Home / Rumah Tangga / MENANTU TANPA RESTU / Antara Bahagia Dan Luka

Share

Antara Bahagia Dan Luka

Author: BundaBee
last update Last Updated: 2026-01-02 09:33:02

Pagi itu, udara masih lembab setelah hujan malam. Nadin datang ke puskesmas lebih awal, seperti biasa. Ia menyapu ruang periksa, merapikan berkas, lalu menyiapkan alat untuk pasien.

Tiba-tiba saat tengah sibuk dengan pekerjaan nya, kepala puskesmas memanggilnya ke ruangan. Wajah Pak Hendra terlihat serius tapi ada senyum tipis di bibirnya.

"Nadin, saya punya kabar baik," ucap pak Hendra, sebuah senyuman semakin lebar tergambar di wajah teduhnya.

Nadin menelan ludah, jantungnya berdegup ken
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENANTU TANPA RESTU   Rasa Bersalah

    Keesokan paginya, saat bertemu Nadin di dapur, Bu Rahayu hanya berdiri terpaku beberapa detik. Nadin menunduk, berusaha menyembunyikan sembab matanya, lalu melanjutkan mengiris bawang. Bu Rahayu ingin membuka mulut, mengatakan sesuatu, apa saja. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar justru hanya kalimat dingin"Kalau nggak kuat tinggal di sini, nggak usah dipaksakan." Nadin menoleh, senyum terpaksa pun akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya."aku tidak pernah merasa tidak kuat bu, rumah ini rumah suamiku yang artinya rumah ku juga. aku nyaman disini bu." ucapnya, ya walaupun sedikit berbohong.pada kenyataan nya rumah ini tidak nyaman untuk Nadin, namun dia tidak punya pilihan lain. kembali pindah dan mencari kontrakan hanya akan membuang waktu saja, pada akhirnya mereka harus kembali ke rumah tersebut karena Rama anak satu satunya bu Rahayu."Huh,,," Bu Rahayu mendengus sebal. Namun begitu masuk ke kamarnya lagi, Bu Rahayu menepuk dahinya sendiri. Kenapa mulut ini selalu bicara keba

  • MENANTU TANPA RESTU   Batas Kesabaran

    Suasana rumah mendadak panas. Nadin menahan tangisnya. Ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi kakinya seakan terpaku. Rasanya hampa, seperti terjebak di antara dua sisi ingin tetap sabar demi suami, tapi juga lelah diperlakukan seolah selalu salah. Malam itu, rumah yang biasanya riuh dengan suara keluarga mendadak hening. Tegangan di antara tiga orang itu menggantung, tak ada yang mau mengalah. Malam itu, setelah makan malam yang hambar, Bu Rahayu masih duduk di ruang tengah. Wajahnya masam, matanya tajam ke arah Nadin yang sedang membereskan piring. Rama mencoba mengalihkan suasana dengan menyalakan televisi, tapi jelas tidak berhasil. "Nad," suara Bu Rahayu akhirnya pecah, dingin, "sebenarnya kamu itu mau apa sih? Jadi istri Rama, atau jadi orang besar yang dikejar-kejar pejabat?" Sendok di tangan Nadin hampir jatuh. Ia menoleh, wajahnya pucat. "Bu, saya nggak pernah-" "Tolong jangan banyak alasan!" potong Bu Rahayu keras. "Dari dulu saya nggak pernah percaya sama perempu

  • MENANTU TANPA RESTU   Gosip yang Membara

    Pagi itu, udara desa masih lembap. Embun menempel di dedaunan, ayam-ayam berkokok bersahutan, dan suara ibu-ibu terdengar riuh di warung Bu Minah. Warung kecil di pinggir jalan itu memang jadi pusat segala macam kabar-dari harga cabai sampai urusan rumah tangga orang. "Eh, sudah dengar belum? Istrinya Rama pulang dari kota dapat piagam." "Piagam apa? Piagam lomba masak?" "Bukan. Katanya penghargaan dari dinas kesehatan. Peserta terbaik, gitu." "Lha, kok bisa? Baru juga kerja di puskesmas, sudah hebat. Jangan-jangan ada orang dalam." Tawa kecil terdengar. Satu orang menyahut dengan nada lebih rendah, seakan membisikkan rahasia besar. "Kabarnya, Nadin dekat sama pejabat waktu pelatihan. Makanya dapat penghargaan." "Ya Allah, jangan-jangan bener? Kasihan Rama kalau begitu." Bisik-bisik itu makin lama makin keras. Semakin jauh cerita berpindah dari mulut ke mulut, semakin banyak bumbu ditambahkan. Yang awalnya hanya gosip soal "ada orang dalam" berubah menjadi tudingan ya

  • MENANTU TANPA RESTU   Sampai kapan?

    Hari-hari pelatihan berjalan padat. Nadin belajar banyak hal baru teknik persalinan modern, penanganan gawat darurat, sampai manajemen program kesehatan desa. Ia kagum dengan bidan lain dari berbagai daerah. Namun setiap malam, ia selalu menyempatkan menelepon Rama. "Ram, aku capek banget hari ini, tapi aku senang bisa belajar banyak," suaranya riang di telepon. "Bagus, Nad. Aku bangga sama kamu, kamu pasti bakalan jadi bidan yang hebat setelah ini. selamat ya," jawab Rama lembut. "Terimakasih Ram, doain aku terus ya." "tentu saja aku bakalan doain terus Nad, aku akan selalu jadi orang nomor satu yang selalu mendoakan kamu." ucap Rama, walaupun sejujurnya saat ini Rama mulai merindukan istrinya itu. Tapi, di rumah, gosip semakin ramai. Beberapa tetangga mendatangi Bu rahayu. "Bu, katanya Nadin satu hotel sama bidan-bidan lain? Hati-hati lho, jauh dari suami..." "Eh, kalau perempuan pergi jauh, biasanya macam-macam, Bu." Bu Rahayu menahan wajahnya tetap tegar, tapi dalam

  • MENANTU TANPA RESTU   Gengsi Yang Melukai

    Pagi itu, Nadin berangkat lebih awal ke puskesmas. Sejak statusnya berubah menjadi pegawai kontrak daerah, tanggung jawabnya makin besar. Ia ditunjuk sebagai koordinator program kesehatan ibu dan anak di wilayahnya. Sebuah langkah penting, yang sekaligus menuntut lebih banyak tenaga dan pikiran. Di sisi lain, Bu Rahayu sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat. Meski tubuhnya lemah, suaranya masih sering tajam. Suatu sore, ketika Nadin pulang kerja dengan seragam rapi, Bu Rahayu menatapnya lama. "Kamu kerja terus, kapan punya anak?" suaranya dingin, tapi menusuk. Nadin tercekat. Pertanyaan itu kembali menghantam luka lamanya. pernikahan nya baru berjalan satu tahun, Nadin dan Rama masih belum juga dikaruniai buah hati. Nadin berusaha tersenyum. "Insya Allah, Bu... kalau Allah kasih rezeki, pasti ada waktunya." Namun Bu Rahayu mendengus, seolah tidak puas dengan jawaban itu. "Ibu cuma takut, kamu sibuk ngejar karier sampai lupa kewajiban. Perempuan itu kodratnya ngurus

  • MENANTU TANPA RESTU   Sebuah Harapan Damai

    Di malam pertama setelah pulang, Rama menemani ibunya di kamar. sementara Nadin duduk di kursi ruang tamu, menunggu sambil menahan kantuk. Ketika Rama keluar, ia mendekat. "Gimana, Ram? Ibu sudah tidur?" Rama mengangguk. "Iya, Nad. Dia masih keras kepala, tapi aku lihat tadi dia nggak menolak waktu kamu bantuin tadi siang. Itu langkah kecil, kan?" Nadin tersenyum tipis. "Iya... meski rasanya masih jauh." ucap Nadin dengan helaan napas berat nya.meskipun sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, bahkan diam saat di rendahkan namun nyata nya hati bu Rahayu belum sepenuh nya terbuka.untuk terus menjaga dan merawat sang mertua selama proses pemulihan, Rama dan Nadin memutuskan untuk tingal dirumah itu lagi sampai bu rahayu benar benar pulih. Beberapa hari kemudian, Bu Rahayu duduk di teras rumah, menatap halaman. Nadin keluar membawa teh hangat. "Bu, ini teh. Biar badan lebih hangat." Bu Rahayu awalnya tidak merespons. Namun saat Nadin hendak kembali, suaranya terdengar pelan. "T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status