, Mas!’’ gumamku tersenyum sinis, pintu kamar terdengar berderit. Aku berpura-pura tertidur. Itu pasti Mas Deno yang masuk kamar. Mungkin dia baru selesai mandi, karena biasanya dia berangkat ke kantor lebih pagi. ‘’Kamu masih tidur, Sayang? Nggak solat?’’ Cuih! Aku jijik mendengar kata sayang dari mulut lelaki seperti kamu Mas. Solat? Kamu berpura-pura saleh, tapi hatimu busuk. Kamu bisa berbohong padaku, tetapi tidak pada Allah. ‘’Tukang selingkuh, nyuruh aku solat. Lucu ya?’’ gumamku dalam hati. Aku menahan tawa sinis dalam hati, tetap berpura-pura terlelap. ‘’Yang, bangun dong. Udah jam berapa ini, bikini aku sarapan.’’ Dia mengguncang tubuhku pelan. ‘’Apaan sih, Mas. Aku masih ngantuk nih. Kamu bikin mi aja sana,’’ jawabku malas, pura-pura baru terbangun. Kuusap mataku pelan. ‘’Mi? Kok kamu gitu sih? Kan kamu tahu, aku nggak suka makan mi,’’ katanya mulai kesal. Aku harus lebih berhati-hati, jangan sampai dia curiga. Segera aku bangkit, mencoba untuk bersikap seperti biasanya walaupun terasa menyakitkan. ‘’Maaf deh, Sayang,’’ kataku pelan. Kata sayang yang keluar dari mulutku terasa begitu menjijikkan bagiku. ‘’Iya. Kamu kan tau kalo Mas nggak suka mi,’’ ucapnya sambil merapikan rambut di depan cermin. Aku menyunggingkan senyum kecil. ‘’Habisnya aku ngantuk banget, Mas.’’ ‘’Ya udah, aku bikini kamu sarapan deh. Tapi aku nyuci muka dulu sebentar.’’ Dia hanya mengangguk lantas tersenyum menatapku. Aku membalas senyumannya, meski di dalam hati terasa muak. ‘’Sandiwara kamu sungguh luarbiasa, Mas!’’ gumamku, aku melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, aku melangkah ke dapur. Lalu membuka kulkas. Syukurlah, masih ada ikan dan seikat sayur. Sejujurnya, aku enggan memasak untuk suami yang suka selingkuh, tapi aku tak punya pilihan lain saat ini. Aku harus tetap bersikap seperti biasa, walau rasanya begitu sakit. Aku bergegas menyiapkan semua bahan. Membersihkan ikan terlebih dahulu lantas memoles dengan bumbu-bumbu halus yaitu bawang putih, bawang merah, kunyit, dan kububuhi garam kasar sesuai selera. Lalu kurebus hingga matang. Bayangan pesan wanita itu terus menghantui pikiranku. ‘’Lelaki pembohong dan nggak tahu diri, nggak seharusnya aku pertahankan!’’ kesalku dalam hati. Aku mencoba menahan amarah. Aku tak mau gegabah dalam bertindak, demi menjalankan semua rencana besar. Aku akan berpura-pura tak tahu bahwa aku sudah mengetahui perselingkuhan Mas Deno. ** Tak berselang lama, ikanku tampak sudah matang bergegas aku menggorengnya. Beberapa menit kemudian, aku telah selesai memasak dan merapikan dapur terlebih dahulu. Tiba-tiba aku merasakan tangan Mas Deno melingkar di pinggangku. Aku berhenti sejenak, merasa jijik dengan sentuhannya. Bayangan dia bersama wanita lain membuatku mual. ‘’Mas, ngapain sih? Ini aku sedang kerja loh,’’ sungutk, berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Namun, tenaganya lebih kuat. Dia tak tahu betapa sakitnya hatiku saat ini. ‘’Mas kangen kamu. Kenapa sih? Masa suami sendiri dimarahin,’’ ucapnya manja. Cuih! Aku hampir ingin muntah mendengar kata-kata manis itu, yang mungkin juga dia ucapkan pada wanita selingkuhannya. ‘’I—iya, Mas. Kan Mas tahu, aku lagi kerja nih,’’ lirihku, berusaha tetap tenang. ‘’Mas pasti laper kan? Ya udah sarapan dulu, kan Mas mau berangkat kerja. Ntar telat loh,’’ ucapku melepaskan tangan Mas Deno dari pinggangku. Dia seperti terheran menatapku. Semoga saja dia tak curiga dengan sikapku kali ini. Tanpa mempedulikannya, aku bergegas membawa makanan ke ruang makan, lalu menatanya di meja. Seketika Mas Deno duduk di kursi memandangku aneh. ‘’Kamu kok berubah sekarang, Yang?’’ ‘’Apa sih maksudmu, Mas?’’ Aku menatapnya, berpura-pura tak mengerti. ‘’Kamu kayak berubah sekarang, Nel,’’ ulangnya kembali, kali ini lebih serius. ‘’Hah? Berubah gimana? Kamu nggak demam kan, Mas?’’ Aku bergegas menyentuh keningnya untuk memastikan. Dia malah terkekeh pelan, lalu kembali menatapku. ‘’Apaan sih kamu. Mas kan serius nanya.’’ ‘’Kamu yang apaan, Mas. Kamu bilang aku berubah dari mananya berubah coba?’’ kesalku. Tanganku sibuk menuangkan kopi hangat. Mas Deno memandangku dengan penuh tanya, tapi aku tak peduli. Saat ini aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membalas pengkianatannya. Tanganku masih sibuk mengaduk kopi hangat untuk Mas Deno, sekilas menoleh pada lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu. ‘’Mas meluk kamu aja merasa gimana gitu, aku ini suami kamu loh. Nggak biasanya kamu bersikap kayak gitu,’’ jawab Mas Deno ketus. ‘’Alahh! Gayamu, Mas. Aku jijik memeluk kamu yang bekas dipeluk wanita murahan itu!’’ bisik hatiku. ‘’Kan aku lagi sibuk kerja, Sayang. Masa sih itu aja kamu langsung ngambek. Kayak anak kecil aja,’’ ucapku pelan dan bergegas memeluknya walau terasa jijik olehku. ‘’Iya, iya. Maaf deh, Sayang,’’ sahutnya kemudian. Aku menghela napas pelan. Segitu aja ngambek. Kamu egois, Mas! Di belakang aku aja selingkuh! Jangan-jangan itu untuk menutupi aibmu aja. Dasar lelaki! ‘’Ya udah, kita sarapan dulu ya,’’ ucapku sembari melepaskan pelukan. Dia mengangguk lalu tersenyum lebar. Sejak pengkianatannya terbongkar membuat aku malas memandanginya, hatiku hancur. ‘’Mas, Mas. Kamu lihat aja, aku lebih licik dari kamu!’’ Aku membatin sembari tersenyum sinis memandanginya. Oke, aku akan melakukan sesuatu padamu, Mas! Bersambung. Bantu support karyaku dengan cara beri ulasan, vote, follow, like, dan komentar ya. Terima kasih. ❤Ember’s POV“You aren't feeling well. Shouldn't you be resting instead?” I tried to break through him, not to let him go, but so he wouldn't think I was a whore like he was.He snorted and raised my jaw with his fingers after letting go of my waist. “It's still dark out there. You really want to mingle with ghosts? Or you forgot that this should be midnight?”I shook my head. I truly forgot, but I didn't think I should be blamed, because with light shining in every corner, one wouldn't believe it's still midnight.“So, what's the time?”“Why do you ask?” he scowled at me, and I ended up scoffing and covering my mouth. “It's almost 3 am, so what?” he gestured after checking on the wall clock there.I gazed at him, my arms folded, “I don't feel like climaxing today…”“You must think that I am asking for permission. Or did you forget the duties of a slave?”“Then rape me!!” I snapped at him and went towards the bed. He kept staring at me with a shocking expression. In his life, he would
Ember’s POVThe guards stared at me, and I knew they were contemplating how they could haul me away from their alpha's side. I didn't realize Camila was that stupid to order my arrest, whereas the alpha king was before us, and she wasn't even Luna.I kept massaging Vander's back chest, but my eyes fixated on the lunatic who thinks she has some sense.“Didn't you hear me? Aren't you seeing what she did to the alpha king? Or you want her to do more?” she yelled at the two men standing between us. “Take her out of here and let me take care of the alpha king…”Vander slowly opened his eyes. I was scared he was losing his breath.“What is going on here?” his voice sounded so deep and weak. He glanced at me and then faced Camila and her battalion. “Why is no one talking?”I pretended I wasn't hearing him. His consort could answer the question.Camila licked his lips and bowed to Vander, “Alpha, what happened to you? I came in to see the floor covered in your blood, and you were so weak you
Camila’s POVJust three spoons of the meal and I lost my appetite. I hadn't eaten well in the past two days, just because of the mess I got myself into.I had tried to seduce Vander like my mother advised, but the enhancement drug turned out to be so intoxicating that he was unconscious for more than twenty-four hours.He hadn't talked about it to me, but I knew deep down that he knew I was the cause of it, and that was where my fear was coming from.What if he kicks me out of the palace? I served him the meal myself and even told him that I took my time to prepare it for him, hoping that he would enjoy it, and according to what my mother said, that it would take about an hour before the drug took over him.But it wasn't even up to ten minutes after he began eating and he threw up blood. It still stunned me how a sexual enhancement drug could turn out to be a poison.. The thought of all that made me restless.I shifted the plate of meal to the side and stood up, facing the servant, “T
Ember’s POVWith his command, the cell door was opened, and he ordered that I follow him. I had thought he was heading to the palace, but he took me to my room.Surprisingly, a guard stood there, holding something in his hands. And the moment we reached him, he handed it to the alpha king.“You may leave!” Vander ordered him and led the way into my room.I was baffled as to why he was here, whereas the mistress had once said that he wouldn't show up when I demanded that he be called.He took a seat without waiting for me to say so, and then he opened the box. “I will watch you hung to death alive if you ever lose this mask again. It took me a lot to get them ready…”I threw my hands behind me, “So, how did you know what happened to the first one? I could recall telling the mistress to send for you but she refused, which is why I had to take that risk.”He did not spare me a glance, but said, “I read your mind…”“What? You did what? Why should you invade my privacy?” I couldn't even ke
Ember’s POVI felt so hollow as I watched the guard lock the cell that they had thrown me into. What was going on? Just because I didn't open my face when they ordered so, or was there something I didn't know?Even though Vander hated me and my mum so much, I hadn't set foot in this cell…yet here I
Ember’s POV“I make this vow for you, slave….” Camila tilted his shoulder high, looking up at me. Her cheeks were red, the side of her lips broken. “So long as I live, I will make your life miserable. You will forever regret accepting that deal.”I couldn't help but scoff. Was that supposed to be a
Ember’s POVWhen I heard the sound of the elevator, I almost pushed Vander. Not until Camila came into the light did I adjust my feelings and melt into the arms of this man.He thrusted me from under, his soft groans filling my ear while I tightened my arms around him. My body relaxed on the wall,
Ember’s POVI stayed indoors until noon. There was no need for me to get out of the room since the slave mistress had not yet come after me. But one person I didn't expect so fast was Camila.She was just crowned the alpha's consort, and I know she would never see me the same. She thought I was the












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.