LOGINUdara di Lembah Dirgantara tidak sehangat Labuan Bajo. Di sini, angin pegunungan bertiup menusuk tulang, membawa aroma pinus yang basah dan bau sangit dari gubuk-gubuk warga yang mulai dijilat api. Aku berdiri di tengah alun-alun desa, dikelilingi oleh pria-pria yang sorot matanya lebih tajam dari parang yang mereka genggam. Di tanganku, sertifikat tanah itu terasa berat, seolah ribuan nyawa leluhurku sedang menekan telapak tanganku agar tidak goyah.Barata melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi gesekan bot di atas tanah berbatu yang terdengar seperti lonceng kematian. Bekas luka bakar di lehernya berkilat terkena cahaya obor, memberikan kesan mengerikan pada wajahnya yang kaku. Ia menatapku, bukan dengan amarah, tapi dengan rasa penasaran yang dingin."Arga Dirgantara punya keberanian yang bodoh, dan rupanya dia mewariskannya padamu, Kinan," suara Barata parau, seperti gesekan dua batu kali. "Kamu tahu apa yang terjadi pada orang berani di lembah ini? Mereka menjadi pu
Labuan Bajo hari ini terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang membuat telingaku berdenging karena waspada. Sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan laut, memantulkan cahaya perak yang menyilaukan mata, namun di dalam dadaku, mendung dari masa lalu ayahku belum sepenuhnya beranjak. Aku berdiri di dermaga kayu di depan warung, memandangi gulungan kertas tua yang diberikan Paman Aris semalam. Kertas itu berbau debu, tanah basah, dan rahasia yang terkubur selama dua puluh lima tahun."Nan, kopinya. Jangan dibiarkan dingin, nanti rasanya asam seperti pikiranmu," suara Fajar memecah lamunanku.Ia berjalan menghampiriku, kali ini tanpa menyeret kakinya sama sekali. Ada kekuatan baru di langkahnya sejak kejadian di Jakarta. Ia meletakkan cangkir kaleng berisi kopi hitam pekat di atas pagar dermaga. Aroma robusta yang kuat menyengat hidungku, memberikan sedikit rasa sauh di tengah badai emosi yang berkecamuk."Dit, apa kita benar-benar harus melakukan ini?" tanyanya pelan sembari men
Jakarta di jam empat pagi adalah sebuah kota yang sedang mencuci dirinya sendiri. Hujan gerimis yang turun sejak semalam menyisakan uap tipis di atas aspal Menteng yang hitam mengkilap. Aku duduk di kursi depan mobil van Bima, menyandarkan kepalaku yang berdenyut hebat pada kaca jendela yang dingin. Bahu kananku sudah dibebat perban darurat oleh Bima, rasanya seperti disulut api setiap kali mobil menghantam lubang jalanan. Namun, rasa perih itu justru membuatku merasa hidup. Ia menjadi bukti fisik bahwa malam ini bukan sekadar mimpi buruk yang panjang.Di kaca spion tengah, aku bisa melihat bayangan Fajar. Ia duduk di lantai mobil, memeluk Bumi dan Langit yang tertidur lelap di atas tumpukan selimut kumal. Wajah Fajar tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam; ada garis-garis kelelahan yang dalam di keningnya, dan jelaga hitam masih membekas di sudut bibirnya. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya mengusap rambut Bumi, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa putra sulungnya itu b
Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya."Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg
Jakarta malam ini tidak menyambut kami dengan pelukan, melainkan dengan taring-taring neon yang berkilau di balik kabut polusi. Mobil van butut Bima merayap pelan di aspal Menteng yang halus—aspal yang dulu pernah kujejaki dengan sepatu hak tinggi merk luar negeri, namun kini kulewati dengan sandal jepit dan daster batik yang warnanya sudah memudar. Di kursi belakang, Bumi merintih pelan dalam tidurnya. Bau antiseptik dari perban kakinya memenuhi ruang sempit mobil, bercampur dengan bau keringat dingin Fajar yang duduk kaku di sampingnya."Nan, lihat itu," bisik Bima sembari menunjuk ke arah gerbang raksasa berlapis emas di ujung jalan.Rumah besar keluarga Subroto. Rumah yang seharusnya menjadi saksi bisu kejatuhan Maria, kini justru berpendar terang benderang. Ratusan lampion mawar hitam digantung di sepanjang pagar, memberikan cahaya merah yang menyeramkan ke arah jalanan. Deretan mobil mewah—Rolls-Royce, Bentley, hingga Maybach—terparkir rapi, dikawal oleh pria-pria berbadan teg
Layar televisi di ruang tunggu Rumah Sakit Umum Daerah Labuan Bajo itu tidak pernah berhenti berkedip. Berita sela demi berita sela muncul dengan latar belakang musik yang menegangkan. Wajah-wajah yang selama ini hanya muncul di kolom opini koran atau di balik meja-meja eksekutif Jakarta, kini terpampang sebagai tersangka. Nama "Mawar Hitam" menjadi tren nomor satu di media sosial. Dan di tengah pusaran badai informasi itu, ada satu nama yang terus disebut oleh para analis: Kinan Dirgantara.Aku duduk di kursi plastik yang keras, memandangi pantulan wajahku di kaca jendela yang buram. Aku tampak seperti hantu. Lingkaran hitam di bawah mataku menceritakan lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan kata-kata. Di sampingku, Langit tertidur pulas dengan kepala bersandar di pahaku, tidak sadar bahwa ibunya baru saja menekan tombol "hancurkan" pada sebuah dinasti yang telah berkuasa selama tiga dekade."Nan, minumlah," Fajar menyodorkan segelas air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Ta
Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe
Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah dinding kayu rumah Bapak, membawa aroma embun dan tanah basah yang biasanya menenangkan. Tapi bagi Kinan, setiap berkas cahaya itu terasa seperti lampu sorot interogasi. Ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat memegang pisau untuk mengiris b
Bandara Internasional Soekarno-Hatta malam itu terasa begitu dingin, atau mungkin hanya hati Kinan yang sudah membeku. Bau parfum mahal, deru koper yang ditarik di atas lantai pualam, dan suara pengumuman jadwal penerbangan yang monoton menciptakan simfoni perpisahan yang ganjil. Kinan menggandeng







