Share

Bab 2

Penulis: Noona_SV
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-20 09:57:44

Ruang makan seketika mendadak hening, setelah ucapan Alea terasa seperti bom yang baru saja meledak di tengah meja makan keluarga Morgan.

Vanessa membeku. David kehilangan kata-kata atas semuanya.

Sementara Alea berdiri tegak, tubuhnya tampak lelah… namun untuk pertama kalinya, ia tidak goyah seperti sebelumnya.

Secara bergantian, Alea menatap kedua orang yang seakan terpaksa menerimanya, yang seharusnya melindunginya, tapi justru malah membuatnya hancur tak berharga—dengan sorot mata seseorang yang sudah berhenti berharap apa pun dari mereka.

Setelah lama hening, David Morgan akhirnya bersuara.

Suara yang biasanya tegas, kini terdengar goyah, seolah tenggorokannya mengering oleh kenyataan yang baru dijatuhkan Alea.

“Alea… apa maksudmu? Kamu mau memutuskan hubungan dengan keluarga ini? bukankah, kamu sebelumnya meminta kami untuk mempublish status kamu di depan umum secara resmi? Dan bahkan meresmikan nama Morgan di belakang namamu?”

“Untuk apa? Kehadiranku sama sekali bukan hal istimewa. Lagipula aku tahu, dengan dipublisnya aku, maka Serena akan terluka dan semakin membuatnya lemah. Benar kan," sahut Alea disertai dengus kekesalan.

"Kalau memang Ayah ingin aku menikah dengan Sean Miller Kingston untuk menggantikan Serena, yang tidak mau berhubungan dengan orang lumpuh," suara Alea datar. “Maka dengan senang hati aku lakukan. Asal.…”

Ia mencondongkan sedikit tubuhnya.

“Asal syarat yang aku ajukan tadi, kalian kabulkan dalam waktu yang singkat.”

David dan Vanessa seketika terdiam saat mendengar apa yang dikatakan Alea. Sementara Alea, ia menahan senyum getir saat melihat reaksi orang tuanya seketika berubah saat ia mengatakan soal kemungkinan Serena terluka kalau dia di publish. Dan jelas, itu membuat Alea merasa kalau keterkejutan David hanyalah sebuah formalitas.

Masih ia ingat dengan jelas, bagaimana saat pertama kali ia kembali ke rumah itu. Kembali ke rumah orang tua kandungnya, setelah ia terlunta-lunta diluaran bersama seorang pelayan rumah mereka yang bukannya memberikan kasih sayang, malah membuatnya tersiksa dan menderita.

Alea yang baru berusia sebelas tahun saat itu, merasakan pengharapan yang begitu besar, saat tahu kalau ia tertukar. Ia tertukar ketika di rumah sakit entah dengan anak siapa, dan yang ia tahu… orang tuanya sudah mengadopsi Serena.

“Kita memang keluarga kandung. Tapi Serena sudah sejak lama ada bersama kami. Tidak mungkin kami melepaskannya hanya karena kamu kembali.”

Kalimat itu. Kalimat yang sampai sekarang masih membekas seperti duri di tenggorokan Alea.

-

Namun sebelum kalimat itu terucap, sebelum dunia menghantamnya dengan cara paling halus namun menyakitkan, ada satu momen kecil yang dulu membuat Alea—kecil dan naif—sempat berpikir ia dicintai.

Alea mengingat jelas bagaimana Vanessa dulu berlari menghampirinya begitu mengetahui dia adalah anak kandung mereka.

Pelukan hangat.

Samar aroma parfum lembut.

Genggaman yang membuat Alea menangis.

“Alea… sayang… Ibu minta maaf. Kamu pasti takut sekali selama ini…”

Alea kecil terisak, memeluk pinggang Vanessa sekuat mungkin.

Ia merasa… pulang.

Untuk pertama kalinya dalam hidup.

Tapi momen itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena suara kecil memecah hangatnya udara sore itu.

“I-Ibu?”

Serena kecil berdiri di ambang tangga, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar.

Ia tampak seperti anak ketakutan—padahal dari sorot matanya yang tajam, Alea tahu satu hal: Serena tidak suka berbagi apa pun, bahkan kasih sayang.

Begitu mendengar isakan kecil itu, Vanessa langsung melepaskan pelukan Alea.

Benar-benar melepaskan.

Seperti membuang benda panas yang tak sengaja ia sentuh.

Vanessa buru-buru berlari menghampiri Serena.

“Oh, sayang… sini. Sini, Serena… Jangan takut, ini bukan apa-apa…”

Serena langsung menyembunyikan tubuhnya di balik rok ibunya, menangis seperti dikhianati dunia.

“Aku… aku kira Ibu nggak sayang aku lagi…”

Suaranya serak, bergetar.

“Kalau… kalau dia ada di sini… Ibu sama Ayah… masih tetap milik aku, kan…?”

Alea, yang bahkan belum sempat menghapus air matanya, hanya bisa terpaku.

Tidak ada yang memanggilnya.

Tidak ada yang menggandeng tangannya seperti Vanessa menggandeng tangan Serena.

Hanya ada jarak.

Jarak yang tiba-tiba terbentang begitu luas dan tidak terlihat…Tapi nyata.

Bahkan sangat nyata.

David muncul beberapa detik kemudian.

Ia mengusap kepala Serena lembut.

“Tentu saja kamu masih jadi putri kami, Serena. Kamu tidak perlu takut.”

Serena menatap David dengan mata yang berlinang, tubuh yang bergetar ketakutan.

“Tapi kalau Alea tinggal di sini… Ibu Ayah nggak sayang aku lagi… ‘kan? Karena aku bukan… bukan darah kalian… aku juga nggak tahu, siapa orang tua kandungku.”

Alea ingat bagaimana seluruh ruangan membeku. Padahal yang paling seharusnya menangis adalah dirinya, bukan Serena.

Namun yang terjadi?

Vanessa berjongkok, memeluk Serena erat.

“Tidak, sayang. Kamu tetap putri kesayangan kami satu-satunya. Alea… dia juga anak kami. Tapi kamu… kamu sudah bersama kami sejak kecil. Kamu lebih dulu ada di sini. Ibu nggak akan biarkan siapa pun membuat kamu merasa tersingkir. Termasuk Alea.”

Alea mengingat dirinya mengepalkan tangan kecilnya. Saat itu, dia tidak begitu paham dengan kata satu-satunya. Baru setelah sekian lama tinggal bersama dengan keluarga Morgan, Alea tahu kalau kalimat itu tidak pernah berubah hingga ia dewasa.

“Ibu… aku… aku hanya ingin tinggal sama Ibu dan Ayah…” Alea memberanikan diri bersuara. “Kita… kita keluarga kandung kan? Aku…”

David tersenyum kaku. Terlalu kaku untuk seorang ayah yang sudah sejak lama berpisah dari putri kandungnya sendiri.

“Iya, Alea. Tapi kamu harus mengerti satu hal.”

Ia menatap Alea seperti menatap orang luar yang baru datang.

“Serena sudah lama hidup dengan kami. Dia lebih dulu jadi bagian dari keluarga ini. Jangan sampai dia merasa tersisih hanya karena kamu ada disini. Tolong… jangan membuatnya sedih, dan jangan membuat dia merasa bahwa dia dilupakan hanya karena ada kamu. Kebahagiaannya penting untuk kami.”

Serena mengisak pelan, menatap Alea dari balik bahu Vanessa.

Tatapan itu bukan tatapan takut.

Itu tatapan menang.

Sejak saat itu, Alea tahu perannya:

Ia boleh tinggal.

Tapi tidak boleh menuntut apa pun.

Bahkan sejak kalimat itu terlontar dari mulut David dan Vanessa, saat itu pula kehidupannya benar-benar tersisih dan seperti di neraka kedua, setelah rumah keluarga angkatnya.

Kini, Alea kembali ke ruang makan masa kini.

Kenangan itu datang seperti bayangan gelap yang menghancurkan sisa ketenangan yang coba ia pertahankan.

Ia menatap Vanessa dan David yang kini terlihat khawatir, bukan karena takut kehilangan dirinya, tapi karena takut kehilangan keseimbangan semu yang selama ini mereka jaga di sekitar Serena.

Alea menarik napas panjang, lalu tertawa pendek dan getir.

“Kalian masih ingat, kan? Hari saat pertama kali aku datang? Maka, lakukan juga hal itu saat melepaskan nanti tanpa harus pengakuan didepan umum, agar tidak melukai putri kesayangan kalian.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 37

    Sean hanya diam dan menatap tepat ke arah mata Allea, seolah mencari kebenaran dalam setiap kalimat yang wanita dihadapannya itu katakan. Namun, tak hanya kejujuran dan kemantapan hati yang bisa dilihat Sean dari mata Allea. Tapi juga justru kobaran kemarahan, dan luka yang mendalam yang justru terlihat semakin membara. "Sejauh itu mereka menyakitimu, hmmm?" Allea membalas tatapan Sean, napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya terhembus perlahan. Untuk beberapa detik, ia tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih apakah ia akan membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat—atau membiarkannya tetap tertutup. “Lebih dari sekadar menyakiti,” ucapnya akhirnya, mengatakan dengan raut wajah yang bahkan terlalu tenang untuk sebuah pengakuan menyakitkan dan mungkin menimbulkan trauma. “Mereka bukan hanya menyakitiku secara fisik dan hati, bahkan mereka membuatku lupa bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia.” Sean tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya mengeras, rahangnya meneg

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 36

    Rapat akhirnya ditutup dengan ketukan palu kecil di ujung meja. Para direksi berdiri satu per satu, sebagian masih menyimpan raut ragu, sebagian lain memilih bersikap netral. Namun tidak ada lagi bantahan yang berart seperti sebelumnya, sebab keputusan sudah benar-benar di ambil.Ruangan perlahan kosong.Allea membereskan dokumen di hadapannya dengan gerakan teratur, napasnya baru terasa benar-benar kembali normal setelah pintu terakhir tertutup."Maaf, seharusnya ini menjadi sekedar pesta pembukaan dari Ellara's yang disiapkan untukmu, tapi... semuanya harus berakhir seperti ini," ujar Sean, menatap lekat Allea dengan kedua tangan bertumpu di atas paha dan jemari yang saling terjalin didepan dagu."Tidak apa-apa, lagipula.. kalaupun tidak sekarang, ini akan terjadi juga nantinya kan," sahut Allea, menoleh sekilas ke arah Sean dan kembali melanjutkan aktivitasnya.Meski tangannya masih membereskan map, Allea bisa merasakan sedikit canggung sebab ia tahu kalau saat ini Sean masih terus

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 35

    Serena mematikan televisi dengan satu sentakan keras. Ruangan kembali hening, namun kepalanya justru semakin bising. Bayangan wajah Allea yang tersenyum bangga ketika di panggung itu terus berputar, lengkap dengan nama Kingston yang kini sah melekat padanya. Semua pasang mata menatap penuh kagum pada Allea, seakan ia menjadi pusat semesta dan pusat perhatian, yang jika berkedip sekali saja maka semuanya akan lenyap.“Tidak… aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini,” gumam Serena dingin. "Aku sengaja menolak semuanya, meminta Ayah dan ibu menekan Allea untuk menikah dengan Sean, itu semua agar wanita itu menderita. Tapi kenapa dia justru bahagia dan mendapatkan yang tidak bisa aku dapatkan!"Serena berdiri dari sofa dengan langkah perlahan namun penuh tekanan. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam. namun kali ini amarahnya mulai terkendali, bahkan senyum smirk mulai terbit dibibirnya.“Sean Miller Kingston…” gumamnya pelan, seolah mengecap nama itu dengan penuh perhitun

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 34

    Ethan keluar dengan wajah penuh kekesalan. Ia tidak menyangka kalau Allea yang sudha berhari-hari tidak pulang, justru mengaku kalau dirinya seorang istri dari Sean Miller Kingston. Ia tidak pernah tahu, sejak kapan mereka menikah dan menjalin hubungan. Namun satu hal yang pasti dan ia yakini saat ini, kalau Allea hanya memainkan peran dan tidak benar-benar meninggalkannya. Dia hanya kesal karena posisinya digantikan orang lain, dan dia juga kesal karena ditinggalkan ketika masih berada di rumah sakit.Langkah Ethan terhenti tepat di depan pintu kaca besar Ellara’s Diamond. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, rahangnya mengeras. Ia menghembuskan napas kasar, mencoba meredam gejolak yang masih membakar dadanya.“Dia hanya marah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Itu saja.”Di benaknya, Allea bukan perempuan yang berani memutuskan segalanya sendirian. Apapun itu, Allea selalu meminta persetujuan darinya dan selalu melakukan segala hal demi mendapatkan perhat

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 33

    Ethan tersentak sepersekian detik saat mendengar bentakan Sean. Namun diamnya Ethan bukan karena takut pada Sean, melainkan karena ia dibuat terkejut karena ini pertama kalinya ada yang bicara dengan nada penuh intimidasi dihadapannya. Selama ini, semua yang bertemu dengannya selalu bisa menahan amarah dan selalu bertingkah sopan, bahkan mereka terkesan begitu menghormati .. ah bukan, seperti seorang penjilat yang khawatir akan bersinggungan dengannya. Tapi sekarang? ia seakan tersentil, sebab Sean Miller membentaknya dihadapan umum demi membela seorang wanita, yang selama ini di klaim sebagai milik Ethan."Apa hak anda menbentakku, Tuan Kingston? Apa yang aku lakukan pada Allea, itu karena urusan pribadiku dengannya dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali.""Jelas itu ada sangkut pautnya denganku. Dia istriku, dan Kau berani membentaknya bahkan tidak menghargainya. Aku tidak mungkin membiarkan dia ditindas."Ethan terkekeh pelan. Bukan tawa lega, melainkan tawa yang dipaksakan, p

  • MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN KAKAKKU   Bab 31

    Wajah Allea tampak datar, saat melihat Ethan yang justru terkejut dengan sikapnya."Kenapa, Tuan Ethan? Ada yang salah dengan ucapan saya?"Ethan menepis tangan Serena, saat egonya terasa tersentil oleh Allea. Ia tidak pernah melihat perempuan di depannya berakata dengan sarkas padanya. Selama ini, Allea selalu patuh dan menuruti semua perkataannya."Jangan bermain-main denganku, Allea. Kau istriku, dan sudah seharusnya kau patuh. bukan malah mempermalukanku di depan umum seperti ini." Ethan menekan setiap kalimatnya meski dengan nada pelan, mencengkram tangan Allea dengan sedikit kuat."Apa kau tidak membaca surat yang aku berikan tempo hari, Ethan? Kita bukan siapa-siapa lagi,""Jangan berkilah Allea, aku tahu saat ini kau marah karena aku pergi begitu saja. Tapi kau juga tahu bukan, kalau saat itu peliharaan Serena tengah kehabisan napas dan Serena panik. harusnya kau bisa mengerti hal itu.""Lalu, apa hubungannya denganku, Tuan? Mau itu anjing, Serena atau bahkan anjing Serena sek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status