Share

BAB 7 SARAPAN BERSAMA

Author: Jemyadam
last update Last Updated: 2026-02-16 22:29:18

Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?”

“Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri.

Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?”

Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern.

“Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.”

“Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!”

Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.”

Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.”

“Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!”

Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan peluang emas agar putranya segara memiliki pasangan hidup seperti kakak-kakaknya.

“Tapi kalau bekerja sama, kadang butuh… kecocokan yang lebih dalam, kan?”

Chaterine meneguk kopinya pelan, menyimak perdebatan ibu dan anak dengan menghela napas tenang.

"Chatrine cuma studi praktek di galeri tidak lebih dari tiga bulan." Liam mempertegas hubungan mereka.

"Tiga bulan?" Isabel berbinar terkejut. Kemudian menoleh Chatrine. "Semoga Liam membuatmu betah di galeri."

"Aku suka seni, dan sangat tertarik belajar lebih dalam dari senimannya langsung." Chatrine terus tersenyum manis dengan sikap tertata. profesional.

"Aku harus bersiap!" Tiba-tiba Liam bangkit berdiri. "Aku punya banyak pekerjaan di galeri."

Liam berjalan masuk ke dalam kamar dengan sikap tak acuh. Di luar Chatrine masih melanjutkan obrolan dengan Isabel. Tapi saat itu Liam sudah tidak peduli. Basa-basi Chatrine terdengar palsu di telinga Liam yang hatinya masih penuh kebencian dan dengki.

******

Liam keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian. Kali ini bukan dengan kemeja flanel lusuh seperti biasanya, melainkan kemeja biru gelap yang disetrika rapi. Kancingnya terpasang sampai dada, bagian bawah baju dimasukkan ke dalam celana jeans, lengkap dengan ikat pinggang kulit coklat tua. Perpaduan itu membuatnya tampak setengah pekerja, setengah pria mapan... unik dengan caranya sendiri.

Chatrine yang tengah menyesap kopi hampir saja terbatuk ketika melihat sosok Liam. Dari sudut pandangnya, Liam bukan tipe pria metropolitan dengan jas mahal atau sepatu kulit mengilap. Namun tinggi tubuhnya yang menjulang, bahu bidang, serta otot-otot yang terbentuk alami dari kerja keras di bengkel kayu membuatnya memancarkan daya tarik yang berbeda. Maskulin tanpa banyak usaha. Pesona yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit, pikir Chatrine sambil mengatur napasnya.

“Wah…” gumam Isabel lirih sambil menepuk tangan. “Liam, kau terlihat seperti pria yang akan menghadiri pertemuan bisnis besar.”

Liam menghela napas, jelas tidak nyaman dipuji. “Bu, aku hanya pergi bekerja seperti biasanya.”

Liam berlagak normal, seolah dia memang biasa berpenampilan seperti itu.

Isabel tetap tersenyum lebar. “Seandainya setiap hari seperti ini, mungkin kau sudah punya pasangan.”

“Bu!” potong Liam cepat, melirik ke arah Chatrine.

Chatrine tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ada sesuatu yang menggelitik, melihat lelaki itu begitu kewalahan menghadapi ibunya sendiri.

“Sudah, kita berangkat.” Liam menyambar kunci pikup di meja, lalu menoleh singkat ke arah Chatrine. “Kau ikut di belakang.”

Artinya Liam menyuruh Chatrine tetap membawa mobil sendiri. Liam tidak mau memberi tumpangan.

Chatrine berdiri, merapikan blazer tipis yang baru dia pakai.

Isabel ikut berdiri, wajahnya sumringah seolah baru menghirup udara pagi yang sangat segar melegakan.

“Chatrine, jangan segan mampir kapan pun. Rumah ini selalu terbuka untukmu.”

“Terima kasih, Bibi Isabel,” jawab Chatrine sopan sambil memberi senyum paling manisnya.

Liam cuma menoleh sebentar sebelum berpamitan cepat, “Kami berangkat dulu, Bu.”

“Baik, hati-hati, kalian berdua!” Isabel melambaikan tangan, tampak puas.

Di luar, Liam membuka pintu pikup-nya dengan gerakan singkat lalu menyalakan mesin. Chatrine melangkah ke mobilnya sendiri, yang berada di halaman samping rumah Eva. Sebuah sedan hitam mengkilap elegan yang sangat kontras dengan pikup kusam milik Liam. Saat kaca mobilnya diturunkan, Chatrine sempat melirik ke arah Liam yang sedang mengecek kaca spion.

Mata mereka saling bertemu, tapi tidak ada tanggapan apapun dari ekspektasi Liam.

Liam melajukan pikup pelan, memastikan Chatrine tetap mengikutinya dari belakang. Dari spion, Liam sempat beberapa kali kembali menangkap pantulan wajah wanita pirang itu. Tampak profesional, namun sorot matanya berbeda... seolah sedang menilai lawan atau justru sedang menunggu, siapa yang bakal menang dalam permainan.

Dan pikiran itu membuat Liam semakin kesal.

Liam merasa, Chatrine sengaja datang ke Canterbury, menciptakan permainan gila ini utuk balas menghinanya. Liam tidak boleh luput, tidak boleh tergelincir pada siasat wanita yang ingin membalas dendam.

******

Begitu sampai di halaman parkir galeri. Liam juga sengaja memarkir mobilnya jauh-jauh dari mobil Chatrine. Chatrine berusaha mengabaikan sikap dingin Liam yang masih berusaha mengacuhkannya.

Liam keluar dari dalam mobil, langsung bicara pada beberapa pekerjaannya yang baru sampai. Nampak seperti sedang memberi instruksi, tapi Chatrine cuma menyimak dari tempatnya berdiri. Kedua pria pekerja sempat melihat ke arah Chatrine tapi Liam tetap tidak memperkenalkan mereka.

Setelah kedua pekerja pergi lebih dulu untuk memulai pekerjaan, Liam baru berjalan menghampiri Chatrine untuk dia ajak masuk melalui pintu depan galeri.

"Ayo!" Liam juga langsung melangkah cepat, tidak terlalu menghiraukan.

Beruntung wanita yang sedang berjalan di belakangnya sudah sangat terlatih menghadapi pria super dingin dan kaku macam Aron Loghan. Selain itu, Chatrine juga bukan tipe wanita yang memerlukan perhatian sentimentil remeh dari laki-laki.

Begitu pintu galeri terbuka, aroma khas cat minyak bercampur kayu langsung menyergap hidung Chatrine. Ia berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling seolah seorang juri seni rupa sedang menilai peserta pameran dengan wajah kritis.

“Hmm…” gumamnya pelan, matanya menyapu dinding putih yang sudah kusam di beberapa titik, rak kayu yang nyaris reyot, dan pencahayaan yang terasa lebih seperti gudang barang bekas ketimbang ruang pameran.

Lampunya terlalu redup…

Penataan karya tidak ada alur cerita…

Brosur tidak menarik…

Kepala Chatrine seketika penuh dengan berbagai catatan.

"Kondisi ini tidak dapat dibawa ke level branding internasional!" Chatrine langsung berkomentar. "Tidak ada atmosfer yang bisa membuat pengunjung betah lebih lama."

"Apa kau datang jauh-jauh kemari hanya untuk mengkritisi pekerjaanku?!"

"Aku datang untuk bekerja untukmu!" Chatrine tetap sangat tegas dengan tatapan profesional. "Tugasku sekarang untuk membenahi semua kekacauan."

"Ini hanya galeri di pinggiran kota, pembeli datang karena sudah percaya dengan kualitas barang yang kami hasilkan."

"Oke, boleh aku bicara jujur?" Chatrine menantang Liam.

Karena Liam tidak menghentikan, artinya 'boleh'.

"Jujur aku tidak suka dengan seniman." Chatrine nekat melanjutkan. "Karena biasanya mereka keras kepala untuk mendengar inovasi dari orang lain."

"Lalu kenapa kau ada di sini?!" Tegas Liam langsung memotong.

"Karena aku harap kau tidak seperti mereka!" Chatrine mengangkat dagu tegak, agar wajah mereka bisa sejajar.

Setelah menahan gumpalan keras di dada, akhirnya Liam menghela napas dalam, dia hembuskan lagi dengan kasar.

"Terserah apa yang mau kau lakukan!"

Suara Liam masih terdengar ketus, tapi Chatrine tidak peduli, poin pentingnya dia sudah mendapat persetujuan.

"Terimakasih untuk persetujuan Anda, Mr. Conelli."

Liam langsung melotot. "Jangan memanggilku seperti itu!"

Liam jelas tidak suka basa-basi resmi.

"Lalu aku harus menyebut bagaimana?"

Chatrine serius menunggu, tapi lirikan matanya menyimpan lelucon yang sedang ingin Liam tepis jauh-jauh.

"Liam saja!"

Liam sudah berjalan masuk lebih dulu, membawa Chatrine berjalan di belakangnya. Semakin melangkah masuk, Chatrine merasa semakin kacau. Semua barang seni yang sebenarnya bisa bernilai tinggi, cuma asal di letakkan begitu saja.

"Kau benar-benar seperti tidak memiliki alur kehidupan."

Liam menghela napas panjang, berusaha tidak tersinggung oleh omong wanita. “Aku butuh orang yang bisa kerja nyata, bukan orang yang cuma bisa membuat akronim.”

“Tenang saja,” jawab Chatrine, tersenyum sambil melangkah kedepan Liam, setengah menghadang, setengah menantang. “Aku tidak memiliki otot keras seperti para pekerjamu, tapi aku bekerja mengunakan otak. Multitasking. Kau tahu, aku menguasai hal yang kebanyakan pria kesulitan melakukannya.”

Liam mendengus, tapi tidak membalas kesombongan Chatrine.

"Sekarang tunjukkan di mana ruang kerjaku!" Chatrine siap bekerja dengan cekatan.

"Tidak ada ruang kerja khusus." Liam terus berjalan menuju tangga besi menuju lantai dua. “Kau bisa gunakan ruang kerjaku, aku lebih banyak bekerja di gudang.”

Tangga besi berderit ringan ketika mereka naik. Sampai di atas, Liam membuka sebuah pintu kayu tebal. “Ini bukan ruang kantor di Denton Global.”

Begitu masuk, Chatrine langsung terdiam. Ruangan itu jelas sekali, ruang kerja laki-laki normal.

Ada meja kayu besar penuh goresan, di atasnya bertumpuk sketsa, kertas faktur, dan beberapa paku berserakan begitu saja. Laptop tua tergeletak dengan kabel yang tidak pernah dilepas dari charger. Di sudut ruangan ada tumpukan katalog setengah sobek, sebuah kursi kayu dengan bantalan tipis yang warnanya sudah pudar, serta sebuah sofa kecil yang tampaknya dulu berwarna krem, tapi kini lebih mirip abu-abu misterius.

Belum lagi dinding yang ditempeli catatan-catatan acak dengan selotip, sebagian sudah melengkung ke luar. Dan... Chatrine menahan napas...

“Wow…” Chatrine sampai harus mengedip beberapa kali. “Aku tidak tahu harus menyebut ini ruang kerja… atau proyek eksperimen sosialmu.”

Liam langsung memberi catatan tegas. “Ini tempatku berpikir. Jangan ganggu sistem yang sudah berjalan.”

“Sistem?” Chatrine menunjuk tumpukan kertas kusut di meja. “Ini bukan sistem, Liam. Ini tumpukan fosil administrasi.”

Liam bersandar di pintu, menyilangkan tangan. “Kau datang untuk bekerja di galeri seni atau membuka jasa kebersihan?”

Chatrine tersenyum tipis, kali ini mencoba lebih hati-hati. “Aku hanya bertanya… boleh aku merapikan beberapa barang? Supaya lebih… profesional?”

Liam menatap Chatrine sebentar, lalu mengangkat bahu. “Terserah. Atur saja senyamanmu. Asal jangan pindahkan palu kecil di pojok meja. Aku tahu persis posisinya.”

Chatrine hampir tertawa, tapi berhasil menahannya. “Baiklah, tuan seniman. Palumu tetap aman. Aku akan menjaganya dengan nyawaku!"

Liam tak peduli. Ia sudah berjalan keluar, menuruni tangga lagi. “Aku di gudang. Kalau butuh sesuatu, teriak saja. Aku tidak punya bel pintu khusus untuk manajer magang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status