Share

BAB 3

Author: Lotus putih
last update Last Updated: 2024-10-13 14:54:36

Mei Yan mengangguk, berusaha menyembunyikan kecemasannya. “Ya, aku dengar banyak tentang dia. Sepertinya dia memiliki banyak penggemar.”

Adik perempuan Duke Zhao tersenyum, tidak menyadari ketegangan dalam suara Mei Yan. “Dia adalah sosok yang menarik, tidak diragukan lagi. Tetapi jangan khawatir, Mei Yan. Yang terpenting adalah kita menikmati malam ini.”

Mei Yan berusaha tersenyum, tetapi pikirannya terus melayang kepada Tuan Muda Xu. Saat mereka berjalan menyusuri taman, suara pertunjukan tari mulai menggema. Penari-penari berbusana indah muncul di atas panggung, memikat perhatian semua orang. Mei Yan merasa terjebak di antara keindahan pertunjukan dan ketidakpastian yang menggelayuti hatinya.

Ketika pertunjukan berlangsung, Mei Yan mencuri pandang ke arah Tuan Muda Xu, yang kini tampak berbincang akrab dengan beberapa pejabat. Senyumnya tampak begitu cerah, dan tawanya menggema di antara kerumunan, membuatnya tampak sangat disukai. Sementara itu, Duke Zhao asyik berbicara dengan beberapa bangsawan lainnya, memberikan Mei Yan kesempatan untuk merenung.

“Jika hanya ada cara untuk mendekatinya tanpa terlihat mencolok,” pikirnya. Ia tahu bahwa inilah saatnya untuk mengungkap lebih banyak tentang siapa Tuan Muda Xu sebenarnya. Keceriaan di sekitarnya semakin menggoda, tetapi ada rasa cemas yang menggelora di dalam hati Mei Yan.

Setelah pertunjukan selesai, orang-orang mulai beranjak untuk menjelajahi area festival. Mei Yan mengambil napas dalam-dalam dan mengucapkan selamat tinggal kepada Duke, yang tampaknya terlibat dalam percakapan panjang. Dengan hati-hati, ia melangkah menjauh, menyelinap ke kerumunan untuk mendekati Tuan Muda Xu.

Ketika ia mendekat, Mei Yan merasakan ketegangan dalam tubuhnya. Ia berusaha mengingat semua yang telah ia dengar tentang pria ini—kebaikannya, kecerdasannya, dan bagaimana dia berhasil menarik perhatian semua orang. Dengan satu gerakan, ia merapikan gaunnya dan melangkah lebih dekat.

“Tuan Muda Xu,” sapa Mei Yan dengan suara lembut, berusaha terdengar santai. “Selamat malam.”

Tuan Muda Xu menoleh, terkejut sekaligus senang saat melihatnya. “Duchess Mei Yan! Senang sekali melihatmu di sini. Bagaimana kabarmu?” tanyanya, dengan senyum yang tampak tulus.

“Aku baik-baik saja, terima kasih,” jawab Mei Yan, meskipun hatinya berdebar kencang. “Aku tidak sabar melihat semua pertunjukan yang telah disiapkan untuk malam ini.”

“Festival ini selalu menjadi waktu yang menyenangkan. Aku harap kau menikmatinya,” jawab Tuan Muda Xu, tatapannya menilai. “Kau terlihat sangat cantik malam ini. Apakah kau tidak ingin ikut menari bersama kami?”

Menari? Mei Yan merasa terjebak antara harapan dan ketidakpastian. Ia tahu ini adalah kesempatan baik untuk lebih mengenal Tuan Muda Xu. “Tentu saja,” ucapnya, berusaha menunjukkan antusiasme.

Mereka berdua bergabung dengan kerumunan, dan Mei Yan merasakan aliran musik yang mengisi udara. Tuan Muda Xu mengambil tangannya dan membawanya ke tengah, di mana para penari lainnya telah berkumpul. Suasana semakin hangat, dan semangat yang menular membuat Mei Yan melupakan sejenak semua beban di hatinya.

Selama mereka menari, Mei Yan berusaha mencuri perhatian Tuan Muda Xu. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang siapa dia dan apa yang sebenarnya dia inginkan. Sambil menari, Tuan Muda Xu tampak semakin nyaman, dan tawanya mengalun lembut di telinga Mei Yan.

Namun, saat mereka berputar dan melangkah maju, pandangan Mei Yan tertangkap oleh sosok yang tidak asing. Pria berpakaian gelap yang tadi ia lihat di sudut taman kini mendekat, matanya seakan menyoroti kehadiran Mei Yan. Jantungnya berdegup kencang, dan seolah-olah baru saja tertangkap basah telah melakukan kesalahan besar.

Mei Yan merasakan ketegangan merayap di sekujur tubuhnya. Sosok pria berpakaian gelap itu semakin mendekat, dan setiap langkahnya membuat jantung Mei Yan berdetak lebih cepat. Dia berusaha untuk tetap tenang, tetapi tidak bisa menghindari rasa cemas yang menggelayut di hatinya.

“Siapa dia?” pikirnya, berusaha mengingat kembali wajahnya saat pertama kali melihatnya di sudut taman. Waktu itu, pria itu tampak hanya sebagai sosok bayangan, namun sekarang kehadirannya terasa lebih nyata, lebih mendominasi. Dia berusaha mengalihkan pandangannya, namun mata mereka bertemu, dan rasanya seperti disambar petir.

Dengan cepat, Mei Yan berbalik dan berusaha mencari celah untuk pergi. Namun, kakinya terasa berat, seolah ada beban yang menahannya di tempat. Dia tahu, pria itu tidak ada di sana hanya untuk memperhatikan. Ada sesuatu yang lebih dalam dari tatapan itu, sesuatu yang bisa membuatnya merasa terancam.

“Mei Yan!” suara sahabatnya, Lian, memanggilnya. Lian yang berada di sampingnya seolah merasakan kegelisahan Mei Yan. “Ada apa? Kau terlihat pucat.”

“Tidak… tidak apa-apa,” jawab Mei Yan, meski suaranya terdengar ragu. Dia berusaha tersenyum, tetapi Lian tidak bisa ditipu. Lian mengikuti arah pandangnya dan langsung melihat sosok pria itu.

“Siapa dia?” tanya Lian, suaranya menurun menjadi bisikan.

“Entahlah. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya,” Mei Yan menjawab, mencoba terdengar tenang meskipun jantungnya masih berdegup kencang.

Pria itu semakin mendekat, dan Mei Yan merasakan ketidaknyamanan yang semakin mendalam. Mungkin dia hanya salah paham. Mungkin pria itu tidak ada hubungannya dengannya. Tetapi Mei Yan selalu bisa merasakan ketika ada sesuatu yang tidak beres. Dia mulai melangkah mundur, mencoba menjauh dari sorotan mata pria itu.

Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara pria itu memanggil namanya. “Mei Yan.”

Nama itu meluncur dari bibirnya dengan nada rendah, seolah menyimpan rahasia di dalamnya. Mei Yan menatap pria itu dengan penuh waspada, matanya berusaha meneliti setiap detail. Sekilas, ia melihat ekspresi di wajahnya—ada ketegangan, tetapi juga ada sesuatu yang lebih dalam, sebuah kerinduan? Dia menggelengkan kepalanya, tidak ingin berasumsi lebih jauh.

“Mei Yan, bisa kita bicara sebentar?” Pria itu berusaha mendekat, tetapi langkahnya terhenti ketika Lian melangkah maju, berdiri di depan Mei Yan dengan sikap melindungi.

“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?” tanya Lian, suaranya tegas.

Pria itu menghela napas panjang, seolah menimbang kata-katanya. “Aku… hanya ingin menjelaskan.”

“Menjelaskan? Menjelaskan apa? Kenapa kau mengawasi Mei Yan?” Lian menuntut, matanya tajam menyoroti sosok pria itu.

Mei Yan merasa terjebak di antara dua orang yang sangat berbeda. Di satu sisi ada Lian, sahabatnya yang selalu siap melindungi, dan di sisi lain ada pria yang menarik perhatian dan rasa ingin tahunya. Dia ingin mendengarkan, tetapi juga ingin melindungi dirinya sendiri.

“Lian, tunggu,” katanya, suaranya lemah. “Aku ingin mendengar apa yang dia katakan.”

“Tidak, Mei Yan. Ini tidak aman. Kita tidak tahu siapa dia,” Lian menolak, tetapi Mei Yan bisa melihat keraguan di mata sahabatnya.

“Dia hanya ingin bicara. Mungkin ada penjelasan. Mari kita dengar dulu.”

Lian terdiam, tetapi tetap tidak yakin. Dia mengamati pria itu dengan mata memicing, seolah siap untuk melindungi Mei Yan jika terjadi sesuatu. Mei Yan merasa sedikit lebih tenang ketika Lian tetap berada di sisinya, siap sedia jika dia membutuhkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENAWAR TAKDIR    bab 55

    Pagi yang SepiCahaya matahari perlahan menyusup melalui celah jendela, menerangi kamar sederhana tempat Mey Yan beristirahat. Namun, matanya sudah terbuka sejak lama. Semalaman ia tidak tidur nyenyak, pikirannya terus dipenuhi oleh kejadian tadi malam.Ia mendengar langkah kaki pelan di luar kamarnya, mungkin seorang prajurit yang sedang bertugas. Tidak lama kemudian, suara Xiao Yu terdengar, membangunkannya dengan lembut.“Nyonya, apakah ingin sarapan sekarang?”Mey Yan menghela napas. “Tidak perlu, Xiao Yu. Aku tidak lapar.”Xiao Yu menatapnya khawatir. “Tapi Nyonya harus tetap makan. Hari ini cuaca cukup dingin.”Mey Yan tersenyum tipis. “Nanti saja.”Xiao Yu masih tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk dan meninggalkan kamar. Setelah Xiao Yu pergi, Mey Yan duduk di tepi tempat tidur, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.Ia merasa lelah.Bukan hanya fisiknya, tetapi juga hatinya.Ia mengira bahwa dengan datang ke perkemahan, semuanya akan menjadi lebih jelas. Bahwa ia a

  • MENAWAR TAKDIR    bab 54

    Mey Yan tetap diam dalam pelukan Zhao. Hatinya masih dipenuhi perasaan yang bercampur aduk, tetapi setidaknya, kata-kata suaminya tadi memberinya sedikit kelegaan.“Jadi…” Zhao bersuara setelah beberapa saat, tangannya perlahan melepas pelukannya meski masih menggenggam bahu Mey Yan. “Apa kau akan tetap di sini malam ini, atau hanya ingin memastikan aku baik-baik saja lalu pergi?”Mey Yan menatapnya ragu. Keputusan awalnya memang hanya untuk datang, melihat dengan mata kepala sendiri, lalu pulang. Tapi sekarang setelah berada di sini… ia tidak yakin bisa pergi begitu saja.“Aku…”“Jika kau mau tinggal, aku akan meminta seseorang menyiapkan tempat untukmu,” potong Zhao, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.Mey Yan menggigit bibirnya. Ada kehangatan dalam nada suara Zhao, sesuatu yang jarang ia tunjukkan dengan jelas.“Baiklah,” jawabnya akhirnya. “Aku akan tinggal malam ini.”Senyum kecil muncul di wajah Zhao sebelum ia mengangguk dan melangkah keluar, memanggil seorang praju

  • MENAWAR TAKDIR    bab 53

    Perjalanan ke PerkemahanMey Yan duduk di dalam tandu, matanya menatap tirai yang sedikit terbuka, memperlihatkan jalan tanah yang semakin jauh dari kediaman keluarganya. Perjalanan ke perkemahan tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.Ia sudah memutuskan untuk datang, tetapi pertanyaan dalam benaknya belum juga mereda.Bagaimana jika ternyata kekhawatirannya benar? Bagaimana jika Zhao dan Lady Lin memang memiliki sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan sekadar kata-kata?Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha menahan kegelisahan.Di sebelahnya, Xiao Yu sesekali melirik tuannya dengan cemas. “Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?”Mey Yan tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.”Xiao Yu menunduk, tetapi tetap terlihat khawatir. “Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan di sana… kita bisa kembali kapan saja.”Mey Yan mengangguk, tetapi hatinya tahu bahwa ia tidak akan kembali tanpa mendapatkan jawaban.---Di Gerbang Perkemahan

  • MENAWAR TAKDIR    bab 52

    Pagi itu, saat mentari baru saja muncul di ufuk timur, Mey Yan sudah bersiap. Ia mengenakan pakaian yang lebih sederhana daripada biasanya, namun tetap menunjukkan statusnya sebagai seorang nyonya. Rambutnya disanggul rapi, hanya dihiasi sebuah jepit giok sederhana.Di halaman depan, sebuah tandu telah disiapkan, didampingi oleh beberapa pengawal keluarga Mey. Ia tidak bisa pergi sendirian, tentu saja, tetapi kali ini ia memilih untuk membawa sedikit orang agar tidak terlalu menarik perhatian.Ibunya berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan penuh kasih. “Hati-hati di perjalanan, Mey Yan. Ingatlah, apapun yang kau temukan di sana, jangan biarkan emosi menguasai dirimu.”Mey Yan mengangguk. “Aku mengerti, Ibu.”Dengan langkah mantap, ia naik ke dalam tandu. Perjalanan ke perkemahan memakan waktu beberapa jam, dan sepanjang jalan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah Zhao benar-benar berkata jujur? Ataukah ia hanya mencoba menenangkannya?Saat tandu mulai mendekati per

  • MENAWAR TAKDIR    bab 51

    Sepanjang perjalanan kembali ke kediaman mereka, Mey Yan duduk diam di dalam tandu. Hatinya masih gelisah, bukan hanya karena pertemuan tadi, tapi juga karena tatapan Lady Lin yang seakan menyimpan sesuatu.Di sampingnya, Zhao juga tidak banyak bicara. Tangannya menggenggam tangan Mey Yan, memberikan kehangatan, tetapi pikirannya jelas masih dipenuhi banyak hal."Kamu marah?" suara Zhao akhirnya memecah keheningan.Mey Yan menggeleng pelan. "Bukan marah… hanya merasa lelah. Sepertinya apa pun yang kita lakukan, selalu ada orang yang ingin menjatuhkan kita."Zhao menghela napas, lalu menarik Mey Yan lebih dekat ke dalam dekapannya. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusikmu. Apalagi seseorang seperti Lady Lin."Mey Yan menatapnya. "Tuan yakin tidak ada yang terjadi di antara kalian?"Zhao mengernyit, tampak kesal karena pertanyaan itu muncul lagi. "Mey Yan…""Aku hanya ingin mendengar jawaban langsung darimu."Zhao mengangguk. "Tidak ada apa-apa. Dia memang sering d

  • MENAWAR TAKDIR    bab 50

    Zhao menggenggam tangan Mey Yan lebih erat, seolah ingin meyakinkannya bahwa ia ada di sini, bahwa tak ada yang perlu ia ragukan. Namun, sebelum keduanya bisa tenggelam lebih jauh dalam ketenangan sesaat itu, ketukan pelan di pintu menginterupsi keheningan mereka. Mey Yan menoleh ke arah pintu, sedikit terkejut. Zhao melepaskan genggaman tangannya dengan enggan sebelum akhirnya berdiri. "Masuk," katanya dengan suara dalam. Seorang pelayan masuk dengan kepala tertunduk, membawa sebuah surat di tangannya. "Tuan, ini pesan dari Permaisuri. Beliau ingin bertemu dengan Anda segera." Zhao menerima surat itu dan membuka gulungannya dengan tenang, tetapi matanya dengan cepat menangkap isi pesan yang ditulis dengan tinta merah. Ia mengernyit, lalu menggulung kembali surat itu dengan ekspresi tak terbaca. "Aku harus pergi," katanya pada Mey Yan, suaranya lebih dingin dari sebelumnya. Mey Yan menatapnya, mencoba membaca ekspresi suaminya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara khawatir. Zha

  • MENAWAR TAKDIR    bab 49

    Mey Yan berdiri terpaku di depan pintu, perasaan cemas mulai merayap dalam dadanya. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia terima. Zhao kembali ke Istana? Mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini ada hubungannya dengan kabar yang beredar mengenai hubungan Zhao dengan Lady Lin?Ia memutuskan untuk tidak terlalu larut dalam kekhawatiran. Jika ada sesuatu yang sangat mendesak, Zhao pasti akan memberitahunya. Namun, hati kecilnya tak bisa menahan kegelisahan yang terus mengganggu. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, memikirkan segala kemungkinan.Sejenak, ia menatap jendela yang menghadap ke taman yang gelap. Udara malam terasa sejuk, seolah membawa sedikit ketenangan, namun pikiran Mey Yan tetap tidak bisa tenang. Dengan gerakan cepat, ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar dan mengambil sebuah gulungan surat. Tanpa berpikir panjang, ia mulai menulis surat kepada Zhao, mencoba meredakan kegelisahannya.Suamiku yang tercinta,Semoga perj

  • MENAWAR TAKDIR    bab 48

    Zhao menarik napas dalam-dalam, menekan perasaan yang mulai memuncak di dadanya. Ia tahu bahwa keadaan di luar sana tidaklah mudah, dan meskipun ia terbiasa menghadapi pertempuran, tekanan yang datang dari dalam hati jauh lebih sulit untuk dihadapi. Tidak ada yang bisa menjelaskan kecemasannya saat memikirkan Mey Yan—istrinya yang kini berada di Istana, tempat yang penuh dengan intrik dan permainan kekuasaan yang tak terduga.Dalam hening malam itu, langkah-langkah lembut terdengar dari pintu belakang ruangannya. Zhao berbalik, dan dengan cepat, wajahnya yang penuh pemikiran berubah menjadi serius. Seorang pelayan masuk dengan membawa surat. “Tuan, surat dari Putri Mey Yan,” kata pelayan itu, membungkuk rendah.Zhao meraih surat itu dengan cepat, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka gulungan surat tersebut. Hatinya berdebar saat membaca tulisan tangan Mey Yan, yang meskipun sederhana, terasa penuh dengan ketulusan dan perasaan y

  • MENAWAR TAKDIR    bab 47

    Senja di Kediaman JenderalLangit berubah warna menjadi jingga keemasan saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Angin musim semi berembus lembut, menggoyangkan kelopak bunga plum yang bermekaran di halaman kediaman Jenderal Zhao. Aroma tanah dan embun bercampur dengan wangi teh hangat yang baru saja dituangkan oleh Lian di meja batu.Mey Yan duduk di bawah paviliun kayu, menatap cangkir teh di tangannya dengan tatapan kosong. Ia masih memikirkan percakapannya dengan Zhao tadi sore."Aku ingin memperbaiki semuanya."Kata-kata itu terus terngiang di benaknya. Ia ingin mempercayai Zhao, tapi terlalu banyak ketidakpastian yang masih mengikat hatinya. Apalagi, bayangan Lady Lin terus menghantui pikirannya.Suara langkah kaki di jalan berbatu menarik perhatiannya. Ia mengangkat kepala dan melihat Zhao berjalan mendekat. Mantel militernya sedikit berkibar tertiup angin, menambah kesan gagah pada sosoknya."Sudah malam, kenapa kau belum masuk?" tanya Zhao dengan suara rendah, matanya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status