Share

2. Tawaran Enak

Author: OTHOR CENTIL
last update publish date: 2026-03-11 11:11:05

“T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.

“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh.

Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat.

Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis.

Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya.

“Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi.

“B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku.

Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, … masalah seperti ini tidak menjadi halangan besar untukmu, ‘kan?”

Aurin menggigit bibir bawahnya. Dia meringis lagi kala matanya bersirobok dengan sang nyonya majikan.

Aurin memang berstatus janda. Tapi, selama menikah itu ….

Masih terdiam, Aurin tak memberikan tanggapan sehingga Dea kembali membujuk dengan kata-kata manisnya. “Aku hanya meminta kamu berhubungan sekali saja di masa suburmu dengan suamiku, tidak melakukannya sampai berulang-ulang. Apa itu berat bagimu, Rin?”

“S–saya tidak bisa, Nyonya. Itu … tawaran yang cukup berat bagi saya,” tutur Aurin, hampir menangis. Sekilas, dia bisa menimbang plus dan minusnya. “Resikonya tidak main-main. Apalagi kalau keluarga Nyonya dan Tuan tahu, bagaimana nanti nasib saya, Nyonya?”

Dea berdecih, “Mereka tidak akan tahu.”

“Saya tetap tidak bisa, Nyonya.”

Dea geram. Baginya, Aurin terlalu keras kepala. Maka, dia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih bersahabat.

“Selain tadi, …,” tutur Dea lagi, tetapi kali ini dengan suara yang lembut agar Aurin mau menuruti permintaannya. “... apa alasanmu menolak ‘tawaran enak’ ini?”

Aurin tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya. Tetapi, ia kemudian berkata asal saja, “S–saya takut dosa, Nyonya. Melakukannya di luar pernikahan … sama dengan dosa besar, saya takut Tuhan murka sama saya dan menghukum saya di kemudian hari.”

“Dosa?” Dea kemudian berdecih. Dia merasa Aurin begitu polos dan naif. Maka, dia mencibir, “Kamu justru hasil dosa dari orang tuamu.”

Saat Aurin mengerjapkan mata beberapa kali menatap Dea, Dea menambahkan kalimat yang bisa membuat Aurin tak berkutik. “Orang tuamu berhutang pada rentenir untuk biaya sekolahmu dan biaya kehidupan kalian selama bertahun-tahun. Hutang dengan bunga, sama saja riba, dan riba adalah dosa besar.”

Ucapan Dea yang begitu menohok membuat Aurin seketika terbungkam, lidahnya kelu seolah kehilangan fungsi.

Dia merasa benar-benar terpojok, punggungnya seakan beradu dengan dinding tak kasat mata yang dibangun oleh otoritas sang nyonya.

Setiap kata yang dilontarkan Dea bagai belati yang mengiris harga dirinya, meninggalkannya tanpa ruang untuk membela diri.

Di hadapan tatapan dingin itu, Aurin sadar bahwa posisinya hanyalah bidak kecil dalam permainan besar yang telah diatur rapi oleh wanita di depannya.

Dea makin geram saat Aurin tak menyahut barang sepatah kata. Maka, dia mendesak, “Secara tidak langsung, kamu juga ikut memakan uang hasil riba itu, dan kamu ikut berdosa. Lalu, apa bedanya dengan yang sekarang? Dosamu di masa lalu tidak akan pernah merubah kehidupanmu secara material. Kamu justru menikmati hasil dari dosa orang tuamu.”

“Saya tahu ….” Menyadari dirinya terlalu naif, Aurin pun kembali memelankan suaranya untuk tetap bersikeras pada prinsipnya, “Nyonya bisa mencari wanita lain untuk mengandung anak Nyonya dan Tuan Rayden, Nyonya. Maaf, saya memang tidak bisa.”

Dea menahan amarah yang kian memuncak sampai ke ubun-ubun. Dia bahkan telah merendahkan dirinya sedemikian rupa, tetapi agaknya Aurin memang tipe wanita naif yang keras kepala.

Saat Aurin tidak memberikan jawaban, Dea kembali menambahkan dengan kalimat menusuk, “Ya sudah kalau kamu tidak terima tawaranku, terserah kamu saja! Silakan keluar dan jangan mengemis padaku kalau kamu butuh uang. Jika hal itu terjadi, maka—”

Ucapan Dea terhenti seketika. Ia langsung mengatupkan bibir rapat-rapat, memutus kalimat tajamnya begitu suara daun pintu yang terbuka memecah ketegangan di antara mereka.

Kedua wanita itu menoleh serempak ke arah pintu. Suasana yang tadinya panas mendadak dingin dan kaku.

Menyadari ada yang datang, Aurin segera berdiri dan mengangguk, berpamitan. Namun, langkahnya terhenti mendadak lantaran pada pintu terbuka lebar itu, menampilkan sosok yang tak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.

“Ya Tuhan! Ternyata dia … setampan ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ira Iraa
seru banget critax
goodnovel comment avatar
Wisnu Sudrajat
cowo tampan emang satu kelemahan pada ciwi. ..good luck, Rin. SMG Lo bisa JD kesayangan mas ray
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   410. Happy Ending

    “Mama dengar, ‘kan? Aurin sudah memaafkan Mama sejak kemarin-kemarin. Jadi, jangan siksa diri Mama dengan rasa bersalah lagi. Fokus saja untuk sembuh, Ma. Mulai hari ini, kita buka lembaran yang baru sama-sama,” bisik Rayden lega meski suaranya masih agak parau. Dan Rita hanya bisa mengangguk pelan sembari terus tergugu di dalam dekapan mereka. Bagi Rita, tidak ada gunanya lagi menaruh dendam atau mengeraskan hati. Lantaran nyatanya, setelah semua perbuatan keji yang pernah ia timpakan, Aurin justru menjadi orang pertama yang merawatnya dengan penuh ketulusan. Di hari-hari selanjutnya, Aurin membuktikan kata-katanya. Wanita itu bahkan rela bermalam di kamar rumah sakit yang sempit, terjaga sepanjang malam demi memastikan kenyamanan mertuanya. Tanpa ada guratan jijik atau terpaksa, Aurin dengan telaten menyuapinya makanan sendok demi sendok, menyeka tubuhnya yang kaku dengan air hanga

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   409. Maaf?

    “Hu … hu … hu ….” Suara rintihan pelan itu terdengar begitu memilukan, begitu menyayat hati Rayden. Sejak dipindahkan ke ruang rawat inap tiga jam yang lalu, mamanya tak henti-hentinya merintih dan menangis. Air mata terus mengalir lambat dari sudut mata Rita, membasahi bantal rumah sakit yang dingin. Sebelah tubuh wanita paruh baya itu kini benar-benar lumpuh. Tangan kanannya kaku, menekuk tegang di atas dada, sementara kaki kanannya terbaring lurus tanpa daya, sama sekali tidak merespons ketika jemarinya disentuh. Rita yang dulu selalu tampak rapi dan memukau, kini hanya bisa berbaring pasrah dengan sudut bibir yang meleyot kaku. Setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk memaki atau menolak kenyataan ini, yang terdengar hanyalah rintihan patah-patah yang menyedihkan. Wanita penguasa itu kini harus menelan pil pahit, terjebak

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   408. Afasia

    Tuk, tuk, tuk. Suara langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian koridor ruang ICU. Rayden, yang masih berdiri mematung di depan pintu kaca, langsung menoleh ke arah sumber suara. Aurin melangkah lebar menghampirinya, didampingi oleh Jack dan seorang anak buahnya yang lain yang berjaga di belakang. Tanpa sepatah kata pun, Aurin langsung menghambur ke pelukan Rayden, mendekap tubuh suaminya itu dengan teramat erat. Rayden pun sama. Ia melingkarkan lengannya, membalas pelukan sang istri dengan kehangatan yang sama besarnya. Sebuah pelukan yang menyalurkan ketenangan luar biasa di tengah badai yang sedang mereka hadapi. Begitu pelukan terlepas, Aurin mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang tampak lelah. “Bagaimana keadaan Mama? Apa beliau sudah sadar?” tanyanya pelan. “Belumn.” Rayden menggeleng lemah. Tak mau membuat istrinya kelelahan jika harus terus berdiri di kor

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   407. Akhir Dari Ambisi

    Di rumah sakit.Sudah tiga jam lamanya Rayden berdiri mematung di depan kaca besar ruang ICU, namun ibunya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Di dalam ruangan steril itu, tubuh Rita tampak ringkih dikelilingi oleh berbagai kabel medis dan monitor yang berbunyi ritmis.Ingatan Rayden kembali pada kepanikan subuh tadi. Setelah dokter di klinik swasta menyatakan Rita terserang stroke mendadak. Hal itu ditandai dengan kesadaran yang menurun drastis dan sudut bibir sang ibu yang mulai meleyot ke satu sisi. Pihak klinik langsung angkat tangan. Mereka menyarankan Rega untuk segera melarikan wanita tua itu ke rumah sakit besar yang memiliki fasilitas penanganan stroke akut.Kini, Rita telah ditangani secara intensif oleh tim dokter spesialis saraf. Namun, statusnya yang masih tak sadarkan diri di dalam ruang ICU membuat atmosfer di koridor rumah sakit itu terasa begitu mencekam.Rayden menghela napas panjang, menyandarkan

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   406. Keluarga Suportif

    “Benar, ‘kan?” timpal Ken pelan. Ia rasa, wanita tua itu memang pantas mendapatkannya. “Itu namanya karma instan karena sudah keterlaluan dan mau mencelakai kamu di altar kemarin. Biar dia tahu rasa!” “Ken! Jaga bicaramu, tidak baik menyumpahi orang yang sedang sakit,” tegur Meisya cepat sambil menyenggol lengan putranya, meski di dalam hati kecilnya ia pun masih menyimpan rasa dongkol atas perlakuan Rita pada Aurin.Ken ikut menarik napas panjang. Meski ia terlihat biasa saja pasca kejadian mengerikan tadi, namun jauh di lubuk hatinya ia menyimpan dendam kesumat pada Rita. Rahangnya sempat mengeras saat kalimat ketusnya tadi ditegur oleh sang mama.Ia bahkan membayangkan betapa kehilangannya ia jika sampai Aurin tertusuk tusuk konde tadi. Membayangkan anak-anak harus kehilangan ibunya, dan bagaimana hancurnya keluarga mereka jika wanita tua itu berhasil melaksanakan niat busuknya. Bagi Ken, Aurin adalah adik kecil yang harus ia lindungi, dan melihatnya nyaris celaka membuat naluri

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   405. Karma Instan

    “Apa? Stroke?”Rayden tersentak bangun, sisa kantuknya menguap seketika. Ia baru saja terlelap satu jam yang lalu setelah melewati malam yang panjang dan intim bersama Aurin. Namun, kini ia terpaksa menegakkan punggung dengan raut wajah yang berubah tegang lantaran sambungan telepon dari Rega, asisten pribadinya, membawa kabar buruk tentang kondisi sang ibu.Dari seberang telepon, Rega menjawab dengan nada berat dan penuh penyesalan. “Benar, Tuan. Tekanan darah Nyonya Besar melonjak sangat tinggi karena ledakan emosi yang luar biasa saat insiden di pernikahan tadi. Ditambah lagi dengan benturan keras saat beliau terjatuh di tangga altar, hal itu memicu pecahnya pembuluh darah di bagian otak yang vital. Dokter menyatakan bahwa akumulasi syok berat dan trauma fisik tersebut menyebabkan Nyonya Besar mengalami stroke mendadak.”“Ya Tuhan ….” Usai meraup wajahnya, Rayden terdiam namun napasnya masih memburu.Pikirannya seketika melayang pada sosok ibunya yang tadi pagi masih penuh dengan

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   370. Menemukan Benang Merah

    Setelah fotonya bersama ketiga malaikat kecilnya diabadikan oleh fotografer ternama yang telah disewanya, perhatian Rayden sepenuhnya kembali tercurah pada Aurin.Wanita yang baru saja melahirkan tiga keturunannya itu tampak setengah sadar, pun tidak menyahut ketika diajak berbicara.n namun yang te

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   369. Tiga Keajaiban Tuhan

    “Mungkinkah ada gen resesif yang tertidur sangat lama, tersembunyi dalam garis keturunan baik dari pihakku maupun dari keluarga Aurin—yang akhirnya terbangun kembali dan muncul pada generasi ini?” Rayden cukup lama tertegun dalam diam, sementara matanya tak lepas mengamati kedua buah hatinya yang

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   367. First Baby Boy

    “Hoeeeek! Hoeeeek!”Pemandangan itu terasa begitu mengerikan. Seketika, rasa mual melonjak naik dari ulu hatinya, pun mendesak naik ke kerongkongan.“Hoekkkk!”Suara tersedak kedua kalinya terdengar. Namun, tak ada apapun yang dimuntahkan oleh Rayden. Pria itu hanya merasa kan perih dan asam yang m

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   366. Gangguan Di Meja Operasi

    “Dok, ini tidak akan gagal, ‘kan?” tanya Rayden dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menahan kegelisahan yang membuncah di dadanya.“Tidak akan, Tuan. Kami sudah memiliki pengalaman yang cukup, dan Nyonya Wisesa ditangani oleh tim medis terbaik di rumah sakit ini,” jawab dokter itu tenang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status