LOGINDengan sekuat tenaga, ia akhirnya berhasil menyusul Bowo yang kini sudah duduk manis di atas jok motornya.
“Ah, payah lu ninggalin gue. Udah dianterin, malah ninggalin. Mana tempatnya seram kaya gini.” Herman duduk di depan Bowo, mengambil alih kemudi motor. Buru-buru ia menyalakan motor. Telinganya tiba-tiba mendengar suara kikik tawa yang terde
Ghea dan Dini melipat tangan di dada dengan gurat wajah muak, sementara Fauzi dan Hadi beberapa kali membuang muka dengan helaan napas kesal. Mereka semua merasa diseret ke dalam pusaran masalah hukum, interogasi, dan sanksi adat, hanya karena nafsu sepasang kekasih tak tahu malu ini."Kami... kami cuma mau cari angin segar, Pak," gumam Arman, suaranya bergetar, mencoba mencari alasan paling aman yang tersisa di kepalanya."Cari angin segar sampai masuk ke dalam belukar pekat begini?" potong Aiptu Sumardi, nadanya datar namun menghunjam. "Jangan berbelit-belit, Dek Arman. TimInafismenemukan beberapa patahan ranting kering yang posisinya rebah, juga ... kain yang dijadikan alas di dekat gundukan tanah mayat ini. Kamu tahu kan, memberikan keterangan palsu dalam penyelidikan pembunuhan atau
Mereka kembali hanyut dalam canda mesra, tanpa menyadari bahwa dari kegelapan pekat di balik batang pohon besar, ada dua pasang mata merah redup yang sedang mengintai. Tatapan itu begitu haus dan penuh harap, seolah sedang menuntun ego Arman dan Putri. Menghasut akal sehat sepasang kekasih itu, agar terhanyut dalam nafsu liar dan melakukan kekhilafan yang menyesatkan.Arman makin berani. Cuping hidungnya mengendus ceruk leher Putri. Embusan napasnya kian memburu, dan sang kekasih mulai terbuai, ikut membalas cumbuan Arman. Di sekeliling api unggun, teman-teman mereka masih asyik bernyanyi kecil, membiarkan sepasang kekasih itu bermesraan di sekitar mereka, seolah itu adalah suatu hal yang sudah biasa.Mereka sama sekali tidak menyadari kejanggalan di sudut gelap itu.
UstadzAgum dan Aki Amin berbincang tentang banyak hal selama perjalanan subuh itu. Namun, langkah kaki mereka mendadak melambat, saat melihat siluet beberapa orang yang mendekat dari arah depan. Enam anak muda. Tiga laki-laki dan tiga perempuan, berjalan beriringan ke arah mereka dengan mengenakan jaket tebal dan menggendong tas punggung besar khas pendaki gunung.UstadzAgum dan Aki Amin berhenti sejenak di tepi jalan setapak, menunggu rombongan itu melintas dekat mereka."Permisi, Pak. Maunumpanglewat," kata salah seorang pemuda yang berjalan paling depan dengan nada sopan. Lima temannya ikut mengangguk ramah sembari melempar senyum.UstadzAgum dan Aki Amin membalas senyuman itu.
"Akimikirinapa? Dari tadi melamun saja?" tanya Ujang pada Aki Amin. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu merupakan cucu Aki Amin dari anak perempuan pertamanya."Mikirannaonweh, Jang," sahut Aki Amin sambil lalu, pandangannya masih menatap kosong ke kegelapan malam.UstadzAgum melirik jam tangan di pergelangan kiri. "Karena sudah jam sebelas malam, waktunya kita berkeliling. Ujang sama Maman ikut saya. Yang lain, ikut bersama Aki Amin, ya."Mereka menurut, lalu membagi rombongan menjadi dua bagian. Satu menuju ke arah timur desa, dan satunya lagi ke arah barat. Mereka sepakat, tepat jam satu dini hari nanti, kedua tim harus sudah kembali berkumpul di pos ronda.
"Pelan-pelan.Ojat, kamuduluanyang cerita. Ayo, tarik napas, pelan-pelan."UstadzAgum menepuk-nepuk ubun-ubunOjatdengan lembut sembari membacakan doa untuk mengusir sisa-sisa trauma astral dipikirannya.Ojatmenelan ludah yang terasa kesat bagai berpasir. Matanya berkaca-kaca menahan ngeri. "Waktu kami ronda tadi malam, PakUstadz... tahu-tahu kami dihadang sama hantu itu di dekat kebun kosong.""Hantu apa?" tanyaUstadzAgum, alisnya bertaut."Apa si Entinkeliaranlagi?!" celetuk salah satu warga di barisan belakang, yang langsung disambuttegoran"Hush!"
"Neumpokeunnaonmaneh,Jat?" tanya Ikin saat menyadari rekannya mendadak menghentikan langkah dan menatap kosong ke kebun gelap tersebut.(Melihat apa,Jat?)"Pohon mangga tempat Entin ..."Ojatmenggantung kalimatnya. Ia buru-buru menelan ludah, sadar bahwa tidak bijaksana menyebut nama itu di tempat terjadinya peristiwa yang sempat menghebohkan desa beberapa waktu lalu."Ah,manehmah sokkitu," gerutu Ikin tidak suka. Bulu kuduknya mendadak meremang karenaOjatmulai bicara yang aneh-aneh.







