FAZER LOGINMendengar pernyataan Tinah barusan, Nunung tampak terkejut setengah mati. Wajahnya pias. Ia menatap Ustaz Agum dengan perasaan tidak enak dan cemas. Ia sangat khawatir Ustaz Agum akan terpengaruh dan berpandangan buruk sama seperti Tinah. Padahal, kedatangannya ke sini hanya ingin meluruskan persoalan dan meminta pendapat yang jernih secara syariat.Ustaz Agum terdiam sejenak. Suasana ruang tamu itu mendadak hening dan tegang. Beliau seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat, paling halus, agar maksudnya bisa diterima dengan jernih dan tidak disalahpahami oleh pihak Tinah maupun Nunung.“Jadi begini, Teteh-teteh dan Aa sekalian,” Ustaz Agum memulai penjelasannya dengan suara yang sangat lembut. “Secara hukum Islam dasar, wasiat itu sah dan wajib dilaksanakan, asalkan memen
"Euceu cuma menyampaikan apa yang diucapkan almarhumah, Tinah. Euceu merasa punya beban moral atas amanah orang yang sudah meninggal. Ini murni amanah, bukan karena Euceu mau menguasai harta Mak Popon atau mau mengungkit-ungkit jasa merawat beliau," jelas Nunung, berusaha menjaga nadanya setenang mungkin agar tidak memancing pertengkaran. Namun, Tinah telanjur menyalakan benteng pertahanannya. "Tapi maaf ya, Ceu... Apa Euceu punya bukti hitam di atas putih? Atau setidaknya surat pernyataan yang ditandatangani Ambu sebelum meninggal kalau tanah pojokan itu memang diwariskan buat Ceu Nunung?" "Kalau bukti tertulis seperti surat segel memang tidak ada, Teh," kali ini Jaki ikut menimpali, mencoba menengahi. "Cuma, waktu Mak Popon bicara begitu, kebetulan saksinya ada saya dan Teh Lela. Kalau Teh Tinah tidak percaya, nanti bisa kita panggil Teh Lela ke sini buat menjelaskan." Saka, suami Tinah, terkekeh sinis sambil membenarkan posisi duduknya. "Ya kalau tidak ada bukti tertulis atau re
Nunung yang mendengar ucapan Lela langsung melempar tatapan tidak enak. Wajahnya pias. Ia menyentuh lengan Lela, berniat mencegah tetangganya itu meneruskan ucapan, tetapi terlambat."Tapi sekarang, tahu-tahu semua tanahnya sudah mau dijual saja sama Tinah," lanjut Lela gemas.Mak Acih tertdiam, menatap Nunung dan Lela bergantian. Walau sebagai tetua ia paling tidak suka bergosip, tetapi urusan yang menyangkut amanah orang meninggal seperti ini memang sudah seharusnya diluruskan."Bukan begitu ceritanya, Mak..." potong Nunung cepat, raut wajahnya tampak sangat pekewuh kepada Mak Acih."Lho, memang begitu kan kejadiannya, Ceu? Saksinya kan ada
Prosesi pemakaman Mak Popon berlangsung khidmat. Beruntung, walau selama ini hidup sendiri, almarhumah ternyata memiliki sejumlah tabungan yang disimpan di sudut-sudut tersembunyi rumahnya. Penghasilan dari hasil kebun dan sawah, serta gaya hidupnya yang bersahaja, membuat Mak Popon memiliki banyak simpanan berupa perhiasan dan uang tunai. Alhasil, biaya pemakaman serta tahlilan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Cialas tidak terlalu membebani keluarga. Apalagi, warga Desa Cialas terkenal memiliki semangat gotong royong yang tinggi; mereka rela menyumbang tenaga tanpa mengharapkan imbalan sepeser pun.Sehari setelah jenazah dimakamkan, rombongan keluarga Tinah sudah lebih dulu bertolak ke Jakarta. Suami Tinah terikat jatah izin dari perusahaannya yang hanya dua hari, sementara kedua anak mereka juga tidak bisa meninggalkan sekolah terlalu lama. Berbeda dengan Tinah; sta
"Emangnya kenapa, Ceu? Tinah mau lihat wajah Ambu buat yang terakhir kali! Tinah mau peluk Ambu!" Tinah menjerit, tidak terima dengan larangan itu."Jenazah Mak Popon sudah seminggu meninggal, Tinah. Kondisi badannya sudah tidak bagus lagi. Euceu enggak mau kamu trauma kalau melihat wajah Mak Popon yang sekarang," bisik Nunung lagi. Kali ini suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak menimbulkan kegaduhan di ruangan yang penuh pelayat itu."Iya, Tinah. Tadi waktu Emak mandikan Popon juga, Emak hati-hati sekali. Ini sengaja jenazah Ambu kamu langsung ditaruh di dalam keranda setelah dikafani di luar, biar jenazah Ambu kamu enggak rusak karena terlalu banyak dipindah-pindah," Mak Acih yang duduk di dekat mereka ikut menimpali dengan suara penuh iba.
"Ayo kita mandikan jenazahnya, Nung. Kasihan Popon kalau kita tidak buru-buru mengurusnya. Dia sudah terlalu lama telantar," ajak Mak Acih lembut.Ia kemudian memberi isyarat kepada Neneng untuk bersiap. Di sepanjang perjalanan menuju rumah duka tadi, Mak Acih memang sudah mewanti-wanti Neneng bahwa kondisi jenazah Popon kali ini akan sangat menguji ketahanan mental. Sebagai pemandi jenazah, mereka harus siap menghadapi kondisi darurat apa pun demi menunaikan kewajiban terakhir bagi almarhumah.Nunung bangkit dari duduknya, lalu mengantar Mak Acih dan Neneng menuju ke arah samping teras rumah. Di sana, sebuah area khusus sudah disiapkan. Tiga sisinya telah ditutupi rapat dengan tirai kain yang lebar agar proses memandikan tidak terlihat oleh orang luar. Langkah ini sangat penting demi menjaga kehorm
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di
“Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y
Dengan sekuat tenaga, ia akhirnya berhasil menyusul Bowo yang kini sudah duduk manis di atas jok motornya.“Ah, payah luninggalingue.Udahdianterin, malahn
Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te







