Share

Garam di Atas Luka Baru

Author: Pena itu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-21 20:33:52

Suara mesin pesawat baling-baling yang membawa mereka kembali ke Labuan Bajo terdengar seperti dengung lebah yang marah di telinga Kinan. Di sampingnya, Fajar duduk di kursi roda khusus yang dipasang di kabin, wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke hamparan laut biru di bawah sana yang dulu adalah "kantornya". Bahunya masih dibalut penyangga, namun yang paling menyakitkan bagi Kinan bukan luka tembak itu, melainkan kaki Fajar yang kini hanya bisa terkulai diam, tak lagi mampu merasakan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Garis Baru di Aspal

    ​Suara deburan ombak Labuan Bajo pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi terdengar seperti ancaman atau bisikan konspirasi, melainkan seperti nyanyian tua yang menenangkan. Aku berdiri di ambang pintu warung kami yang baru, menghirup aroma kayu jati yang masih segar bercampur dengan uap kopi tubruk yang baru saja kuseduh. Matahari baru saja mengintip dari balik bukit, menyirami aspal di depan warung dengan warna keemasan yang berkilau.​Di sudut warung, Fajar sedang sibuk menata kursi. Langkahnya masih sedikit menyeret, dan tongkat kayu jati dengan ukiran komodo—hadiah dari warga kampung—selalu menemaninya. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong. Setiap kali ia melihatku, ada binar yang dulu sempat padam, kini menyala lebih terang daripada lampu mercusuar.​"Nan, kopinya jangan terlalu kental. Nanti perutmu makin mulas," tegur Fajar sembari tersenyum kecil. Ia menghampiriku, meletakkan tangannya yang kasar namun hangat di atas perutku yang kini sudah mencapai puncaknya.​"Anak ini suka ko

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Jejak yang Tertinggal

    Suara sirine pemadam kebakaran terdengar jauh, meredam oleh deburan ombak yang menghantam karang Labuan Bajo. Aku masih bersimpuh di atas aspal yang panas, memandangi api yang mulai mengecil, menyisakan kerangka bambu gubuk kami yang hitam arang. Asapnya membumbung tinggi, berwarna kelabu pekat, membawa aroma kayu terbakar dan—aku tidak sanggup memikirkannya—bau sisa kehidupan suamiku.​Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di lubang-lubang aspal yang memantulkan cahaya merah dari sisa api. Aku merangkak maju, mengabaikan teriakan Pak Haji yang baru saja turun dari bukit bersama Bumi. Lututku bergesekan dengan batu-batu tajam, daster batikku robek di bagian bawah, tapi aku tidak peduli.​"FAJAR!" suaraku hilang, hanya menyisakan bisikan parau yang tertelan angin laut.​Aku sampai di depan reruntuhan pintu. Hawa panasnya masih menyengat wajahku, membuat bulu kudukku meremang. Aku mulai menggali abu panas itu dengan tangan kosong. Aku tidak butuh sekop. Aku ingin merasakan sisa-

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Negosiasi di Ujung Maut

    Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.​Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi.​"Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."​Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.​Aku berdiri per

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sisa Abu dan Harapan Baru

    Labuan Bajo menyambut kami dengan senja yang tidak biasa. Langitnya berwarna ungu pekat, seperti memar di pipi Fajar yang belum kunjung sembuh. Bau laut yang asin bercampur dengan aroma ikan bakar dari warung-warung pinggir jalan menyengat hidungku, membawa sejuta kenangan tentang pengkhianatan yang baru saja kami lewati di Sumatera.​Kami turun dari kapal feri dengan langkah yang berat. Fajar masih di kursi roda, namun kali ini ia tidak menunduk. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah, sementara tangannya menggenggam erat jemari Bumi yang melonjak kegirangan melihat pelabuhan. Di belakang kami, Bima memanggul tas besar berisi "Buku Hitam" yang kini sudah disita secara hukum namun salinannya tetap menjadi milik kami—sebuah asuransi nyawa.​"Kita pulang, Nan," bisik Fajar saat roda kursi rodanya menyentuh aspal dermaga yang kasar.​"Iya, Dit. Pulang ke rumah kita yang sebenarnya," jawabku sembari mengelus perutku yang mulai terasa sedikit menonjol. Gejolak di dalam

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Fajar yang Berdarah

    Hutan Simarjarunjung malam itu tidak lagi sunyi. Suara tembakan menyalak, memantul di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi seperti raksasa hitam yang mengepung kami. Bau belerang dari mesiu bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang anyir. Aku berlari merayap di antara semak berduri, memeluk kotak besi itu seolah-olah itu adalah jantungku sendiri.​"Fajar! Di mana kamu?!" teriakku, suaranya parau, tenggorokanku terasa seperti terbakar karena air sungai yang tadi tertelan.​"Nan... di sini..."​Suara itu lemah, muncul dari balik gundukan batu besar di dekat aliran sungai kecil. Aku bergegas mendekat, mengabaikan rasa perih di lututku yang terus menghantam akar pohon. Di sana, aku menemukan Fajar. Ia tergeletak dengan posisi miring, tangan kanannya masih memegang pistol tua yang asapnya masih mengepul, sementara kaki kirinya—kaki yang selama ini lumpuh—tampak tertekuk dengan posisi yang tidak wajar.​"Dit!" aku menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanganku gemetar

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Likuidasi Moral di Dasar Sungai

    ​Dingin. Itu adalah hal pertama yang menyambutku. Dingin yang tidak hanya menyentuh kulit, tapi merasuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah sungai di bawah jurang Pematangsiantar ini adalah cairan es yang langsung membekukan aliran darahku. Suara teriakan Maria yang histeris dan raungan Fajar di atas sana seketika lenyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekakkan telinga di bawah permukaan.​Aku tidak mencoba untuk berenang. Tubuhku terasa berat, bukan hanya karena pakaian yang basah kuyup, tapi karena beban dosa masa lalu yang baru saja kubaca di Buku Hitam itu. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan. Di sana, di dalam kegelapan rahimku, ada sesosok nyawa yang belum sempat melihat dunia, namun sudah membawa kutukan dari kakeknya—seorang pembunuh.​“Maafkan Ibu, Nak,” bisikku di dalam hati. Air sungai yang amis masuk ke dalam mulutku, menyesakkan paru-paruku.​Pandanganku mulai mengabur. Cahaya obor di atas jurang tadi kini hanya tampak seperti kunang-kunang kecil yang perlahan pa

  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Buah yang Jatuh Tak Jauh dari Akarnya

    Lima Tahun Kemudian...​Desa itu masih sama, namun rumah kayu Bapak kini sudah lebih kokoh. Terasnya sudah diubin dengan tegel abu-abu yang sejuk, tempat favorit seorang anak laki-laki berusia lima tahun untuk menyusun balok-balok kayunya menjadi gedung-gedung tinggi yang megah. Anak itu bernama Bu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Palu Keadilan di Atas Sandiwara

    Pagi itu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Udara di luar pengadilan terasa gerah, namun di dalam Ruang Sidang Utama, pendingin ruangan yang mendengung rendah menciptakan suasana dingin yang menusuk tulang. Kinan duduk di kursi kayu panjang barisan terdepan. Di sam

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Bayang-bayang di Persimpangan

    Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan wajahnya. Mendung menggantung rendah, membuat suasana kota terasa seperti lukisan kusam yang hampir luntur. Kinan melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan perasaan yang tidak menentu. Di tasnya, tersimpan rapi berkas-berkas tambahan untuk sid

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI   Sandiwara di Ujung Botol

    Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.​Mbak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status