LOGINRuang makan seketika mendadak hening, setelah ucapan Alea terasa seperti bom yang baru saja meledak di tengah meja makan keluarga Morgan.
Vanessa membeku. David kehilangan kata-kata atas semuanya. Sementara Alea berdiri tegak, tubuhnya tampak lelah… namun untuk pertama kalinya, ia tidak goyah seperti sebelumnya. Secara bergantian, Alea menatap kedua orang yang seakan terpaksa menerimanya, yang seharusnya melindunginya, tapi justru malah membuatnya hancur tak berharga—dengan sorot mata seseorang yang sudah berhenti berharap apa pun dari mereka. Setelah lama hening, David Morgan akhirnya bersuara. Suara yang biasanya tegas, kini terdengar goyah, seolah tenggorokannya mengering oleh kenyataan yang baru dijatuhkan Alea. “Alea… apa maksudmu? Kamu mau memutuskan hubungan dengan keluarga ini? bukankah, kamu sebelumnya meminta kami untuk mempublish status kamu di depan umum secara resmi? Dan bahkan meresmikan nama Morgan di belakang namamu?” “Untuk apa? Kehadiranku sama sekali bukan hal istimewa. Lagipula aku tahu, dengan dipublisnya aku, maka Serena akan terluka dan semakin membuatnya lemah. Benar kan," sahut Alea disertai dengus kekesalan. "Kalau memang Ayah ingin aku menikah dengan Sean Miller Kingston untuk menggantikan Serena, yang tidak mau berhubungan dengan orang lumpuh," suara Alea datar. “Maka dengan senang hati aku lakukan. Asal.…” Ia mencondongkan sedikit tubuhnya. “Asal syarat yang aku ajukan tadi, kalian kabulkan dalam waktu yang singkat.” David dan Vanessa seketika terdiam saat mendengar apa yang dikatakan Alea. Sementara Alea, ia menahan senyum getir saat melihat reaksi orang tuanya seketika berubah saat ia mengatakan soal kemungkinan Serena terluka kalau dia di publish. Dan jelas, itu membuat Alea merasa kalau keterkejutan David hanyalah sebuah formalitas. Masih ia ingat dengan jelas, bagaimana saat pertama kali ia kembali ke rumah itu. Kembali ke rumah orang tua kandungnya, setelah ia terlunta-lunta diluaran bersama seorang pelayan rumah mereka yang bukannya memberikan kasih sayang, malah membuatnya tersiksa dan menderita. Alea yang baru berusia sebelas tahun saat itu, merasakan pengharapan yang begitu besar, saat tahu kalau ia tertukar. Ia tertukar ketika di rumah sakit entah dengan anak siapa, dan yang ia tahu… orang tuanya sudah mengadopsi Serena. “Kita memang keluarga kandung. Tapi Serena sudah sejak lama ada bersama kami. Tidak mungkin kami melepaskannya hanya karena kamu kembali.” Kalimat itu. Kalimat yang sampai sekarang masih membekas seperti duri di tenggorokan Alea. - Namun sebelum kalimat itu terucap, sebelum dunia menghantamnya dengan cara paling halus namun menyakitkan, ada satu momen kecil yang dulu membuat Alea—kecil dan naif—sempat berpikir ia dicintai. Alea mengingat jelas bagaimana Vanessa dulu berlari menghampirinya begitu mengetahui dia adalah anak kandung mereka. Pelukan hangat. Samar aroma parfum lembut. Genggaman yang membuat Alea menangis. “Alea… sayang… Ibu minta maaf. Kamu pasti takut sekali selama ini…” Alea kecil terisak, memeluk pinggang Vanessa sekuat mungkin. Ia merasa… pulang. Untuk pertama kalinya dalam hidup. Tapi momen itu hanya bertahan beberapa detik. Karena suara kecil memecah hangatnya udara sore itu. “I-Ibu?” Serena kecil berdiri di ambang tangga, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ia tampak seperti anak ketakutan—padahal dari sorot matanya yang tajam, Alea tahu satu hal: Serena tidak suka berbagi apa pun, bahkan kasih sayang. Begitu mendengar isakan kecil itu, Vanessa langsung melepaskan pelukan Alea. Benar-benar melepaskan. Seperti membuang benda panas yang tak sengaja ia sentuh. Vanessa buru-buru berlari menghampiri Serena. “Oh, sayang… sini. Sini, Serena… Jangan takut, ini bukan apa-apa…” Serena langsung menyembunyikan tubuhnya di balik rok ibunya, menangis seperti dikhianati dunia. “Aku… aku kira Ibu nggak sayang aku lagi…” Suaranya serak, bergetar. “Kalau… kalau dia ada di sini… Ibu sama Ayah… masih tetap milik aku, kan…?” Alea, yang bahkan belum sempat menghapus air matanya, hanya bisa terpaku. Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada yang menggandeng tangannya seperti Vanessa menggandeng tangan Serena. Hanya ada jarak. Jarak yang tiba-tiba terbentang begitu luas dan tidak terlihat…Tapi nyata. Bahkan sangat nyata. David muncul beberapa detik kemudian. Ia mengusap kepala Serena lembut. “Tentu saja kamu masih jadi putri kami, Serena. Kamu tidak perlu takut.” Serena menatap David dengan mata yang berlinang, tubuh yang bergetar ketakutan. “Tapi kalau Alea tinggal di sini… Ibu Ayah nggak sayang aku lagi… ‘kan? Karena aku bukan… bukan darah kalian… aku juga nggak tahu, siapa orang tua kandungku.” Alea ingat bagaimana seluruh ruangan membeku. Padahal yang paling seharusnya menangis adalah dirinya, bukan Serena. Namun yang terjadi? Vanessa berjongkok, memeluk Serena erat. “Tidak, sayang. Kamu tetap putri kesayangan kami satu-satunya. Alea… dia juga anak kami. Tapi kamu… kamu sudah bersama kami sejak kecil. Kamu lebih dulu ada di sini. Ibu nggak akan biarkan siapa pun membuat kamu merasa tersingkir. Termasuk Alea.” Alea mengingat dirinya mengepalkan tangan kecilnya. Saat itu, dia tidak begitu paham dengan kata satu-satunya. Baru setelah sekian lama tinggal bersama dengan keluarga Morgan, Alea tahu kalau kalimat itu tidak pernah berubah hingga ia dewasa. “Ibu… aku… aku hanya ingin tinggal sama Ibu dan Ayah…” Alea memberanikan diri bersuara. “Kita… kita keluarga kandung kan? Aku…” David tersenyum kaku. Terlalu kaku untuk seorang ayah yang sudah sejak lama berpisah dari putri kandungnya sendiri. “Iya, Alea. Tapi kamu harus mengerti satu hal.” Ia menatap Alea seperti menatap orang luar yang baru datang. “Serena sudah lama hidup dengan kami. Dia lebih dulu jadi bagian dari keluarga ini. Jangan sampai dia merasa tersisih hanya karena kamu ada disini. Tolong… jangan membuatnya sedih, dan jangan membuat dia merasa bahwa dia dilupakan hanya karena ada kamu. Kebahagiaannya penting untuk kami.” Serena mengisak pelan, menatap Alea dari balik bahu Vanessa. Tatapan itu bukan tatapan takut. Itu tatapan menang. Sejak saat itu, Alea tahu perannya: Ia boleh tinggal. Tapi tidak boleh menuntut apa pun. Bahkan sejak kalimat itu terlontar dari mulut David dan Vanessa, saat itu pula kehidupannya benar-benar tersisih dan seperti di neraka kedua, setelah rumah keluarga angkatnya. – Kini, Alea kembali ke ruang makan masa kini. Kenangan itu datang seperti bayangan gelap yang menghancurkan sisa ketenangan yang coba ia pertahankan. Ia menatap Vanessa dan David yang kini terlihat khawatir, bukan karena takut kehilangan dirinya, tapi karena takut kehilangan keseimbangan semu yang selama ini mereka jaga di sekitar Serena. Alea menarik napas panjang, lalu tertawa pendek dan getir. “Kalian masih ingat, kan? Hari saat pertama kali aku datang? Maka, lakukan juga hal itu saat melepaskan nanti tanpa harus pengakuan didepan umum, agar tidak melukai putri kesayangan kalian.”"Diam, atau kurobek mulutmu," ucap Allea dengan wajah datar, dan suara yang terdengar tegas. Untuk pertama kalinya, ekspresi Serena membeku. Tangannya yang menggenggam lengan Ethan mengendur sepersekian detik, jelas tidak menyangka Allea akan berani berbicara seperti itu di ruang publik.Beberapa pengunjung butik di sekitar mereka spontan menoleh. Suasana yang semula elegan berubah tegang.Ethan mengernyit, ia tidak pernah melihat sisi Allea yang seperti ini. Dan jelas itu membuat egonya sedikit terusik dan harga dirinya tergores.“Kau... Kenapa kau bisa bicara sekasar itu, Allea? Kau benar-benar berubah,” katanya pelan, namun nada suaranya mulai mengeras."Apa urusannya denganmu?""Allea, jangan terus bermain peran didepanku. Jangan karena kemarin aku diam dan Kau dibelakang seseorang yang berpengaruh, kau berani berulah seperti ini. Kau lupa, siapa kau sebenarnya? Apa hanya karena pria lumpuh itu, kau berani bertingkah kasar pada Kakakmu sendiri?"Allea mendengus mendengar nada ren
Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Allea mendatangi salah satu butik yang memiliki brand ternama di Volka, dengan kumpulan brand dari desainer terbaik. "Berikan aku dasi dan juga Jas dari beberapa brand terbaik, dengan rancangan terbaru. Aku mau, semuanya kualitas terbaik," pinta Allea pada salah satu pegawai butik yang langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar permintaan itu. “Tentu, Nona. Apakah ada warna atau potongan yang diinginkan?” tanyanya dengan nada profesional. Allea menggeleng pelan. “Sesuaikan saja. Aku ingin yang paling layak dipakai suamiku, Sean Miller Kingston.” Nama itu membuat beberapa pegawai saling melirik satu sama lain, lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Rak demi rak dibuka, gantungan jas diturunkan dengan hati-hati. Satu per satu pilihan dikeluarkan, dari potongan klasik hingga desain modern dengan detail rapi dan tegas. Allea berdiri dengan sikap tenang, matanya menilai tanpa ragu. Ia memilih jas hitam dengan potongan lurus, bahu tegas, d
Allea melangkah mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Pantulan wajahnya terlihat begitu tenang, nyaris dingin. Namun hanya dia yang tahu, betapa rapuhnya lapisan ketenangan itu. Luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar menyimpannya rapi, jauh di dasar hati. Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia masih bisa bernapas dengan bebas. “Burung dalam sangkar emas,” gumamnya pelan, kali ini keluar sebagai suara. “Setidaknya sangkarnya indah, tanpa membuatku terluka hanya karena ingin merasakan terbang sedikit bebas.” Ia tersenyum miris. Dulu, di rumah Morgan, ia bahkan tidak diberi sangkar. Ia hanya dibiarkan berdiri di luar, menyaksikan bagaimana kasih sayang dibagikan pada orang lain, sementara ia diminta tahu diri hanya karena dilahirkan dari rahim yang sama. Langkahnya terhenti di depan rak gaun. Berderet rapi, mahal, dan indah. Semua yang dulu hanya bisa ia pandangi dari jauh, kini tersedia tanpa syarat. Perhiasan mahal, tas
Allea merasakan hatinya berdenyut nyeri, saat dengan terang-terangan Vanessa mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan pernah sama dengan Serena. Meski notabenenya dia anak kandung, namun posisinya tidaklah sama berharga dengan anak angkat mereka. "tapi Ibu, aku sama sekali tidak mengambil gaun kakak. Aku hanya menerima dari bibi pelayan, dan bilang kalau itu dari ayah," elak Allea, berusaha menyangkal apa yang dituduhkan padanya. Serena dengan wajah yang penuh kesedihan, menyentuh lengan David dengan pelan disertai isakan yang terdengar memilukan. "Ayah... Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuat keributan hanya karena gaun,” ucap Serena terputus, bahunya bergetar. “Aku hanya… aku hanya kaget. Itu gaun yang Ayah janjikan untukku.”"Ini bukan salahmu, Serena. Lagipula, gaun itu memang ayah belikan untukmu. Tidak seharusnya Allea mengambil apa yang bukan menjadi haknya, meski dia anak kandung kami," sahut David tanpa ragu, seolah kalimatnya bukanlah hal yang salah. Namun tanpa
Allea menutup laci nakas itu perlahan. Jemarinya masih terasa hangat, seolah ada sisa sentuhan dari sesuatu yang tak kasat mata tertinggal di sana. Ia berdiri cukup lama di depan tempat tidur, memandangi kotak beludru dan amplop putih yang kini kembali tertata rapi. Dadanya naik turun tidak beraturan, karena sebuah perasaan asing yang perlahan mulai menggantikan perasaan lain yang sudah mengendap lama. “Aku akan menuruti ucapanmu kali ini,” gumam Allea pelan, seolah berbicara pada Sean yang tidak ada di ruangan itu. “Aku akan bersenang-senang. Setidaknya… mencoba.” Ia berbalik menuju menuju walk in closet, dimana ternyata begitu banyak baju untuk ya yang sudah tersusun rapi. "Astaga, Sean. Kau benar-benar melakukan ini untukku?" gumam Allea, menatap deretan pakaian yang begitu indah, elegan dan terlihat sesuai dengan apa yang menjadi ciri khas pakaian kesukaannya."Dia tahu akau sebanyak ini, atau... dia hanya menebak dari kriteriaku?"Ketika nyaris berpikir lebih jauh, Allea seke
Allea mendengus ketika membaca pesan dari seseorang yang sama sekali tidak asing untuk ya. Meski ia mengganti nomor ponsel dengan yang baru, Allea jelas tahu siapa yang tidak suka dengan kebahagiaannya. [Sebegitu tidak bahagianya kah hidupmu, kakak. Sampai-sampai, kau selalu mengganggu kehidupanku yang sudah bahagia]Allea meletakkan ponsel di atas meja, setelah memberikan balasan pada orang yang memang tidak pernah menginginkan kebahagiaannya sejak ia menjejakkan kaki di kediaman Morgan. Dengan santai, Allea kembali menikmati sarapannya tanpa merasa terganggu. Hingga sebuah pesan kembali masuk kedalam ponselnya dan membuat atensinya teralih.[Katakan kalau kau tidak menyukai apa yang aku siapkan hari ini. Jangan memaksa menelan sesuatu yang tidak kau inginkan.]Senyum tipis terbit dibibir Allea. Pesan yag singkat dan sedikit terkesan dingin, namun Allea bisa merasakan kehangatan perhatian didalamnya. Sean... Suaminya itu tengah berusaha menunjukkan sosoknya sebagai suami, meski or







