Share

Bab 3

Author: Noona_SV
last update Last Updated: 2025-10-21 18:06:39

Alea melangkah keluar dari rumah keluarga Morgan tanpa menoleh ke belakang. Malam sudah larut, udara di kota Volka menusuk dingin. Di bawah sinar lampu jalan yang redup, bayangan tubuhnya tampak rapuh namun tegar. Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu perlahan, lalu duduk diam cukup lama.

Tangannya memegang setir, tapi matanya menatap kosong ke depan. Tidak ada air mata, tidak ada amarah. Hanya kehampaan yang begitu kental hingga membuat napas terasa berat.

Ia menyalakan mesin. Suara mobil memecah kesunyian malam, membawa dirinya menjauh dari rumah yang tidak lagi pantas disebut rumah.

Selama perjalanan, lampu-lampu kota memantul di kaca depan. Setiap kilau seperti bayangan masa lalu yang datang silih berganti, menyisakan luka yang belum kering tapi juga sudah terlalu lama untuk disembuhkan.

Tidak ada lagi air mata. Sudah habis. Yang tersisa hanyalah rasa sesak di dada yang tak bisa dijelaskan. Alea menatap sekilas pantulan wajahnya di spion.

Wajah itu tampak asing. Dingin. Kosong. Seolah semua kehidupan di dalamnya sudah mati perlahan.

Ia menghela napas panjang.

"Apalagi yang bisa aku harapkan dari Ethan? dia sama sekali tidak pernah menganggapku ada. bahkan..."

Alea memejamkan matanya kuat, merasakan kesakitan yang seakan meremas jantungnya dengan begitu kuat.

Tiga tahun menjadi asisten pribadi dari suaminya. Dua tahun hidup sebagai istri rahasia yang selalu disembunyikan. Setia tanpa diminta, mencintai tanpa diakui. Hingga malam itu segalanya hancur.

Alea masih ingat betul malam itu.

Udara dingin menusuk tulang ketika ia baru saja keluar dari kantor Vale Enterprise. Langit Volka diguyur hujan ringan, dan trotoar tampak basah berkilau di bawah lampu jalan.

Baru saja ia hendak membuka pintu mobilnya, sesuatu menutup hidungnya dari belakang—aroma tajam memenuhi paru-parunya, membuat pandangannya berputar.

Semua menjadi gelap.

Ketika sadar, ia sudah berada di ruangan lembap yang hanya diterangi lampu kecil berkelap-kelip. Tangannya terikat tali nilon, perih dan berdarah.

Namun saat itu, dia tidak bisa melakukan apapun. tidak ada siapapun yang datang, dan Alea hanya dibiarkan sendirian dalam keadaan kelaparan dan kehausan selama dua hari.

Dan tepat di hari ketiga, saat ia masih berusaha untuk tetap sadar, suara pintu dibuka dari luar.

“Bangun!” suara keras terdengar. Seseorang menampar pipinya.

Alea mengerang pelan. Pandangannya kabur, tapi ia bisa melihat dua pria berwajah kasar berdiri di depannya.

"beri dia air."

Mendengar itu, Alea seketika merasa senang. setidaknya, rasa hausnya tidak lagi menyiksa.

“Sekarang katakan. Di mana Ethan Vale?” salah satu dari mereka bertanya, suaranya berat dan penuh ancaman.

“A-aku tidak tahu…” jawab Alea terbata, suaranya serak dan lemah. “Tolong, aku tidak tahu apa-apa…”

“Jangan bohong!” bentak pria itu sambil menendang kursi yang ia duduki. “Kami tahu kau dekat dengannya. Kau bahkan tinggal di apartemen yang sama, kan?”

"Itu—itu hanya karena urusan kerja…”

suara Alea terdengar semakin lemah. kelaparan dan kehausan selama beberapa hari, membuatnya kehilangan tenaga.

“Urusan kerja?” pria satunya tertawa sinis. “Lucu. Kalau begitu, kenapa ada surat nikah ini?” Ia mengangkat selembar kertas yang sudah kusut dan penuh noda. Alea terpaku. Surat itu, surat nikah rahasianya dengan Ethan.

Darahnya terasa dingin.

Mereka tahu.

“Kau mau tetap hidup?” suara itu kembali mengeras. “Telepon Ethan Vale. Suruh dia datang ke sini malam ini. Kalau dia ingin kau tetap bernapas, dia harus menyerahkan satu hal: hotel Madison.”

Alea menatap mereka tak percaya, di sisa tenaganya ia mencoba menolak. “Kalian gila. Itu hotel perusahaan, bukan miliknya pribadi—”

“Telepon dia!” teriak pria itu, menamparnya keras hingga bibirnya pecah.

Dengan tangan gemetar, Alea memegang ponsel yang mereka sodorkan. Ia menekan nomor Ethan dengan sisa tenaga. Hatinya berdegup cepat.

Ketika nada sambung terdengar, air matanya mulai menggenang.

“Ethan… tolong aku,” suaranya bergetar. “Mereka menculikku. Aku di sebuah gudang, aku tidak tahu di mana… mereka bilang kalau kau tidak datang, mereka akan—”

“Sudah berapa kali aku bilang?” suara Ethan terdengar di ujung sana—dingin dan lelah. “Alea, aku sedang rapat. Kalau ini lelucon atau salah satu drama emosionalmu lagi, hentikan. Aku tidak punya waktu untuk itu.”

namun baru saja Ethan selesai bicara, suara seorang wanita justru menusuk indra pendengarannya.

"Ethan, makanlah. aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Jangan menelpon terus."

Alea terdiam. Tubuhnya gemetar. Alea mengenal suara itu, dan dia yakin kalau Ethan bukan di Kantor. namun Alea masih berusaha meminta pertolongan darinya.

“Ethan, Aku mohon. aku bukan sedang berulah! Aku benar-benar diculik! Tolong, aku takut—”

“Cukup.” Nada suaranya meninggi. “Aku tidak mau dengar lagi. Kau terlalu banyak membuat masalah akhir-akhir ini. Bahkan dengan gilanya kau tidak pulang, sampai semua pekerjaanku terbengkalai. Kalau kau ingin perhatianku, ini cara yang salah. dan aku bilang, aku sibuk."

Klik. Sambungan terputus.

Ponsel di tangannya jatuh ke lantai. Alea menatap kosong, tak percaya.

“Dia tidak percaya…” bisiknya pelan. “Dia pikir aku bohong…”

Para pria itu tertawa puas.

“Sama seperti yang kami kira. Pria kaya itu tidak akan datang demi orang sepertimu.”

Alea memejamkan mata, menahan isak.

Salah satu dari mereka mendekat, menyalakan speaker ponsel dan memutar rekaman panggilan barusan. Suara Ethan terdengar jelas—dingin, tanpa sedikit pun nada khawatir.

“Lepaskan saja dia,” suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Alea mengenali suara itu.

Serena.

“Ethan punya urusan lebih penting daripada menjemput perempuan yang tidak berarti di hidupnya,” lanjut suara itu.

Tubuh Alea melemas.

“Serena…” suaranya nyaris tak terdengar.

“Aku dan Ethan masih sibuk. Kalau dia peduli, dia akan datang. Tapi aku rasa, dia tidak akan datang.”

Tawa dingin terdengar. Panggilan itu ditutup.

Alea membiarkan kepalanya jatuh ke lantai dingin, air matanya menetes perlahan. Tidak ada lagi tenaga untuk melawan.

Tidak ada lagi harapan.

Malam itu, Alea berhenti berteriak.

Berhenti memanggil nama Ethan.

Yang tersisa hanyalah napas pelan yang nyaris tak terdengar—antara hidup dan mati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    "Diam, atau kurobek mulutmu," ucap Allea dengan wajah datar, dan suara yang terdengar tegas. Untuk pertama kalinya, ekspresi Serena membeku. Tangannya yang menggenggam lengan Ethan mengendur sepersekian detik, jelas tidak menyangka Allea akan berani berbicara seperti itu di ruang publik.Beberapa pengunjung butik di sekitar mereka spontan menoleh. Suasana yang semula elegan berubah tegang.Ethan mengernyit, ia tidak pernah melihat sisi Allea yang seperti ini. Dan jelas itu membuat egonya sedikit terusik dan harga dirinya tergores.“Kau... Kenapa kau bisa bicara sekasar itu, Allea? Kau benar-benar berubah,” katanya pelan, namun nada suaranya mulai mengeras."Apa urusannya denganmu?""Allea, jangan terus bermain peran didepanku. Jangan karena kemarin aku diam dan Kau dibelakang seseorang yang berpengaruh, kau berani berulah seperti ini. Kau lupa, siapa kau sebenarnya? Apa hanya karena pria lumpuh itu, kau berani bertingkah kasar pada Kakakmu sendiri?"Allea mendengus mendengar nada ren

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 46

    Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Allea mendatangi salah satu butik yang memiliki brand ternama di Volka, dengan kumpulan brand dari desainer terbaik. "Berikan aku dasi dan juga Jas dari beberapa brand terbaik, dengan rancangan terbaru. Aku mau, semuanya kualitas terbaik," pinta Allea pada salah satu pegawai butik yang langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar permintaan itu. “Tentu, Nona. Apakah ada warna atau potongan yang diinginkan?” tanyanya dengan nada profesional. Allea menggeleng pelan. “Sesuaikan saja. Aku ingin yang paling layak dipakai suamiku, Sean Miller Kingston.” Nama itu membuat beberapa pegawai saling melirik satu sama lain, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Rak demi rak dibuka, gantungan jas diturunkan dengan hati-hati. Satu per satu pilihan dikeluarkan, dari potongan klasik hingga desain modern dengan detail rapi dan tegas. Allea berdiri dengan sikap tenang, matanya menilai tanpa ragu. Ia memilih jas hitam dengan potongan lurus, bahu tegas, d

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 45

    Allea melangkah mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Pantulan wajahnya terlihat begitu tenang, nyaris dingin. Namun hanya dia yang tahu, betapa rapuhnya lapisan ketenangan itu. Luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar menyimpannya rapi, jauh di dasar hati. Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia masih bisa bernapas dengan bebas. “Burung dalam sangkar emas,” gumamnya pelan, kali ini keluar sebagai suara. “Setidaknya sangkarnya indah, tanpa membuatku terluka hanya karena ingin merasakan terbang sedikit bebas.” Ia tersenyum miris. Dulu, di rumah Morgan, ia bahkan tidak diberi sangkar. Ia hanya dibiarkan berdiri di luar, menyaksikan bagaimana kasih sayang dibagikan pada orang lain, sementara ia diminta tahu diri hanya karena dilahirkan dari rahim yang sama. Langkahnya terhenti di depan rak gaun. Berderet rapi, mahal, dan indah. Semua yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh, kini tersedia tanpa syarat. Perhiasan mahal, tas

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 44

    Allea merasakan hatinya berdenyut nyeri, saat dengan terang-terangan Vanessa mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan pernah sama dengan Serena. Meski notabenenya dia anak kandung, namun posisinya tidaklah sama berharga dengan anak angkat mereka. "tapi Ibu, aku sama sekali tidak mengambil gaun kakak. Aku hanya menerima dari bibi pelayan, dan bilang kalau itu dari ayah," elak Allea, berusaha menyangkal apa yang dituduhkan padanya. Serena dengan wajah yang penuh kesedihan, menyentuh lengan David dengan pelan disertai isakan yang terdengar memilukan. "Ayah... Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuat keributan hanya karena gaun,” ucap Serena terputus, bahunya bergetar. “Aku hanya… aku hanya kaget. Itu gaun yang Ayah janjikan untukku.”"Ini bukan salahmu, Serena. Lagipula, gaun itu memang ayah belikan untukmu. Tidak seharusnya Allea mengambil apa yang bukan menjadi haknya, meski dia anak kandung kami," sahut David tanpa ragu, seolah kalimatnya bukanlah hal yang salah. Namun tanpa

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 43

    Allea menutup laci nakas itu perlahan. Jemarinya masih terasa hangat, seolah ada sisa sentuhan dari sesuatu yang tak kasat mata tertinggal di sana. Ia berdiri cukup lama di depan tempat tidur, memandangi kotak beludru dan amplop putih yang kini kembali tertata rapi. Dadanya naik turun tidak beraturan, karena sebuah perasaan asing yang perlahan mulai menggantikan perasaan lain yang sudah mengendap lama. “Aku akan menuruti ucapanmu kali ini,” gumam Allea pelan, seolah berbicara pada Sean yang tidak ada di ruangan itu. “Aku akan bersenang-senang. Setidaknya… mencoba.” Ia berbalik menuju menuju walk in closet, dimana ternyata begitu banyak baju untuk ya yang sudah tersusun rapi. "Astaga, Sean. Kau benar-benar melakukan ini untukku?" gumam Allea, menatap deretan pakaian yang begitu indah, elegan dan terlihat sesuai dengan apa yang menjadi ciri khas pakaian kesukaannya."Dia tahu akau sebanyak ini, atau... dia hanya menebak dari kriteriaku?"Ketika nyaris berpikir lebih jauh, Allea seke

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 42

    Allea mendengus ketika membaca pesan dari seseorang yang sama sekali tidak asing untuk ya. Meski ia mengganti nomor ponsel dengan yang baru, Allea jelas tahu siapa yang tidak suka dengan kebahagiaannya. [Sebegitu tidak bahagianya kah hidupmu, kakak. Sampai-sampai, kau selalu mengganggu kehidupanku yang sudah bahagia]Allea meletakkan ponsel di atas meja, setelah memberikan balasan pada orang yang memang tidak pernah menginginkan kebahagiaannya sejak ia menjejakkan kaki di kediaman Morgan. Dengan santai, Allea kembali menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu. Hingga sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya dan membuat atensinya teralih.[Katakan kalau kau tidak menyukai apa yang aku siapkan hari ini. Jangan memaksa menelan sesuatu yang tidak kau inginkan.]Senyum tipis terbit dibibir Allea. Pesan yag singkat dan sedikit terkesan dingin, namun Allea bisa merasakan kehangatan perhatian didalamnya. Sean... Suaminya itu tengah berusaha menunjukkan sosoknya sebagai suami, meski or

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status