Beranda / Romansa / MENGAJAR CINTA / 33. Sampai Jumpa Lagi Semua

Share

33. Sampai Jumpa Lagi Semua

Penulis: Nd.park
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-30 08:49:51

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

Siang menjelang, Putra sudah memasukkan sebagian barang-barangnya ke dalam mobil. Namun, barang-barang milik Ares sengaja ditinggalkan—karena Putra tahu, anak itu pasti akan main lagi ke Lembang.

Car seat untuk Ares pun sudah disusun di kursi depan, sesuai permintaan si kecil yang ogah duduk di belakang.

“Ibu, Kakak kapan pulang?” tanya Ares pada Jena yang sedang berdiri di dekatnya.

“Sebentar lagi, Sayang,” jawab Jena lembut, sambil mengusap pucuk kepala Ares dengan penuh kasih.

“Anak Ayah nggak mau nambah hari nginapnya?” sahut Jojo dari kejauhan, tersenyum menggoda.

Ares menggeleng cepat. “Yes mau belajal kayak Kakak juga, Ayah. Kasihan Miss Dinda nanti nungguin Yes,” ujarnya polos, teringat pada gurunya itu saat melihat Mark berangkat sekolah pagi tadi.

Itu juga yang membuat Ares semangat ingin cepat pulang—teman-teman Mark saja sudah kembali ke rumah masing-masing sejak subuh ta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENGAJAR CINTA   70. Sore yang Menyimpan Isyarat

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA*...Pintu itu terbuka pelan. Putra melangkah masuk sambil menggenggam tangan Ares yang setia dengan tas dinosaurus kesayangannya. “Assalamualaikum/salamualaikum,” ucap mereka hampir bersamaan. Dinda dan Tari seketika terdiam, menghentikan keributan mereka. Dinda menatap Putra dan Ares dengan ekspresi sedikit bingung. Tanpa sadar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali—antara kebingungan dan rasa malu yang tiba-tiba muncul. Putra terkekeh pelan saat melihat reaksi Dinda yang menurutnya begitu lucu. Berbeda dengan Tari. Pandangannya bergantian meneliti Dinda dan Putra, seolah mencoba membaca sesuatu di antara keduanya. Sementara itu, si kecil yang belum banyak memahami dunia di sekitarnya hanya menatap Dinda dengan senyum cerahnya. “Miss Dinda, Yes datang lagi hali ini. Sudah siap buat belajal lagi?” seru Ares, memecahkan suasana canggung di antara mereka. “Ah… ah… oh, hai Ares. Apa kabarnya?” sahut Dinda. Saking bingungnya, ia sampai lupa menjawab sal

  • MENGAJAR CINTA   69. Ada Apa?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Pagi yang cerah untuk memulai hari yang ceria. Seorang gadis cantik yang masih mengenakan baju tidur berwarna ungu muda bermotif bunga tengah berkutat dengan beberapa toples di meja dapur. “Kak, ngapain?” tanya seorang wanita paruh baya saat memasuki dapur. “Ah, Ibu? Kakak lagi masak kue kering,” jawab Dinda pada ibunya. Dinda bangun sedikit lebih awal dari biasanya, hanya demi membuat kue kering untuk Ares. Ya, kue kering itu dibuat khusus untuk Ares—sebagai ganti karena beberapa hari lalu mereka gagal membuat kue bersama. “Banyak banget masaknya, Kak? Buat siapa?” tanya Ara lagi. Dinda mengalihkan pandangannya dari loyang dan toples kue untuk melihat ibunya, lalu tersenyum lembut. “Buat Ares, Bu. Sekalian juga buat teman-teman kerja di bimbel,” jawabnya pelan. Seketika raut wajah Ibu Dinda berubah sedikit tidak suka mendengar ucapan putrinya. “Ja

  • MENGAJAR CINTA   68. Rencana ke Puncak

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Setelah kegaduhan yang Dinda dan Ares timbulkan, akhirnya mereka segera membersihkannya, dibantu oleh Nita. Setelah semuanya beres, Dinda pun ikut membantu Nita menyiapkan makan malam.“Masak apa lagi, Mbak?” tanya Dinda pada Nita.“Capcai aja deh, kayaknya, Din,” jawab Nita sambil tersenyum. Kini Nita memang sudah memanggil Dinda dengan sebutan santai, sesuai permintaan Dinda sendiri.“Oke, kalau gitu aku ambil bahannya dulu, Mbak,” kata Dinda setelah mendapat izin.“Yes nggak suka sayul itu, Miss,” protes Ares tiba-tiba saat melihat Dinda mengeluarkan sayur pakcoy dari kulkas. “Tapi Yes suka ayam goleng,” lanjutnya polos.Ares sedari tadi hanya duduk di meja makan sambil memainkan robot kesayangannya, sesekali melirik Miss Dinda yang sedang memasak bersama Mbak Nita.“Kenapa jadi ayam goreng, si Sayang? Kan ayam gorengnya udah matang,” sahut Dinda pelan. “Kalau sayuran, Ares suka y

  • MENGAJAR CINTA   67. Salju??

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Pagi menjelang disambut dengan sinar matahari yang cerah serta angin sejuk yang berhembus lembut. Seorang bocah laki-laki dengan pipi gembil dan bokong semoknya tengah berlarian di dalam rumah, sambil membawa mainan pesawat terbang di tangannya. “Ares, ayo, Nak, kita mandi dulu!” panggil Putra untuk kesekian kalinya. Namun Ares tidak mengindahkannya, sehingga Putra harus menangkap bocah kecil itu dan mempongnya ke arah sofa. “Ahhh, Papa! Yes tidak mau mandi! Masih dingin, tahu!” ujar Ares sambil menggeliat di dalam pelukan Putra sebelum pria itu duduk di atas sofa. “Enggak ada, ya. Kamu harus mandi sekarang juga,” ucap Putra sambil mencoba membuka baju Ares. “Tidak—!” teriak Ares dengan nada drama, sementara tangan mungilnya berusaha menjauhkan tangan besar sang ayah. “Eh, mana sopan teriak-teriak begitu di depan Papa?” tegur Putra pelan namun sedikit tegas untuk meng

  • MENGAJAR CINTA   66. Harapan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Sesampainya di rumah, Ares langsung menuju kamar, tentu saja dibantu oleh Nita, sang pengasuhnya.“Aduh, aduh... adek sudah bau keringat banget, nih. Yuk, kita mandi, ya,” ujar Nita dengan nada sedikit berlebihan agar Ares segera mau mandi.Ares mengangguk kecil. “Iya, Mbak. Yes sudah bau badan, Yes juga banyak kelingat. Maaf ya, Mbak,” ucapnya polos.Nita yang mendengar permintaan maaf dari Ares sontak tersenyum haru. Meski bukan pertama kalinya bocah itu meminta maaf, setiap kali Ares mengucapkannya, hatinya selalu tersentuh.“Aduh, sayangnya Mbak... nggak apa-apa, Dek. Ayo, kita mandi,” ajak Nita sambil menuntun Ares ke arah kamar mandi.“Mbak, Yes mau ajak Nemo, ya,” katanya sambil menggenggam boneka ikan kecil kesayangannya saat berada di dalam kamar mandi.Sementara itu, di sisi lain, Putra masih berkutat dengan berkas-berkas kerja di kantornya . Kacamata bacanya bertengger man

  • MENGAJAR CINTA   65. Hangatnya Perpisahan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Sebulan telah berlalu sejak insiden ketika Putra memecat sekretaris lamanya. Kini ia sudah memiliki pengganti baru. Sebenarnya Putra menginginkan sekretaris laki-laki, namun apa daya—semua pelamar yang datang adalah perempuan. Mau tak mau, Putra harus menerima, dari pada tidak ada sama sekali. Memang benar ada Satria yang selama ini juga membantunya, tapi Satria memiliki tugas utama sendiri. Putra tidak bisa sepenuhnya bergantung padanya. "Selamat pagi, Pak," sapa sekretaris baru itu sambil segera berdiri dari duduknya ketika Putra melewati meja kerjanya. "Hm," sahut Putra datar sambil terus berlalu. Sekretaris barunya bernama Nindi. Selama tiga minggu bekerja, Nindi menunjukkan profesionalismenya. Ia tidak pernah melanggar aturan yang telah ditetapkan Putra. "Pagi, Pak Satria," sapa Nindi lagi sambil berdiri, ketika melihat Satria hendak masuk ke ruang kerja Putra. "Pagi jug

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status