INICIAR SESIÓN“Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.
“Bukit Hejo memang benar dikeramatkan oleh leluhur kita.”Suara gumaman berhenti. Mereka semua fokus menyimak ucapan Ustadz Agum selanjutnya.“Kalau saya, ambil pengertiannya begini, Bukit Hejo sengaja dikeramatkan, agar ada semacam perasaan sungkan, kalau kita sebagai warga Desa Cialas sengaja mau merusak atau membabat habis pepohonan di hutan tersebut.”
Sore yang cerah di Desa Cialas.Selepas Salat Ashar di masjid desa, Ustadz Agum mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk melaksanakan Salat Gaib, bagi seluruh korban yang jenazahnya diputuskan tetap terkubur di lokasi bencana terakhir.“Saudara-saudara sekalian, ayo, silakan saf dan posisinya di atur.” Ustadz Agum mengatur posisi jamahnya.Setelah dirasa posisinya sudah sesuai, ia pun memulai prosesi Salat Gaib, diikuti para penduduk desa.“Bismillahirrohmannirrohiim. Ushalli alaa mayyitil ghaaibi arba’a takbiiraatin fardlal kifaayati imaaman lillahi ta’aalaa.” Ust
“Sepertinya tanah milik Haji Kosim, Kang Ustadz. Sawah beliau ada di bawah Bukit Hejo. Ada juga, tanah milik warga, tapi cuma sedikit yang kena longsor. Kenapa gitu, Kang Ustadz?” tanya RT Madun.Ustadz Agum terdiam sejenak. “Kalau berkenan, kira-kira Haji Kosim bersedia tidak, ya, dibayari tanahnya untuk dijadikan lokasi pemakaman masal terakhir.”“Kok begitu, Kang Ustadz?” tanya Badar tak mengerti
Hari kelima, total ada tujuh jenazah yang ditemukan. Mereka akhirnya dimakamkan dengan langsung menggunakan kantong jenazah sebagai pengganti kain kafan, dan dalam satu lubang pemakaman masal.“Neng, apa kira-kira, besok jenazah korban akan ditemukan semua?” tanya Mak Acih di sela-sela persiapan acara tahlil. Beberapa hari kemarin, acara tahlil diadakan di lapangan desa.Namun, tadi sore, selesai pemakaman masal, hujan mulai turun. Ustadz Agum memutuskan, tahlilan malam ini diadakan di masjid desa saja.Warga desa yang antusias mengikuti tahlil sejak hari pertama, menurut.Mereka memasang terpal di pelataran masjid untuk men
Hari kelima.Pencarian jenazah kembali dilakukan. Tim SAR dan aparat desa bertekad menemukan lebih banyak lagi korban yang tertimbun untuk dikebumikan secara layak.“Mak, karena biasanya di hari ke 4 ini, jenazah korban sudah rusak, dan ada kemungkinan juga, mulai terkontaminasi bakteri, nanti disucikannya dengan cara tayamum saja. Mak Acih juga harus pakai sarung tangan karet ini, ya, biar aman.” Ustadz Agum memberikan sekotak sarung tangan karet pada Mak Acih yang langsung mengangguk, dan memasukkannya ke dalam tas pandan.“Berapa orang lagi yang belum ditemukan, Ustad?” tanya Mak Acih.“Kira-kira lima be
“Subhanalloh, Aki Amin orang baik. Allohu Akbar.” Jaya tak henti bertasbih, mereka yang hadir di sana pun ikut bertasbih.Setelah itu, tanpa buang waktu lagi, karena sebentar lagi akan diadakan proses pemakaman masal, maka Mak Acih memutuskan untuk menyegerakan memandikan jenazah sang suami.Mak Acih, Samih dan Nanang, mulai menggosok setiap bagian tubuh Aki Amin. Surip dan Jaya, bagian menyirami.“Tangan inilah yang dulu Abah pakai untuk menghidupi kita.” Mak Acih menggosok bagian tangan kanan Aki Amin, lalu Samih yang berseberangan di bag
Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te
Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di







