Mag-log inNadia tak menjawab. Ia tahu Indra pasti selalu punya cara untuk membungkam setiap protes atau perkataannya. Nadia sangat ingin mengakhiri hubungan beracun ini, namun di sisi lain, ia terlanjur gengsi jika harus menyandang status sebagai janda lagi. Terlebih, ia tidak siap jika harus hidup miskin. Jika ia nekat berpisah dari Indra sekarang, ia tak akan memiliki apa-apa lagi. "Dengar aku. Jangan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di toko bunga itu lagi! Jika aku melihatmu melakukan hal gila itu sekali lagi, aku bisa dengan mudah membuangmu. Dan kamu tahu sendiri, kan? Kamu akan berakhir jadi gembel di negeri orang!" desis Indra penuh ancaman. Nadia tetap tak bergeming. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan, seolah sudah pasrah dengan takdir pahit yang harus dijalaninya. Seketika, bayangan indah saat dirinya masih bersama Rama kembali terngiang di kepalanya. Dulu hidupnya begitu senang, tenang, dan bahagia; memiliki suami yang san
Setelah acara pernikahan yang cukup mewah itu selesai, keduanya masuk ke dalam apartemen yang disewa oleh Nadia. Bahkan, seluruh biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh Nadia dengan mengambil uang dari perusahaan milik mendiang ibunya yang baru saja ia pegang. Indra awalnya menolak, tetapi Nadia yang gengsian tidak mau merayakan pernikahan dengan sederhana. Indra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang super empuk. Nadia tersenyum geli. Ingatannya kembali berputar pada masa dimana saat ia diam-diam bermain gila dengan Indra ketika masih berstatus sebagai istri sah Rama. Dengan senyum malu-malu, Nadia ikut naik ke atas ranjang setelah menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan tank top dan celana pendek. Namun, alih-alih sambutan hangat, yang Nadia dapatkan justru tepisan tangan yang sangat kasar dari Indra. "Mas?" panggil Nadia. Ia begitu kaget pasalnya tatapan hangat Indra seketika berubah drastis 360 derajat. “Jangan lancang, Nadia. Aku menikahimu bu
Namun, saat mesin mobil dinyalakan, pandangan Nadia kembali tertuju pada bangunan megah toko bunga itu. Napasnya tiba-tiba memburu. Pikirannya langsung berputar, mempertanyakan mengapa Alya dan mantan suaminya bisa berada bersama di sana. Tepat saat pedal gas hendak diinjak oleh Indra, Nadia langsung membuka sabuk pengamannya. Indra menoleh dengan tatapan kaget. Nadia hanya melirik suaminya itu sekilas. lalu membuka pintu mobil dan berlari kembali ke arah toko. Saat Nadia masuk dengan mendobrak pintu toko. Pandangannya langsung tertuju pada mantan suami dan bibinya yang sedang berpelukan sangat romantis. Pemandangan itu seketika membuat dada Nadia terasa seperti terbakar. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Berbagai pertanyaan langsung memenuhi pikirannya. Bagaimana bisa mantan suaminya bersanding dengan ibu angkatnya? Sejak kapan semua ini terjadi? Semua spekulasi berputar di kepalanya hingga ia berteriak nyaring, "BAJINGAN!" Rama maupun Alya lan
Keduanya tercekat. Tatapan bingung di antara mereka benar-benar kentara jelas. Namun sedetik kemudian, Nadia berdehem pelan. Ia menatap Alya dengan pandangan meremehkan, lalu memutar matanya menilai interior toko bunga itu dari atas hingga bawah. Nadia berdecak sinis, bibirnya mengerucut tipis penuh ejekan. "Oh, sekarang jadi pelayan? Miskin ya, setelah semua bisnis orang tua saya Anda berikan pada saya?" ucapnya dengan nada yang penuh akan penghinaan. Nadia melipat kedua tangan di dada, lalu bersandar pada rak bunga. “Hmm… sejauh ini kamu mencariku? Untuk apa? Kamu membuntutiku, ya? Sudahlah, aku bukan anakmu lagi, Bibi,” lanjutnya sambil menekankan kata “Bibi” dengan tatapan tajam ke arah Alya. Alya masih tak bergeming. Ia hanya menggeleng pelan, ingin menyanggah perkataan Nadia, namun lidahnya terlalu kelu. Ia masih sangat terkejut memikirkan bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Nadia di sini. Alya membulatkan matanya seketika. Ia teringat bahwa perusahaan mendiang
Matahari pagi menyembul di langit Malaysia, memancarkan sinar keemasan yang terasa jauh lebih indah dan hangat dari biasanya. Bagi Rama dan Alya, pagi ini adalah awal yang baru karena status mereka kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Sambil tersenyum bahagia, keduanya berjalan beriringan menuju meja makan untuk bergabung dengan keluarga besar. Begitu mereka duduk, riuh ejekan dan godaan jenaka langsung terlontar dari Tan Sri, Sofia, dan Anggita. Gurauan itu seketika membuat pipi Alya merona merah karena malu. Bayangan kejadian malam tadi langsung melintas di benaknya; bagaimana ia dan Rama benar-benar tenggelam dalam gairah, saling melepaskan kerinduan yang mendalam, dan menikmati malam pertama mereka sebagai pengantin baru dengan begitu ganas tanpa ada lagi yang perlu disembunyikan. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Demi memberikan kehidupan terbaik dan ketenangan yang utuh bagi sang istri, Rama akhirnya memutuskan untuk memboyong Alya pindah ke Eropa. Langkah besar
Satu bulan berlalu setelah serangkaian kejadian memprihatinkan yang menimpa Rama. Akhirnya, sekarang ia menetap di Malaysia, tentu saja dengan membawa Alya bersamanya. Setelah melihat kiriman foto dari nomor baru Nadia sebulan lalu, keduanya justru merasa lega. Itu artinya Nadia benar-benar tidak akan ada lagi di sekitar mereka. Bahkan dari jauh pun Nadia masih menunjukkan keangkuhannya.Namun, Rama sedikit curiga. Menurutnya, pria seperti Indra tidak mungkin benar-benar tulus mencintai Nadia. Pasti ada maksud tersembunyi hingga pria itu rela menikahinya, pikir Rama. Meski begitu, Rama dan Alya telah menegaskan bahwa mereka tidak akan lagi membahas masa lalu masing-masing. Walaupun di benak Alya, bayangan masa kecil Nadia—yang dia asuh sejak lahir hingga berusia 25 tahun—masih sangat membekas dan sulit dilupakan, ia tetap berusaha membuka lembaran baru demi pria yang sejak awal telah memikat hatinya. Bagaimana dengan Anggita dan Sofia? Kedua perempuan itu akhirnya hanya bisa pas
Rama menuruni tangga dengan kepala terasa pening mendengar ocehan sang istri. Biasanya, ia akan manut dan menikmati setiap omelan Nadia, tapi kali ini rasanya berbeda. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, meski ia sendiri belum paham apa. “Eh, Bu,” ucap Rama kaget saat mendapati
"Nih, Ram, minum dulu pelan-pelan. Maaf ya lama, buahnya cuma tinggal itu di kulkas. Nanti... eh, besok pagi Ibu beli stok buah yang banyak biar kamu nggak kehabisan lagi," oceh Alya dengan nada panik nya. Alya tak sekadar memberikan gelas itu. Ia membantu memegangi gelasnya agar Rama bisa minu
“Bu sudah pulang? Maaf ya, aku nggak bisa jemput. Tadi banyak banget kerjaan,” ucap Nadia begitu masuk ke rumah, bahkan sampai melempar sepatunya ke sembarang arah. “Gak apa-apa, Nad. Untung suamimu gercep, langsung jemput Ibu,” jawab Alya berusaha terlihat santai, meski napasnya masih agak tersen
Rama mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia baru saja mulai menikmati perannya sebagai Kepala Bagian; ia tak akan membiarkan kerja kerasnya hancur hanya karena sabotase picik dari rekan kerjanya sendiri. Jika Baron berhasil menukar laporan penjualan dengan data palsu, karier Rama bisa hancur dalam







