Beranda / Romansa / MENGAJAR CINTA / 32. Bara di Halaman, Hangat di Hati

Share

32. Bara di Halaman, Hangat di Hati

Penulis: Nd.park
last update Tanggal publikasi: 2025-07-29 19:57:45

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

Rencana tinggal rencana.

Putra awalnya ingin pulang Minggu sore, tapi Mark belum mengizinkan. Akhirnya mereka sepakat menunda kepulangan hingga Senin siang, menunggu Mark pulang sekolah kerena kegiatan belajar sudah aktif kembali.

Malam itu, halaman belakang rumah Karim kembali ramai. Mereka bersiap untuk bakar-bakar ikan dan ayam hasil ternak sendiri—ikan dari kolam, ayam dari kandang belakang rumah.

"Selamat malam semuan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENGAJAR CINTA   81. Prasangka

    * * * *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* Saat memasuki rumah, Dinda mendapati ibunya sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tatapan tajam perempuan itu langsung tertuju kepadanya. Bahkan, belum sempat Dinda menyapa, ibunya sudah lebih dahulu memberikan perintah. "Duduk!" perintah ibunya dengan nada tegas. Dinda menatap ibunya dengan sedikit kebingungan. Ia sempat melirik ke arah ruang keluarga, berharap menemukan alasan di balik sikap ibunya yang terlihat berbeda. Namun, tidak menemukan jawaban apa pun, ia akhirnya menuruti perintah tersebut dan duduk di sofa yang berhadapan dengan ibunya. "Kenapa, Bu?" tanyanya pelan. "Ada hubungan apa kamu dengan ayah anak itu?" tanya ibunya tanpa basa-basi. Dinda mengerutkan kening, berusaha memahami maksud pertanyaan tersebut. "Maksud Ibu, Mas Putra? Ayahnya Ares?" tanyanya memastikan. "Mungkin!" jawab

  • MENGAJAR CINTA   80. Mencoba untuk Memulai

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Saat Dinda hendak segera menyusul Ares, Putra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ayu, sebentar..." panggil Putra. Dinda pun membalikkan badan saat mendengar suara Putra. "Ya, kenapa, Mas?" tanyanya bingung. "Emm... ada satu lagi yang belum Mas berikan kepadamu," ucap Putra. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dinda memperhatikan benda di tangan Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mas, kamu..." ucap Dinda tertahan saat melihat Putra perlahan membuka kotak kecil tersebut. Untuk kedua kalinya hari itu, Dinda kembali kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas kejutan yang baru saja diberikan Putra. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini terpampang sebuah cincin yang begitu cantik. Desainnya terlihat anggun dan elegan, dengan kilauan yang membuat mata Dind

  • MENGAJAR CINTA   79. Masih dengan Pantai

    * SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* * * * Putra memandang Dinda dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Namun, kedua tangannya sedikit bergetar karena gugup. Lucu sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa menghadapi berbagai persoalan besar justru dibuat gugup oleh sebuah momen sederhana seperti ini. "Mas..." ucap Dinda sekali lagi. Namun, ucapannya terhenti ketika Putra menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Dinda membiarkannya berbicara terlebih dahulu. "Biar Mas saja yang berbicara," ujar Putra yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengutarakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. "Ayu, mungkin menurutmu ini gila. Ah, tidak. Mungkin menurutmu Mas memang orang gila," ucap Putra sambil terkekeh pelan. Ia kemudian kembali melanjutk

  • MENGAJAR CINTA   78. Pantai dan Bunga

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar

  • MENGAJAR CINTA   77. Yang Seharusnya Hanya Bertiga

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   38. Pelukan Setelah Perjalanan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Putra akhirnya tiba dengan selamat di Kota Bandung setelah menempuh perjalanan panjang dari Korea. “Papa...”Senyum Putra langsung mengembang—senyum khas yang selalu ia berikan untuk sang anak dan keluarga terdekat. Dan tentu saja, suar

  • MENGAJAR CINTA   37. Arisan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Ares sebenarnya sudah semangat belajar sejak bertemu Dinda minggu lalu. Tapi apa daya—ia keburu harus menginap di rumah Johan dan Nissa. Putra mendadak terbang ke Korea, katanya ada undangan kerja yang penting, sampai-sampai tak bisa diwakilkan, bahk

  • MENGAJAR CINTA   31. Pagi di Rumah Kakek

    SEMALAM MEMBACA SEMUANYA...Mata bulat itu mengerjap pelan. Ares menatap ayahnya yang masih tertidur lelap, lalu menyentuh wajah tampan sang ayah dengan lembut. "Papa, Yes bangun," bisiknya pelan, memberi tahu bahwa dirinya terjaga. Putra mengerang pelan, te

  • MENGAJAR CINTA   30. Malam di Rumah Kakek

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... “Papa!” teriak Ares riang saat melihat sosok laki-laki gagah—tampan versi dirinya sendiri. Tapi memang, ayahnya itu benar-benar tampan, bukan cuma menurut Ares saja. Mark ikut menoleh ke arah pandangan Ares. Ia melihat Putra dan Kakek Kar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status