Share

Bab 2. Warung Padang

Marina menaruh helm di atas kursi setibanya di warung makan Padang miliknya. Warung makan yang dibuka sejak empat tahun silam itu, sukses menjadi warung makan yang ramai disambangi. Warungnya hanya buka dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore.

Marina yang hanya lulusan SMA tidak punya keahlian untuk 'dijual' di dunia perkantoran. Hanya memasak yang dia bisa, masakannya juga enak. Selepas bercerai, dia memutuskan membangun hidup baru, mengobati luka, dengan bangkit membuka usaha kuliner untuk menyambung hidup. 

“Kakak ke atas dulu, ya.”

Marina meletakkan tas selempang di atas kasur. Menggulung rambut hingga menjadi sanggul cepol sebelum duduk di depan cermin yang digantung di dinding kamar lantai dua.

Dia memandangi dirinya yang tampak kusam dan lelah. Jerawat besar di kening dan empat jerawat beruntus di pipi dan dagu.

Jerawat radang yang tidak gatal tapi terasa sakit meski tidak disentuh, dan jerawat beruntus yang gatal tapi sakit saat disentuh.

Marina mencuci muka di kamar mandi, lantas membersihkan muka dengan susu pembersih dan toner. Itu ritual Marina setiap hari. Kegiatannya yang banyak di luar ruangan membuatnya harus membersihkan muka di siang hari supaya tetap terlihat segar.

Meski janda dan sibuk di dapur, Marina tetap menaruh perhatian besar pada penampilannya. Sebab, Marina masih ingin punya suami baru.

“Menu baru kita kayaknya laris manis ya, San.”

“Iya, Kak. Udah empat hari baru dua jam dipajang di etalase langsung ludes. Kasian pembeli banyak yang gak kebagian. Besok nambah lagi dech, Kak. Belum pernah ada juga sambal pete ijo,” saran Santi yang sedang menghitung uang di kasir.

“Iya juga sih. Nambah berapa ya?”

Marina duduk di pojok ruangan yang dijadikan sebagai singgasananya untuk bekerja. Ruangan itu disekat dengan triplek yang dicat dan dilukis, supaya tidak terlihat oleh pengunjung dan lalu lalang pekerja. Sekat triplek itu juga berfungsi sebagai hiasan karena lukisan yang menggambarkan sebuah keluarga sederhana yang bahagia.

Warung makan Marjan Solid tidak terlihat seperti warung makan Padang kebanyakan. Marjan Solid lebih terlihat seperti café dengan tampilan minimalis. Pelayan warung pun memakai baju seragam berwarna hijau.

Banyak air mata yang mengiringi hidup Marina pasca menikah dan bercerai. Jatuh bangun janda muda itu menata hidup, menata hati, dan menata usahanya yang dimulai dari nol.

“Kak, kita ada pesanan nasi Padang 100 kotak plus pete ijo untuk kantor Grandibox jam sebelas siang besok lusa.”

Santi datang memberi kabar yang diterimanya barusan melalui telepon. Marjan Solid juga menerima pesanan nasi kotak yang harus diberitahu paling telat dua hari sebelum acara.

Marina bukan tidak mau menerima pesanan sehari sebelum hari H, tapi mengurus warung yang dipenuhi pelanggan makan saja sudah membuat mereka kerepotan. Marina juga bukan tidak mau menambah tenaga kerja, tapi kondisinya yang baru selesai menyulap warung menjadi café minimalis, cukup membuat keuangan Marina terkuras.

“Oh, ok. Mereka DP atau full payment?

“DP 50%, Kak. Penyelesaian saat pesanan diambil.”

“Ok, siapkan daftar bahan, minta Nanang langsung belanja. Dan ini daftar bahan untuk menu tambahan. Kakak mau bikin kreasi menu baru.”

Marina menyerahkan selembar kertas penuh tulisannya, yang hanya bisa dibaca oleh dirinya dan para pekerja.

Benak Marina mendadak melintas sosok Johan yang ditemuinya tadi di SPBU. Laki-laki yang menurutnya berbeda dari kebanyakan lelaki modus berkedok menawarkan bantuan. Johan justru pergi meninggalkannya setelah ditolak dengan bahasa halus –tanpa debat apalagi paksaan.

Padahal Marina sedang sangat butuh bantuan pada saat itu. Badannya kehabisan tenaga mendorong motor dari jarak yang tidak dekat, sepulang dari bank untuk menyetor uang. Kakinya lemas karena berjalan cukup jauh ditambah beban motor puluhan kilogram.

Marina sangat berharap ada seseorang yang datang menolongnya. Tidak tanggung-tanggung, Marina sampai mengucap nazar dengan lelahnya dua jam yang lalu. Dan, Tuhan mengabulkan doanya.

Johan setiawan yang masih duduk di meja ujung ruang meeting, dikirimkan kepadanya sebagai malaikat penolong. Mereka masih membahas acara peluncuran produk baru di pelataran parkir lapangan tembak Arkenasera pada Ahad mendatang.

”Kesiapan tempat 90% deal, tinggal persiapan dari pihak marketing untuk mendekor. Tata panggung dan backsound jangan abai, karena sangat mempengaruhi calon konsumen pada kesan pertama.“

“Karena kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya –” sela Rudy.

“Terserah anda,” sambung Johan cepat.

Rudy dan Johan melihat orang-orang di dalam ruangan sedang tertawa karena selaan mereka yang saling sindir. Wajah santai Johan dan wajah tegang Rudy menjadi paduan sempurna untuk menjadi tontonan yang menghibur. Johan mengabaikan tatapan sinis Rudy yang mendongkol.

"Ada tambahan? Makan siang bagaimana?"

"Sudah ok, Pak. Pembayaran juga sudah ok," jawab Vina.

"Ok, ada tambahan? Kalau tidak ada, rapat selesai."

Suroso meninggalkan ruangan diikuti Vina sang admin kantor yang ....

Entahlah, pegawai-pegawai kantor paling malas berurusan dengannya. Alis Gusti mengerut saat membaca pesan yang baru masuk.

"Jo, pinjam duit donk bentar. Buat beli susu." Gusti berbisik.

Johan yang masih menulis, menoleh pada Gusti yang duduk di sebelahnya. Dia merogoh kantong celana kanan. Tidak mendapatkan apa-apa. Pindah ke sebelah kiri, juga tidak ada apa-apa. Johan kebingungan. Alisnya mengerut.

Gusti bingung melihat Johan berdiri –masih membongkar kantong celananya untuk memastikan.

"Duit kamu hilang, Jo?"

"Gak tahu. Tadi waktu bayar makan masih ada di kantong," jawabnya gelisah.

"Memangnya nominal berapa?" Gusti ikut berdiri.

"Seratus ribu."

Tangan Johan pindah ke kantong kemeja. Johan mendapatkan beberapa lembar uang di dalamnya.

"Cuma ini yang ada, Gus. Tiga puluh tujuh ribu." Johan menunjukkan uangnya.

"Ya, ok dech. Gak apa-apa. Sisanya biar aku pinjam sama lain." Gusti mengambil uang tersebut.

"Memangnya beli susu berapa?"

"Duitku gak cukup karena harus beli popok juga. Eh, tapi kamu sendiri gak ada, Jo. Gak jadi dech." Gusti menaruh uang itu ke dalam genggaman Johan.

"Udah, gak apa-apa. Ambil aja. Anak kamu lebih butuh."

Gusti terdiam mendengar ucapan Johan. Dia memandang laki-laki itu beberapa detik. Rasa haru pelan-pelan menyeruak di sanubarinya melihat sikap Johan padanya. Mata Gusti mulai berkaca-kaca.

"Udah, gak usah melow-melow. Ada saatnya nanti kamu yang bantuin aku."

"Kamu baik banget. Thank you ya, Jo," Gusti menabrak Johan dan memeluknya. 

"Untung di ruangan gak ada orang, kalau gak, kalian dikira homo sapien betulan!"

Suara nyaring tersebut membuyarkan pelukan haru Gusti. Sosok yang mengerti pertemanan kedua lelaki tersebut. Riska melepas kabel layar proyektor dari laptop, sebelum mengambil print out bahan rapat tadi.

"Bang, tolong bawain ya, Ika mau ke ruangan  Pak Suroso," ucapnya menunjuk proyektor sambil lalu.

Johan berdehem. 

Riska melihat mata Gusti yang merah, tapi gadis itu tidak mau bertanya. Toh, nanti tahu sendiri –pikirnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status