หน้าหลัก / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

แชร์

Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

ผู้เขียน: Dewa Amour
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-20 19:20:32

Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.

Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.

Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.

Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.

Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.

Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten, saya harus mencari tempat berteduh. Kita tidak bisa di sini, binatang buas bisa mencium bau darah," bisik Karina, suaranya bergetar namun penuh tekad.

"Karina..." Suara Devran terdengar sangat lemah, nyaris tertelan suara ombak. "Jangan jauh-jauh. Kita tunggu bantuan di sini saja."

Karina bergegas menghampiri, berlutut di samping Devran. Ia menyentuh dahi pria itu; panas. Infeksi mulai mengancam.

"Nggak, Kapten. Luka Anda butuh penanganan segera. Saya akan cari tempat yang lebih aman dari anjing-anjing itu. Janji, saya cuma sebentar. Kapten mesti bertahan."

Devran menatap mata Karina dalam kegelapan. Ada ketulusan yang murni di sana, sesuatu yang belum pernah ia lihat pada mata Renata selama bertahun-tahun. Dengan berat hati, ia mengangguk.

"Hati-hati, Kar. Pokoknya harus... hati-hati."

Karina melangkah menyusuri garis pantai, membiarkan kakinya yang tak beralas terbenam dalam pasir basah. Setiap suara ranting yang patah membuatnya terlonjak, namun bayangan Devran yang sekarat memberinya keberanian yang luar biasa.

Setelah berjalan beberapa ratus meter, ia melihat siluet sebuah benda besar yang terapung statis di tepian pantai yang agak landai.

Itu adalah sebuah kapal nelayan kecil, mungkin sekitar sepuluh meter panjangnya. Kapal itu tampak tua, catnya mengelupas, dan terombang-ambing pelan mengikuti pasang air laut.

"Halo? Ada orang nggak? Tolong!" teriak Karina.

Hanya sunyi yang menjawab.

Karina mendekat dengan waspada. Ia menaiki tangga kayu kecil yang tergantung di sisi kapal. Bagian dalamnya gelap gulita dan berbau amis khas ikan serta solar.

Ia meraba-raba dinding kayu yang lembap sampai jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras-sebuah lentera minyak. Di sampingnya, di atas meja kayu yang rapuh, ia menemukan sekotak korek api.

Cring!

Satu percikan, dan api kecil mulai menari di sumbu lentera, mengusir kegelapan. Karina mengembuskan napas lega.

Kapal ini kosong, mungkin sengaja ditinggalkan nelayan karena kerusakan mesin atau sekadar tempat singgah sementara. Yang terpenting, ini adalah benteng pertahanan mereka.

Karina segera mematikan lentera agar tidak menarik perhatian predator, lalu berlari kembali menuju tempat ia meninggalkan Devran. Namun, saat jaraknya tinggal beberapa puluh meter, jantungnya nyaris copot.

Di bawah cahaya bulan yang redup, ia melihat tiga ekor anjing hutan bertubuh kurus dengan mata yang berkilat kuning sedang mengelilingi Devran.

Binatang-binatang itu menggeram, taringnya menyeringai, siap untuk menerkam mangsa yang sudah tak berdaya. Devran berusaha mengayunkan sepotong kayu dengan tangan gemetar, namun tenaganya sudah habis.

"Pergi! Pergi kalian!"

Karina menjerit sekuat tenaga. Ia tidak berpikir dua kali. Ia menyambar sebuah batu besar dan melemparkannya ke arah kawanan itu, lalu menerjang masuk, memasang tubuhnya di depan Devran bagaikan perisai.

Keberanian buta Karina tampaknya mengejutkan anjing-anjing itu. Melihat mangsa mereka kini memiliki pelindung yang agresif, kawanan pemangsa itu mundur perlahan dan akhirnya melesat masuk ke kegelapan hutan.

"Kapten! Kapten nggak pa-pa?" Karina berbalik, memeluk bahu Devran dengan napas tersengal-sengal.

"Makasih, Karina... kamu... nyelamatin nyawa aku lagi," bisik Devran, matanya berkaca-kaca.

"Maafin saya, kelamaan tinggalin Kapten. Ayo, saya nemuin kapal. Kita akan aman di sana."

Dengan segenap sisa kekuatannya, Karina memapah tubuh tegap Devran, membiarkan lengan pria itu melingkar di bahunya. Mereka berjalan terseok-seok, meninggalkan jejak darah dan keringat di atas pasir pantai Kalimantan.

Setibanya di kapal, suasana terasa sedikit lebih tenang. Karina membantu Devran masuk ke ruang kabin kecil di bagian bawah dek. Di sana terdapat sebuah kasur tipis tanpa dipan yang diletakkan di lantai kayu. Karina segera merapikannya, menebah debu-debu yang menempel.

"Mari, Kapten. Selonjoran dulu di sini"

Saat membantu Devran melepaskan kemeja seragamnya yang basah kuyup oleh air laut dan keringat, gerakan Karina tiba-tiba terhenti.

Dalam jarak yang begitu dekat, di bawah cahaya lentera yang temaram, mata mereka bertemu. Devran menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Karina tertahan. Ada gejolak aneh di dadanya-rasa kagum, kasih sayang, dan perlindungan yang bercampur aduk.

Karina buru-buru memalingkan wajah, pipinya terasa panas. "S-saya cari kotak obat dulu," gumamnya canggung.

Ia membongkar setiap kotak kayu di pojok ruangan sampai ia menemukan sebuah tas kecil dengan logo palang merah yang sudah pudar. Keberuntungan tampaknya mulai berpihak pada mereka. Di dalamnya terdapat cairan antiseptik, benang bedah, jarum, dan beberapa perban.

Dengan telaten dan tangan yang sangat hati-hati, Karina mulai membersihkan luka di kaki Devran. Laki-laki itu sesekali mengerang menahan sakit yang luar biasa saat Karina mulai menjahit luka yang terbuka itu. Namun lebih banyak, Devran memandangi wajah Karina saat merawat lukanya.

"Tahan sebentar, Kapten. Hampir selesai," hibur Karina lembut, jemarinya bergerak dengan ketepatan seorang profesional.

Setelah selesai membalut kaki Devran dengan perban bersih, Karina menyeka keringat di dahi pria itu. "Makasih, Kar. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah jadi santapan anjing-anjing itu," kata Devran tulus.

"Hus! Jangan ngomong kematian, Kapten. Tim penyelamat pasti lagi cari kita. Kita cuma perlu bertahan sedikit lagi, terus kita akan kembali ke Jakarta dengan selamat."

Devran hanya tersenyum pahit. Kembali ke Jakarta? Kembali ke Renata? batinnya.

Ironisnya, di kapal nelayan yang lusuh dan terdampar di tengah antah-berantah ini, bersama seorang wanita yang baru ia kenal secara mendalam, ia merasa lebih hidup dan bahagia daripada saat ia berada di rumah mewahnya.

Malam semakin dingin. Angin laut menyelinap melalui celah-celah kayu kapal. Karina menelusuri sudut-sudut kapal dan menemukan sebuah peti kayu berisi pakaian nelayan yang sudah lama ditinggalkan. Pakaian itu kasar dan berbau apek, tapi kering.

"Kapten, pake kemeja ini aja. Seragam Kapten basah semua, nanti bisa masuk angin atau hipotermia," kata Karina sambil menyerahkan sebuah kemeja flannel tebal yang lusuh.

"Makasih. Kamu juga ganti, Kar. Baju kamu juga basah kuyup gitu."

Karina mengangguk. Ia mengambil sebuah kemeja putih besar milik nelayan. Ia merasa ragu sejenak. Ruangan kabin itu sangat sempit, tidak ada sekat.

"Kapten, bisa... bisa balik badan bentar nggak? Saya mau ganti baju," tanya Karina dengan suara rendah, rasa malu menghinggapinya.

Devran tersenyum kecil, sebuah senyum yang terasa sangat hangat bagi Karina. "Iya, janji nggak bakal ngintip. Tenaga aku juga belum ada buat macem-macem," candanya pelan sambil membalikkan tubuh membelakangi Karina.

Dengan cepat, Karina menanggalkan seragam pramugarinya yang berat karena air dan mengenakan kemeja putih longgar itu.

Kemeja itu menjuntai hingga ke paha, terasa hangat dan nyaman. Saat ia kembali mendekati kasur, ia melihat Devran sudah tertidur lelap, napasnya mulai teratur meski sesekali masih merintih dalam mimpi.

Karina merebahkan tubuhnya di samping Devran, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk bisa merasakan suhu tubuh pria itu. Ia menatap langit-langit kabin yang gelap, mendengarkan deru ombak yang menghantam lambung kapal.

Pikirannya melayang jauh. Ia mencemaskan banyak hal; tagihan rumah sakit Ferdi, ancaman Renata, dan nasib mereka yang terombang-ambing di pulau ini.

Namun, saat ia melirik ke arah Devran yang terlelap, ada sebuah keyakinan baru yang tumbuh di hatinya.

Apapun yang terjadi besok, setidaknya malam ini, mereka tidak lagi sendirian menghadapi dunia yang kejam. Di kapal nelayan kecil ini, dua jiwa yang hancur mulai menemukan kepingan harapan yang baru.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 15. Terdampar Di Pulau Terpencil

    Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 14. Jatuhnya Airbus A380

    Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 13. Badai Di Atas Khatulistiwa

    Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 12. Hati Yang Rapuh

    Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 11. Risiko Seorang Pramugari

    Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 10. Obsesi Sang Kapten

    Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status