Home / Romansa / MENGAJAR CINTA / 34. Yang Belum Kembali

Share

34. Yang Belum Kembali

Author: Nd.park
last update publish date: 2025-07-30 23:20:11
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

"Papa..." panggil Ares dari lantai atas.

"Mbak... Mbak di mana?" teriaknya lagi, kali ini memanggil Nita.

Namun, rumah terasa sepi—seperti tak berpenghuni.

Ares akhirnya menuruni tangga dengan hati-hati, persis seperti pesan Mbak Nita yang sering ia dengar: kalau turun tangga harus pelan-pelan.

"Mana olang, ni?" tanyanya pada diri sendiri dengan wajah bingung.

"Yes sendilikah?" gumamnya lagi sambil mulai berkeliling rumah. Ia menyusuri ruang tamu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENGAJAR CINTA   81. Prasangka

    * * * *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* Saat memasuki rumah, Dinda mendapati ibunya sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tatapan tajam perempuan itu langsung tertuju kepadanya. Bahkan, belum sempat Dinda menyapa, ibunya sudah lebih dahulu memberikan perintah. "Duduk!" perintah ibunya dengan nada tegas. Dinda menatap ibunya dengan sedikit kebingungan. Ia sempat melirik ke arah ruang keluarga, berharap menemukan alasan di balik sikap ibunya yang terlihat berbeda. Namun, tidak menemukan jawaban apa pun, ia akhirnya menuruti perintah tersebut dan duduk di sofa yang berhadapan dengan ibunya. "Kenapa, Bu?" tanyanya pelan. "Ada hubungan apa kamu dengan ayah anak itu?" tanya ibunya tanpa basa-basi. Dinda mengerutkan kening, berusaha memahami maksud pertanyaan tersebut. "Maksud Ibu, Mas Putra? Ayahnya Ares?" tanyanya memastikan. "Mungkin!" jawab

  • MENGAJAR CINTA   80. Mencoba untuk Memulai

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Saat Dinda hendak segera menyusul Ares, Putra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ayu, sebentar..." panggil Putra. Dinda pun membalikkan badan saat mendengar suara Putra. "Ya, kenapa, Mas?" tanyanya bingung. "Emm... ada satu lagi yang belum Mas berikan kepadamu," ucap Putra. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dinda memperhatikan benda di tangan Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mas, kamu..." ucap Dinda tertahan saat melihat Putra perlahan membuka kotak kecil tersebut. Untuk kedua kalinya hari itu, Dinda kembali kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas kejutan yang baru saja diberikan Putra. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini terpampang sebuah cincin yang begitu cantik. Desainnya terlihat anggun dan elegan, dengan kilauan yang membuat mata Dind

  • MENGAJAR CINTA   79. Masih dengan Pantai

    * SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* * * * Putra memandang Dinda dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Namun, kedua tangannya sedikit bergetar karena gugup. Lucu sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa menghadapi berbagai persoalan besar justru dibuat gugup oleh sebuah momen sederhana seperti ini. "Mas..." ucap Dinda sekali lagi. Namun, ucapannya terhenti ketika Putra menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Dinda membiarkannya berbicara terlebih dahulu. "Biar Mas saja yang berbicara," ujar Putra yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengutarakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. "Ayu, mungkin menurutmu ini gila. Ah, tidak. Mungkin menurutmu Mas memang orang gila," ucap Putra sambil terkekeh pelan. Ia kemudian kembali melanjutk

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   50. Langkah Kecil Cerita Besar

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Hari ini adalah hari yang sangat Ares nantikan, karena Putra akhirnya memasukkannya ke TK. Itu artinya, ia akan segera punya banyak teman baru. “Papa Yes sudah siap!” seru Ares sambil berlari menuruni tangga dan menuju dapur bersama Nita.

  • MENGAJAR CINTA   48. Dua Cerita Satu Kehangatan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Terhitung sudah seminggu sejak mereka pulang dari Jakarta, dan kini aktivitas Dinda tak jauh dari bimbel. Pagi itu, Dinda tengah duduk manis di kursi meja adminnya. Ia membuka bimbel lebih awal dari biasanya—jam delapan pagi—agar semua pers

  • MENGAJAR CINTA   47. Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...“Din… itu—” suara Cindy menahan kata-kata.Dinda menoleh ke arah sahabatnya. Tatapan mereka bertaut sepersekian detik—lalu sebuah senyum perlahan merekah di bibir Dinda. Senyum yang seolah berkata, Ah… jadi ini."Ini...?" tanya Dind

  • MENGAJAR CINTA   46. Pertemuan tak Terduga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Langit cerah perlahan berganti gelap, menandakan hari sudah hampir berakhir. Mobil mereka melaju menuju hotel yang sudah dipesan sejak beberapa hari lalu. Ares terlelap di car seat-nya, wajah mungil itu tampak tenang setelah seharian penuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status