เข้าสู่ระบบSunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.
Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut. Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang. Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja. Tim penyelamat berbaju oranye hilir mudik, membawa kantong jenazah dan tandu berisi korban yang bersimbah darah dan air laut. Isak tangis dari beberapa saksi mata di kejauhan terdengar menyayat hati di antara deburan ombak. Renata melangkah turun, sepatunya menginjak pasir pantai yang basah. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Matanya menyapu deretan korban kritis yang sedang dipasangi masker oksigen oleh paramedis. Pikirannya bukan pada nyawa mereka, melainkan pada angka-angka kerugian yang melonjak di kepalanya. Kompensasi, asuransi, saham perusahaan yang pasti terjun bebas, dan hancurnya reputasi Samudera Airline yang dibangun ayahnya selama 25 tahun. Seorang petugas kepolisian berpangkat tinggi menghampirinya dengan wajah kaku. "Ibu Renata, kami baru saja mengevakuasi tiga belas korban lagi. Namun, kapten pilot... Kapten Devran, masih belum ditemukan. Tim penyelam sedang melakukan penyisiran di titik koordinat jatuhnya kokpit." Mendengar itu, Renata tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang. "Cari dia! Tolong cari suami saya!" teriaknya histeris, sebuah akting yang sempurna di depan kamera wartawan yang mulai mengintai dari kejauhan. "Saya tidak peduli berapa pun biayanya, bawa Devran kembali!" Namun di balik telapak tangannya, wajah Renata justru mengeras karena amarah yang dingin. 'Dasar tolol!' umpatnya dalam hati. 'Semua kekacauan ini karena ketidakmampuan lo ngendalikan pesawat itu. Lo nggak boleh mati semudah itu. Lo harus hidup untuk membayar setiap rupiah kerugian yang gue derita hari ini!' Di saat yang bersamaan, di sebuah kamar hotel mewah di jantung Jakarta, suasana sangat tenang. Hengki berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Ia baru saja selesai berpakaian setelah menghabiskan waktu dengan wanita bayarannya. Ia meraih ponsel di meja nakas, melihat rentetan panggilan tak terjawab dan pesan penuh kemarahan dari Renata. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Hengki adalah arsitek di balik tragedi ini. Ia tahu Renata terlalu sombong untuk mendengarkannya, maka ia memilih cara yang lebih radikal. Diam-diam, ia telah menyuap beberapa teknisi pemeliharaan pesawat untuk memanipulasi sistem kelistrikan dan katup bahan bakar pada Airbus yang diterbangkan Devran. Jatuhnya pesawat itu adalah satu bukti , bahwa dia bisa melakukan apapun untuk menghancurkan kesombongan Renata dan bukan hal yang sulit untuk menyingkirkan Devran Mahendra dari nama Group Masayu. "Kemenangan itu manis, Renata," gumamnya pelan. Ia segera menghubungi anak buahnya. "Siapkan jet. Kita ke Kalimantan sekarang. Aku udah nggak sabar pingin lihat 'ratu' kita yang sedang menangisi bangkai pesawat dan mayat suaminya." Sore menjelang malam, pantai Kalimantan masih diselimuti ketegangan. Proses evakuasi melambat seiring hilangnya cahaya matahari. Renata masih berdiri di sana, menatap laut yang kian gelap. Devran dan beberapa kru, termasuk pramugari bernama Karina, masih dinyatakan hilang. Renata mendengus. Ia mungkin merasa puas jika Devran mati, tetapi tidak jika ia mati sebagai pahlawan yang gugur dalam tugas. Ia ingin Devran mati perlahan di tangannya, hancur secara mental karena siksaan yang ia berikan setiap hari. Baginya, kematian di laut adalah sebuah pelarian yang terlalu indah untuk suaminya. "Lo nggak bisa mati sekarang, Devran. Lo cuma harus mati setelah gue perintahkan buat mati," desisnya sambil menikmati batang rokoknya .............................. Jauh dari hiruk-pikuk tim evakuasi, di sebuah teluk kecil yang tersembunyi di balik hutan bakau yang lebat, suara ombak terdengar lebih lembut. Sesosok tubuh tergeletak di atas pasir putih yang bercampur dengan puing-puing plastik pesawat. Karina mulai terjaga. Paru-parunya terasa terbakar, membuatnya terbatuk hebat hingga memuntahkan air laut yang asin. Kepalanya berdenyut seakan dipukul palu godam. Ia mengerjap, menyapu pandangan ke sekeliling. Hanya ada laut yang membentang luas di bawah langit malam yang pekat, dan hutan lebat yang menyeramkan di belakangnya. "Apa yang terjadi..." bisiknya parau. Ingatannya kembali pada momen pesawat menukik tajam, jeritan penumpang, dan keheningan sesaat sebelum air menghantam. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang terhimpit di antara bebatuan karang beberapa meter darinya. Sesosok laki-laki berseragam pilot, terombang-ambing oleh ombak yang masuk ke celah batu. "Kapten!" Karina berteriak, namun suaranya hanya berupa bisikan pecah. Dengan sisa tenaga yang hampir nol, Karina menyeret tubuhnya di atas pasir yang kasar. Lututnya perih, tangannya gemetar, namun ia terus merangkak hingga mencapai sosok itu. Itu Devran. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan tidak ada tanda-tanda pernapasan. Karina membalikkan tubuh Devran dengan susah payah. Ia menempelkan telinganya ke dada pria itu. Sunyi. Jantung Devran seolah telah berhenti berdetak. "Jangan sekarang, Kapten... tolong jangan sekarang!" Karina mulai melakukan pijat jantung (CPR). Ia menekan dada Devran dengan irama yang teratur, menitikkan air mata di atas wajah pria itu. Satu, dua, tiga... Tak ada respon. Panik mulai menyergap. Karina tahu ia harus memberikan bantuan napas, namun ia ragu. Ia teringat status Devran, teringat posisinya sendiri, dan rasa malunya sebagai seorang wanita. Namun, saat melihat nyawa pria yang diam-diam ia kagumi itu berada di ujung tanduk, ia membuang semua keraguannya. Karina menarik napas dalam-dalam, lalu menunduk. Ia menyatukan bibirnya ke bibir Devran yang dingin, menghembuskan udara ke dalam paru-paru pria itu. Sekali, dua kali... Ia bisa merasakan kehangatan dari bibirnya sendiri yang mencoba melawan dinginnya maut pada tubuh Devran. Tiba-tiba, tubuh Devran tersentak. Pria itu terbatuk keras, mengeluarkan air laut dari tenggorokannya. Napasnya tersengal-sengal. Pelan-pelan, Devran membuka matanya. Segalanya tampak kabur, namun hal pertama yang ia rasakan adalah kelembutan yang menyentuh bibirnya dan aroma parfum yang sangat ia kenali. "Kapten?" Karina berusaha menyadarkan Devran. Melihatnya membuka mata, hatinya merasa lebih lega. Devran terdiam sesaat, membiarkan Karina masih berada sangat dekat di atas wajahnya. "Karina..." Di tengah suara ombak yang menderu, ia bisa merasakan sensasi hangat yang merambat ke seluruh sarafnya, sebuah kehangatan tulus yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahannya yang beku dengan Renata. Untuk beberapa detik yang terasa abadi, di pesisir sunyi Kalimantan itu, maut seolah mundur sejenak untuk membiarkan sebuah ikatan baru lahir di antara dua jiwa yang terluka. ........................ Di sebuah hotel di pusat kota Kalimantan, Renata duduk di tepi ranjang, merokok tanpa henti. Berita tentang kecelakaan itu mendominasi setiap stasiun televisi. Ia pusing memikirkan masa depan maskapainya. Ketukan di pintu membuatnya menoleh. "Siapa?" "Ini aku, Ren." Suara Hengki membuatnya sedikit bernapas lega. "Dari mana aja kamu?" Renata menatap sinis. Hengki masuk dengan wajah yang dibuat seolah sangat prihatin. Ia langsung menghampiri Renata, mengambil rokok dari tangannya dan memadamkannya. "Tenang. Aku udah di sini. Kita akan cari jalan keluar bersama agar aset keluarga Masayu tetap aman," bisik Hengki sambil merangkul bahu Renata. Renata bersandar di bahu Hengki, mencari perlindungan semu, tanpa menyadari bahwa pria yang ia peluk adalah orang yang telah menjatuhkan suaminya ke laut dan kini sedang bersiap untuk menelan seluruh hidupnya. Di luar sana, malam makin larut, menyimpan rahasia tentang dua orang yang bertahan hidup di pesisir pantai, dan sebuah konspirasi besar yang siap meledak saat matahari terbit nanti.Malam kian melarut, namun kegelapan di pesisir Kalimantan ini terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah ia adalah entitas hidup yang siap menelan siapa saja yang terjebak di dalamnya.Di bawah pendar bintang yang samar, Devran bersandar pada sebuah batu karang besar yang dingin. Wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa kini pucat pasi, peluh dingin membanjiri keningnya.Kaki kirinya robek cukup dalam akibat serpihan logam pesawat, darah merembes keluar membasahi kain seragamnya yang compang-camping.Karina berdiri beberapa langkah di depannya, menatap hamparan laut yang hitam dan hutan lebat yang membentang di belakang mereka bagaikan barisan raksasa yang mengintimidasi.Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan firasat buruk. Tiba-tiba, dari kedalaman hutan, terdengar suara lolongan yang panjang dan menyayat-lolongan anjing hutan yang saling bersahutan.Karina merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia tahu mereka tidak bisa terus berada di alam terbuka ini. "Kapten
Sunyi yang mematikan menyelimuti kedalaman perairan Kalimantan. Bangkai logam raksasa itu kini beristirahat di dasar laut yang gelap, dikelilingi oleh gelembung-gelembung udara terakhir yang lolos dari kabin yang terendam.Di dalam sana, tak ada pergerakan. Hanya ada tubuh-tubuh yang terombang-ambing pelan mengikuti arus bawah laut, terperangkap dalam sabuk pengaman yang kini menjadi jerat maut.Di atas permukaan, pemandangannya berbanding terbalik. Deru baling-baling helikopter membelah langit yang mendung. Dari balik kacamata hitam Renata Masayu menatap keluar jendela helikopter dengan tatapan yang sulit diartikan.Begitu helikopter mendarat di area darurat yang didirikan di tepi pantai, pemandangan dramatis langsung menyambutnya. Garis pantai Kalimantan yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang.Puluhan mobil polisi dengan lampu strobo yang berkedip biru-merah memenuhi pelataran. Sepuluh ambulans berderet rapi, mesinnya tetap menyala, siap melesat kapan saja.Tim penye
Gemuruh mesin Airbus A320 membelah kesunyian landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta saat fajar menyingsing. Di dalam kokpit, Devran Mahendra menarik tuas kendali dengan presisi yang sempurna, membiarkan tubuh pesawat yang kokoh itu menanjak membelah awan menuju langit Kalimantan.Di balik seragam pilotnya, jantung Devran berdegup dengan irama yang tak biasa-bukan karena takut akan ketinggian, melainkan karena ia tahu, hanya beberapa meter di belakang dinding kokpit ini, Karina sedang melangkah anggun melayani penumpang.Di kabin, Karina dan Ririn bergerak dengan sigap. Senyum profesional terpasang di wajah mereka, menyamarkan badai batin yang sedang berkecamuk."Makasih, Kakak Cantik.""Sama-sama, Sayang."Karina tersenyum lembut menanggapi. Ia baru saja menyerahkan segelas air kepada seorang anak kecil saat ia merasakan getaran halus di bawah kakinya.Pikirannya melayang sejenak pada wajah Devran di kantin tadi pagi, namun ia segera menepisnya. Ia harus fokus. Ia harus bertahan hidup
Fajar belum benar-benar pecah di ufuk timur Jakarta, namun penthouse mewah itu sudah menyimpan ketegangan yang sunyi. Di dalam kamarnya, Devran Mahendra berdiri di depan cermin, merapikan seragam pilotnya dengan ketelitian yang tidak biasa.Satu pekan telah berlalu sejak penerbangan ke Bali yang melelahkan secara mental, dan hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Namanya bersanding dengan nama Karina dalam daftar kru penerbangan menuju Kalimantan.Semalam, Devran melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan; ia tidur sangat awal. Ia menyumbat telinganya rapat-rapat dengan earphone, memutar musik klasik dengan volume tinggi hanya untuk membentengi diri dari suara-suara laknat-desahan dan tawa Renata bersama Hengki yang menggema dari kamar sebelah.Ia ingin bangun dengan wajah segar, tanpa kantung mata yang menghitam akibat frustrasi. Ia ingin terlihat sempurna saat mata Karina menatapnya nanti.Di ruang makan, Welas dan Bi Irah saling lirik dengan senyum kecil. Mereka menyadari peru
Awan-awan putih berarak di bawah sayap Airbus A320, menghampar bagaikan permadani perak yang tak berujung. Di dalam kokpit yang hanya diterangi oleh pendar instrumen digital, Devran duduk seorang diri. Kesunyian di ketinggian 35.000 kaki itu biasanya menjadi meditasi baginya, namun kali ini, kesunyian itu justru terasa menyesakkan. Pikirannya melayang, menjauh dari tuas kendali, menembus memori tentang raut wajah Karina.Ia teringat kali pertama melihat wanita itu-seorang pramugari baru dengan binar mata penuh harapan yang kini mulai meredup akibat kerasnya hidup. Ia teringat pertemuan tak terduga di mall dua hari lalu, saat Karina tampak begitu rapuh di bawah langit Jakarta yang mendung. Tanpa ia sadari, ada rasa rindu yang merayap halus, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini terkubur di bawah tumpukan kebencian dan tekanan Renata."Kopi, Kapten?"Suara itu memecah lamunan Devran. Jantungnya sempat melonjak kecil, ada secercah harapan konyol bahwa suara lembut itu mili
Pagi menyapa Jakarta dengan langit kelabu yang menggantung rendah, seolah turut merasakan beban yang menindih bahu Devran Mahendra. Di depan cermin setinggi langit-langit kamarnya yang mewah, Devran berdiri tegak, melakukan ritual harian yang telah menjadi rutinitas hampa selama tiga tahun terakhir. Ia merapikan kerah seragam pilotnya yang putih kaku, memastikan setiap lencana dan tanda pangkat berada pada posisi yang sempurna. Siluet di depan cermin itu adalah gambaran kesempurnaan maskulin; wajah tampan dengan rahang tegas yang dicukur bersih, serta tubuh atletis yang terbentuk dari latihan disiplin. Namun, bagi Devran, pantulan itu hanyalah sebuah bungkus tanpa isi. Kesempurnaan fisik ini terasa sia-sia, sebuah panggung megah untuk pertunjukan yang tak pernah terjadi. Sebagai laki-laki di usia puncaknya, ia merasa seperti hidup dalam sel yang sangat sempit, tidak pernah benar-benar mengecap nikmatnya cinta dan kasih sayang yang tulus. Ia menarik laci kaca yang beris







