Início / Romansa / MENGAJAR CINTA / 23. Hari yang di Tunggu

Compartilhar

23. Hari yang di Tunggu

Autor: Nd.park
last update Data de publicação: 2025-07-19 22:55:06

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

Dari kejauhan, Nissa memandangi Putra yang tengah berbincang dengan Dinda. Jarak memang memisahkan, tapi sorot mata mereka bicara lebih dari sekadar kata. Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan—namun ada kesan serius di wajah keduanya, seolah sedang berbagi rahasia yang tak ingin didengar dunia.

Nissa menarik napas pelan. Ia ingin tahu… tapi percakapan dengan ibu panti menahannya untuk sekadar menoleh lebih lama.

“Mis
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • MENGAJAR CINTA   81. Prasangka

    * * * *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* Saat memasuki rumah, Dinda mendapati ibunya sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tatapan tajam perempuan itu langsung tertuju kepadanya. Bahkan, belum sempat Dinda menyapa, ibunya sudah lebih dahulu memberikan perintah. "Duduk!" perintah ibunya dengan nada tegas. Dinda menatap ibunya dengan sedikit kebingungan. Ia sempat melirik ke arah ruang keluarga, berharap menemukan alasan di balik sikap ibunya yang terlihat berbeda. Namun, tidak menemukan jawaban apa pun, ia akhirnya menuruti perintah tersebut dan duduk di sofa yang berhadapan dengan ibunya. "Kenapa, Bu?" tanyanya pelan. "Ada hubungan apa kamu dengan ayah anak itu?" tanya ibunya tanpa basa-basi. Dinda mengerutkan kening, berusaha memahami maksud pertanyaan tersebut. "Maksud Ibu, Mas Putra? Ayahnya Ares?" tanyanya memastikan. "Mungkin!" jawab

  • MENGAJAR CINTA   80. Mencoba untuk Memulai

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Saat Dinda hendak segera menyusul Ares, Putra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ayu, sebentar..." panggil Putra. Dinda pun membalikkan badan saat mendengar suara Putra. "Ya, kenapa, Mas?" tanyanya bingung. "Emm... ada satu lagi yang belum Mas berikan kepadamu," ucap Putra. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dinda memperhatikan benda di tangan Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mas, kamu..." ucap Dinda tertahan saat melihat Putra perlahan membuka kotak kecil tersebut. Untuk kedua kalinya hari itu, Dinda kembali kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas kejutan yang baru saja diberikan Putra. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini terpampang sebuah cincin yang begitu cantik. Desainnya terlihat anggun dan elegan, dengan kilauan yang membuat mata Dind

  • MENGAJAR CINTA   79. Masih dengan Pantai

    * SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* * * * Putra memandang Dinda dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Namun, kedua tangannya sedikit bergetar karena gugup. Lucu sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa menghadapi berbagai persoalan besar justru dibuat gugup oleh sebuah momen sederhana seperti ini. "Mas..." ucap Dinda sekali lagi. Namun, ucapannya terhenti ketika Putra menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Dinda membiarkannya berbicara terlebih dahulu. "Biar Mas saja yang berbicara," ujar Putra yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengutarakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. "Ayu, mungkin menurutmu ini gila. Ah, tidak. Mungkin menurutmu Mas memang orang gila," ucap Putra sambil terkekeh pelan. Ia kemudian kembali melanjutk

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   45. Hari yang Berbelok

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Angin sore dari balkon kamar hotel membawa aroma susu coklat yang samar. Dinda duduk di tepi ranjang, jemarinya memainkan ujung selimut tanpa sadar. Langkah cepat Cindy terdengar mendekat, diikuti bunyi pintu yang terbuka tergesa. "Bagaiman

  • MENGAJAR CINTA   43. Perjalanan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Dinda yang baru saja keluar dari rumah terlonjak kaget. "Hai, Ares," sapanya sambil tertawa kecil saat melihat mobil berhenti tepat di depan rumahnya, disusul pekikan semangat dari Ares. "Miss Dindaaa!" teria

  • MENGAJAR CINTA   41. Teman Baru?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari ini, Ares dan Nita kembali pergi ke taman. Tepatnya, hanya Ares yang akan bermain, sementara Nita hanya mengawasi dari kejauhan.Ares terlihat sangat senang. Ia duduk di bangku taman bersama Nita sambil memperhatikan anak-anak lain yang

  • MENGAJAR CINTA   40. Tulul Gulung

    SELAMAT MEMBACA AEMUANYA...Sore yang membosankan bagi Ares. Ia hanya berdiam diri di rumah—ya, seperti biasanya juga begitu."Mbak, Yes mau jalan," adu Ares pada Nita yang sedang menyiapkan bahan masakan."Jalan ke mana, Dek?" tanya Nita sambil tetap sibuk me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status