Share

Part 6

Ia terkejut bukan main. Matanya membesar mendengar pengakuanku. Tampak marah, lalu memegang keras pundakku. 

"Apa maksud kamu? Chaca siapa? Jangan main-main, ha! Becandamu nggak lucu!" Dia terlihat gusar dengan napas terengah-engah. 

Aku semakin menangis menatapnya. 

"Jangan pernah kamu ngaku-ngaku sebagai adikku. Dia tidak mungkin wanita seperti kamu!" Amarahnya kian terlihat. 

"Cepat turun!" Ia langsung keluar dari mobil. Membuka pintu di sampingku, lalu dengan kasar menarikku keluar.

"Jangan pernah lagi bicara padaku! Apa lagi sampai mencari perhatian dengan cara seperti ini. Aku tidak pernah tertarik sama wanita seperti kamu!" bentaknya dengan kasar. 

Ia meninggalkanku di tepi jalan, tanpa mau mendengar penjelasan. Aku menangis kembali, saat mobil itu melesat pergi menjauh.

.

Aku bekerja seperti biasa. Melirik ke arah kantornya. Terlihat dia sedang fokus mengutak-atik laptop di atas meja. Terlihat wajahnya masih ada bekas memar, dan sedikit membengkak. 

Anak-anak yang lain saling berbisik, menerka-nerka apa yang terjadi.

"Wajah pak Bos kenapa tuh, abis berantem kayaknya," Vera setengah berbisik, sambil mengiris bawang untuk acar. 

"Pasti dipukuli. Mungkin sifatnya kasar, nggak menghargai perasaan orang," celetukku yang masih merasa kesal atas kejadian malam tadi.

Kini aku sudah mengetahui, kalau dia adalah Bang Malik, Abangku. Tapi melihat sikapnya tadi malam, menyisakan sedikit luka.

Bukannya menanyakan bagaimana keadaanku, atau bagaimana aku bisa bertahan hidup di kota ini. Dia malah mentah-mentah menolakku. 

Mungkin saja dia malu mengakui, karena hidupnya sudah sempurna saat ini. Aku pun tak akan sudi untuk mengiba, apa lagi sampai mengemis menuntut pengakuan. 

"Berantem sama pacar kali, ya." Vera menerka-nerka. 

"Mungkin aja."

"Kalau begitu, pasti ceweknya yang kasar, Cha. Tampang kayak Pak Malik, mana mungkin tega bersikap kasar sama cewek. Lihat aja cara ngomongnya, lemah lembut gitu. Dasar emang ceweknya aja yang kasar." Aku melotot ke arah Vera, merasa seolah sedang mengataiku. 

Jam dua belas bel berbunyi. Kami menghentikan aktivitas, untuk kemudian beristirahat makan siang. 

Aku mencuci tangan di wastafel di depan toilet. Kulihat Bang Malik keluar dari balik pintu toilet laki-laki. 

Toilet di tempatku, hanya ada dua pintu. Masing-masing untuk pria dan wanita, dengan wastafel yang berjejer di depannya. 

Dalam sekejap kami saling bertatap muka, lalu aku membuang pandangan dan melempar tisu ke tempat sampah secara kasar, berlalu pergi meninggalkannya. 

Tak peduli lagi, apakah dia akan marah atau malah memecatku. Aku benar-benar tidak peduli. Sakit, itu yang kurasakan saat diacuhkan oleh orang yang kita sayang. 

Aku berjalan menuju ruang makan, yang sengaja tidak dilengkapi dengan meja dan kursi.  

Hanya karpet besar yang terpasang di area  luas, agar para karyawan bisa beristirahat sambil tiduran, karena jam istirahat yang cukup panjang.

Aku mengambil kotak makan, yang memang sudah disiapkan oleh perusahaan untuk masing-masing karyawan. Aku duduk berselonjor merapatkan tubuh ke dinding, bergabung dengan yang lain. 

Tak lama Malik menyusul dan mengambil tempat di dinding seberang, tepat di depanku. 

*****

Kami duduk saling berhadapan, walau dengan jarak yang lumayan jauh. Aku memasang wajah kecut tanpa senyum. Melahap makanan sedikit demi sedikit.

"Pak, wajahnya kenapa?" Oji nyeletuk tanpa basa- basi. 

Hah! Berani sekali anak itu menggoda atasannya.

"Iya Pak, abis berantem ya, sama pacarnya?" Yang lain mulai berani.

Bang Malik hanya tersenyum, saat digoda oleh anak buahnya. Aku melirik sekilas, ingin melihat seperti apa ekspresinya. Apakah marah, atau merasa tidak senang dengan kelancangan orang-orang yang harusnya bersikap hormat padanya.

Tak disangka, sekilas mata kami saling beradu. Entah sejak kapan ia melihat ke arahku. Dengan cepat aku membuang pandangan ke sembarang arah. 

"Nggak mungkinlah pacar saya yang ngelakuin," sahutnya tanpa diduga-duga. "Pacar saya nggak sekasar itu. Ini hanya kerjaan orang gila yang sok mau jadi pahlawan!" 

Whattt....! Nasi yang baru masuk kemulutku menyembur keluar. Dia mengataiku orang gila? Kata-katanya barusan terdengar seperti sedang menyindirku. 

"Oh, jadi Pak Bos udah punya pacar, ya?" Vera menimpali, tanpa mempedulikan aku yang dari tadi batuk-batuk karena tersedak. 

"Ciee... cieee.... Dek Vera patah hati nih. Ulu uluuu... sini sama Abang, Dek."  Lagi-lagi Oji menggoda. 

Yang lain pada bersorak. Saat itu suasana menjadi riuh karena ternyata pak Bos tidak menjaga jarak dengan bawahannya, kecuali aku.

.

Jam istirahat sudah habis. Kami kembali ke dapur setelah membersihkan kekacauan yang kami buat saat makan siang. Begitulah biasanya kami beraktivitas. 

Tidak terasa sudah satu tahun aku bekerja di sini. Dan aku begitu betah.

Semua pekerjaan sudah hampir selesai.  Kucatat semua produksi yang dikerjakan oleh divisi bagian. Aku, selaku ketua tim bertanggung jawab mencatat semua jumlah pesanan dari berbagai outlet yang tersebar hampir di seluruh mall di Medan dan melaporkannya ke leader, yaitu Bu Rini.

"Antarkan ini ke Pak Malik, Cha," perintah bu Rini seraya memberikan beberapa lembar kertas.

"Baik, Bu." Aku menyanggupi. 

Sebenarnya enggan melakukan tugas ini, karena tak ingin terlibat pertemuan langsung dengan saudara yang tidak mengakuiku itu.

Tapi aku tak ingin mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan. Kuletakkan kertas-kertas itu di meja kerjanya tanpa kata-kata.

"Apa ini?" tanya Pak Bos. Entah memang tidak tahu, atau hanya ingin berbasa basi mengajakku bicara.

Aku mengangkat bahu, tanda tidak tahu atau tepatnya bilang "Entah", lalu ngeloyor keluar seenaknya. Entah kenapa jadi hilang rasa takutku.

.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ahmad Agus
sangat terhibur dan menjadikan notifikasi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status