Share

Akar yang Saling Membunuh

Author: Pena itu
last update publish date: 2026-03-26 17:07:48

Tangan saya bergetar hebat. Buku tua bersampul kulit hitam itu terasa lebih berat daripada beban Bumi di punggung saya. Di bawah siraman cahaya obor yang dibawa si pengacara, nama itu terpampang nyata, ditulis dengan tinta merah yang sudah menghitam dimakan usia: FAJAR ADITYA SUBROTO.

​"Apa... apa maksudnya ini?" suara saya nyaris hilang, tertelan gemericik air sungai yang deras di bawah jurang Pematangsiantar. "Kenapa nama suamiku ada di buku sejarah kelam keluargaku sendiri?"

​Pengacara itu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Fajar yang Berdarah

    Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri.​"Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan.​"Nan... di sini..."​Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar.​"Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Likuidasi Moral di Dasar Sungai

    ​Dingin. Itu adalah hal pertama yang menyambutku. Dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi merasuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah sungai di bawah jurang Pematangsiantar ini adalah cairan es yang langsung membekukan aliran darahku. Suara teriakan Maria yang histeris dan raungan Fajar di atas sana seketika lenyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekakkan telinga di bawah permukaan.​Aku tidak mencoba untuk berenang. Tubuhku terasa berat, bukan hanya karena pakaian yang basah kuyup, tapi karena beban dosa masa lalu yang baru saja kubaca di Buku Hitam itu. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan. Di sana, di dalam kegelapan rahimku, ada sesosok nyawa yang belum sempat melihat dunia, namun sudah membawa kutukan dari kakeknya—seorang pembunuh.​“Maafkan Ibu, Nak,” bisikku di dalam hati. Air sungai yang amis masuk ke dalam mulutku, menyesakkan paru-paruku.​Pandanganku mulai mengabur. Cahaya obor di atas jurang tadi kini hanya tampak seperti kunang-kunang kecil yang perlahan pa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Akar yang Saling Membunuh

    Tangan saya bergetar hebat. Buku tua bersampul kulit hitam itu terasa lebih berat daripada beban Bumi di punggung saya. Di bawah siraman cahaya obor yang dibawa si pengacara, nama itu terpampang nyata, ditulis dengan tinta merah yang sudah menghitam dimakan usia: FAJAR ADITYA SUBROTO.​"Apa... apa maksudnya ini?" suara saya nyaris hilang, tertelan gemericik air sungai yang deras di bawah jurang Pematangsiantar. "Kenapa nama suamiku ada di buku sejarah kelam keluargaku sendiri?"​Pengacara itu, pria tua dengan kacamata yang salah satu lensanya retak, menatap saya dengan rasa iba yang membuat perut saya semakin mual. "Nyonya Kinan, Anda pikir pernikahan Anda dengan Tuan Fajar adalah sebuah kebetulan yang manis di Labuan Bajo? Anda pikir Maria Subroto memilihkan menantu 'orang aspal' hanya untuk menghina Anda?"​Ia membuka halaman tengah buku itu. Di sana, tertempel sebuah foto hitam putih yang sudah kusam. Foto dua orang pria muda sedang berdiri di depan sebuah dermaga lama—dermaga yang

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Pusaran Rahasia di Pematangsiantar

    Udara Pematangsiantar pagi itu tidaklah ramah. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah di pinggir jalan. Aku turun dari bus antarkota dengan menggendong Bumi yang masih terlelap, sementara Bima membantu Fajar turun dari pintu belakang bus dengan kursi roda lipatnya. Wajah Fajar pucat, bibirnya membiru karena AC bus yang bocor sepanjang malam, namun matanya menatap deretan pohon sawit di kejauhan dengan tatapan waspada.​"Kita benar-benar melakukan ini, Nan?" bisik Fajar, suaranya parau tertelan deru mesin bus yang menjauh. "Kita datang ke tempat yang bahkan ibu kamu sendiri tidak berani sebut namanya?"​Aku membetulkan letak kain jarik yang menyangga Bumi. "Kita tidak punya pilihan, Dit. Maria sudah di sini. Jika 'Buku Hitam Nelayan' itu benar-benar ada di kota ini, kita harus menemukannya sebelum dia menggunakan buku itu untuk membumihanguskan Labuan Bajo secara hukum."​Kami menyewa sebuah angkutan kota tua yang berbau bensin t

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Keturunan yang Tersisa

    ​Pesawat perintis yang membawaku kembali ke Labuan Bajo bergoyang hebat dihantam badai kecil di atas perairan Komodo. Perutku mual, bukan hanya karena guncangan udara, tapi karena rahasia yang kini berdenyut di dalam rahimku. Aku meraba perutku yang masih rata di balik daster batik yang kini sudah bersih, namun tetap terasa berat. Di sana, ada sebuah kehidupan yang tidak tahu bahwa ayahnya sedang lumpuh dan ibunya baru saja melewati neraka di bawah tanah Bogor.​Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan bau garam menyambutku seperti pelukan seorang kawan lama yang kasar. Aku tidak menunggu jemputan mewah. Aku berjalan keluar bandara, menyeret tas ransel kusamku, menuju sebuah puskesmas kecil di pinggiran kota.​Di sana, di sebuah kamar dengan dinding yang catnya sudah mengelupas dan bau karbol yang menusuk, aku menemukan duniaku yang sesungguhnya.​Fajar duduk di atas kursi roda tua yang bannya sudah gundul. Ia menatap ke luar jendela, ke arah laut yang biru, namun matanya kosong.

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Labirin Angka dan Nyawa

    Ruang bawah tanah di rumah Bogor ini mendadak terasa seperti peti mati yang luas. Cahaya lampu neon di atas kepala kami berkedip-kedip, mengeluarkan bunyi dengung listrik yang menyakitkan telinga. Aku berdiri mematung, menatap Bramantyo Subroto yang berdiri tegak dengan tongkat peraknya—pria yang selama sepuluh tahun ini menipu dunia dengan kursi rodanya.​Di layar ponsel yang ia genggam, aku melihat Fajar. Suamiku. Pria yang dulu begitu gagah, kini terikat di kursi kayu di sebuah gudang gelap di Labuan Bajo. Kepalanya terkulai, darah mengering di sudut bibirnya, dan di sampingnya... Bumi, anakku, sedang menangis tanpa suara karena mulutnya dilakban hitam. Di dada mereka, melingkar kabel-kabel merah dan hijau dengan timer digital yang terus berdetak mundur.​05:59... 05:58...​"Kau pikir kau cerdas, Kinan?" Bramantyo melangkah maju, suara ketukan tongkatnya di lantai semen terdengar seperti detak jantung maut. Tuk... tuk... tuk... "Kau pikir akuntansi bisa menyelamatkanmu dari realita

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sayap yang Coba Dipatahkan

    Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak s

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Benalu yang Kehilangan Pohon

    Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Di Titik Nadir Kehancuran

    Rumah Sakit Medika pukul dua dini hari. Lorongnya tampak seperti koridor panjang menuju alam lain—dingin, remang, dan hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah. Kinan berjalan perlahan. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema yang seo

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Arang di Wajah Bapak

    Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status