Home / Romansa / MENGAJAR CINTA / 63. Penjelasan

Share

63. Penjelasan

Author: Nd.park
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-18 23:23:37

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

..

Seminggu sudah berlalu tanpa kabar dari Ares. Selama itu pula, Ares tidak terlihat di sekolah maupun di bimbel.

Sementara itu, Sabtu siang ini Dinda sibuk menatap layar laptop, merapikan jadwal anak-anak les seperti rutinitas mingguannya. Ruangan terasa tenang, hanya suara ketikan jari di keyboard yang terdengar.

Tiba-tiba, pintu bimbel terbuka. Dinda tidak menoleh, masih larut dalam pikirannya, sampai sebuah suara melengking mem
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   72. Tanda Tanya?

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Dinda menjalani pagi dengan langkah yang lebih pelan. Senyumnya tetap ada, namun hatinya tidak lagi seutuh biasanya. “Ada masalah, Mbak?” tanya Tari sambil menatap Dinda heran. Dinda tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Emang lagi capek aja beberapa hari ini.” Tari hanya mengangguk paham, paham bahwa Dinda belum ingin bercerita apa-apa padanya. Tak lama kemudian, bunyi pintu dibuka dari luar, menampakkan sosok laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikiran Dinda. “Mas Putra,” ucap Dinda pelan sambil berdiri. Putra membalas panggilan itu dengan senyum tipis. “Aku antar Ares untuk belajar hari ini,” ujarnya. “Halo, Miss Dinda,” sapa Ares sambil melambaikan tangan. “Iya, Mas. Hai, Ares,” balas Dinda sambil tersenyum, membalas lambaian itu. Dinda melihat Putra berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ares.

  • MENGAJAR CINTA   71. Perasaan yang Disalahkan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Sudah beberapa hari komunikasi Dinda dan ibunya merenggang. Hal itu tentu saja disadari oleh sang suami, Sulin. “Buk?” panggil Sulin, mencoba membuka obrolan dengan istrinya, Ara. “Bapak perhatikan ibu dan kakak sepertinya sedang bertengkar, ya?” lanjutnya tanpa menunggu jawaban atas panggilannya. Ara yang sejak tadi sibuk menyiapkan makan malam akhirnya duduk dalam dekat suaminya setelah semua menu tersaji. “Perasaan bapak saja kali,” sahut Ara, masih berusaha menghindar. “Bapak sudah hafal kebiasaan ibu kalau sedang marah,” ujar Sulin sambil menggenggam tangan Ara dan mengelusnya pelan. Ara menghela napas pelan, lalu berkata, “Ibu kesal, Pak,” ucapnya, memulai cerita.Sulin tetap diam, menunggu istrinya melanjutkan. “Ibu kesal sama kakak. Bapak masih ingat, kan, anak laki-laki kecil yang pernah kakak bawa ke rumah kita?” lanjutnya. Sulin yang memang ma

  • MENGAJAR CINTA   70. Sore yang Menyimpan Isyarat

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA*...Pintu itu terbuka pelan. Putra melangkah masuk sambil menggenggam tangan Ares yang setia dengan tas dinosaurus kesayangannya. “Assalamualaikum/salamualaikum,” ucap mereka hampir bersamaan. Dinda dan Tari seketika terdiam, menghentikan keributan mereka. Dinda menatap Putra dan Ares dengan ekspresi sedikit bingung. Tanpa sadar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali—antara kebingungan dan rasa malu yang tiba-tiba muncul. Putra terkekeh pelan saat melihat reaksi Dinda yang menurutnya begitu lucu. Berbeda dengan Tari. Pandangannya bergantian meneliti Dinda dan Putra, seolah mencoba membaca sesuatu di antara keduanya. Sementara itu, si kecil yang belum banyak memahami dunia di sekitarnya hanya menatap Dinda dengan senyum cerahnya. “Miss Dinda, Yes datang lagi hali ini. Sudah siap buat belajal lagi?” seru Ares, memecahkan suasana canggung di antara mereka. “Ah… ah… oh, hai Ares. Apa kabarnya?” sahut Dinda. Saking bingungnya, ia sampai lupa menjawab sal

  • MENGAJAR CINTA   69. Ada Apa?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Pagi yang cerah untuk memulai hari yang ceria. Seorang gadis cantik yang masih mengenakan baju tidur berwarna ungu muda bermotif bunga tengah berkutat dengan beberapa toples di meja dapur. “Kak, ngapain?” tanya seorang wanita paruh baya saat memasuki dapur. “Ah, Ibu? Kakak lagi masak kue kering,” jawab Dinda pada ibunya. Dinda bangun sedikit lebih awal dari biasanya, hanya demi membuat kue kering untuk Ares. Ya, kue kering itu dibuat khusus untuk Ares—sebagai ganti karena beberapa hari lalu mereka gagal membuat kue bersama. “Banyak banget masaknya, Kak? Buat siapa?” tanya Ara lagi. Dinda mengalihkan pandangannya dari loyang dan toples kue untuk melihat ibunya, lalu tersenyum lembut. “Buat Ares, Bu. Sekalian juga buat teman-teman kerja di bimbel,” jawabnya pelan. Seketika raut wajah Ibu Dinda berubah sedikit tidak suka mendengar ucapan putrinya. “Ja

  • MENGAJAR CINTA   22. Ulang Tahun Pertama Ares

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari yang ditunggu-tunggu Ares akhirnya tiba—hari ulang tahunnya. Dari pagi sampai hampir tengah hari, senyum Ares tak pernah hilang. Ia begitu bahagia—karena hari ini, semua terasa spesial. Kado berjejer, kue warna-warni, dan tawa di mana-

  • MENGAJAR CINTA   21. Terlalu Dekat atau Terlalu Sayang

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Putra POV Sudah dua hari aku berada di Jakarta untuk urusan bisnis. Perusahaan yang kudirikan tengah menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan asal Korea. Perusahaan itu mulai kujalankan sejak usiaku dua puluh tiga tahun. Tak mudah, tapi setiap langkahnya p

  • MENGAJAR CINTA   20. Tumpukan Kado dan Cerita

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA....Sudah cukup lama Tara dan Dinda menunggu Nita dan Ares yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa menit berlalu tanpa kabar, Tara akhirnya bangkit dari duduknya.“Bentar ya, Mbak. Tara cek Mbak Nita sama Ares dulu. Kok la

  • MENGAJAR CINTA   19. Negosisi Alah Ares

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA .... Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Ares yang keempat. Saat ini, Nita, Tara, dan Dinda sedang sibuk membungkus kado-kado untuk para tamu undangan. Sementara itu, si kecil Ares hanya duduk diam memperhatikan ketiga orang dewasa itu dengan raut bingung. Lalu, ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status