Share

6. Naiki Suamiku

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-11 11:14:44

“N–nyonya, tempat apa ini?”

Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan.

Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.”

Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan.

Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana.

Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?”

“B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya.

Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil?

Aurin tak sempat memikirkan lebih jauh. Mobil yang dikendarai Dea masuk ke area parkir sebuah apotek besar.

Saat Aurin menoleh ke arah Dea, majikannya itu langsung menyodorkan selembar kertas padanya. “Tebus resep ini, dan jangan lama-lama.”

Meski Aurin tak tahu resep apa yang akan dia tebus, tetapi dia tetap mengangguk setuju. “Baik, Nyonya.”

****

Dua minggu berselang, Aurin memasuki fase suburnya. Sebelumnya, Dea telah membawanya ke klinik Obgyn terbaik di ibukota untuk memastikan segalanya sempurna, tanpa cela. Hasil medis menyatakan Aurin sangat sehat, rahimnya pun sempurna, tanpa riwayat penyakit satu pun pada tubuhnya.

Tepat pada puncak masa ovulasinya, Aurin dipanggil menghadap ke kamar pribadi Dea. Di sana, sang nyonya rumah duduk menyilangkan kaki dengan angkuh di atas sofa tunggal, jemarinya yang lentik menyesap segelas wine merah yang tampak sepekat darah.

Saat Aurin duduk dengan kaku di hadapannya, Dea menurunkan gelasnya perlahan dan bertanya dengan suara tenang, “Sudah test?”

“Sudah, Nyonya.” Aurin mengangguk. Pada genggaman tangan, terselip ovulation test strip yang dibelikan oleh Dea seminggu lalu.

Ovulation test strip adalah alat tes mandiri berbentuk stik kecil untuk mendeteksi masa subur alias ovulasi wanita dengan cara mengukur lonjakan hormon Luteinizing Hormone atau LH di dalam urine.

“Hasilnya?” Dea memicingkan mata.

Aurin menyodorkan benda pipih itu ke atas meja. “Ini, Nyonya.”

Tanpa meraihnya, Dea melirik sekilas. Begitu mendapati dua garis merah tegas di sana, dia menyeringai puas. “Positif. Jadi, kamu siap untuk malam ini?”

Meski setiap sel dalam tubuhnya menjerit ingin menolak, namun Aurin hanya bisa menunduk dan mengangguk lemah. “Siap, Nyonya,” katanya mencoba meyakinkan.

Dea tersenyum tipis. Ia memberikan sedikit nasehat pada Aurin, “Saat kamu berada di puncak ovulasi, potensi pembuahan akan jauh lebih besar. Aku tidak ingin satu tetes pun terbuang sia-sia malam ini.”

“Saya mengerti, Nyonya.”

Dea menambahkan, “Konon katanya, peluang memiliki anak laki-laki lebih besar kalau kamu di puncak masa ovulasi. Dan kalau bisa, kamu harus klimaks sebelum suamiku keluar. Jadi, kamu harus melakukan itu. Aku menginginkan anak laki-laki.”

Meski tak paham apa makna ‘klimaks’ yang baru saja diucapkan majikannya tadi, tetapi Aurin menggigit bibir bawahnya sejenak. Ketakutan luar biasa mulai merayap di dadanya, membuatnya kian berdebar. Ia takut, hasilnya tak sesuai ekspektasi Dea dan berimbas padanya yang harus mengembalikan uang yang telah ia terima dari wanita itu.

Maka, Aurin bertanya dengan nada gugup, “Mohon maaf sebelumnya. K–kalau … anak itu lahir perempuan bagaimana, Nyonya? Apa Anda akan membuang saya dan tidak menerimanya? Mohon maaf sekali lagi, Nyonya. Sebab, saya bukan Tuhan yang bisa memastikannya.”

Dea melirik sebentar. Ia meraih wine-nya lagi, menyesapnya sedikit, kemudian ia meletakkan gelas itu ke tempatnya sembari berujar, “Kamu benar. Kita tidak pernah tahu karena semua itu ketetapan yang di atas. Aku hanya berkata ‘kalau bisa’, bukan berarti aku tak mau menerimanya kalau anak itu terlahir perempuan.”

“Oh, begitu. Baik, Nyonya.” Aurin menghela napas lega. Setidaknya kalau anak ini lahir perempuan, maka ia tak terlalu terbebani dengan pemikiran buruknya tadi. Dengan begitu, dia tidak akan melakukannya lagi dengan Rayden.

Sebelum Aurin beranjak, Dea kembali menatap Aurin lekat, “Ya sudah, bersiaplah. Sekitar tengah malam, kamu harus masuk ke kamar suamiku. Jangan lupa, kenakan pakaian yang sudah kuberikan padamu pagi tadi.”

Aurin menggigit bibir bawahnya dengan resah. Ia mengingat kembali pakaian tidur tipis berbahan satin yang baru ia ketahui namanya adalah lingerie.

Meski ia sebenarnya ragu menggunakan itu, tetapi ia hanya bisa mengangguk patuh seperti biasanya, “B–baik, Nyonya. Nanti saya kenakan.”

Aurin pergi dari sana dengan perasaan resah luar biasa. Ia kembali ke kamarnya dan mendesah pelan. Ia ambil lingerie hitam yang tergeletak di atas ranjang. Seraya menempelkannya ke badan, ia menggeleng pelan. Lingerie itu sama sekali tidak cocok untuknya.

Sambil menimang-nimang benda di tangannya, Aurin membatin gundah, “Bagaimana kalau Tuan Rayden menyadarinya? Bagaimana kalau aku dituntut olehnya nanti, dan bagaimana kalau aku tidak bisa langsung hamil?”

Selama beberapa jam menuju tengah malam itu, Aurin tak melakukan apapun selain mondar mandir tidak jelas sembari menggigit kuku jemarinya.

Dan tepat pukul setengah satu dini hari, Aurin dihubungi Dea, diminta menghadap. Wanita itu berdiri di depan pintu kamar di lantai dua yang tertutup sembari memerintah lirih sekali, “Cepat masuk! Suamiku sudah terpengaruh obat perangsang dosis kuat. Jadi, dia tidak akan menyadari kalau itu dirimu.”

Meski Aurin gugup dan tak tahu harus bagaimana, ia tetap mengangguk patuh. “B–baik, Nyonya,” sahutnya lirih.

Baru saja Aurin sampai di ambang pintu, Dea menahan langkahnya dengan berkata lirih menyerupai bisikan, “Sampai di dalam nanti, cepat lepaskan pakaianmu, gunakan lubricant ini untuk membuat milikmu licin, dan naiki suamiku sebelum dia sadar!” katanya sembari menyodorkan suatu benda pada Aurin.

Aurin sempat terkejut. Jujur saja, dia tak menyangka permintaan sang majikan begitu rumit. Ia sama sekali tidak tahu apa itu ‘lubricant’, masih pula diminta menaiki pria itu lebih dulu.

Maka, Aurin gelagapan ketika bertanya. “M–menaikinya? J–jadi, s–saya yang naik lebih dulu ke atas tubuh Tuan Rayden, Nyonya?”

“Iya. Ada yang salah?” ucap Dea dengan kening mengerut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   6. Naiki Suamiku

    “N–nyonya, tempat apa ini?”Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan.Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.”Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan.Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana.Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?”“B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya. Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil?Aurin tak sempat memikirka

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   5. Sebuah Sandiwara

    “Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri.Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai.Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman. Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden. Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi.“Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin sege

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   4. Kesepakatan

    “Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik.Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana.Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu. Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang. Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu.Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memilik

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   3. Menerima Tawaran

    “Benarkah itu Tuan Rayden? Mengapa dia ... setampan itu?”Aurin berdiri dari sofa, mematung. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Begitu Rayden melangkah masuk ke dalam kamar ini, pria itu tampak memancarkan aura luar biasa berkelas, yang bisa menjadi daya tarik bagi setiap wanita—tak terkecuali Aurin.Sosoknya begitu dominan dengan rahang tegas dan dagu belah yang menambah kesan maskulin nan kaku. Rambut hitam kecokelatannya tersisir rapi menggunakan pomade, menciptakan kontras tajam dengan kulit putihnya yang bersih. Di bawah naungan alis tebal, tatapan matanya menghujam sedingin es, sementara tubuh tegap dan bulky miliknya memancarkan aura mengintimidasi.Bahunya yang lebar bersanding sempurna dengan rahang tegas berhias jambang halus dan hidung mancung. Namun yang paling mengagumkan adalah otot bisepnya yang tercetak kuat di balik kemeja press body, menegaskan sosok yang begitu maskulin.Aurin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Setelah ia sampai di lorong lantai dua, ia

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   2. Tawaran Enak

    “T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat.Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis.Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya.“Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi.“B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku.Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, …

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   1. Permintaan Gila

    “Lahirkan anak untuk suamiku!”Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status