LOGINSemalaman dilayani bak putri raja, Clarissa merasa dirinya sedang di alam dunia mimpi. Pelayan bahkan mengikutinya hingga ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya.
Clarissa merasa kehilangan privasi saat kedua pelayan utusan Abraham memutuskan semuanya. Mulai dari pakaian yang harus dikenakan dan ritual sebelum tidur yang harus dijalani. "Nona harus memakai semua ini sesuai perintah Tuan Abraham." Pelayan itu memperlihatkan satu set skincare di atas atas meja rias. "Nona, juga harus pakai piyama ini." "Apa tidak bisa jika saya pakai kaos saja? Lagi, saya tidak mengerti tulisan di botol skincare itu." Clarissa melihat dengan teliti tulisan china dalam produk kemasan skincare dihadapannya. Pelayan dengan sigap menjelaskan semuanya. "Tenang, Nona. Itulah mengapa kami ditugaskan di sini." Clarissa memutuskan untuk mematuhi aturan Abraham, agar bisa kembali bertemu dengan lelaki itu. Clarissa berharap masih bisa bernegosiasi atas pernikahan yang tidak diharapkannya. Untuk pertama kalinya, Clarissa tidur di atas kasur yang empuk dan kamar yang nyaman serta di lengkapi AC dan fasilitas yang wah. Pagi ini saat Clarissa bangun dan melihat jam di dinding, gadis itu kaget melihat pelayan berdiri tepat di samping pintu. "Selamat pagi, Nona," sapa si pelayan. "P-pagi." Cla memandang kikuk ke arah wanita itu, dia memperhatikan penampilannya dari kaki hingga ujung kepala. "A-apa, kau tidak tidur semalaman?" tanya Cla penasaran. Pelayan itu tersenyum. "Saya bangun lebih pagi, Non. Saya di tugaskan untuk melayani Nona, memilih pakaian untuk dikenakan hari ini." "Hah?" Gadis itu melongo dengan mulut berbentuk o sempurna. "Tiger akan mengawal Nona menuju ke Rumah Sakit, Nona Helena sudah sadar dan mencari-cari Nona." Clarissa tercekat dengan napas tertahan. "Benarkah? Bagaimana keadaannya?" "Nona Helena baik-baik saja dan sudah di izinkan pulang." Cla sangat senang mendengar kabar itu. "Syukurlah, Kakak pasti khawatir karena aku tidak ada di sana." Tanpa dipandu lagi, Clarissa segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. "Aku akan selesai lebih cepat. Tenang saja, kalian tidak perlu mengikutiku." Clarissa segera masuk dan menyelesaikan ritual mandinya. "Nona, tenanglah. Jangan terburu-buru seperti ini." Gadis itu mengabaikan ucapan si pelayan. Dia tidak mau kakaknya menunggu terlalu lama. Dengan tergesa-gesa, setelah lima menit, Cla keluar dan hanya mengenakan handuk di badan, gadis itu tersenyum pada pelayannya. Aroma shampo yang menyegarkan mengembalikan semangat dalam dirinya. "Aku tahu apa yang aku lakukan, tolong siapkan pakaian apa yang harus aku kenakan." Clarissa mulai mengerti jika aturan tetaplah aturan. Dia tidak boleh membantah jika ingin semuanya cepat selesai. "Anda harus memakai dress yang ini, juga tas dan sepatu dengan warna serupa." Clarissa tersenyum, impian menjadi model tidak kesampaian. Tapi, bergaya seperti model sudah ada di depan mata. "Tentu, akan aku kenakan." Pagi ini di meja makan. Angelo sarapan dengan lahap. Perutnya sudah keroncongan karena menahan lapar semalaman. David dan Zeland sesekali memperhatikan adik bungsunya itu. "Hari ini Kakek punya tugas khusus untuk kalian," ucap Abraham. Ketiga cucunya mendongak dan saling pandang. "Tugas?" ulang David. "Ya, tugas khusus. Tidak ada penolakan." Angelo asyik dengan makanannya, tapi telinga tetap fokus mendengarkan "Tugas apa, Kek?" tanya Zeland penasaran. Pembicaraan mereka terjeda saat bunyi hells mendekati meja makan. Tap tap tap. Clarissa muncul dari balik tembok, dengan tangan yang berpegang kuat pada pelayan yang kini menjadi asistennya. "Wow," ucap David tanpa sadar. Zeland dan Angelo menoleh menatap gadis itu. Sesaat mereka tersihir dengan penampilan Clarissa. Gadis itu memakai dress berwarna putih dengan motif bunga, rambut yang di biarkan tergerai telah di gulung di bagian ujungnya membuat penampilan Clarissa sangat menawan. Gadis itu masih belum menguasai berjalan dengan hellsnya. "Selamat pagi, Cla. Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Abraham. Lelaki tua itu tampak puas dengan penampilan baru Cla. "Ya, lumayan." Cla menoleh. Tatapan Zeland dan David membuatnya risih. "Silahkan duduk dan sarapan bersama kami," ucap Abraham. Angelo yang menikmati makanannya tiba-tiba berhenti. "Maaf, bisakah saya melewatkan sarapan. Saya ingin segera sampai di Rumah Sakit." Abraham meletakkan sendok di piring, lelaki itu menatap Clarissa sekali lagi. "Tentu, mereka akan menemani kamu seharian." Mereka yang di maksud adalah ketiga cucu Abraham. "What!" Angelo keberatan atas ucapan sang Kakek. Clarissa meneguk air liurnya, tenggorokannya terasa serak seketika. "Kalian akan menemani Clarissa dan membawa gadis itu berkeliling. Tidak ada tapi." Tatapan tegas Abraham membuat ketiga cucunya terpaku. Angelo menghempas sendok dan garpu yang dipegangnya. "Tunggu apalagi, kalian boleh pergi sekarang. Soal kantor biar jadi urusan Kakek." David dan Zeland bangkit dari kursinya. Ucapan Kakeknya adalah titah yang tidak bisa dibantah. "Apa yang kau tunggu Angelo? Pergilah sekarang." Angelo bangkit dengan tatapan tidak suka menatap Clarissa. Gadis itu mendelik berusaha tegar walau dalam hati kecilnya, dia sangat gugup. Ketiga cucu Abraham keluar lebih dulu, tinggalah Clarissa berdua dengan Abraham di ruang makan. "Kamu akan bertemu dengan banyak orang, saya telah mengatur jadwal yang harus kamu jalani. Ingat, jangan bicara apapun saat berada di tengah orang asing. Serahkan saja semuanya pada cucu-cucu saya." "Baik. Sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu." Clarissa berharap masih bisa menyelematkan diri. "Pergilah," ucap Abraham. Clarissa menghela nafas panjang. Abraham meninggalkannya lebih dulu. Gadis itu tak memiliki harapan. Diapun berjalan pelan keluar dari kediaman megah keluarga Reevand. Langkahnya sesekali goyah karena tidak terbiasa. Namun, Cla berusaha menguasai. Tiger menyambutnya. Cla masuk ke mobil setelah pengawal itu membuka pintu untuknya. "Silahkan, Nona." Dengan langkah pelan Clarissa duduk dengan nyaman. Mata indah gadis itu membulat kala melihat Zeland duduk di sampingnya. "Kamu!!" teriaknya. David menahan tawa melihat reaksi gadis itu. "Ya, kenapa?" tanya Zeland dingin. Tatapan pemuda itu mampu membungkam Cla, entah mantra apa yang dimilikinya, namun Zeland memiliki aura magic tersendiri. "Ketemu kamu saja, kagetnya setengah mati, gimana kalau dia ketemu dengan Angelo?" sahut David datar. Clarissa kaget melihat David dan Zeland satu mobil dengannya. Gadis itu langsung membuang pandangan ke arah jendela. Dia sudah siap atas segala sindiran yang akan diberikan kedua pemuda itu. "Jalan, Pak," perintah David. "Baik, Tuan." Mobil beranjak dari rumah menuju ke Rumah Sakit. Angelo menentang perintah Abraham untuk satu mobil dengan Clarissa. Pemuda itu melaju dengan mobil sport miliknya sendiri. Jantung Cla berdebar tak menentu. Sesaat dia melihat bagaimana Angelo melewatinya. Pemuda itu terlihat tampan dengan rambut yang sudah di cat biru tua, khas anak muda jaman sekarang. "Hey, Cla. Jadi apa kau akan menjelaskan siapa dirimu yang sebenarnya? Nggak mungkin dong, baru datang langsung mengincar posisi terbaik di rumah kita," sindir David. Pemuda itu duduk di kursi depan, tepat di samping Pak Supir. Cla hanya diam, dia bingung harus menjelaskan apa? Dia pun tidak tahu bagaimana dengan nasibnya ke depannya. "Apa benar kau akan menikah dengan Kakek?" Pertanyaan kali ini datang dari Zeland. Clarissa menoleh menatap lekat sorot mata pemuda itu. Zeland berbeda dari kedua saudaranya, walau mereka baru bertemu. Bagi Clarissa Zeland satu-satunya yang tidak memperlihatkan kebencian. "E-entahlah, kami bertemu di sebuah Cafe, beliau memintaku menjadi seorang pengantin." "Dan kau langsung mau? Wah, Kakek memang hebat. Kita nggak habis pikir saja, kenapa kau mau menikah dengan lelaki yang lebih cocok jadi Kakek ketimbang jadi suami?" ujar David. Clarissa belum sempat menjawabnya. "Apa benar karena uang?" tanya Zeland. Clarissa ingin sekali menentang ucapan itu, tapi kenyataannya. Dia memang menerima tawaran itu karena uang. Uang demi membawa Helena ke rumah sakit. "Diamnya menjawab semua, Angelo memang tidak pernah salah menilai sesuatu." David menyudahi obrolan itu. Ungkapannya sangat menyakiti hati Clarissa, seolah dirinya tak berharga, wanita yang hanya rela menerima segala sesuatu karena uang. "Aku tidak percaya ini, kau bahkan lebih muda dari kami, para cucunya."Atmosfer di dalam butik mendadak sunyi, ketegangan yang tercipta membuat Stevani mengepalkan tangannya semakin erat, wanita itu berusaha keras menjaga harga diri dan keanggunannya agar tidak hancur di depan Zeland. Senyum di bibir merahnya terlihat semakin kaku saat matanya kembali menatap Cla dari ujung kepala hingga ujung kaki."Aura yang sangat kuat untuk seseorang yang baru bergabung dengan keluarga Reevand," sindir Stevani pelan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar ramah namun menusuk. "Ternyata kejutan di keluarga ini tidak ada habisnya. Pertama pernikahan mendadak Tuan David, dan sekarang..." Stevani beralih menatap Helena dengan sorot mata penuh selidik. "Kehadiran anda juga tampak begitu percaya diri berdiri di samping Tuan Zeland."Helena tidak berkedip sedikit pun. Dia melangkah setengah ke depan, menegakkan bahunya hingga posisinya sejajar dengan Cla."Kepercayaan diri datang dari posisi yang sah, Nona Stevani," balas Helena dingin, matanya menembus tepat ke
Zeland menatap punggung Kakek Abraham yang perlahan menghilang di balik lorong menuju ruang kerjanya. Kalimat sang kakek menyentil relung hatinya yang paling dalam. Penyesalan, rasa tanggung jawab, dan tekad untuk melindungi kini menjadi satu alasan kuat mengapa dia harus berdiri pasang badan untuk Helena.Tak berapa lama, Helena dan Cla turun dari lantai atas dengan pakaian yang lebih rapi namun kasual. Wajah Cla masih menyiratkan keraguan yang teramat sangat, sementara Helena berjalan dengan dagu terangkat, sebuah pertahanan diri yang sengaja dia bangun untuk tetap bertahan."Sudah siap?" tanya Zeland lembut.Helena mengangguk singkat. "Ayo. Semakin cepat kita menyelesaikan ini, semakin cepat kita bisa fokus pada hari lusa."Zeland memberi isyarat pada Tiger, pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang sudah setia menjadi pengawal pribadi keluarga Reevand, datang bersama dua anak buahnya untuk membuntut dari jarak aman. Merekapun melaju menuju butik kelas atas milik Madam Sav
Suasana di kediaman utama Reevand tak lagi sama. Meski fajar mulai menyingsing membiaskan warna keemasan di balik jendela, ketegangan di dalam rumah mewah itu justru semakin pekat. Di kamar utama, Cla akhirnya tertidur karena kelelahan setelah meluapkan seluruh emosi dan kepedihannya. David menyelimutinya dengan perlahan, mengecup kening istrinya lama sebelum melangkah keluar dengan raut wajah yang berubah total. Dingin, tajam, dan penuh amarah. Di ruang tengah, Zeland dan El sudah menunggu. Tuan Abraham duduk di kursi kebesarannya, menatap ketiga cucunya yang kini berdiri sejajar dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Helena sudah agak tenang," ujar Zeland memecah keheningan, matanya sedikit merah karena ikut merasakan penderitaan wanita itu. "Tapi dia menuntut keadilan atas semuanya. Dia ingin Rafa dan Stevani membayar setiap detik penderitaan yang mereka lewati selama sepuluh tahun ini." "Bukan hanya Helena," sela David dengan suara berat yang menekan kewarasanny
Langkah kaki Cla mengayun berat menjauh dari ruang kerja, seolah setiap pijakannya menapak pada serpihan kaca yang tajam. David mencoba mengejarnya, namun tangannya tertahan di udara. Jarak beberapa senti di antara mereka mendadak terasa bagai jurang yang tak menentu."Biarkan dia sendiri dulu," bisik Zeland pelan. "Dia butuh waktu untuk mencerna semua ini."David memejamkan mata. Rasa bersalah melingkupi dadanya begitu sesak. Pria yang mulai ingin membangun hubungan itu, kini merasa tak dapat melindungi Cla dari segala bentuk penderitaan, kenyataan pahit adalah bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah darah dari sosok yang merenggut nyawa orang tua istrinya sendiri."Apa dia akan membenciku?" Zeland terpaku. Dia tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu."Orangtua kita yang menabrak mama dan papanya. Apa menurutmu dia bisa memaafkan semuanya?""Entahlah, Bang. Tapi, walau bagaimanapun juga kita memang tak tahu apa-apa. Jika Cla bisa berpikir jernih, dia pasti tak akan menyalah
Rasa curiga yang bertumpuk membuat dada Cla terasa makin sesak. Sebelum dia sempat menguraikan kebingungannya lebih jauh, deru mesin mobil terdengar memasuki pelataran rumah.Itu dia! Tuan Abraham dan David telah kembali.David melangkah lebar menghampiri kerumunan itu, matanya langsung tertuju pada Cla. Wajah istrinya yang pucat dan dipenuhi tanda tanya membuat langkah David terhenti sejenak sebelum mendekat dan meraih jemari Cla yang dingin."Semuanya sudah berkumpul di sini," suara Tuan Abraham memecah keheningan malam yang mencekam. Raut wajahnya kembali tenang, namun matanya memancarkan ketegasan."Masuklah. Tidak baik bicara di luar.""Baik, Kek."Di dalam ruang kerja utama Tuan Abraham, suasana kembali tegang. Tuan Abraham duduk di kursi kebesarannya, menatap Cla dan Helena bergantian.David dan Zeland berdiri di belakang pasangan mereka sedang El duduk di sisi kiri."Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu saat ini, Cla," ucap Tuan Abraham datar, menembus kecemasan gadis itu.
Mobil hitam yang membawa Cla, Helena, dan Zeland melaju membelah keheningan malam kota. Selama perjalanan, hanya terdengar isak tangis Helena yang ditahan dan deru napas Cla yang tak teratur. Informasi dari Tuan Abraham tadi bukan sekadar kejutan, itu adalah hantaman keras yang merobohkan semua asumsi yang mereka bangun selama puluhan tahun."Bukan kecelakaan murni..." gumam Helena, jemarinya meremas kain gaunnya hingga kusut. Matanya menatap kosong ke luar jendela. "Selama sepuluh tahun aku percaya papa dan mama pergi karena nasib buruk. Tapi Kakek bilang... mobil mereka oleng lebih dulu?"Zeland yang mengemudi melirik dari spion tengah. Wajahnya mengeras, pikirannya dipenuhi seribu pertanyaan. Sebagai cucu Abraham, dia tahu betul sang Kakek tidak pernah berbicara tanpa bukti yang sah. Jika Kakek sampai harus menyembunyikan kenyataan ini dan menahan gertakan David di hadapan publik, artinya musuh yang dihadapi bukan sekadar saingan bisnis biasa."Kak," panggil Cla pelan. Tangannya m
Takdir mempermainkan Clarissa Anastasya, hati gadis itu kini merasa sangat cemas. Bagaimana jika Helena tahu? Bagaimana jika sang kakak tidak setuju? Sepanjang perjalanan, pikiran Clarissa lagi-lagi terkuras memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Zeland dan David menatapnya yang gelisah sejak
Tiba di Rumah Sakit, Zeland dan David langsung keluar dari mobil, Angelo tiba lebih awal dan berdiri dengan tampang bete di lobby. Jelas terlihat jika Angelo tidak nyaman menuruti keinginan Abraham. “Dimana cewek miskin itu?” tanya Elo saat Zeland dan David berdiri di sampingnya. “Tuh,” ucap David
Abraham tidak peduli dengan sikap yang ditunjukan ketiga pewarisnya terhadap Clarissa, sebaliknya dia justru senang jika cucu-cucunya terang-terangan menyindir Cla di sana. Abraham ingin melihat perlawanan dari wanita muda itu. Ingin tahu sampai dimana dia sanggup untuk bertahan. Makan malam kini s
Helena tidak sadarkan diri saat bantuan datang dan mengankat tubuhnya masuk ke dalam mobil Ambulance. Anak buah Abraham dengan cepat mengawal prosesinya. Clarissa memilih untuk ikut di mobil yang membawa kakaknya. Gadis itu tak hentinya berdoa dan menggenggam tangan saudarinya. "Bertahan, Kak. Semu







