Share

MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU
MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU
Author: OTHOR CENTIL

1. Permintaan Gila

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2026-03-11 11:10:06

“Lahirkan anak untuk suamiku!”

Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?

“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.”

Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.

Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.

Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”

“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka mengulang ucapanku. Semua uang itu akan jadi milikmu kalau kamu mau melakukan tugasnya. Aku juga akan melunasi hutang keluargamu, dengan syarat kamu mau bekerja sama denganku.”

Untuk sesaat, Aurin menahan debar dalam dada yang kian menyesakkan. Tawaran itu sangat menggiurkan, tetapi baginya, tak lebih daripada jerat menyakitkan di lehernya.

Setelah diam beberapa saat untuk menenangkan degup jantung yang kian menggila di balik kaos yang ia kenakan, Aurin menjawab gagu, “T–tapi, k–kenapa harus saya, Nyonya?”

“Kenapa? Bukankah kamu butuh uang? Apa aku salah kalau menawarkan ‘pekerjaan enak’ untukmu?” sahut Dea lugas juga gamblang. “Yang kudengar kamu membutuhkan uang untuk bayar hutang, ‘kan?”

Aurin kemudian menyadari bahwa majikannya ini pasti sudah mengetahui seluk-beluk kehidupannya sehingga bisa menebak demikian.

Maka, Aurin anggukkan kepalanya singkat. “I–iya, Nyonya. Tapi … tidak dengan cara menjual diri saya seperti ini.”

Dea kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia memposisikan diri dengan nyaman tepat di samping Aurin—pada sofa yang sama.

Jemari lentiknya kemudian menyentuh dagu Aurin agar gadis muda yang terlihat begitu polos itu mau menatap ke arahnya. “Dengar, ini bukan transaksi jual beli karena kamu tidak menjual apapun, termasuk menjual diri kamu sendiri. Ini namanya simbiosis mutualisme. Kamu butuh uang, kami butuh anak. Kita sama-sama menguntungkan.”

Aurin tak langsung menjawab begitu jemari sang nyonya terlepas dari dagunya. Dia menatap wajah tegas Dea lama sekali dengan mata bulatnya. Dari cerita ibunya, dia tahu betul kalau selama delapan tahun menikah, kedua majikannya itu—Dea dan Rayden—memang belum dikaruniai anak.

Mereka juga kerap kali didesak oleh keluarga besar Rayden demi memberi keturunan untuk keluarga Wisesa. Akan tetapi dari tahun ke tahun, Dea tak kunjung hamil. Hal itulah yang katanya membuat Dea tertekan.

Mendadak, rasa penasaran kian besar di pikiran Aurin. Oleh karena itu, ia bertanya pelan sekali mengenai ini agar tidak menyinggung majikannya. “M–aaf kalau pertanyaan saya menyinggung, Nyonya.”

Begitu menjeda kalimatnya, Aurin menelan ludah sekali, ia menunduk takut sembari menunggu jawaban sang nyonya. Begitu wanita itu tak bereaksi, ia mengutarakan rasa penasarannya itu dengan ucapan yang berhati-hati. “T–api kenapa tidak Nyonya saja yang mengandung anak Tuan Rayden? Maaf, … apakah Anda … mengalami masalah kesuburan hingga mempengaruhi organ reproduksi Anda?”

“Tidak!” jawab Dea lugas. Dia kemudian tampak menghela lelah dan memandang ke depan, lalu berkata dengan nada sengit. “Bukan urusanmu dan kamu tidak perlu tahu. Itu bukan ranahmu. Tugasmu hanya satu, terima atau tolak. Itu saja.”

Usai menjeda kalimatnya sejenak, Dea menambahkan, “Kontrakku dengan agency yang menaungiku masih dua tahun lagi. Untuk apa aku buru-buru melahirkan jika nantinya tubuhku akan jadi buruk, gendut dan tidak enak dipandang? Aku tidak mau itu. Tapi, aku tetap butuh ahli waris.”

Alasan yang Dea berikan sangat logis. Tapi, Aurin tak akan menerima tawaran itu begitu saja meski ia membutuhkan uang banyak. “T–tapi, Nyonya, ini—”

“Apa kamu keberatan?” sela Dea cepat, seolah tak memberikan kesempatan bagi Aurin berbicara. Telunjuk kanannya kemudian meruncing lurus, menunjuk meja, “Apa nominal itu kurang?”

Aurin menatap cek di atas meja dengan nominal yang fantastis. Kala ditanyai begitu, ia menggeleng berulang, “B-bukan begitu, Nyonya. Saya … hanya … tidak mau disebut pelakor, Nyonya.”

“Pelakor?” Dea tertawa remeh. “Oh ya ampun! Tidak ada yang mau menerima pelakor sepertimu.”

Aurin lantas menatap dirinya sendiri. Benar, Dea tidak salah. Pelakor tidak ada yang sepertinya.

“Kamu hanya perlu melakukannya satu kali saat subur dengan suamiku. Begitu hamil, kamu bisa pergi untuk sementara waktu. Tapi setelah anak itu lahir, serahkan dia padaku. Aku akan berpura-pura hamil dan melahirkan, lalu menganggapnya sebagai anakku sendiri. Kemudian hidupmu dan hidup keluargamu akan kujamin selamanya.”

Aurin masih benar-benar tak mengerti. Wanita di depannya ini bilang tidak mau hamil, tapi ingin berpura-pura hamil. Bagaimana ceritanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   6. Naiki Suamiku

    “N–nyonya, tempat apa ini?”Aurin menelan ludah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Ia sempat memperhatikan, itu adalah klinik kandungan.Saat Aurin masih kebingungan, Dea hanya memerintah, “Ayo masuk.”Meski ingin bertanya ‘mengapa kita ke sini’, namun Aurin memilih mengangguk dan menurut saja. Kemudian, ia mengekori Dea masuk ke dalam sana dan keduanya lantas dibimbing ke ruangan khusus—yang mana pada akhirnya Aurin ketahui itu adalah ruang pemeriksaan kesehatan.Di sana, Aurin langsung diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Setelah dirinya dipastikan subur dan siap hamil, Dea membawanya pergi dari sana.Di jalan, Dea memuji, “Bersyukurlah, hasilnya bagus. Dalam waktu dekat, kamu akan melakukan rencana yang telah kita sepakati. Kamu siap?”“B–baik, Nyonya.” Aurin hanya menjawab singkat. Tetapi sejujurnya, ia terus bertanya-tanya. Mengapa Dea berkata Aurin harus bersyukur karena subur? Apa sebenarnya, Dea sendiri tidak subur dan tidak bisa hamil?Aurin tak sempat memikirka

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   5. Sebuah Sandiwara

    “Maaf atas kecerobohan saya, Tuan. Permisi.”Saat Rayden memilih tak peduli pada sentuhannya tadi, Aurin tak berani lagi mengangkat wajah. Ia lantas melangkah mundur dengan gerakan terburu-buru. Sambil bersandar di salah satu tembok dapur, Aurin merutuki kebodohan jemarinya yang seolah tak bisa diajak kerja sama di depan pria itu. “Mengapa kamu melakukannya, Aurin?” gumam Aurin pada diri sendiri.Belum sempat Aurin menetralkan debar di jantungnya, Rayden terdengar menggeser tempat duduk hingga menimbulkan derit di lantai.Tapi begitu Aurin membalikkan badan, pria itu sudah beranjak pergi menuju depan sana. Tak lama kemudian, kesunyian rumah itu pecah oleh deru mesin mobil yang memasuki halaman. Aurin tahu betul, itu adalah suara mobil Dea. Dengan langkah pelan, ia mengekor di belakang Rayden. Begitu pria itu berbelok menuju ruang tamu, Aurin terus melangkah lurus ke arah pintu utama. Dan nyaris pada detik yang sama, suara bel berbunyi.“Sebentar,” sahutnya cukup nyaring. Aurin sege

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   4. Kesepakatan

    “Saya … saya sangat butuh uang itu untuk membayar hutang, Nyonya. K–kalau tidak bisa separuhnya, … sepersepuluhnya pun tidak apa-apa.”Aurin tahu, ini agak lancang. Tetapi, dia butuh uang itu segera untuk menutupi hutang. Ia tak mau ibunya digebuki oleh para debt collector itu karena menunggak pembayaran dan berimbas bunganya yang naik, kian mencekik.Beberapa saat kemudian, tak terdengar jawaban dari mulut Dea, membuat Aurin resah dan mendongak. Tetapi begitu matanya menatap ke depan, dia tak mendapati sang nyonya ada di sana.Spontan Aurin menengok ke sekeliling. Di sudut ruangan, ternyata, majikannya ada di depan brankas, tampak sedang mengambil sesuatu. Aurin menduga, itu adalah uang yang akan diserahkan padanya. Dan benar saja, Dea kembali ke arahnya sembari membawa beberapa gepok uang. Begitu wanita itu duduk, ia langsung menyerahkannya pada Aurin. “Hanya itu,” kata Dea, menunjuk meja di depannya dengan dagu.Aurin memperhatikan uang tersebut. Sekilas pandang, uang itu memilik

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   3. Menerima Tawaran

    “Benarkah itu Tuan Rayden? Mengapa dia ... setampan itu?”Aurin berdiri dari sofa, mematung. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Begitu Rayden melangkah masuk ke dalam kamar ini, pria itu tampak memancarkan aura luar biasa berkelas, yang bisa menjadi daya tarik bagi setiap wanita—tak terkecuali Aurin.Sosoknya begitu dominan dengan rahang tegas dan dagu belah yang menambah kesan maskulin nan kaku. Rambut hitam kecokelatannya tersisir rapi menggunakan pomade, menciptakan kontras tajam dengan kulit putihnya yang bersih. Di bawah naungan alis tebal, tatapan matanya menghujam sedingin es, sementara tubuh tegap dan bulky miliknya memancarkan aura mengintimidasi.Bahunya yang lebar bersanding sempurna dengan rahang tegas berhias jambang halus dan hidung mancung. Namun yang paling mengagumkan adalah otot bisepnya yang tercetak kuat di balik kemeja press body, menegaskan sosok yang begitu maskulin.Aurin bergegas keluar dari ruangan tersebut. Setelah ia sampai di lorong lantai dua, ia

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   2. Tawaran Enak

    “T–tapi, saya tetap tidak bisa, Nyonya. Semua yang Anda tawarkan ini … cukup beresiko.” Aurin menolak permintaan itu. Ia tak mau terlibat terlalu jauh pada keluarga ini.“Kalau mau uang, ya harus terima resiko,” sahut Dea tak acuh. Aurin beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak pantas duduk bersisian dengan sang majikan lantaran dia sadar betul kalau mereka tidak sederajat.Setelah berdiri, Aurin kemudian bersimpuh di bawah kaki Dea sembari menunduk dalam-dalam. “Maaf, Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya tidak menerima ini. Saya … tidak bisa berhubungan dengan suami orang,” tuturnya sembari menangis.Dea tak kekurangan akal. Dia pun ikut duduk di lantai, lalu sebelah tangannya memegangi pundak kiri Aurin. Pelan sekali tanpa penekanan, tetapi cukup mampu membuat Aurin mendongak untuk menatapnya.“Tidak bisa berhubungan?” ulang Dea lagi.“B–benar, Nyonya,” angguk Aurin kaku.Lalu setelah Aurin mendonga, Dea makin murka. “Astaga, Aurin! Bukannya kamu janda? Harusnya, …

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   1. Permintaan Gila

    “Lahirkan anak untuk suamiku!”Aurin menelan ludah. Permintaan gila macam apa ini? Majikannya meminta ia untuk hamil anaknya? Apa tidak salah?“Begitu kamu berhasil mengandung anak suamiku, 500 juta ini akan menjadi milikmu.” Dea, majikannya yang cantik nan modis, duduk sambil menyilangkan kaki pada sofa tunggal. Setelah menunjuk cek bernilai 500 juta di atas meja dengan dagunya, Dea bersedekap, kemudian menatap Aurin—sang pelayan yang baru bekerja tiga bulan di rumahnya—dengan tatapan penuh intimidasi.Aurin terdiam. Wajahnya yang ayu tanpa perlu polesan membuat pipinya merah mendengar permintaan itu.Saat sang majikan berkata begitu, Aurin terkejut. Seiring dengan tangannya yang gemetar di pangkuan, matanya menyorot sang nyonya penuh pertimbangan, pun bibir tipisnya ikut tergagap kala dia berbicara, “S–saya tidak salah dengar, ‘kan, Nyonya?”“Tidak!” jawab Dea lugas. Dagunya terdongak angkuh, tatapannya setajam silet pada Aurin begitu dia bicara dengan gamblang, “Aku tidak suka men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status