Home / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 33. Penerbangan Panas

Share

Chapter 33. Penerbangan Panas

Author: Dewa Amour
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-30 16:24:33

Suasana di balik pintu toilet yang sempit itu mendadak jadi sedingin es. Jantung Karina serasa mau copot, detaknya berpacu lebih kencang dari mesin jet di luar sana. Ia mematung dengan posisi masih terduduk di pinggir wastafel, sementara tangan Devran masih menggantung di ikat pinggangnya.

"Karina? Lo di dalem, kan? Lama banget, ada penumpang yang mau pakai nih!"

Suara Ririn. Karina memejamkan mata, mengembuskan napas yang gemetar. Ia menatap Devran dengan tatapan mati-kita. Devran, meski wajah
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 77. Gairah Yang Tertunda

    Pintu lift pribadi berdering halus sebelum terbuka pelan. Renata melangkah keluar, tumit sepatu tingginya menggetarkan lantai marmer penthouse Masayu.Di belakangnya, Boni mengekor dengan langkah gontai, menyeret koper sambil mendesah berat. Tiga hari penuh bersembunyi sambil berlibur di Batam demi menghindari kejaran Anggun benar-benar menguras tenaganya."Aduh, Bos Ren... Bonbon capeknya udah level dewa nih," keluh Boni sambil mengibaskan kipas kertasnya yang terkulai lemas. "Pengen langsung lepas sepatu, lempar badan ke ranjang, terus merem sampai lusa. Mana perut eke keroncongan parah lagi, belum sempat nyemil di pesawat!"Renata tak memedulikan rengekan Boni. Pikirannya melayang lega. Laporan terakhir dari mata-matanya menyebutkan kalau Anggun sudah menyerah dan terbang kembali ke Singapura karena gagal menemuinya di Jakarta.Sang bayangan telah kembali ke sarangnya—atau setidaknya, begitu pikir Renata.Bi Irah dan Welas, dua asisten rumah tangga yang menjaga penthouse, menyambut

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 76. Kemurkaan Para Iblis

    Esok harinya, di Penthouse Masayu. Pagi masih sangat buta dan kabut tipis masih menggantung di luar jendela kaca.Renata berjalan cepat melintasi koridor penthouse mewahnya. Suara tumit sepatu tingginya berdetak nyaring. Di belakangnya, Boni—asisten pribadinya yang kemayu—berlari kecil dengan gaya yang super dramatis.Boni kerepotan membawa tas-tas mahal milik Renata sambil mengibaskan kipas kertas di wajahnya."Aduh, Bos Ren! Kenapa sih kita harus berangkat pagi buta gini?" gerutu Boni dengan napas terengah-engah. "Eke belum sempat sarapan, perut udah keroncongan kayak musik dangdut! Rambut eke juga belum sempat di-creambath, aduh bisul bisa-bisa tumbuh di kepala eke!"Renata menghentikan langkahnya mendadak, membuat Boni hampir menabrak punggungnya. Renata menatap Boni dengan tatapan yang bisa membunuh. "Bisa diam gak?! Kita harus terbang ke Batam secepatnya sebelum Devran bangun!"Boni menatap bosnya heran. "Ke Batam? Perasaan minggu ini gak ada jadwal flight atau peresmian cabang

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 75. Permainan Kotor

    Deru baling-baling helikopter memecah hening pagi di atas langit Kota Batam. Helikopter berwarna hitam legam itu terbang rendah, melintasi deretan gedung tinggi sebelum akhirnya meluncur turun dengan mulus di sebuah helipad pribadi.Area tersebut terletak tepat di halaman belakang sebuah mansion megah nan terisolasi di pusat kota.Saat baling-baling perlahan melambat, pintu helikopter terbuka. Rain Gumilang melangkah keluar dengan tatapan dingin dan tajam. Mengenakan jas gelap yang terpotong rapi, sosoknya menebarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Dua orang pengawal berbadan tegap menyusul tepat di belakangnya.Di bawah, Reza sudah berdiri menunggu. Asisten kerjanya itu langsung menyesuaikan langkah, berjalan setengah meter di samping bosnya menuju pintu masuk mansion."Pagi, Bos," sapa Reza formal, memegang tablet digital di tangannya. "Jadwal Bos di Batam selama seminggu ke depan sangat padat. Ada beberapa pertemuan dengan investor lokal, sidak ke proyek pelabuhan, dan penyele

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 74. Rencana Licik Anggun

    "Renata! Apa-apaan lo, hah?!" bentak Devran sambil merapikan kaosnya yang berantakan. "Siapa yang ngasih izin lo masuk ke kamar gue, hah?! Sejak kapan lo tidur di sini?!"Renata yang terusik dari tidurnya tidak merasa kesal sedikit pun akibat bentakan kasar suaminya. Ia membuka matanya perlahan, bangun dari posisinya lalu duduk santai di tengah ranjang sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.Sebuah senyuman penuh kepuasan terukir di wajah cantiknya saat melihat Devran yang sedang meradang di depan pintu kamar mandi."Kenapa kamu harus semarah itu, Devran?" tanya Renata dengan nada suara yang manja namun sarat akan nada ancaman. "Secara hukum, aku ini masih istri sah kamu. Dan jangan lupa, ini adalah penthouse milik keluarga aku. Aku nggak perlu minta izin dari siapa pun untuk masuk ke ruangan mana pun di dalam rumah ini."Renata menatap lurus ke arah Devran, matanya menyipit tajam. "Dan perlu kamu ingat baik-baik, Kapten Devran... kalau kamu terus-menerus menolak kemauan aku

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 73. Kisah Pilu Di Balik Tahanan

    Angin kencang menggoyangkan dahan-dahan berangin besar yang tumbuh di sekitar lapangan lapas. Bu Tiwi memperbaiki posisi duduknya, ingatan masa lalu berputar di matanya."Dulu, Windi itu pegawai berprestasi di salah satu bank swasta besar di Jakarta. Kariernya bagus, masa depannya cerah. Dia bahkan udah bertunangan sama seorang laki-laki bernama Aldi. Tapi, suatu malam, si Aldi ini melakukan kesalahan fatal. Dia menghabisi nyawa selingkuhannya sendiri di dalam unit apartemennya setelah terlibat pertengkaran."Tiwi jeda sejenak, membiarkan suasana hening mencekam sejenak. "Wanita yang dibunuh itu namanya Mega, dia lagi hamil muda dan menuntut pertanggungjawaban Aldi. Setelah Mega tewas bersimbah darah, Aldi panik. Dia langsung menelepon Windi, menyuruh Windi datang ke apartemen dengan alasan darurat. Begitu Windi datang dan syok melihat mayat Mega, Aldi diam-diam menelepon polisi."Karina mendengarkan dengan dada yang mulai bergemuruh."Polisi datang dalam hitungan menit. Di depan petu

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 72. Insiden Mengerikan

    Suasana jam makan siang di Lapas Wanita Cipinang mendadak pecah berantakan saat sebuah jeritan melengking dari arah belakang gedung utama merobek udara yang gerah."Tolong! Ada yang gantung diri! Tolong!"Para narapidana wanita yang sedang mengantre jatah makan siang di selasar kantin seketika dibuat terkejut dan heran."Ada apa sih?""Ada yang gantung diri?"Beberapa dari mereka langsung menjatuhkan piring plastik mereka, sementara para petugas sipir wanita dan polwan mulai berlarian dengan langkah tergesa-gesa ke arah sumber suara, peluit darurat ditiup berulang kali.Karina yang sedang berdiri di barisan tengah antrean ikut teralihkan. Jantungnya berdegup kencang, instingnya mendadak diselimuti rasa tidak enak.Kericuhan massal pun terjadi; puluhan narapidana mulai merangsek maju, mengabaikan jatah makanan mereka demi mencari tahu apa yang sedang terjadi di area terlarang belakang gedung.Karina turut melangkah cepat, mengikuti arus tubuh-tubuh berbaju oranye menuju sebuah lapangan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status