LOGINBau belerang dari mesiu dan aroma amis darah segar memenuhi udara malam di puncak mercusuar. Suara desingan peluru yang tadi memekakkan telinga mendadak digantikan oleh kesunyian yang lebih mengerikan—jenis kesunyian yang hanya muncul setelah malaikat maut selesai memanen nyawa. Aku masih meringkuk di balik batu karang, tangan Fajar mencengkeram bahuku begitu kuat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang liar merambat ke kulitku.Namun, mataku tidak bisa beralih dari pria itu.Pria yang berdiri di bawah cahaya lampu sorot yang miring, memegang pisau komando yang masih meneteskan darah Barata. Wajahnya adalah cermin dari masa lalu yang tidak pernah kuketahui. Garis rahangnya, sorot matanya yang tajam namun menyimpan kesedihan mendalam, dan cara dia berdiri yang begitu otoriter—dia adalah bayangan hidup dari Arga Dirgantara."Siapa kau?" Suara Fajar keluar sebagai geraman rendah. Ia tidak menurunkan senjatanya, meski pria itu baru saja menyelamatkan nyawa kami.Pria itu menye
Seminggu setelah perayaan di dermaga yang terasa seperti kemenangan abadi itu, Labuan Bajo mulai menunjukkan wajah aslinya yang lain. Bukan lagi wajah matahari terbit yang hangat, melainkan wajah sunyi yang mencekam. Aku berdiri di dapur warung, jemariku gemetar saat mencoba menuangkan madu ke dalam teh hangat untuk Fajar. Entah kenapa, rasa manis madu itu kini terasa getir di lidahku. Peringatan Paman Aris tentang "Barata" dan tanah Sumatera terus berdengung di telingaku seperti suara lebah yang marah."Nan, kopinya tumpah," tegur Fajar lembut.Aku tersentak. Cairan hitam pekat itu sudah membanjiri meja kayu jati kami, meresap ke dalam pori-pori kayu seolah-olah sedang menandai wilayahnya. Aku segera meraih lap kain, namun Fajar menahan tanganku. Ia menatapku dengan mata yang dalam, mata yang menyiratkan bahwa ia pun merasakan hal yang sama: ketakutan yang merayap diam-diam di bawah aspal rumah kami."Kamu tidak bisa terus seperti ini, Kinan. Kamu terjaga sepanjang malam, menatap
Labuan Bajo, 2041. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah retakan menjadi taman. Pagi ini, udara Bajo terasa begitu manis, seolah-olah laut sengaja mencuci dirinya sendiri untuk menyambut fajar yang baru. Aku berdiri di beranda rumah panggung kami, menghirup aroma kopi robusta yang bercampur dengan harum mawar merah yang mekar sempurna di sepanjang pagar. Mawar itu bukan lagi mawar hitam yang menyeramkan milik Maria; mereka adalah mawar merah darah yang segar, ditanam di atas tanah yang dulu pernah hangus terbakar. Aku meraba bekas luka di bahu kananku—sebuah garis tipis yang kini sudah memudar, namun tetap terasa nyata di bawah jemariku. Luka itu adalah sertifikat kelulusanku dari sekolah kehidupan yang kejam. Di sampingku, sebuah papan nama kayu jati yang baru dipasang berkilat tertimpa cahaya matahari: "Pustaka Dirgantara & Kedai Aspal." "Ibu, neraca bulan ini sudah selesai. Ada selisih dua ribu rupiah di kolom logistik, tapi aku sudah menemukannya. Itu biaya
Udara di Lembah Dirgantara tidak sehangat Labuan Bajo. Di sini, angin pegunungan bertiup menusuk tulang, membawa aroma pinus yang basah dan bau sangit dari gubuk-gubuk warga yang mulai dijilat api. Aku berdiri di tengah alun-alun desa, dikelilingi oleh pria-pria yang sorot matanya lebih tajam dari parang yang mereka genggam. Di tanganku, sertifikat tanah itu terasa berat, seolah ribuan nyawa leluhurku sedang menekan telapak tanganku agar tidak goyah.Barata melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi gesekan bot di atas tanah berbatu yang terdengar seperti lonceng kematian. Bekas luka bakar di lehernya berkilat terkena cahaya obor, memberikan kesan mengerikan pada wajahnya yang kaku. Ia menatapku, bukan dengan amarah, tapi dengan rasa penasaran yang dingin."Arga Dirgantara punya keberanian yang bodoh, dan rupanya dia mewariskannya padamu, Kinan," suara Barata parau, seperti gesekan dua batu kali. "Kamu tahu apa yang terjadi pada orang berani di lembah ini? Mereka menjadi pu
Labuan Bajo hari ini terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang membuat telingaku berdenging karena waspada. Sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan laut, memantulkan cahaya perak yang menyilaukan mata, namun di dalam dadaku, mendung dari masa lalu ayahku belum sepenuhnya beranjak. Aku berdiri di dermaga kayu di depan warung, memandangi gulungan kertas tua yang diberikan Paman Aris semalam. Kertas itu berbau debu, tanah basah, dan rahasia yang terkubur selama dua puluh lima tahun."Nan, kopinya. Jangan dibiarkan dingin, nanti rasanya asam seperti pikiranmu," suara Fajar memecah lamunanku.Ia berjalan menghampiriku, kali ini tanpa menyeret kakinya sama sekali. Ada kekuatan baru di langkahnya sejak kejadian di Jakarta. Ia meletakkan cangkir kaleng berisi kopi hitam pekat di atas pagar dermaga. Aroma robusta yang kuat menyengat hidungku, memberikan sedikit rasa sauh di tengah badai emosi yang berkecamuk."Dit, apa kita benar-benar harus melakukan ini?" tanyanya pelan sembari men
Jakarta di jam empat pagi adalah sebuah kota yang sedang mencuci dirinya sendiri. Hujan gerimis yang turun sejak semalam menyisakan uap tipis di atas aspal Menteng yang hitam mengkilap. Aku duduk di kursi depan mobil van Bima, menyandarkan kepalaku yang berdenyut hebat pada kaca jendela yang dingin. Bahu kananku sudah dibebat perban darurat oleh Bima, rasanya seperti disulut api setiap kali mobil menghantam lubang jalanan. Namun, rasa perih itu justru membuatku merasa hidup. Ia menjadi bukti fisik bahwa malam ini bukan sekadar mimpi buruk yang panjang.Di kaca spion tengah, aku bisa melihat bayangan Fajar. Ia duduk di lantai mobil, memeluk Bumi dan Langit yang tertidur lelap di atas tumpukan selimut kumal. Wajah Fajar tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam; ada garis-garis kelelahan yang dalam di keningnya, dan jelaga hitam masih membekas di sudut bibirnya. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya mengusap rambut Bumi, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa putra sulungnya itu b







