Share

DUA KOTAK BEKAL

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-02-17 19:07:51

Rama terbatuk hebat hingga wajahnya memerah. Salah satu klien wanita itu dengan sigap menyodorkan segelas air mineral kepadanya.

​"Hati-hati, Pak Rama. Makanannya nggak akan lari ke mana-mana," goda wanita itu sambil mengusap lengan Rama dengan lembut, mencoba memanfaatkan momen tersebut untuk menyentuhnya.

​"Terima kasih... saya hanya sedikit tidak fokus," jawab Rama setelah meneguk air.

​Rama melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia merasa harus segera kembali.

​"Pak Rama, kok ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MELAWAN IBU TIRI

    ​"Jangan harap bisa mengambil apa pun dari sini! Ingat, jika kamu berani macam-macam, aku akan sakiti papamu!" Anggita berkata dengan tajam. sangat berbanding terbalik dengan tatapan penuh gairahnya beberapa saat lalu. ​Rama menghela napas panjang. Ia merasa muak dengan tingkah perempuan itu. ​"Itu hakku dan aku bebas melakukan apa pun. Soal menyakiti papaku? Kamu yakin bisa?" ledek Rama sembari melangkah mendekat, bahkan sengaja merapatkan tubuhnya ke arah Anggita. ​Anggita sedikit gemetar, namun ada rasa takjub yang menyelinap saat melihat wajah tampan itu berada begitu dekat di hadapannya. “Kamu hanya anak yang baru muncul setelah dewasa. Kami yang berhak menentukan soal harta itu! Pergilah, atau kami akan terus membuatmu tidak nyaman di sini!” desaknya, berusaha menekan Rama agar mundur. ​Rama berdecak. Sikapnya benar-benar sudah berubah; ia bukan lagi pria lemah yang dulu. "Kamu lupa siapa aku? Aku putra dari Tuan Tansri, kolega terbesar di Malaysia ini!" Rama memperjela

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   ANTARA IBU DAN SAUDARA TIRI

    Ia mengambil foto itu, menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi gambarnya. Ia menatapnya kembali, menelisik dengan saksama. ​"Tapi ini sangat mirip dengan Ibu? Apa ini keluarganya juga? Tapi kenapa aku enggak pernah tahu?" ucapnya lagi. Keningnya menyengrit, merasakan kebingungan yang luar biasa. ​"Ah, sudahlah!" ​Akhirnya ia bangkit, meninggalkan foto itu tergeletak begitu saja di lantai. Setelah selesai mengeruk semua uang yang ada di lemari, Nadia melangkah keluar dengan senyum yang merekah. ​"Bi, tolong bersihkan pecahan kaca itu ya. Buang ke tong sampah, semuanya!" titah Nadia tanpa menatap sang bibi yang sedang mengepel lantai di lantai bawah. ​"Iya, Non!" ​Setelah selesai mengepel lantai yang luasnya minta ampun, Nunu langsung bergegas ke atas membawa sapu beserta pengki. Ia masuk ke dalam kamar Alya sambil menggeleng kecil. ​"Non Nadia ini sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nyonya Alya," bisiknya sambil berjongkok memunguti beling ke dalam pengki. ​Ia sempa

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   FOTO SIAPA?

    Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. ​Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. ​Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. ​Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" ​"Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" ​Rama terdiam. Ia ingin m

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PAPA RAMA?

    ​"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. ​Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. ​Ting! ​Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. ​Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. ​Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   APAKAH MUNGKIN?

    ​Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. ​Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. ​"Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. ​Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." ​"Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. ​Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   KETAKUTAN DI MATA LUCIA

    Ceklek. ​Pintu kamar rawat inap itu kembali terbuka. Ketiganya menoleh serentak. Sosok Tansri berdiri di sana dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Sang ayah akhirnya sampai. ​"Ram, bagaimana kabarmu?" tanya Tansri seraya menduduki kursi yang diberikan oleh Alya. Alya sendiri memilih untuk berdiri, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu. ​"Terima kasih, Al," ucap Tansri singkat pada besannya. Alya hanya menunduk dan mengangguk sopan, Lucia mengerang dalam hati; ia merasa kalah cepat dalam mengambil hati sang tuan besar. ​"Papa mau bicara," ucap Tansri sengaja menggunakan bahasa Inggris agar Lucia mengerti bahwa pembicaraan ini bersifat pribadi. ​"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan," sahut Lucia cepat. Ia khawatir Alya akan kembali mencuri perhatian Tansri jika mereka tetap di sana. ​"Pa, saya keluar dulu," pamit Alya yang langsung disambut anggukan oleh Tansri. ​Setelah pintu tertutup rapat, Tansri menatap tajam ke arah pintu kayu tersebut. "Ada apa, Pa?" tanya Rama pelan. ​

  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   MATI KUTU

    Rama berdehem cukup keras, memecah kebisingan ruang makan yang mewah itu. Semua mata, termasuk mata tajam Tan Sri, langsung tertuju padanya. Dengan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki, Rama meminta izin untuk ke toilet, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha sekuat tenaga menutupinya dengan se

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   HAMPIR

    Detak jantung Rama seolah berpacu dengan suara langkah kaki Tan Sri yang semakin mendekat. Tepat saat jemari Anggita yang dingin sudah menyentuh kepala sabuk celananya, suara bariton sang konglomerat kembali menggema, kali ini jauh lebih dekat. ​"Sofia? Kalian di sana?" ​Anggita dan Sofia seren

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   PERPISAHAN

    Baru saja Rama meletakkan ponselnya dengan perasaan dongkol, layar itu kembali menyala. Nama Alya muncul di sana. Rama menarik napas panjang, ia tahu ini saat yang tepat untuk memainkan sedikit peran. ​"Halo, Bu," jawab Rama dengan suara yang sengaja dikeraskan dan ketus, seolah-olah amarahnya pa

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • MALAM GILA DI RANJANG MERTUA   APA SEBENARNYA KALUNG ITU?

    ​Di dalam ruangan remang yang beraroma kemenyan dan parfum mahal itu, Tan Sri, Puan Sri Sofia, dan Anggita sedang terlibat dalam sebuah adegan yang sangat tabu. Tidak ada batasan antara ayah, ibu, dan anak di sana. ​Tan Sri duduk di sebuah kursi besar mirip singgasana, sementara Sofia dan Anggi

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status