เข้าสู่ระบบ“N–nyonya, tempat apa ini?”
Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan. Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.” Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan. Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana. Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?” “B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya. Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil? Aurin tak sempat memikirkan lebih jauh. Mobil yang dikendarai Dea masuk ke area parkir sebuah apotek besar. Saat Aurin menoleh ke arah Dea, majikannya itu langsung menyodorkan selembar kertas padanya. “Tebus resep ini, dan jangan lama-lama.” Meski Aurin tak tahu resep apa yang akan dia tebus, tetapi dia tetap mengangguk setuju. “Baik, Nyonya.” **** Dua minggu berselang, Aurin memasuki fase suburnya. Sebelumnya, Dea telah membawanya ke klinik Obgyn terbaik di ibukota untuk memastikan segalanya sempurna, tanpa cela. Hasil medis menyatakan Aurin sangat sehat, rahimnya pun sempurna, tanpa riwayat penyakit satu pun pada tubuhnya. Tepat pada puncak masa ovulasinya, Aurin dipanggil menghadap ke kamar pribadi Dea. Di sana, sang nyonya rumah duduk menyilangkan kaki dengan angkuh di atas sofa tunggal, jemarinya yang lentik menyesap segelas wine merah yang tampak sepekat darah. Saat Aurin duduk dengan kaku di hadapannya, Dea menurunkan gelasnya perlahan dan bertanya dengan suara tenang, “Sudah test?” “Sudah, Nyonya.” Aurin mengangguk. Pada genggaman tangan, terselip ovulation test strip yang dibelikan oleh Dea seminggu lalu. Ovulation test strip adalah alat tes mandiri berbentuk stik kecil untuk mendeteksi masa subur alias ovulasi wanita dengan cara mengukur lonjakan hormon Luteinizing Hormone atau LH di dalam urine. “Hasilnya?” Dea memicingkan mata. Aurin menyodorkan benda pipih itu ke atas meja. “Ini, Nyonya.” Tanpa meraihnya, Dea melirik sekilas. Begitu mendapati dua garis merah tegas di sana, dia menyeringai puas. “Positif. Jadi, kamu siap untuk malam ini?” Meski setiap sel dalam tubuhnya menjerit ingin menolak, namun Aurin hanya bisa menunduk dan mengangguk lemah. “Siap, Nyonya,” katanya mencoba meyakinkan. Dea tersenyum tipis. Ia memberikan sedikit nasehat pada Aurin, “Saat kamu berada di puncak ovulasi, potensi pembuahan akan jauh lebih besar. Aku tidak ingin satu tetes pun terbuang sia-sia malam ini.” “Saya mengerti, Nyonya.” Dea menambahkan, “Konon katanya, peluang memiliki anak laki-laki lebih besar kalau kamu di puncak masa ovulasi. Dan kalau bisa, kamu harus klimaks sebelum suamiku keluar. Jadi, kamu harus melakukan itu. Aku menginginkan anak laki-laki.” Meski tak paham apa makna ‘klimaks’ yang baru saja diucapkan majikannya tadi, tetapi Aurin menggigit bibir bawahnya sejenak. Ketakutan luar biasa mulai merayap di dadanya, membuatnya kian berdebar. Ia takut, hasilnya tak sesuai ekspektasi Dea dan berimbas padanya yang harus mengembalikan uang yang telah ia terima dari wanita itu. Maka, Aurin bertanya dengan nada gugup, “Mohon maaf sebelumnya. K–kalau … anak itu lahir perempuan bagaimana, Nyonya? Apa Anda akan membuang saya dan tidak menerimanya? Mohon maaf sekali lagi, Nyonya. Sebab, saya bukan Tuhan yang bisa memastikannya.” Dea melirik sebentar. Ia meraih wine-nya lagi, menyesapnya sedikit, kemudian ia meletakkan gelas itu ke tempatnya sembari berujar, “Kamu benar. Kita tidak pernah tahu karena semua itu ketetapan yang di atas. Aku hanya berkata ‘kalau bisa’, bukan berarti aku tak mau menerimanya kalau anak itu terlahir perempuan.” “Oh, begitu. Baik, Nyonya.” Aurin menghela napas lega. Setidaknya kalau anak ini lahir perempuan, maka ia tak terlalu terbebani dengan pemikiran buruknya tadi. Dengan begitu, dia tidak akan melakukannya lagi dengan Rayden. Sebelum Aurin beranjak, Dea kembali menatap Aurin lekat, “Ya sudah, bersiaplah. Sekitar tengah malam, kamu harus masuk ke kamar suamiku. Jangan lupa, kenakan pakaian yang sudah kuberikan padamu pagi tadi.” Aurin menggigit bibir bawahnya dengan resah. Ia mengingat kembali pakaian tidur tipis berbahan satin yang baru ia ketahui namanya adalah lingerie. Meski ia sebenarnya ragu menggunakan itu, tetapi ia hanya bisa mengangguk patuh seperti biasanya, “B–baik, Nyonya. Nanti saya kenakan.” Aurin pergi dari sana dengan perasaan resah luar biasa. Ia kembali ke kamarnya dan mendesah pelan. Ia ambil lingerie hitam yang tergeletak di atas ranjang. Seraya menempelkannya ke badan, ia menggeleng pelan. Lingerie itu sama sekali tidak cocok untuknya. Sambil menimang-nimang benda di tangannya, Aurin membatin gundah, “Bagaimana kalau Tuan Rayden menyadarinya? Bagaimana kalau aku dituntut olehnya nanti, dan bagaimana kalau aku tidak bisa langsung hamil?” Selama beberapa jam menuju tengah malam itu, Aurin tak melakukan apapun selain mondar mandir tidak jelas sembari menggigit kuku jemarinya. Dan tepat pukul setengah satu dini hari, Aurin dihubungi Dea, diminta menghadap. Wanita itu berdiri di depan pintu kamar di lantai dua yang tertutup sembari memerintah lirih sekali, “Cepat masuk! Suamiku sudah terpengaruh obat perangsang dosis kuat. Jadi, dia tidak akan menyadari kalau itu dirimu.” Meski Aurin gugup dan tak tahu harus bagaimana, ia tetap mengangguk patuh. “B–baik, Nyonya,” sahutnya lirih. Baru saja Aurin sampai di ambang pintu, Dea menahan langkahnya dengan berkata lirih menyerupai bisikan, “Sampai di dalam nanti, cepat lepaskan pakaianmu, gunakan lubricant ini untuk membuat milikmu licin, dan naiki suamiku sebelum dia sadar!” katanya sembari menyodorkan suatu benda pada Aurin. Aurin sempat terkejut. Jujur saja, dia tak menyangka permintaan sang majikan begitu rumit. Ia sama sekali tidak tahu apa itu ‘lubricant’, masih pula diminta menaiki pria itu lebih dulu. Maka, Aurin gelagapan ketika bertanya. “M–menaikinya? J–jadi, s–saya yang naik lebih dulu ke atas tubuh Tuan Rayden, Nyonya?” “Iya. Ada yang salah?” ucap Dea dengan kening mengerut.Begitu mereka menginjakkan kaki di Hong Kong Disneyland, jarum jam baru saja menunjuk tepat pada pukul 9 pagi. Udara pagi yang bersih dan hangatnya sorot mentari menyambut kedatangan mereka, bersinergi dengan alunan musik khas Disney yang menggema ceria di sepanjang jalan.Begitu melewati gerbang pemeriksaan, mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan Main Street, U.S.A. yang dipenuhi bangunan-bangunan berarsitektur klasik dengan warna-warni megah yang memanjakan mata. Di ujung jalan, kemegahan Castle of Magical Dreams berdiri dengan anggun, menara-menaranya yang menjulang tinggi seolah mengundang siapa saja untuk masuk ke dalam dunia dongeng.Pemandangan menakjubkan itu seketika menerbitkan senyum lebar di wajah Nora dan Aurin. Nora bahkan sampai melompat-lompat kecil di tempatnya, menunjuk-nunjuk ke arah kastel dengan pekikan heboh yang tidak bisa ia tahan lagi. Rasa lelah akibat perjalanan sama sekali tidak bersisa, digantikan oleh
Setelah empat jam mengudara membelah langit, jet pribadi mereka akhirnya mendarat dengan selamat. Sesampainya di gerbang kedatangan, perlahan Nora membuka kedua matanya. Sisa kantuk yang masih menggelayut membuat bocah kecil itu merengek pelan sembari mencari-cari kehangatan yang familiae di setiap paginya.“Mommy ... Mommy .…”Aurin, yang kebetulan baru saja dari toilet, segera melangkah cepat menghampiri sang putri lantaran Rega mencarinya. “Nyonya, Nora menangis.”“Saya akan ke sana.” Aurin mempercepat langkah. Begitu di dekat stroller anak-anaknya, Nora sudah terbangun. Sementara kedua putranya masih terlelap. “Oh, Princess Mommy sudah bangun rupanya. Mau apa, hm?”Nora yang masih setengah sadar merentangkan kedua tangan mungilnya ke atas, menuntut untuk didekap dengan sikap yang teramat manja.Namun, tepat setelah Aurin mengangkat dan menggendongnya, sepasang mata biru jernih milik Nora mengerjap beberapa kali. I
“Hoaaaa! Daddyyyyy!”Teriakan Nora yang melengking tidak wajar dari seberang telepon seketika membuat Rayden tersentak dan langsung beranjak dari posisi duduknya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya bertanya dengan nada setengah memekik panik, “Nora?! Ada apa? Kamu terluka?!”Rayden sudah bersiap menyambar ponsel dan dompetnya di atas meja, bersiap menarik kedua putra kembarnya untuk berlari menyusul sang istri dan putrinya. Namun, seruan heboh Nora selanjutnya yang menggema lewat pesan suara yang baru masuk ke ponsel Aurin—dan diteruskan ke ponselnya—malah membuat pria itu termenung bodoh di tempatnya.“Tidak! Ini seru sekali, Daddy! Hoaaaaa! Seru banget!”Rayden mengerutkan keningnya dalam-dalam. ‘Seru? Memangnya mereka sedang di mana dan melakukan apa?’ pikir Rayden bingung, campur aduk antara lega dan kesal.Saking paniknya mengira anak dan istrinya kenapa-napa di tempat umum, Rayden tetap tidak bisa tenang. Ia bergegas menatap Reinh
Setelah menuntaskan seluruh urusan administrasi dan memastikan masa depan Daisy terjamin dengan baik di panti asuhan, Rayden menepati janjinya. Akhir pekan itu, ia memboyong Aurin dan ketiga anak mereka untuk bersenang-senang di Universal Studios Singapore.Wahana Transformers: The Ride menjadi destinasi pertama yang mereka tuju. Suasana antrean yang dirancang mirip seperti markas rahasia N.E.S.T. langsung menyambut kedatangan keluarga tersebut dengan dekorasi militer futuristik dan layar-layar digital raksasa yang menampilkan pesan darurat dari Optimus Prime.Begitu melangkah masuk ke area dalam, Reinhard dan Reynand yang memang sangat menggilai robot-robot alien ini langsung berdecak kagum dengan mata berbinar-binar. Atmosfer tegang namun seru di dalam wahana benar-benar membuat mereka merasa seperti sedang berada di dalam film.“Dad, lihat! Itu Bumblebee!” tunjuk Reinhard heboh, jarinya mengarah lurus ke sebuah replika mobil Chevrolet Camaro kuning ikonis yang dipajang di salah sat
“Halo, saya Rayden dan ini istri saya, Aurin. Kami ada keperluan mendesak dengan salah satu anak di yayasan ini. Apakah benar di sini ada anak dari saudari Dea Estrella? Namanya Daisy, dan ini foto mendiang Dea.”Setelah dipersilakan masuk dan berkenalan singkat, Rayden kini bertemu dengan kepala yayasan bernama Noor.Ketua yayasan bernama Noor itu meraih ponsel yang disodorkan oleh Rayden. Usai mengamati wajah Dea di layar dengan saksama, ia langsung mengangguk mantap untuk membenarkan.“Benar, Tuan,” tutur Noor ramah. “Nyonya Dea memang kerap berkunjung ke sini setiap satu bulan sekali untuk menemui Daisy.”“Apakah Daisy adalah putri kandungnya?” tanya Rayden memastikan.“Benar. Usianya kini hampir empat belas tahun, tapi dia memiliki sedikit keterbatasan fisik dan mental. Bisa disebut dia adalah anak istimewa,” terang Noor lembut. Raut wajah wanita paruh baya itu mendadak berubah sendu setelah membahas Dea. “Tapi sejak beberapa tahun b
“Nanti kita langsung serahkan saja pada walinya di panti asuhan itu. Bagaimana menurutmu? Apa nama panti asuhannya sudah tertulis di surat wasiat itu, atau justru kita harus menebak-nebak lagi?”Setelah keheningan yang sempat merayap selama beberapa saat, akhirnya Aurin kembali bersuara. Ekspresi wajahnya tampak biasa-biasa saja. Rayden yang sejak tadi memperhatikannya dengan saksama tidak mendapati adanya guratan kecemburuan atau rasa iri yang kentara di sana. Ternyata, gumaman ‘oh’ tadi murni karena istrinya sedang berfokus pada kelanjutan nasib anak tersebut.Rayden pun mengembuskan napas lega dan mengesampingkan kekhawatiran konyolnya. Ia langsung menanggapi pertanyaan sang istri dengan anggukan pelan. “Boleh, Sayang. Nama panti asuhannya sudah tertera jelas di lembar akhir surat wasiat. Tapi letaknya cukup jauh dari sini. Kamu ... tidak keberatan kalau kuajak melakukan perjalanan jauh?”“Kenapa harus keberatan?” Aurin membalas dengan senyuma
Sejak pukul empat sore, kediaman Rayden mulai dipadati oleh tamu-tamu penting. Ada Marlin—adik ipar kakeknya Rayden, serta kedua anak kembarnya, Mahendra dan Maharani, bersama anak cucu mereka masing-masing. Tak lama berselang, turunlah Antariksa—anak pe
“Masuk, naik, klimaks, selesai. Oke, aku siap.” Aurin menahan napas, mencoba memberanikan diri bahwa semuanya akan semudah itu. Sekujur tubuh Aurin terasa panas dingin, merinding. Ia melangkah sangat pelan, nyaris tak bersuara, menuju ranjang besar di tengah ruangan. Dari ujung ranjang, Auri
“Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa di
“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pemb







