ログインSELAMAT MEMBACA SEMUANYA
...Angin sore dari balkon kamar hotel membawa aroma susu coklat yang samar. Dinda duduk di tepi ranjang, jemarinya memainkan ujung selimut tanpa sadar. Langkah cepat Cindy terdengar mendekat, diikuti bunyi pintu yang terbuka tergesa."Bagaimana?" tanya Dinda pelan, matanya mencari jawaban di wajah sahabatnya.Cindy menarik napas panjang, lalu menatap Dinda dengan sorot ragu. "Maaf, Din... lo nggak jadi ikut. Tiketnya harus dikasi* * * *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* Saat memasuki rumah, Dinda mendapati ibunya sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tatapan tajam perempuan itu langsung tertuju kepadanya. Bahkan, belum sempat Dinda menyapa, ibunya sudah lebih dahulu memberikan perintah. "Duduk!" perintah ibunya dengan nada tegas. Dinda menatap ibunya dengan sedikit kebingungan. Ia sempat melirik ke arah ruang keluarga, berharap menemukan alasan di balik sikap ibunya yang terlihat berbeda. Namun, tidak menemukan jawaban apa pun, ia akhirnya menuruti perintah tersebut dan duduk di sofa yang berhadapan dengan ibunya. "Kenapa, Bu?" tanyanya pelan. "Ada hubungan apa kamu dengan ayah anak itu?" tanya ibunya tanpa basa-basi. Dinda mengerutkan kening, berusaha memahami maksud pertanyaan tersebut. "Maksud Ibu, Mas Putra? Ayahnya Ares?" tanyanya memastikan. "Mungkin!" jawab
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Saat Dinda hendak segera menyusul Ares, Putra tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ayu, sebentar..." panggil Putra. Dinda pun membalikkan badan saat mendengar suara Putra. "Ya, kenapa, Mas?" tanyanya bingung. "Emm... ada satu lagi yang belum Mas berikan kepadamu," ucap Putra. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dinda memperhatikan benda di tangan Putra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Mas, kamu..." ucap Dinda tertahan saat melihat Putra perlahan membuka kotak kecil tersebut. Untuk kedua kalinya hari itu, Dinda kembali kehilangan kata-kata. Ia bahkan tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas kejutan yang baru saja diberikan Putra. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini terpampang sebuah cincin yang begitu cantik. Desainnya terlihat anggun dan elegan, dengan kilauan yang membuat mata Dind
* SELAMAT MEMBACA SEMUANYA* * * * Putra memandang Dinda dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya. Namun, kedua tangannya sedikit bergetar karena gugup. Lucu sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terbiasa menghadapi berbagai persoalan besar justru dibuat gugup oleh sebuah momen sederhana seperti ini. "Mas..." ucap Dinda sekali lagi. Namun, ucapannya terhenti ketika Putra menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar Dinda membiarkannya berbicara terlebih dahulu. "Biar Mas saja yang berbicara," ujar Putra yang masih setia dengan posisi berlututnya. Ia menarik napas cukup panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengutarakan sesuatu yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. "Ayu, mungkin menurutmu ini gila. Ah, tidak. Mungkin menurutmu Mas memang orang gila," ucap Putra sambil terkekeh pelan. Ia kemudian kembali melanjutk
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Setelah kejadian beberapa hari lalu yang sempat membuat Dinda canggung terhadap Putra, Dinda akhirnya menjelaskan bahwa semua itu murni kebetulan. Putra pun sama sekali tidak mempermasalahkannya. Hubungan mereka nyatanya justru semakin dekat. Hari ini, Putra kembali mengajak Dinda dan Ares jalan-jalan. Kali ini, Putra mengajak mereka berdua pergi ke pantai. Seperti biasa, Ares duduk nyaman di kursi belakang, sementara Dinda duduk di samping kursi pengemudi. Sepanjang perjalanan, sesekali mereka saling bercanda. Putra juga beberapa kali menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari mulut kecil Ares. "Sudah sampai. Ayo, waktunya kita turun," ucap Putra kepada Dinda dan Ares. "Yeay, sudah sampai!" seru Ares dengan penuh kegembiraan. Setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil. Dinda membantu Ares turun sekaligus mengambil beberapa barang keperluan mereka. Sementar
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Semenjak Putra dan Dinda mulai berbaikan, hubungan mereka perlahan kembali dekat. Entah itu karena sering berbincang saat di bimbel, atau sekadar makan siang bersama di sela kesibukan masing-masing. Seperti hari ini, mereka bertiga sudah berjanji untuk makan siang bersama lagi. Putra membelokkan mobilnya menuju bimbel tempat Dinda bekerja. Sementara itu, Ares duduk anteng di kursi belakang, dengan tablet di pangkuannya. “Sudah sampai belum, Pa?” tanyanya sesekali, di sela-sela menonton. “Sebentar lagi, Boy,” jawab Putra sambil tersenyum pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai. “Tunggu sebentar, ya. Papa jemput Miss Dinda dulu,” ucap Putra sambil menoleh ke arah belakang. Ares mengangguk patuh, lalu mengangkat tangannya ke pelipis sebagai tanda hormat. “Good job,” ujar Putra, sebelum akhirnya keluar dari mobil untuk segera menjemput Dinda.
SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai
*SELAMAT MEMBACA SEMUANYA*...Pintu itu terbuka pelan. Putra melangkah masuk sambil menggenggam tangan Ares yang setia dengan tas dinosaurus kesayangannya. “Assalamualaikum/salamualaikum,” ucap mereka hampir bersamaan. Dinda dan Tari seketika terdiam, menghentikan keributan mereka. Dinda menat
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Pagi yang cerah untuk memulai hari yang ceria. Seorang gadis cantik yang masih mengenakan baju tidur berwarna ungu muda bermotif bunga tengah berkutat dengan beberapa toples di meja dapur. “Kak, ngapain?” tanya seorang wanita paruh baya saa
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Setelah kegaduhan yang Dinda dan Ares timbulkan, akhirnya mereka segera membersihkannya, dibantu oleh Nita. Setelah semuanya beres, Dinda pun ikut membantu Nita menyiapkan makan malam.“Masak apa lagi, Mbak?” tanya Dinda pada Nita.
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Sesampainya di rumah, Ares langsung menuju kamar, tentu saja dibantu oleh Nita, sang pengasuhnya.“Aduh, aduh... adek sudah bau keringat banget, nih. Yuk, kita mandi, ya,” ujar Nita dengan nada sedikit berlebihan agar Ares segera mau mandi.







