LOGINDelia tak menjawab, tapi dalam sorot matanya ada sesuatu yang berubah—bukan hanya dendam, tapi rasa percaya kecil yang baru tumbuh.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah Mahendra, ia tidak merasa sendirian. Namun ketika mereka keluar dari vila itu, sebuah mobil hitam sudah menunggu di kejauhan. Dari balik kaca gelap, seseorang sedang memotret mereka. Satu pesan dikirim ke ponsel Rendra Mahendra malam itu: “Anakmu dan menantumu menemukan ruang rahasia.” Dan permainan sesungguhnya baru saja dimulai. *** Malam itu, Delia duduk di tepi ranjang dengan kepala penuh gejolak. Ia masih bisa merasakan suara hujan di luar vila, gema argumen mereka, dan wajah Arga yang berubah ketika kebenaran terungkap. “Aku anak Arman Adinegara.” Kalimat itu akhirnya keluar dari bibirnya sendiri dan ia masih sulit percaya sudah mengatakannya. Kini, rahasia terbesar yang ia simpan tak lagi tersembunyi. Namun anehnya, justru setelah semuanya terbuka, beban di dadanya terasa lebih ringan. Yang menakutkan bukan lagi kebohongan, melainkan apa yang akan terjadi setelahnya. *** Pagi datang dengan kabut tipis. Arga sudah menunggunya di taman belakang, mengenakan kemeja biru dan wajah yang lebih dingin dari udara pagi itu. Delia melangkah mendekat perlahan. “Aku tidak tidur semalaman,” kata Arga tanpa menoleh. “Aku membaca semua dokumen itu. Aku pikir aku tahu siapa ayahku, tapi ternyata aku hanya melihat topengnya.” Delia berhenti di sebelahnya. “Sekarang kau tahu kebenarannya.” Arga menatapnya. “Tidak cukup tahu. Aku harus memastikan. Kalau kau benar, berarti selama ini ayahku menipu bukan cuma keluargamu, tapi juga aku.” Delia mengangguk. “Aku punya rencana.” Arga mengangkat alis. “Rencana?” “Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti kuat. Tapi aku punya satu jalan untuk menembus pertahanan Rendra Mahendra.” “Dan itu?” Delia menatapnya dalam. “Sekretaris pribadinya, Dika Pratama. Ayahku sering menyebut nama itu dalam catatan lama. Jika aku bisa membuat Dika bicara, semua akan terbuka.” Arga berpikir sejenak, lalu berkata pelan, “Itu berbahaya. Dika adalah anjing peliharaan Ayah. Sekali kau mendekatinya, Ayah akan tahu.” Delia tersenyum samar. “Maka aku akan melakukannya dengan caraku.” *** Siang itu, Delia menemui Dika di kantor pusat MA Group, berpura-pura ingin membantu mengurus kegiatan sosial perusahaan. Dika, pria berusia empat puluhan dengan senyum rapi tapi mata yang licik, menyambutnya dengan sopan berlebihan. “Ah, Nyonya Mahendra. Kehormatan besar bagi saya.” Delia menatapnya dingin. “Saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan suami saya. Tentu Anda bisa membantu?” “Oh, tentu saja,” jawab Dika cepat. “Tuan Arga lebih fokus di proyek ekspansi baru. Tapi semua catatan lama masih di bawah pengawasan Tuan Rendra.” Delia tersenyum tipis. “Saya dengar ada proyek lama yang gagal tahun 2008. Saya penasaran kenapa nama ayah saya—Arman Adinegara—tidak pernah disebut dalam laporan publik.” Dika menegang sesaat, lalu tertawa kering. “Oh, itu hanya kesalahpahaman lama, Nyonya. Semua sudah diselesaikan secara internal.” “Internal?” Delia mencondongkan tubuh. “Maksud Anda… ditutup?” Tatapan Dika berubah tajam. “Sebaiknya Nyonya tidak ikut mencampuri urusan masa lalu. Beberapa hal lebih baik dibiarkan terkubur.” Delia tersenyum dingin. “Kuburan pun bisa digali kembali, Pak Dika.” Ia berdiri, meninggalkan ruangan itu dengan langkah mantap. Tapi begitu pintu tertutup, Dika mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. “Pak, istri Tuan Arga baru saja datang menanyakan proyek lama.” Suara di seberang tegas dan dalam. “Jaga jarak darinya. Tapi jangan lepaskan pandangan.” “Baik, Pak Rendra.” *** Sore itu, Arga sudah menunggunya di mobil. “Bagaimana?” Delia menatap keluar jendela. “Dia takut. Itu artinya aku di jalur yang benar.” Arga menghela napas. “Dan sekarang Ayahku pasti tahu.” Delia tersenyum tipis. “Bagus. Biar dia tahu. Kadang untuk membongkar monster, kau harus membuatnya keluar dari sarangnya.” Arga menatapnya lama, setengah kagum setengah khawatir. “Kau tidak seperti perempuan mana pun yang pernah kutemui.” Delia menoleh. “Karena aku tidak datang untuk mencintai, Arga. Aku datang untuk menang.” Namun di balik kata-kata itu, sesuatu di mata mereka berubah—bukan cinta, tapi pengakuan. Mereka tahu, sejak malam di vila itu, tak ada jalan kembali. *** Malam harinya, Delia menemukan amplop di bawah pintu kamarnya. Tidak ada nama, hanya satu kalimat di depan: “Kau terlalu mirip ayahmu.” Ia membukanya. Di dalam, ada foto dirinya saat memasuki vila Mahendra bersama Arga, foto yang diambil dari kejauhan. Delia menatapnya lama, lalu menggenggamnya kuat. Seseorang mengawasi mereka. Ia segera menemui Arga di ruang kerja. “Kita diawasi.” Arga membaca foto itu, rahangnya mengeras. “Ayah mulai bergerak cepat.” “Kita harus selangkah lebih cepat darinya,” kata Delia tegas. “Aku akan kembali ke vila itu malam ini. Masih ada dokumen yang belum sempat kuambil.” Arga menatapnya tajam. “Tidak. Aku ikut.” “Tidak perlu.” “Aku bilang aku ikut!” suaranya meninggi. “Kalau sesuatu terjadi padamu, Ayah akan menghancurkanmu dan aku tidak akan diam.” Delia menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. “Kita pergi malam ini.” *** Vila Mahendra kembali sunyi saat mereka tiba. Bulan separuh menggantung di langit. Delia memegang senter, sementara Arga membuka jalan di depan. Mereka kembali ke ruang arsip, mencari dokumen lain. Tapi kali ini, di meja yang dulu bersih, ada satu amplop baru. Arga membuka pelan. Di dalamnya: foto Arman Adinegara—ayah Delia dan ibunya sendiri, sedang berbicara dengan Rendra Mahendra. “Ini… apa maksudnya?” bisik Arga. Delia menatap foto itu. “Ibuku? Tidak… ini tidak mungkin.” Di belakang foto, ada tulisan tangan: “Kebenaran tidak sesederhana hitam dan putih.” Arga memukul meja. “Ayahku! Dia memainkan kita berdua!” Delia mundur setapak, merasa sesak. Dunia yang ia yakini mulai retak. Apakah mungkin… ibunya juga terlibat? Arga menghampirinya, memegang bahunya. “Jangan biarkan dia memecah kita. Itu yang dia mau.” Delia menatapnya. “Kau bilang ‘kita’?” Arga menatap balik. “Ya. Kau dan aku. Sekarang kita sudah terlalu dalam untuk mundur.” Dalam diam, sesuatu tumbuh di antara mereka. Sebuah persekutuan, dan mungkin, sedikit rasa yang mereka berdua tak mau akui. *** Beberapa jam kemudian, mereka kembali ke rumah dengan selamat. Tapi malam belum selesai. Rendra Mahendra sudah menunggu di ruang tamu, duduk di kursi besar dengan tatapan seperti singa yang baru mencium darah. “Sudah larut malam untuk jalan berdua,” katanya dingin. Delia menegakkan tubuh, berusaha tenang. “Kami hanya...” “Berhenti berbohong.” Rendra berdiri. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di vila itu?” Arga maju setengah langkah. “Ayah, dengarkan dulu...” “Diam!” bentak Rendra. “Kau pikir kau bisa melindunginya? Gadis itu menipumu, Arga! Dia datang bukan untuk mencintaimu, tapi menghancurkan kita!” Delia menatap Rendra dengan mata membara. “Kalau kau tahu siapa aku, berarti kau juga tahu kenapa aku di sini.” Rendra mendekat, wajahnya gelap dan menakutkan. “Kau anak Arman Adinegara. Lelaki yang mengkhianatiku.” Delia tidak mundur. “Tidak. Kaulah yang menghancurkan hidupnya.” Tamparan keras mendarat di pipinya, tapi Delia tidak menunduk. Ia menatap balik dengan tatapan yang tak goyah sedikit pun. Arga memegang lengan ayahnya, menahan. “Cukup!” Rendra menatap anaknya dengan kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. “Kalau kau berpihak padanya, Arga, jangan harap masih jadi anakku.” Sunyi. Arga melepaskan genggaman itu pelan, tapi suaranya tenang. “Kalau menjadi anakmu berarti harus menutup mata pada kebenaran, maka aku memilih tidak menjadi siapa pun.” Rendra menatap keduanya lama, lalu berkata dengan suara dingin yang mematikan, “Kalau begitu, bersiaplah. Kalian berdua baru saja memulai perang.” --- Malam itu, Delia berdiri di balkon kamar, pipinya masih terasa perih. Arga datang membawa kompres es, menatapnya tanpa kata. Delia menatap ke arah taman, bibirnya bergetar tapi matanya tegas. “Permainan sudah dimulai, Arga. Dan kali ini… aku tidak akan kalah.” Arga meletakkan tangannya di bahunya. “Kita berdua tidak akan kalah.” Dan di kejauhan, lampu rumah Mahendra perlahan padam, menandai dimulainya perang dingin antara darah dan kebenaran.Mobil berhenti mendadak di sudut gang sempit sebelum unit 805. Arga mematikan mesin tanpa suara. Lampu kota memantul samar di kaca spion, menampakkan bayangan gedung yang terlalu sunyi untuk jam segini. “Ini terlalu tenang,” bisik Delia. Arga mengangguk. “Biasanya tanda terburuk.” Mereka turun cepat. Arga memberi isyarat agar Delia berjalan di belakangnya. Pintu unit 805 terbuka sedikit, seperti sengaja dibiarkan begitu. Bau debu dan cat lama langsung menyergap hidung. “S di dalam?” tanya Delia pelan. Belum sempat Arga menjawab, pintu tertutup sendiri di belakang mereka. Klik. Lampu menyala. Seorang pria berdiri di tengah ruangan, tinggi, bahunya tegap, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. “Kalian lama,” katanya. Arga refleks berdiri di depan Delia. “Kau S?”
Mobil melaju tanpa lampu utama, hanya mengandalkan cahaya kota yang redup. Arga menyetir dengan rahang mengeras, sesekali melirik spion. Sejak keluar dari gedung apartemen terakhir, ia merasa mereka tidak benar-benar sendirian. Delia duduk diam di kursi penumpang, map cokelat berisi dokumen The Chairman ia peluk seperti benda hidup. Tangannya dingin. “Kita ke mana?” tanyanya akhirnya. “Safe house,” jawab Arga singkat. “Bukan milik Ayah. Bahkan bukan milikku.” Delia menoleh. “Lalu milik siapa?” “Seseorang yang pernah hampir mati karena Rendra.” Mobil berbelok tajam memasuki kawasan industri lama. Gudang-gudang kosong berjajar seperti bangkai raksasa. Tidak ada kamera aktif. Tidak ada penjaga. Arga menghentikan mobil di depan bangunan beton satu lantai tanpa papan nama. “Masuk cepat,” katanya. Mereka turun. Begitu pintu besi ditutup, suara luar menghil
Mobil berhenti mendadak di bawah jembatan layang yang setengah gelap. Mesin dimatikan. Hanya suara air menetes dari beton tua dan dengung kota yang jauh.Arga turun lebih dulu, menatap sekitar dengan waspada. “S bilang aman. Tapi kita tidak lama di sini.”Delia ikut turun, tas berisi map digenggam erat. “Tempat transit?”“Ya. Dari sini kita pecah arah.”Delia mengernyit. “Pecah?”Arga menoleh. “Kalau kita terus bersama, mereka akan lebih mudah melacak. The Chairman main di banyak lapisan. Kita harus bikin dia kehilangan ritme.”Delia menatapnya lama. “Kau mau kita berpisah?”“Untuk sementara,” jawab Arga pelan. “Aku tidak suka ini, tapi ini satu-satunya cara.”Delia ingin menolak, tapi pikirannya bekerja cepat. Mereka sudah terlalu dalam. Emosi tidak bisa lagi jadi kemudi.“Aku ke mana?” tanyanya akhirnya.Arga mengeluarkan ponsel lain, ponsel lama tanpa data pribadi. “Ke Surabaya. Ada satu nam
Pintu unit 805 terbuka sebelum Arga sempat mengetuk. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di ambang pintu, tubuhnya tinggi, rambutnya dipotong rapi, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering berada di situasi genting.“Masuk,” katanya singkat.Tidak ada basa-basi.Arga menarik Delia masuk lebih dulu. Begitu pintu tertutup, pria itu langsung mengunci, lalu mematikan semua lampu kecuali satu lampu kecil di dapur.“Nama saya Surya,” katanya. “Kalian bisa panggil S.”Delia menatap sekeliling. Unit itu tampak kosong, tapi terlalu rapi untuk sekadar apartemen tak terpakai. Ada tas medis, senjata kecil di laci terbuka, dan laptop yang masih menyala.“Kau kerja untuk siapa?” tanya Delia tanpa tedeng aling.Surya tersenyum tipis. “Dulu, untuk ayah Arga. Sekarang… untuk siapa pun yang belum mau mati.”Arga menghela napas pendek. “Ayah percaya padamu.”“Itu sebabnya aku masih hidup,
Koridor lantai delapan sunyi seperti sedang menahan napas ketika Arga dan Delia keluar dari unit kosong itu. Lampu-lampu putih di langit-langit berkedip pelan, seolah memberi peringatan yang tidak diucapkan. Delia menggenggam map lusuh itu erat di dada, sementara Arga berjalan setengah langkah di depan, siap menghadang apa pun.“Unit 805 di sebelah kiri,” bisik Arga.Delia mengangguk. “Kau yakin orang ini bisa dipercaya?”“Dia pernah selamat dari permainan The Chairman,” jawab Arga tanpa menoleh. “Itu sudah cukup.”Mereka melangkah dengan cepat namun diam. Setiap pintu yang mereka lewati terasa seperti mata yang mengawasi. Di ujung koridor, lift berbunyi pelan—terlalu pelan, terlalu tepat waktunya.Delia meremas lengan Arga. “Ada yang naik.”Arga mengangguk kecil. “Kita harus lebih cepat.”Mereka hampir sampai di unit 805 ketika suara langkah itu keluar dari lift. Dua orang. Berat. Terlatih. Delia tidak perlu melihat unt
Delia menutup pintu apartemen sekuat tenaga begitu mereka masuk. Nafasnya masih kacau. Suara tembakan di gudang tadi masih terngiang di telinganya, menggema seperti dentuman yang tidak mau hilang.Arga menahan pintu sambil memastikan kuncinya terpasang. “Kita cuma punya sedikit waktu sebelum mereka tahu kita selamat.”Delia menjatuhkan tas berisi berkas yang berhasil mereka rebut dari bawah meja Pradipta. “Aku tahu. Tapi setidaknya kita dapat sesuatu.”Arga menoleh cepat. “Delia… hampir saja kau kena tembak. Kita tak bisa terus begini.”“Kalau kita berhenti sekarang,” jawab Delia, berdiri tegak, “ayahku benar-benar mati sia-sia.”Arga ingin membalas, tapi ketukan keras di dinding samping membuat mereka berdua terdiam.Bukan pintu. Dinding.Seperti seseorang sedang memberi tanda.Arga mengisyaratkan Delia untuk diam. Ia berjalan pelan, menempelkan telinga ke dinding.“Tiga ketukan,” bisiknya. “Itu kode d







