LOGINOn the night of her eighteenth birthday, June’s world doesn’t just shatter, it awakens. She thought she was an ordinary girl on the brink of graduation, adopted and unremarkable, carrying only unanswered questions about her past. But when the moon rises, so does the truth: she is a werewolf, heir to a bloodline steeped in ancient magic and bound by destiny. Thrust into a hidden world where power is currency and secrets are lethal, June finds an unlikely ally in Killian, a formidable wolf whose loyalty is as fierce as his strength. Their search for answers leads them from shadowed forests to the sands of Egypt, where a mystic oracle guards prophecies older than empires—and where June’s lineage is whispered as both salvation and doom. Along the way, they cross paths with a vampire tailor whose enchanted needles stitch more than fabric, weaving protection, deception, and fate itself. But even his magic cannot shield June from the greatest revelation awaiting her: a queen returned from the dead, risen to reclaim a throne drenched in blood and moonlight… and tied irrevocably to June’s own heritage. As the Council of Twelve tightens its iron claws around her, June must unravel the truth of her origins before it consumes her. Every step draws her deeper into a destiny she never asked for but can no longer escape. Her lineage is her power… or her execution.
View More.
"Astaga! Dasar operator, cuma tujuh ribu doang ditagih mulu," celotehku karena kesal setiap kali pesan masuk ke ponselku, memberitahu kalau pinjaman pulsa kemarin belum kulunasi.
Yah, tentu saja. Kalau saja aku punya uang untuk apa aku menerima pinjaman pulsa dari si Om Teko itu, kan? Kurang kerjaan saja jadinya. Sudah tahu tanggal tua begini seharusnya pihak mereka mengerti kalau suamiku belum gajian. Lagian nunggu gaji dari menulis juga belum tahu entah kapan, orang tulisannya aja sudah dibaca atau belum sama pemirsa aku 'nggak tau. Boro-boro buka gemboknya. Sabar."Ada apa, sih, Dek?" tanya suamiku yang mungkin muak dengan suara cemprengku, "Orang, kok, setiap hari ngomel mulu. Enggak bosen apa? Entar cepet tua baru tahu rasa!" sambungnya ketus seperti biasa."Eh-eh, Abang! Apa-apaan, sih. Malah 'ndoakan adek cepet tua. Seneng, ya, kalau Adek cepet mati terus kawin lagi gitu, hah?" gertakku tak terima, masa iya aku dibilang cepat tua auto emosi tingkat Dewa Api lah."Nah, ini. Dibilangin malah gantian marah, emak-emak jaman sekarang emang begitu, kebanyakan nonton drama kolosal jadi galaknya kayak ayam baru turun dari sarang. Hii!" lagi-lagi suamiku mengejek serius sambil bergidik."Eh, aku ngomel demi kebaikan kita juga," tukasku tak mau kalah."Kebaikan apaan, ngomel gitu. Terus itu hutang apaan?""Hutang pulsa dari operator," jawabku singkat sambil memanyunkan bibir sok manja berusaha mencairkan suasana, tapi sepertinya gagal."Kok, bisa-bisanya Adek bikin hutang tanpa sepengetahuan Abang, hah? Sejak kapan adek begitu, bikin hutang diam-diam?" hardiknya sambil melotot.Buset, dah! Suamiku ini nggak sadar diri juga. Uang bulanan saja dia yang pegang entah untuk apa, aku cuma dijatah seratus ribu setiap Minggu. Apa dia kira uang segitu cukup untuk semua hal, belum lagi nanti kalau ada sumbangan dadakan."Eh, Abang! Aku hutang pulsa untuk membuka aplikasi menulisku, ya! Moga aja dari sana entar aku dapat royalti. Kalau sudah, aku akan beli bedak dan pakaian mahal. Mengharapkan gajian Abang entah kemana uang segitu banyak. Apa Abang pikir uang seratus ribu cukup untuk seminggu," ujarku panjang lebar. "Aku harus susah payah sendiri demi uang jajanku.""Waw! Pintar sekali sekarang melawan suami, ya! Belajar dari mana? Dari sinetron mewek-mewek itu, hah?!" sahutnya sinis seraya menepuk kedua telapak tangannya bak bos mafia.Sepertinya emosi suamiku sudah mulai terpancing. Ayo, marahlah. Aku juga sedang semangat empat lima ini untuk meluapkan unek-unek yang menjejal diruang kepalaku. Bukan niatku untuk kurang ajar, tapi sesekali dia harus mendengar alarm keras dariku."Tanya aku belajar dari mana? Tentu dari dirimu, Bang! Lihatlah, apa selama ini kau mencukupi nafkahku dengan gaji segunungmu itu? Kau bawa kemana uang itu?" Dengan berani aku menantangnya. "Kamu pikir aku ini babu, kalaupun babu aku perlu gaji, tapi mana? Abang asik main dan mentraktir kawan, sementara aku harus memutar otak untuk mengolah jatah yang Abang beri, apa itu masuk akal?"Sekarang dia mati kutu, kan? Apa yang kuucapkan memang benar adanya. "Dan satu lagi, Bang!""Apa?" Dia menghardik memotong kata-kataku, "Kamu tidak terima dengan pemberianku, hah? Baik, kalau begitu cari saja suami lain yang mau memberikan seluruh gajinya untuk istri tidak tahu diri sepertimu. Sudah bagus masih dikasih makan, ini malah ngelunjak saja. Sana, pergilah! Mulai hari ini kamu bulan istriku! Paham!"Suara lantang itu tajam menusuk ulu hatiku. Sakit, luar biasa sakit. Aku sudah cukup mengalah selama ini, tak pernah menuntut hidup mewah meskipun ia punya segudang anggaran yang seharusnya bisa memanjakanku sebagai seorang istri. Tapi nyatanya, dia tidak lebih dari seorang pecundang tak tahu malu. Cuma gara-gara hutang tujuh ribu saja dia berani menalakku dengan angkuh. "Kamu tidak sadar sedang berbicara dengan siapa, Bang? Aku istrimu! Suksesmu hari ini adalah bagian dari doaku juga, tapi Abang tak adil padaku. Abang terlalu serakah. Silahkan nikmati harta yang kamu bangga-baggakan itu, tapi dengar! Aku tak pernah sedikitpun iklhas dunia akhirat, camkan itu!"Tidak perlu menumpahkan air mata untuk lelaki tak tahu adab seperti itu, aku sudah cukup siap untuk kata-katanya. Tangisku terlalu berharga, kalau hanya untuk meratapi luka yang setiap hari sudah sangat biasa aku lalui saat menljadi pasangan hidupnya. Sekarang tidak lagi, dan tidak akan lagi. "Kamu memang tidak tahu diri, tidak ingat aku memungutmu dari tempat sampah, hah?" Jari telunjuknya terus mengacung tepat ke wajahku, "sekarang kamu sudah pandai menceramahiku, tidak bersyukur sudah kuberi status dan tempat berteduh. Memang benar, sampah memang selamanya sampah!" umpatnya dengan mata memerah dan dada yang selalu membusung, menunjukkan betapa sombongnya maklhuk satu ini. Tiada filter dia berbicara kasar padaku, sekian lama aku berusaha dan berjuang merubah diriku yang dulu, tapi tak pernah dia hargai sedikitpun. Malah selalu diungkit. Akhirnya masih dengan kemurkaannya yang mungkin tak akan bisa padam, ia pergi meninggalkanku yang sementara masih bungkam sambil menonton kelakuan tak elok suamiku itu. Lebih tepatnya mantan suami."Hari ini, kamu bisa berkata seperti itu. Kamu tak tahu, sampah itu bisa didaur ulang. Dan nanti, aku akan tunjukkkan betapa berharganya sampah itu," gumamku lirih.Dengan penuh keyakinan kukemasi barangku, aku bersumpah dalam hati akan membuatnya menyesal sepanjang hayat telah memperlakukan diriku seperti ini. Tunggu saja, Bang, akan kubuktikan tujuh ribu yang sedang kuperjuangkan hari ini akan menjadi Terios suatu saat nanti.His gaze locked on mine, and for a second everything stopped. Me. Him. The world. Then he launched forward, his muscles coiling like ropes ready to snap. The ground shook beneath the weight of his body.I turned and ran. I ran with everything I had. The trees blurred past me, branches whipping at my skin, but I didn’t feel them. My heart pounded, not just from fear but from urgency. I couldn’t let him change his mind and go after her. It's my job now. To be faster. Smarter. More desperate.His growls tore through the night, closer and closer. Branches cracked behind me like breaking bones. I knew he was gaining. I knew I couldn’t keep this up much longer. I risked a glance over my shoulder and nearly tripped. He was there. Massive. Foaming. His red eyes burning with hunger. With want.I forced my legs to go beyond what they were capable of. The air scorched my lungs, and the edges of my vision began to darken. But I kept going. Because this was for her.And then, up ahead, a chance: a
The sound came again. Closer this time. The crunch of dead leaves and branches being pushed aside under something heavy. It was deliberate, steady. Then silence. The kind that pulses. The whole forest seemed to be holding its breath with us.We held our breath, muscles locked, like any movement might draw its attention. The sound began to circle, first to the right, then to the left, then it vanished. Slowly, every muscle screaming, I stretched my neck, pulled air back into my lungs, and with my heart lodged in my throat, I peeked through the roots.Nothing. No shadow. No sound. But the terror was still there, clinging to my skin like a second body.“He’s gone,” I murmured, trying to believe it, as if saying it out loud might make it real. A brief wave of relief passed through my chest, but it vanished in the same instant, swallowed by an even deeper emptiness. “But... where?”“Don’t go out there, June,” Cherrie tugged on my clothes, and there was so much desperation in the gesture it
I nodded, even though I couldn’t say a word, with the air burning in my lungs like I’d just inhaled fire. The road was already behind us, swallowed by the blur of darkness, and all that existed now was the forest, dense, suffocating, far too tight. The pines swallowed us whole like a sea without light, and the sharp smell of wet earth and needles hit me in the face like a slap. The ground was uneven, covered in roots and jagged branches that seemed determined to stop us, to hurt us. Every step was a new scratch on my skin, every branch a warning that we shouldn’t be there. But we couldn’t stop. Behind us, his howls tore through the air, mixed with the horrible sound of claws ripping through the ground. Closer every second. More real with every breath.“We have to keep going. Find shelter, anything,” I shouted, even though my throat was already raw and burning. My voice came out choked, cut by short gasps. “He’s close, Cherrie. Way too close.”She stumbled beside me, her body trembling
“What... what is that!” Cherrie stammered, her eyes wide with fear. “June, this isn’t funny. He’s terrifying.” Her voice was barely audible, and it looked like she might fall apart right there in the car. She shrank into herself like she wanted to disappear.“I want to leave,” I whispered back, almost unable to form the words. My eyes were glued to his, or whatever that thing was. Something about him was wrong. Wrong in a way I couldn’t explain, only feel.Cherrie started apologizing so desperately it hurt to hear. Her voice broke, shaking, and her eyes were already full of tears, ready to fall. “I’m really sorry, officer. I didn’t mean to litter. Please, forgive me.”He leaned in. Not fast, not aggressive. But the way he filled the space… it was like the air had grown heavier, thicker. His head tilted slowly to the side, like an animal sniffing out danger. And that’s when I saw his eyes. Red. But not like someone tired. A pulsing, restless red, like something was about to explode fro






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.