Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / NASIB BUNGA (Bag. 11)

Share

NASIB BUNGA (Bag. 11)

Author: Diah Pitasari
last update publish date: 2026-05-26 11:00:01

Dengan sekuat tenaga, ia akhirnya berhasil menyusul Bowo yang kini sudah duduk manis di atas jok motornya.

“Ah, payah lu ninggalin gue. Udah dianterin, malah ninggalin. Mana tempatnya seram kaya gini.” Herman duduk di depan Bowo, mengambil alih kemudi motor. Buru-buru ia menyalakan motor. Telinganya tiba-tiba mendengar suara kikik tawa yang terde

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 13)

    Namun, begitu telapak kakinya menginjak lantai dapur, seluruh kegaduhan mengerikan itu mendadak sirna. Lenyap dalam sekejap mata.Dapur itu kosong melompong. Sunyi senyap. Tidak ada sosok pria maupun wanita yang tadi bereriak menjerit kesakitan dan meminta ampun di sana.Fanny perlahan menurunkan sapu di tangannya. Hawa dingin yang janggal langsung berembus, membungkus tubuhnya yang mendadak sudah keluar keringat dingin.Ibu muda berusia tiga puluh tahun itu berdiri mematung. Dadanya naik-turun memburu seiring matanya yang mengedar liar menembus kegelapan dapur.Halusinasi lagi?batinnya ketakutan. 

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 12)

    Keesokan paginya.“Kikan demam lagi?” tanya Rian saat pagi itu ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja sekalian mengantarkan Rizky ke sekolah. Ia membungkuk, meraba dahi Kikan yang tampak tertidur gelisah di atas kasur.“Iya. Padahal kemarin siang dia enggak kenapa-kenapa, lho, Mas,” jawab Fanny bingung.“Ya sudah. Nanti kasih obat turun panas saja dulu. Kamu masih punya stoknya, kan?”Fanny mengangguk pelan. “Punya, sih. Tapi kalau sampai nanti sore panasnya Kikan enggak turun-turun, aku mau bawa dia ke bidan desa. Takutnya makin parah.”

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 10)

    Fanny menatap bocah laki-laki yang sedang terlelap dalam pelukannya. Tangannya bergerak lembut, mengelus wajah dan rambut sang putra dengan penuh rasa sayang. Senandung lirih mengalun pelan dari bibirnya—sebuah nyanyianninaboboyang terdengar menenangkan.Suasana di dalam kamar terasa sunyi. Dalam lamunannya, Fanny merasakan bulir-bulir air mata mengalir turun membasahi pipi. Tanpa iaketahuidari mana asalnya, sebuah aura kesedihan yang teramat menyakitkan perlahan merayap dan memenuhi rongga dadanya. Membuat hatinya terasa remuk redam.Rasanya seperti separuh jiwanya telah direnggut paksa. Seolah dunianya kini sudah runtuh dan tak lagi sama.Dengan sisa air mata di sudut kelopak, Fanny memand

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 11)

    Keesokan paginya.“Kikan demam lagi?” tanya Rian saat pagi itu ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja sekalian mengantarkan Rizky ke sekolah. Ia membungkuk, meraba dahi Kikan yang tampak tertidur gelisah di atas kasur.“Iya. Padahal kemarin siang dia enggak kenapa-kenapa, lho, Mas,” jawab Fanny bingung.“Ya sudah. Nanti kasih obat turun panas saja dulu. Kamu masih punya stoknya, kan?”Fanny mengangguk pelan. “Punya, sih. Tapi kalau sampai nanti sore panasnya Kikan enggak turun-turun, aku mau bawa dia ke bidan desa. Takutnya makin parah.”

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 9)

    Sesampainya di area parkir luar sekolah, Fanny yang semula sudah memantapkan niat untuk mempertanyakan perihal luka memar Rizky kepada wali kelas, langsung turun darisepeda guna mengantar putra sulungnya sampai ke kelas.Namun, begitu mereka tiba di depan gerbang sekolah, langkah Fanny seketika tertahan. Ia mendapati teman-teman Rizky menyambut kedatangan putranya dengan sorak gembira yang tulus. Rizky pun melempar senyum lebar, melambaikan tangan untuk pamit pada Fanny, lalu melangkah masuk ke halaman sekolah dengan sangat ceria.Fanny tertegun di tempatnya berdiri, merasakan perang batin yang berkecamuk hebat di dalam dada. Ia mendadak teringat ucapan Rian tadi pagi soal kemungkinan alergi makanan. Logika rasionalnya langsung menampar kekhawatirannya sendiri. Jika ia nekat masuk ke ruang gur

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    FAJRI TIDAK MAU PULANG (Bab. 8)

    Tunggu! Rambut gondrong? Tidak! Rian tidak berambut gondrong!Fanny memejamkan matanya rapat-rapat, menggelengkan kepala dengan kuat untuk mengusir kilasan visual aneh yang baru saja melintasi kepalanya.Setelah beberapa detik menarik napas dalam, Fanny membuka mata dan merasa pikirannya sudah kembali jernih. Bayangan pria gondrong bertubuh tinggi besar dengan raut penuh murka itu telah lenyap. Sosok itu kembali berganti menjadi Rian yang kini sedang duduk tenang di samping Rizky sembari merangkul bahu bocah itu sambil mengelus kepalanya penuh rasa sayang.“Rizky jangan takut, ya. Ayo bilang sama Ayah, Rizky dipukul sama siapa?,” tanya Rian dengan suara yang kembali melembut.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    NASIB BUNGA (Bab. 13)

    Desa Cialas. Sepeninggal Bowo dan Herman menuju ke makam Entin, Dadang langsung berembuk dengan Sanah dan Euis mengenai Entin yang dikabarkan bergentayangan menghantui penduduk. “Bagaimana kalau kita tanyakan pada Aki Uwin? Minta dicarikan jalan keluar buat masalah ini?” Dadang memberi ide. Aki

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    NASIB BUNGA (Bag. 12)

    “Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 1)

    Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status