Share

45. USG Transvaginal

Author: OTHOR CENTIL
last update publish date: 2026-04-06 18:50:32

“B-buka baju, Dok?”

Aurin menatap dokter itu. Sedangkan sang dokter menatap balik dengan wajah datar.

Tapi sejurus kemudian, Dokter Ken tersenyum miring. “Iya. Kalau tidak buka baju atasmu, lalu bagaimana saya bisa USG?”

Aurin tak dapat berkutik. Kini, ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Usai menyingkap kaos bagian atas, ia berkata pelan, “Sudah, Dok.”

Dokter Ken tidak bereaksi apapun. Pria itu memakai sarung tangan karet, kemudian mengambil gel khusus. Tangan kanannya memegang transduser, sem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   239. Kapan Berakhir?

    “Dan saya terlihat seperti sugar baby kalau Daddy memanggilku begitu.” Arurin tertawa kecil malu-malu di balik masker yang ia kenakan. Sedangkan Rayden langsung memikirkan hal itu. Ia memberi penjelasan juga, “Kalau mau sama-sama nyaman, sepertinya panggilan tadi tidak terlalu buruk. Tidak ada salahnya kita memanggil itu saat berdua saja.” Aurin memalingkan wajah, meski tak memakai perona pipi, namun tetap saja wajahnya terlihat merah. Sugar baby VS Sugar Daddy … lucu sekali. Rayden akhirnya menatap etalase crepe di depannya. “Jadi, pilih yang mana? Jadi ambil semuanya?” “Tidak!” Aurin buru-buru menggelengkan kepalanya. Matanya kembali melihat deretan topping warna warni sebelum akhirnya menunjuk salah satu gambar di etalase. “Aku hanya mau cokelat dan strawberry saja.” Rayden mengangguk pelan. Ia menunjuk pesanan Aurin dan meminta dibungkuskan. Setelahnya, ia menyerahkan pada Aurin. Namun beb

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   238. Little Sugar Baby VS Hot Sugar Daddy

    “Mau saya hangatkan.”Mata Aurin langsung mendelik tajam, ia sampah menghentikan langkah sekaligus memutar badannya menghadap ke arah Rayden. Mata bulatnya membesar, membuat Rayden sadar ucapannya barusan terdengar salah. Pria itu langsung mengembus pendek, meralat cepat agar Aurin tak semakin salah paham.“Mengapa kamu memelototi saya seperti itu? Ada yang salah dengan ucapan saya.”Aurin langsung memalingkan wajah dengan telinga memerah samar. “Tidak!” jawabnya cepat, ketus. “Ayo pergi, kami sangat lapar!”Rayden menggeleng lemah. Ia tahu, Aurin pasti memikirkan hal-hal aneh tentang ucapannya perihal ‘menghangatkan’ tadi.Oleh karena itu, Rayden tidak membalasnya. Dia menoleh ke belakang. Rega menghampirinya sembari menyerahkan kotak besar berukuran 30 cm.Rayden langsung membawanya ke dekat Aurin, ia menghadang wanita itu sebelum sempat berjalan lagi. Tanpa banyak bic

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   237. Mau Saya Hangatkan?

    “Bukan Gemuk, tapi seksi. Kamu lebih berisi dan segar.”Rayden menyahut cepat sambil menoleh pada Aurin. Tatapannya turun sekilas ke tubuh Aurin sebelum kembali ke wajah.Aurin langsung berdiri dari sofa. Dengan wajah tak percaya, ia memutar tubuhnya sendiri dan memperhatikan bagian tubuhnya yang membesar. Tangannya meraba pinggang, lalu bergerak ke depan hingga perut. “Ini bukan seksi, tapi ini gemuk,” gumamnya sambil mengerucutkan bibir.Rayden gemas sekali saat memperhatikan tingkah Aurin, sebelum akhirnya mengembus napas pendek sembari menenangkan wanita itu. “Percayalah, kamu lebih berisi. Ideal menurut saya, dan maaf … saya tidak bilang kamu gendut atau gemuk.”Aurin nyatanya masih belum yakin. Tatapannya terus turun ke tubuhnya sendiri, seolah sedang mencari bagian mana yang terlihat ‘seksu’ seperti ucapan pria itu tadi.Tak mendapat tanggapan dari Aurin, Rayden menepuk sofa di sampingnya. “Tidak usah dipikirkan, ayo dudu

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   236. Bukan Gemuk, Tapi Seksi!

    Ketika Dea dan Vince sibuk bertengkar, Rayden justru memilih menenangkan pikirannya ke rumah yang kini ditempati oleh asisten rumah tangganya. Baginya, rumah itu jauh lebih tenang dibandingkan kamar hotel yang penuh perselisihan. Begitu dia masuk, suara pendingin ruangan dan denting jam dinding terdengar samar di tengah malam. Dari ruang tamu, Rayden menoleh ke samping. Area ruang keluarga masih menyala dan Aurin ternyata belum tidur.Wanita itu duduk di sofa dengan kaki terlipat. Ia sendirian, tetapi di pangkuannya terdapat sebuah toples besar berisi camilan. Dari kejauhan, Aurin terlihat menggemaskan di mata Rayden. Pipi kanan Aurin menggembung penuh makanan saat matanya fokus menonton kartun Tom and Jerry di televisi dengan volume kecil. Namun begitu mendengar suara langkah kaki berbalut sepatu mendekat, Aurin menoleh kaget. “Tuan?” Aurin buru-buru menurunkan kakinya dari sofa, lalu berdiri m

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   235. Bosan Hidup?

    “Apa kamu tidak tahu cara mengetuk pintu? Apa kamu juga tidak tahu yang namanya privasi?”Dea tidak terima diejek seperti itu. Ia meruncingkan jari telunjuknya ke arah Vince. Dengan tatapan yang tak kalah bengis, ia mengetukkannya ke dada Vince berulang kali hingga terdengar bunyi ‘tuk tuk’ beberapa kali. Bahkan, ia harus untuk menatap pria blasteran itu karena tinggi mereka terpaut jauh. “Dan kamu tahu sendiri, mengangkat telepon sambil mendesah adalah hal yang terlarang diantara kita.”Vince bungkam. Tapi, sudut bibirnya terangkat ke atas dan ia membuang pandang.Tatapan Dea kemudian menyapu seluruh area kamar hingga berhenti pada sosok wanita yang berdiri di tepi ranjang. Wanita itu santai sekali saat mengenakan pakaian dalam. Bahkan, ia tidak merasa risih ketika mempertontonkan tubuhnya yang mulus itu.“Menjijikkan sekali! Perempuan mana lagi yang kamu sewa untuk memuaskan nafsumu, huh?” bentak Dea. “Bukankah kamu sudah ber

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   234. Mereguk Kenikmatan

    “Ahhhh— sial! Kamu legit sekali!” Suara napas berat, memburu, dipenuhi desah terdengar samar dari ujung telepon. Wajah Dea berubah dingin, pucat, seolah tak ada darah yang mengalir di bawah permukaan kulitnya. Vince— kekasih gelapnya— sepertinya sedang bermain api dengannya. Bagaimana tidak? Vince sudah berjanji, bahkan memohon padanya agar segera bercerai dari Rayden. Dan sekarang, Vince malah selingkuh? Apa-apaan itu? Telinga Dea semakin panas. Desahan yang keluar dari bibir Vince sepertinya sengaja dikeraskan agar memantik amarah dalam dirinya. Kecewa, marah, kesal, bercampur aduk menjadi satu dalam hati Dea. Dadanya memanas bukan karena Vince berhasil lolos dari terkaman Rayden, bukan pula karena pria itu aman dan tidak tertangkap seperti ucapan Rayden tadi. Tapi yang membuatnya .arah adalah kenyataan bahwa Vince … mengkhianatinya. Pria itu tengah b

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   24. Malam Panas Hingga Lemas

    Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   23. Memelukmu Sampai Pagi

    “Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   16. Aroma Familiar

    “Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.

  • MALAM PANAS DENGAN MAJIKANKU   13. Tuntutan

    Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status