Home / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / NASIB BUNGA (Bab. 13)

Share

NASIB BUNGA (Bab. 13)

Author: Diah Pitasari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-29 23:21:59

Desa Cialas.

Sepeninggal Bowo dan Herman menuju ke makam Entin, Dadang langsung berembuk dengan Sanah dan Euis mengenai Entin yang dikabarkan bergentayangan menghantui penduduk.

“Bagaimana kalau kita tanyakan pada Aki Uwin? Minta dicarikan jalan keluar buat masalah ini?” Dadang memberi ide.

Aki Uwin adalah salah satu warga yang dituakan di Desa Cialas. Kemampuan spiritualnya yang sudah teruji, kerap membuat pria sepuh itu menjadi tempat berkonsultasi mengenai hal-hal gaib di luar nalar manu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 10)

    Mendengar pernyataan Tinah barusan, Nunung tampak terkejut setengah mati. Wajahnya pias. Ia menatap Ustaz Agum dengan perasaan tidak enak dan cemas. Ia sangat khawatir Ustaz Agum akan terpengaruh dan berpandangan buruk sama seperti Tinah. Padahal, kedatangannya ke sini hanya ingin meluruskan persoalan dan meminta pendapat yang jernih secara syariat.Ustaz Agum terdiam sejenak. Suasana ruang tamu itu mendadak hening dan tegang. Beliau seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat, paling halus, agar maksudnya bisa diterima dengan jernih dan tidak disalahpahami oleh pihak Tinah maupun Nunung.“Jadi begini, Teteh-teteh dan Aa sekalian,” Ustaz Agum memulai penjelasannya dengan suara yang sangat lembut. “Secara hukum Islam dasar, wasiat itu sah dan wajib dilaksanakan, asalkan memen

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 9)

    "Euceu cuma menyampaikan apa yang diucapkan almarhumah, Tinah. Euceu merasa punya beban moral atas amanah orang yang sudah meninggal. Ini murni amanah, bukan karena Euceu mau menguasai harta Mak Popon atau mau mengungkit-ungkit jasa merawat beliau," jelas Nunung, berusaha menjaga nadanya setenang mungkin agar tidak memancing pertengkaran. Namun, Tinah telanjur menyalakan benteng pertahanannya. "Tapi maaf ya, Ceu... Apa Euceu punya bukti hitam di atas putih? Atau setidaknya surat pernyataan yang ditandatangani Ambu sebelum meninggal kalau tanah pojokan itu memang diwariskan buat Ceu Nunung?" "Kalau bukti tertulis seperti surat segel memang tidak ada, Teh," kali ini Jaki ikut menimpali, mencoba menengahi. "Cuma, waktu Mak Popon bicara begitu, kebetulan saksinya ada saya dan Teh Lela. Kalau Teh Tinah tidak percaya, nanti bisa kita panggil Teh Lela ke sini buat menjelaskan." Saka, suami Tinah, terkekeh sinis sambil membenarkan posisi duduknya. "Ya kalau tidak ada bukti tertulis atau re

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 8)

    Nunung yang mendengar ucapan Lela langsung melempar tatapan tidak enak. Wajahnya pias. Ia menyentuh lengan Lela, berniat mencegah tetangganya itu meneruskan ucapan, tetapi terlambat."Tapi sekarang, tahu-tahu semua tanahnya sudah mau dijual saja sama Tinah," lanjut Lela gemas.Mak Acih tertdiam, menatap Nunung dan Lela bergantian. Walau sebagai tetua ia paling tidak suka bergosip, tetapi urusan yang menyangkut amanah orang meninggal seperti ini memang sudah seharusnya diluruskan."Bukan begitu ceritanya, Mak..." potong Nunung cepat, raut wajahnya tampak sangat pekewuh kepada Mak Acih."Lho, memang begitu kan kejadiannya, Ceu? Saksinya kan ada

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 7)

    Prosesi pemakaman Mak Popon berlangsung khidmat. Beruntung, walau selama ini hidup sendiri, almarhumah ternyata memiliki sejumlah tabungan yang disimpan di sudut-sudut tersembunyi rumahnya. Penghasilan dari hasil kebun dan sawah, serta gaya hidupnya yang bersahaja, membuat Mak Popon memiliki banyak simpanan berupa perhiasan dan uang tunai. Alhasil, biaya pemakaman serta tahlilan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Cialas tidak terlalu membebani keluarga. Apalagi, warga Desa Cialas terkenal memiliki semangat gotong royong yang tinggi; mereka rela menyumbang tenaga tanpa mengharapkan imbalan sepeser pun.Sehari setelah jenazah dimakamkan, rombongan keluarga Tinah sudah lebih dulu bertolak ke Jakarta. Suami Tinah terikat jatah izin dari perusahaannya yang hanya dua hari, sementara kedua anak mereka juga tidak bisa meninggalkan sekolah terlalu lama. Berbeda dengan Tinah; sta

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 6)

    "Emangnya kenapa, Ceu? Tinah mau lihat wajah Ambu buat yang terakhir kali! Tinah mau peluk Ambu!" Tinah menjerit, tidak terima dengan larangan itu."Jenazah Mak Popon sudah seminggu meninggal, Tinah. Kondisi badannya sudah tidak bagus lagi. Euceu enggak mau kamu trauma kalau melihat wajah Mak Popon yang sekarang," bisik Nunung lagi. Kali ini suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak menimbulkan kegaduhan di ruangan yang penuh pelayat itu."Iya, Tinah. Tadi waktu Emak mandikan Popon juga, Emak hati-hati sekali. Ini sengaja jenazah Ambu kamu langsung ditaruh di dalam keranda setelah dikafani di luar, biar jenazah Ambu kamu enggak rusak karena terlalu banyak dipindah-pindah," Mak Acih yang duduk di dekat mereka ikut menimpali dengan suara penuh iba.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    KESEDIHAN MAK POPON (Bag. 5)

    "Ayo kita mandikan jenazahnya, Nung. Kasihan Popon kalau kita tidak buru-buru mengurusnya. Dia sudah terlalu lama telantar," ajak Mak Acih lembut.Ia kemudian memberi isyarat kepada Neneng untuk bersiap. Di sepanjang perjalanan menuju rumah duka tadi, Mak Acih memang sudah mewanti-wanti Neneng bahwa kondisi jenazah Popon kali ini akan sangat menguji ketahanan mental. Sebagai pemandi jenazah, mereka harus siap menghadapi kondisi darurat apa pun demi menunaikan kewajiban terakhir bagi almarhumah.Nunung bangkit dari duduknya, lalu mengantar Mak Acih dan Neneng menuju ke arah samping teras rumah. Di sana, sebuah area khusus sudah disiapkan. Tiga sisinya telah ditutupi rapat dengan tirai kain yang lebar agar proses memandikan tidak terlihat oleh orang luar. Langkah ini sangat penting demi menjaga kehorm

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 3)

    Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 2)

    Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status