Beranda / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / TEROR SETAN GANCET (Bab. 7)

Share

TEROR SETAN GANCET (Bab. 7)

Penulis: Diah Pitasari
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 11:00:54

"Pelan-pelan. Ojat, kamu duluan yang cerita. Ayo, tarik napas, pelan-pelan." Ustadz Agum menepuk-nepuk ubun-ubun Ojat dengan lembut sembari membacakan doa untuk mengusir sisa-sisa trauma astral di pikirannya.

Ojat menelan ludah yang terasa kesat bagai berpasir. Matanya berkaca-kaca menahan ngeri. "Waktu kami ronda tadi malam, Pak Ustadz&n

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab 9)

    UstadzAgum dan Aki Amin berbincang tentang banyak hal selama perjalanan subuh itu. Namun, langkah kaki mereka mendadak melambat, saat melihat siluet beberapa orang yang mendekat dari arah depan. Enam anak muda. Tiga laki-laki dan tiga perempuan, berjalan beriringan ke arah mereka dengan mengenakan jaket tebal dan menggendong tas punggung besar khas pendaki gunung.UstadzAgum dan Aki Amin berhenti sejenak di tepi jalan setapak, menunggu rombongan itu melintas dekat mereka."Permisi, Pak. Maunumpanglewat," kata salah seorang pemuda yang berjalan paling depan dengan nada sopan. Lima temannya ikut mengangguk ramah sembari melempar senyum.UstadzAgum dan Aki Amin membalas senyuman itu.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab. 8)

    "Akimikirinapa? Dari tadi melamun saja?" tanya Ujang pada Aki Amin. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu merupakan cucu Aki Amin dari anak perempuan pertamanya."Mikirannaonweh, Jang," sahut Aki Amin sambil lalu, pandangannya masih menatap kosong ke kegelapan malam.UstadzAgum melirik jam tangan di pergelangan kiri. "Karena sudah jam sebelas malam, waktunya kita berkeliling. Ujang sama Maman ikut saya. Yang lain, ikut bersama Aki Amin, ya."Mereka menurut, lalu membagi rombongan menjadi dua bagian. Satu menuju ke arah timur desa, dan satunya lagi ke arah barat. Mereka sepakat, tepat jam satu dini hari nanti, kedua tim harus sudah kembali berkumpul di pos ronda.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab. 7)

    "Pelan-pelan.Ojat, kamuduluanyang cerita. Ayo, tarik napas, pelan-pelan."UstadzAgum menepuk-nepuk ubun-ubunOjatdengan lembut sembari membacakan doa untuk mengusir sisa-sisa trauma astral dipikirannya.Ojatmenelan ludah yang terasa kesat bagai berpasir. Matanya berkaca-kaca menahan ngeri. "Waktu kami ronda tadi malam, PakUstadz... tahu-tahu kami dihadang sama hantu itu di dekat kebun kosong.""Hantu apa?" tanyaUstadzAgum, alisnya bertaut."Apa si Entinkeliaranlagi?!" celetuk salah satu warga di barisan belakang, yang langsung disambuttegoran"Hush!"

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab. 6)

    "Neumpokeunnaonmaneh,Jat?" tanya Ikin saat menyadari rekannya mendadak menghentikan langkah dan menatap kosong ke kebun gelap tersebut.(Melihat apa,Jat?)"Pohon mangga tempat Entin ..."Ojatmenggantung kalimatnya. Ia buru-buru menelan ludah, sadar bahwa tidak bijaksana menyebut nama itu di tempat terjadinya peristiwa yang sempat menghebohkan desa beberapa waktu lalu."Ah,manehmah sokkitu," gerutu Ikin tidak suka. Bulu kuduknya mendadak meremang karenaOjatmulai bicara yang aneh-aneh.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab. 5)

    "Gue punya ide. Kitatinggalinajamereka di sini," ujar Ari lirih namun mantap.Sasha tersentak, tangisnya langsung terhenti. "Maksudloapa,Ri?! Lo gila ya?!""Dengeringuedulu,Sha!Gakbakal ada orang yang tahu."Ari mencengkeram kedua bahu Sasha agar gadis itu fokus mendengarkannya. "Dikost-an, Erik sama Vera itu jarang gaul, kan? Merekagakpernah bersosialisasi sama tetangga atau anak-anak kampus. Mereka pergi ke gunung ini juga diam-diam,gakada satu pun orang luar yang tahu."Dodo terdiam, mulai mencerna kata-kata Ari."Jadi, skenarionya adalah&n

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    TEROR SETAN GANCET (Bab. 4)

    Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Waktu yang tepat untuk bersiap mengejarsunrisedi Puncak Manik. Vera pasti sudah bangunduluan, pikir Sasha. Sambil menguap, ia merangkak keluar tenda dan mendapati Ari dan Dodo ternyata sudah sibuk melipat peralatan mereka.Sasha mengedarkan pandangannya ke sekeliling perkemahan yang masih remang. "Vera ke mana? Lo lihat dia?""Lho? Veranggakada di tenda?" Ari balik bertanya, keningnya berkerut. "Si Erik juga hilang. Pasguebangun, cuma adahape-nyadoang di sebelahgue.""Ih, ke mana sih mereka? Kok bisa hilangbarengangitu?" Sasha mulai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status