Share

Bab 19 - Merasa Bersaing

Author: Rahmani Rima
last update publish date: 2026-05-27 10:42:42

Adriel kaget sepersekian detik, lalu pelan membalas pelukan itu. Tangannya mengusap punggung Vio pelan. Tidak ada kata-kata, hanya pelukan panjang di koridor rumah sakit yang sepi.

Perawat berdiri tak jauh dari tempat mereka pelukkan. "Dok, ada tindakan di ponek."

Adriel mengangguk. Ia melepaskan pelukkan Vio dan melangkah tanpa pamitan. Istrinya otomatis ikut beberapa langkah di belakangnya.

Adriel berhenti dan menoleh. "Istirahat aja."

"Aku bisa ikut. Jam jaga aku belum selesai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 43 - Penawaran Langka

    Sudah beberapa hari Vio tidak pulang. Alasannya sibuk. Padahal Adriel tahu betul poli obgyn sedang tidak ramai. Dia rindu Vio yang tidak lagi mengirim pesan random tengah malam, tidak lagi refleks mencari matanya saat mereka berada di ruangan yang sama. Seperti orang yang baru saja menemukan puzzle yang potongannya tidak cocok. Mereka bahkan baru dekat lagi. Sekarang malah berjarak lebih jauh.Vio jelas rindu Adriel. Perhatiannya yang dingin, tingkahnya yang kekanak-kanakan, galak tapi selalu dapat pemakluman. Tapi di kepalanya hanya ada satu pikiran yang berulang. Mungkin dari awal pernikahan ini memang tidak baik-baik saja.Baru saja mereka mulai akur. Baru saja dia mulai mencoba percaya. Tapi selalu ada sesuatu yang meruntuhkan semuanya lagi. Dan kali ini… yang runtuh bukan logika, tapi hatinya.Hari ini Vio akhirnya melakukan sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sangka. Dia mencari Sarah. Bukan untuk marah. Hanya ingin tahu sesuatu lebih dalam.Sarah terlihat cukup kaget

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 42 - Nasib Amnesia

    Jam baru menunjukan pukul sembilan, tapi poli obgyn sudah sangat sibuk. Semua staf kelelahan karena terdengar alarm kode biru dan panggilan darurat sejak pagi.Vio terduduk di lantai meja jaga karena semua kursi terisi. “Ya ampun, berkas!”Dia menepuk kening. Berkas yang sudah ditanda tangani Adriel masih tersimpan di meja ruang pribadinya, sedangkan laporan itu harus segera di berikan pada ketua departemen obgyn.Dengan langkah cepat Vio berjalan menuju ruang Adriel. Pintunya sedikit terbuka. Dia mengetuk pelan lalu masuk dan langsung berhenti di tempat. Ada seorang lelaki paruh baya duduk santai di sofa sambil membaca koran.Vio berkedip. "Maaf, pak?”Beliau menurunkan korannya pelan. Wajahnya tenang sekali. “Iya, dok?”“Bapak sudah buat janji dengan dokter Adriel?”Bapak itu menahan senyum. “Belum.”Vio langsung menarik napas panjang, ekspresinya berubah serius—mode residen galak aktif. “Wah, kalau belum bikin janji biasanya beliau nggak mau ketemu, pak.”Bapak

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 41 - Nyaris!

    Vio tidak jadi jaga malam. Dia masih diberi kelonggaran waktu sampai besok. Jadinya ia pulang bersama Rocky.Vio berbaring menatap langit-langit kamar. Matanya lelah. tapi kantuk tidak datang. Rumah eyang sudah sunyi sejak lama. Bahkan suara jangkrik dari halaman belakang terdengar lebih jelas daripada biasanya.Vio membalik badan. Lalu membalik lagi. Tetap tidak bisa tidur. Tangannya meraih ponsel. Pukul 00.27 wib.Ia mendesah panjang. "Kok gue kepikiran terus sih soal omongan Rocky?"'Lo dipanggil sayang aja nolak.''Emang lo udah siap?'Vio menarik selimut sampai dagu. Jawabannya : tidak siap. Itu jawaban yang bahkan tidak bisa ia bantah. Tapi bukan berarti ia tidak ingin. Justru itu masalahnya.Vio menutup mata, lalu membukanya lagi beberapa detik kemudian."Adriel udah pelung belum, ya?" Ia duduk, mengacak rambutnya sendiri, lalu turun dari ranjang."Cuma lihat dia udah pulang apa belum."Vio membuka pintu kamarnya perlahan. Koridor gelap. Kamar Adriel bera

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 40 - Menjauh

    Kondisi Vio sudah lebih baik. Ia makan tanpa di suruh, mulai menikmati kopi lagi, dan tertawa bersama pasien dan staf lain. Adriel senang, Vio tidak larut dalam kesedihanya.Adriel menaruh berkas di meja jaga, melirik Vio yang sedang membuat order pasien. "Sayang, makan siang di ruanganku yuk."Vio otomatis mendongak. "Sayang? Siapa yang izinin kamu manggil gitu?"Adriel kiceup. "Jadi?""Vio aja." Katanya sambil fokus ke layar komputer.Beberapa perawat yang ada disana pura-pura sibuk."Oke, Vio. Padahal aku pikir kalo udah pacaran lama udah bisa upgrade panggilan."Vio mendesah. "Jangan dulu, aku masih geli dengernya. Nanti kalo siap, aku kasih tahu."Adriel cemberut. "Tawaran makan siangnya gimana?"Vio berjalan cepat ke arah bangsal. "Gak bisa, aku sibuk. Oyah, mulai malam ini aku udah jaga malam. Kamu pulang aja duluan."Adriel membuang nafas. Ia mengambil bolpoin dan tanda tangan penuh tekanan."Biasa aja dong, kalo kertasnya bolong harus ada tumbal yang pri

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 39 - Kontribusi Adriel

    Pulang dari rumah sakit ternyata tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Adriel memaksa Vio untuk pulang, harapannya agar istrinya bisa punya waktu menenangkan diri. Vio tidak menolak. Bahkan ia langsung setuju begitu perintah itu keluar. Tapi yang terjadi ternyata lebih parah dari yang Adriel bayangkan. Karena di rumah tidak ada pasien yang harus diperiksa, tidak ada visit, tidak ada laporan operasi, tidak ada alasan untuk terus bergerak.Yang ada hanya keheningan. Dan keheningan memberi terlalu banyak ruang untuk mengingat."Vi, mau ikut eyang mancing gak?" eyang berharap jawaban Vio iya.Vio menggeleng pelan tanpa menatap eyang.Hari ketiga setelah pulang, Vio menghabiskan hampir seluruh waktunya di belakang rumah. Ia duduk di kursi rotan dengan selimut menutupi kaki. Secangkir teh di atas meja sudah dingin sejak satu jam lalu.Adriel keluar membawa jaket. Tanpa bicara, ia menyampirkannya ke bahu Vio. Angin pagi ini cukup kencang. "Aku buatin

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 38 - Rencana Hamil Lagi

    Vio masih belum mau bertemu siapapun. Membuat Rocky sangat frustasi di luar ruangannya. Elsa yang juga kesal karena Vio masih belum mau bertemu mereka, hanya bisa duduk di ruang tunggu sambil membuat laporan jaga."Gue bisa gila." Rocky mengacak-acak rambutnya.Sarah dan Qairo yang juga duduk disana sambil sarapan sebelum praktik rawat jalan, melirik Rocky bersamaan."Sabar aja dulu, bang. Vio pasti masih terguncang.""Gue cuma mau liat adek gue."Qairo berhenti makan. "Gue pikir lo gak sesayang itu sama Vio."Rocky menoleh sekaligus. "Gue emang sering bikin dia kesel. Tapi soal sayang boleh di adu."Elsa tertawa. Pintu terbuka. Adriel melongokan kepalanya. "Ky, lo boleh masuk."Rocky langsung berkeliling mengacungkan kedua tangannya seperti tanda kemenangan. "Kalian masih masuk waiting list. Gue duluan.""Euh, sombong." Elsa berdiri, "Bilangin gue juga pengen ketemu.""Jangan, nanti Vio beku kalo ada lo.""Ih, awas lo ya, bang."Rocky menutup pintu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status