Se connecter“T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.
“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat. Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis. Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya. “Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi. “B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku. Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, … masalah seperti ini tidak menjadi halangan besar untukmu, ‘kan?” Aurin menggigit bibir bawahnya. Dia meringis lagi kala matanya bersirobok dengan sang nyonya majikan. Aurin memang berstatus janda. Tapi, selama menikah itu …. Masih terdiam, Aurin tak memberikan tanggapan sehingga Dea kembali membujuk dengan kata-kata manisnya. “Aku hanya meminta kamu berhubungan sekali saja di masa suburmu dengan suamiku, tidak melakukannya sampai berulang-ulang. Apa itu berat bagimu, Rin?” “S–saya tidak bisa, Nyonya. Itu … tawaran yang cukup berat bagi saya,” tutur Aurin, hampir menangis. Sekilas, dia bisa menimbang plus dan minusnya. “Resikonya tidak main-main. Apalagi kalau keluarga Nyonya dan Tuan tahu, bagaimana nanti nasib saya, Nyonya?” Dea berdecih, “Mereka tidak akan tahu.” “Saya tetap tidak bisa, Nyonya.” Dea geram. Baginya, Aurin terlalu keras kepala. Maka, dia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih bersahabat. “Selain tadi, …,” tutur Dea lagi, tetapi kali ini dengan suara yang lembut agar Aurin mau menuruti permintaannya. “... apa alasanmu menolak ‘tawaran enak’ ini?” Aurin tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya. Tetapi, ia kemudian berkata asal saja, “S–saya takut dosa, Nyonya. Melakukannya di luar pernikahan … sama dengan dosa besar, saya takut Tuhan murka sama saya dan menghukum saya di kemudian hari.” “Dosa?” Dea kemudian berdecih. Dia merasa Aurin begitu polos dan naif. Maka, dia mencibir, “Kamu justru hasil dosa dari orang tuamu.” Saat Aurin mengerjapkan mata beberapa kali menatap Dea, Dea menambahkan kalimat yang bisa membuat Aurin tak berkutik. “Orang tuamu berhutang pada rentenir untuk biaya sekolahmu dan biaya kehidupan kalian selama bertahun-tahun. Hutang dengan bunga, sama saja riba, dan riba adalah dosa besar.” Ucapan Dea yang begitu menohok membuat Aurin seketika terbungkam, lidahnya kelu seolah kehilangan fungsi. Dia merasa benar-benar terpojok, punggungnya seakan beradu dengan dinding tak kasat mata yang dibangun oleh otoritas sang nyonya. Setiap kata yang dilontarkan Dea bagai belati yang mengiris harga dirinya, meninggalkannya tanpa ruang untuk membela diri. Di hadapan tatapan dingin itu, Aurin sadar bahwa posisinya hanyalah bidak kecil dalam permainan besar yang telah diatur rapi oleh wanita di depannya. Dea makin geram saat Aurin tak menyahut barang sepatah kata. Maka, dia mendesak, “Secara tidak langsung, kamu juga ikut memakan uang hasil riba itu, dan kamu ikut berdosa. Lalu, apa bedanya dengan yang sekarang? Dosamu di masa lalu tidak akan pernah merubah kehidupanmu secara material. Kamu justru menikmati hasil dari dosa orang tuamu.” “Saya tahu ….” Menyadari dirinya terlalu naif, Aurin pun kembali memelankan suaranya untuk tetap bersikeras pada prinsipnya, “Nyonya bisa mencari wanita lain untuk mengandung anak Nyonya dan Tuan Rayden, Nyonya. Maaf, saya memang tidak bisa.” Dea menahan amarah yang kian memuncak sampai ke ubun-ubun. Dia bahkan telah merendahkan dirinya sedemikian rupa, tetapi agaknya Aurin memang tipe wanita naif yang keras kepala. Saat Aurin tidak memberikan jawaban, Dea kembali menambahkan dengan kalimat menusuk, “Ya sudah kalau kamu tidak terima tawaranku, terserah kamu saja! Silakan keluar dan jangan mengemis padaku kalau kamu butuh uang. Jika hal itu terjadi, maka—” Ucapan Dea terhenti seketika. Ia langsung mengatupkan bibir rapat-rapat, memutus kalimat tajamnya begitu suara daun pintu yang terbuka memecah ketegangan di antara mereka. Kedua wanita itu menoleh serempak ke arah pintu. Suasana yang tadinya panas mendadak dingin dan kaku. Menyadari ada yang datang, Aurin segera berdiri dan mengangguk, berpamitan. Namun, langkahnya terhenti mendadak lantaran pada pintu terbuka lebar itu, menampilkan sosok yang tak pernah dia sangka-sangka sebelumnya. “Ya Tuhan! Ternyata dia … setampan ini?”“N–nyonya, tempat apa ini?”Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan.Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.”Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan.Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana.Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?”“B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya. Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil?Aurin tak sempat memikirka
“Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri.Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai.Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman. Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden. Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi.“Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin sege
“Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik.Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana.Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu. Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang. Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu.Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memilik
“Benarkah itu Tuan Rayden? Mengapa dia ... setampan itu?”Aurin berdiri dari sofa, mematung. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Begitu Rayden melangkah masuk ke dalam kamar ini, pria itu tampak memancarkan aura luar biasa berkelas, yang bisa menjadi daya tarik bagi setiap wanita—tak terkecuali Aurin.Sosoknya begitu dominan dengan rahang tegas dan dagu belah yang menambah kesan maskulin nan kaku. Rambut hitam kecokelatannya tersisir rapi menggunakan pomade, menciptakan kontras tajam dengan kulit putihnya yang bersih. Di bawah naungan alis tebal, tatapan matanya menghujam sedingin es, sementara tubuh tegap dan bulky miliknya memancarkan aura mengintimidasi.Bahunya yang lebar bersanding sempurna dengan rahang tegas berhias jambang halus dan hidung mancung. Namun yang paling mengagumkan adalah otot bisepnya yang tercetak kuat di balik kemeja press body, menegaskan sosok yang begitu maskulin.Aurin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Setelah ia sampai di lorong lantai dua, ia
“T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat.Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis.Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya.“Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi.“B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku.Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, …
“Lahirkan anak untuk suamiku!”Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka men