Share

BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

Author: Jemyadam
last update Last Updated: 2026-02-16 22:27:56

Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia.

Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila.

"Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat.

"Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh."

"Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin.

"Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama.

"Tidak!" Liam langsung menolak. "Di sini aku yang atur!"

Chatrine sedikit melotot. "Waktu sangat berharga untuk kau sia-siakan!"

"Aku tidak peduli, di sini aku bosnya. Ikuti saja aturanku jika kau serius mau bekerja!"

Chatrine coba menghela napas dalam, menahan diri agar tetap tenang.

"Oke, apa yang harus aku lakukan selam menunggu bosku bersiap?"

"Lakukan saja, seperti yang biasa kau lakukan!" Liam tidak perduli.

"Aku biasa mengatur jadwal sarapan untuk Aron Loghan, mengatur menu diet khusus, menyiapkan pakaian, aksesoris, menata seluruh fashionnya." Chatrine memberitahu kebiasaan paginya. "Sekarang aku juga bisa melakukan untukmu."

"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Liam menolak dengan sangat tegas hampir jijik.

"Dengarkan sedikit saranku, untuk memperbaiki fashion mu. Menurutku kau terlalu sederhana. Kau bisa terlihat lebih profesional untuk menarik klien."

"Aku bekerja di gudang kayu, aku tidak perlu semua itu!" Liam mulai geram dengan wanita yang suka mengatur pakaiannya. "Aku bukan bayi besar yang butuh pengurus fashion!"

"Bahkan pria sebesar Aron Loghan tidak pernah keras kepala ketika aku belanja dan memilihkan pakaian dalam untuknya."

Kali ini Liam yang ingin melotot. Tapi tiba-tiba ibunya keluar dari pintu teras depan. Isabel keluar sambil menepuk-nepuk tangannya dari sisa tepung adonan roti.

Sinar matahari pagi masih lembut. Liam berdiri di depan pikapnya, masih memegang lap oli, sementara Chatrine berdiri di hadapannya dengan postur rapi sempurna.

Mata Isabel langsung membulat, bibirnya sedikit ternganga. Ia sama sekali tidak menyangka ada wanita muda, pirang, cantik luar biasa, berdiri di halaman rumahnya.

“Liam… siapa dia?” suara Isabel antara kaget dan ingin tahu.

Chatrine bereaksi cepat. Seolah-olah sudah terlatih menghadapi momen kejutan, ia langsung melangkah maju, lalu meraih tangan Isabel dengan sopan.

“Perkenalkan, nama saya Chatrine Grace Madison,” ucapnya penuh percaya diri, suaranya lembut namun berwibawa. “Mulai hari ini aku akan bekerja di galeri seni milik Liam, khususnya pada bidang managing strategic marketing and gallery development.”

Nada formalnya seakan sedang melakukan elevator pitch kepada investor.

Isabel semakin terkejut. Ia berkedip beberapa kali, menatap Liam, lalu kembali ke Chatrine.

“Marketing… apa? Pengembangan… apa?” Isabel benar-benar awam dengan bahasa Chatrine.

Chatrine tetap dengan senyum profesionalnya. “Secara sederhana, saya akan membantu mengelola promosi, branding, sekaligus mengembangkan strategi jangka panjang agar galeri dapat bersaing dengan pasar seni internasional.”

Isabel melongo. Seumur hidupnya, yang ia tahu tentang galeri hanyalah ruang penuh kursi kayu, meja makan kuno, dan hiasan tembikar.

“Liam, pekerjaan apa itu?” Isabel akhirnya menoleh pada putranya dengan wajah polos.

Liam mendesah dalam hati. Ia tahu ibunya tidak akan mengerti istilah rumit yang baru saja keluar dari mulut Chatrine. Maka ia spontan melontarkan kebohongan.

“Bu, dia cuma… praktek studi. Untuk mata kuliahnya di jurusan seni.” Liam berkata sekenanya, sambil pura-pura mengelap sisa oli di tangannya agar terlihat sibuk.

“Oh…” Isabel langsung mengangguk paham, wajahnya berseri. Ia menoleh ke Chatrine. “Jadi kau masih kuliah? Kau mahasiswa?”

Chatrine sempat membeku sepersekian detik. Ia ingin melotot pada Liam, bahkan mulutnya gatal ingin segera melempar protes pedas ke wajah pria itu karena memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa. Tapi senyum Isabel terlalu tulus untuk dihancurkan. Jadi Chatrine hanya mengangkat sudut bibirnya dengan terpaksa.

“Iya… semacam itu.”

Isabel tersenyum lebar, begitu bahagia.

“Kau cantik sekali. Seperti supermodel.”

“Oh, terima kasih, Bibi” jawab Chatrine dengan nada sangat sopan.

Isabel mencondongkan badan sedikit, penuh rasa ingin tahu. “Jadi… kau tinggal di mana?”

“Di rumah Eva,” jawab Chatrine tanpa ragu.

Mata Isabel makin membesar. “Kau juga mengenal Eva?!” suaranya penuh semangat, hampir seperti anak kecil mendengar nama idola. “Eva itu sudah seperti putri bagiku.”

“Ya, kami teman baik.” Chatrine menjawab mantap, tetap dengan sikap profesional.

Di sisi lain, Liam merasa perutnya mual. Baginya, istilah teman baik itu terlalu manis untuk Chatrine yang diam-diam juga ingin 'berkolaborasi' dengan suami Eva untuk menghasilkan bayi. Jujur saja Liam masih kesal dengan hal itu. Tapi mendadak otak Liam terhenti oleh suara ibunya sendiri.

“Apa kau sudah sarapan? Liam juga belum sarapan. Ayo sarapan bersama kami.” Isabel menepuk punggung lengan Chatrine untuk dia ajak masuk ke dalam rumah.

Liam buru-buru melangkah maju, hampir panik. “Ibu, itu tidak perlu!” suaranya terdengar sedikit meninggi.

Namun Chatrine malah tersenyum sopan, mengangguk penuh gembira. “Terima kasih, bibi. Dengan senang hati.”

“Panggil saja Isabel. Jangan sungkan…”

“Terima kasih, Bibi Isabel,” sahut Chatrine sambil menambahkan senyum selembut sutra.

Senyum yang Liam yakini sama sekali tidak tulus. Entah apa lagi rencana gila Chatrine. Liam tidak suka wanita manipulatif itu mendekati ibunya.

Sementara Chatrine sudah ikut masuk ke dalam rumah. Liam masih berdiri di samping pikapnya, perasaan Liam terus campur aduk... jengkel, lelah, tapi di satu sisi tidak bisa menyangkal bahwa Chatrine langsung berhasil merebut hati ibunya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.

Begitu masuk ke dalam rumah Isabel, aroma roti panggang dan kopi hitam menyambut hangat. Ruang makan sederhana dengan meja kayu tua penuh ukiran tampak nyaman meski jauh dari kesan mewah. Kursi-kursi sedikit berderit ketika ditarik, taplak meja bermotif bunga tampak bersih tapi agak pudar.

Chatrine langsung memindai ruangan itu dengan sorot mata profesional, seolah sedang menilai interior calon butik mewah. Dia bahkan sempat melirik tirai bermotif garis-garis hijau.

Liam sudah menyusul berdiri di belakang Chatrine, ketika wanita itu berkomentar pelan.

“Kalau aku ganti dengan linen putih polos, pencahayaan alami akan lebih maksimal.”

Liam hampir tersedak napasnya sendiri ketika mendengar gumaman Chatrine. Bahkan Chatrine belum lima menit masuk ke dalam rumah dan sudah ingin merombak dekorasi rumah ibunya.

"Kau boleh pergi, jika tidak nyaman." Liam balas berbisik pedas.

Tapi nampaknya Chatrine sama sekali tidak sadar, jika kata-katanya dapat menyinggung pemilik rumah.

"Aku khawatir jamur dan debu di rumahku membuatmu alergi" Liam menambahkan sindiran kesal.

Beruntung Isabel, tidak curiga jika kedua anak muda di depannya sedang bersitegang. Isabel tetap nampak bersemangat menyambut tamunya

“Silakan duduk, Chatrine. Kau tidak keberatan aku memanggilmu begitu, kan?”

“Tidak sama sekali, Bibi Isabel,” jawab Chatrine ramah, duduk dengan postur sempurna, lutut rapat, tangan terlipat anggun di pangkuan. Ia terlihat seperti model dalam iklan kopi premium.

Liam menjatuhkan dirinya ke kursi dengan gaya sebaliknya, malas, lelah, dan cenderung menghindari kontak mata.

Isabel meletakkan piring roti hangat di meja. “Ini roti gandum buatanku sendiri. Oleskan mentega, enak sekali.”

“Wah,” Chatrine mendekatkan wajahnya, menghirup aromanya, “harumnya luar biasa. Roti kelas dunia pun bisa kalah, Isabel.”

Isabel tertawa kecil, jelas tersanjung. “Ah, aku hanya ibu rumah tangga biasa. Tidak pernah ada yang memujinya seperti itu.”

“Kalau begitu izinkan aku menjadi yang pertama,” sahut Chatrine sambil tersenyum tulus… atau setidaknya terlihat tulus. Tapi memuakkan bagi Liam.

Liam menyimak interaksi itu dengan wajah tertekuk. Dalam hati ia mendengus... Ini bukan sekadar sarapan, ini operasi politik tingkat tinggi. Ibuku dipuji, ibuku bahagia, dan sebentar lagi ibuku mungkin akan menyerahkan rumah dan galeri padanya tanpa aku sempat menandatangani apa pun.

Isabel menuangkan kopi. “Minum, Chatrine. Kau minum kopi kan?”

“Ya, terima kasih.” Chatrine menerima cangkir dengan anggun, bahkan cara mengaduk sendoknya terdengar berirama.

Sebaliknya, Liam hanya menyambar cangkirnya tanpa basa-basi, meneguk cepat, lalu meringis karena panas.

Chatrine menahan tawa kecil, lalu menoleh ke Liam sambil berbisik pelan, “Kau mau aku bantu mendinginkan kopi mu dulu?”

Liam hanya menatap tajam dengan wajah... tolong berhenti tersenyum terlalu manis di mejaku.

Isabel menatap perbedaan mereka bergantian. “Kalian berdua lucu sekali. Seperti… kontras, tapi serasi.”

“Tidak, Bu.” Liam langsung memotong, hampir tersedak kopi. “Kami sama sekali tidak serasi!”

“Ah, aku cuma bercanda Liam... Jangan terlalu tegang.” Isabel menyunggingkan senyum jahil pada putranya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 11 SEMAKIN PANAS

    Entah bagaimana, siang itu yang dimulai dengan genggaman tangan tanpa sengaja, kini berubah menjadi pertemuan sepasang mata hangat dengan percikan aneh, canggung, tapi nyaris terlalu nyaman untuk dilanjutkan. Masalahnya... Beranikah mereka berdua untuk melanjutkan? Sendok Liam beradu pelan dengan mangkuk, suaranya seolah mengetuk ruang hening yang menggantung di antara mereka. Chatrine menusuk sepotong jeruk dari saladnya, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan hati-hati, seolah setiap tatapan Liam adalah kamera pemindai dengan sensor laser. Liam tidak berdusta, dia ingin segera menggigit bibir Chatrine! Liam sudah hampir menghabiskan satu mangkuk besar sup utuk mengalihkan pikiran kotor ketika Chatrine mulai berkomentar dengan nada sarkas. “Apa kau selalu makan sebanyak itu?” "Sepertinya aku bakal perlu lebih banyak energi untuk menghadapi mu." Chatrine menahan napas sepersekian detik. "Nampaknya semua ini memang telah kau rencanakan." Lalu Chatrine pura-pura sibuk mengaduk s

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 10 MULAI HANGAT

    Walaupun kesal dengan tingkah Chatrine, ternyata Liam tetap tidak tega membiarkan wanita kelaparan. Akhirnya siang itu, meskipun sudah agak terlambat untuk makan siang, Liam membawa Chatrine pergi ke restoran kecil langgannya. Pintu kaca swing berderit ringan saat Liam mendorongnya, suasana hangat langsung menyeruak. Lantai kayu tua berderit setiap kali ada langkah pengunjung baru memasuki pintu depan. Chatrine menatap sekeliling. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama kota Canterbury, seakan pemiliknya ingin setiap pengunjung merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Chaterine sempat kaget... tidak menyangka sebuah restoran kecil bisa terasa begitu hidup. Bukan karena dekorasi mewah, melainkan karena orang-orang di dalamnya. Hampir semua saling mengenal, tertawa sambil menyapa, bahkan ada yang sekadar melambaikan tangan ketika seorang pelanggan baru masuk. Begitu Liam melangkah, suara hangat seorang pria langsung terdengar memangil. “Liam!” suara berat penuh semangat terdengar dari a

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 9 SALING TEGANG DAN PANAS

    Di luar bilik kamar mandi yang baru bergeser tertutup, Chatrine berdiri kaku seperti arca batu. Liam benar-benar tidak masuk akal, dia mandi telanjang di bawah shower deras. Chatrine terus berdiri kaku dengan jantung berdebar kencang. Masalahnya kamar mandi di sudut ruangan itu cuma disekat pintu kaca agak buram. Tubuh telanjang Liam cukup terlihat jelas oleh mata Chatrine yang masih normal. Cahaya lampu redup di dalam kamar mandi memantulkan siluet tubuh Liam. Garis bahunya, punggungnya, gerakan tangannya yang sedang menyapu rambut dengan busa sabun, bahkan bayangan otot perut yang berdenyut naik-turun seirama dengan tarikan napasnya... Sialnya lagi... semua detail maskulin liar itu justru semakin jelas dalam kepala Chatrine. Chatrine sampai harus meneguk udara serat, 'Astaga… apa yang kau pikirkan Chatrine?' bisiknya dalam hati setengah panik setengah malu pada pikirannya sendiri. Liam terlihat santai, sementara Chatrine terus ingin mengumpat dengan bibirnya yang terlalu cerda

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 8 PRIA PRIMITIF

    Begitu pintu tertutup, Chatrine berdiri sendirian di ruang kerja Liam yang lebih menyerupai markas psikopat. Ia meletakkan tas, menghela napas panjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri. “Baik, Chatrine. Tantangan dimulai. Kalau kau bisa bertahan bekerja di ruangan ini tanpa gila, maka kau bisa bertahan di mana saja!” Sebelum membuka laptop, Chatrine coba merapikan beberapa barang di atas meja dengan hati-hati. Markas laki-laki bisa penuh barang berbahaya yang tidak terduga. Chatrine harus waspada. "Semoga saja aku tidak menemukan kondom bekas!" Sementara Chatrine sibuk membersihkan ruang kerja Liam di lantai atas. Di gudang galeri, suara mesin kayu kembali meraung, menggema hingga ke dinding-dinding yang penuh dengan serbuk gergaji. Liam, dengan lengan yang sudah penuh debu kayu, fokus memotong sudut meja makan klasik besar pesanan Tobias Harlot... seorang billionaire yang mempercayakan semua perabot interior rumah mewah barunya di London pada galeri Liam. Beberapa pekerja la

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 7 SARAPAN BERSAMA

    Isabel tak berhenti kagum. “Chatrine, aku masih penasaran… kau bilang bekerja di bagian apa tadi?” “Managing strategic marketing and gallery development,” jawab Chatrine penuh percaya diri. Isabel mengerjap. “Itu kedengarannya sangat penting. Apa artinya?” Isabel serius tidak paham dengan bahasa modern. “Artinya,” Chatrine mencondongkan tubuhnya sedikit, “aku akan membantu Liam menjual lebih banyak karya seni, menarik pengunjung dari luar kota, membuat galeri lebih terkenal, bahkan mungkin menghubungkannya dengan pasar seni internasional.” “Wah!” Isabel berdecak kagum. “Liam, kau dengar itu? Pasar internasional!” Liam menutup mata sebentar, menahan sabar. “Bu, itu hanya… teori kampus.” Isabel tidak peduli. Ia menoleh ke Chatrine, matanya berbinar. “Kau tahu, Chatrine, aku sudah lama ingin Liam punya pasangan yang cerdas. Dia terlalu keras kepala kalau sendirian.” “Bu!” Liam hampir menjatuhkan sendoknya. “Ini bukan tentang pasangan!” Tentu saja, Isabel tidak akan melewatkan p

  • MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN   BAB 6 KETEGANGAN YANG LUCU

    Sampai detik ini dan sampai wanita cantik berambut pirang itu berdiri di hadapannya, Liam masih sulit percaya jika seorang Chatrine Madison nekat datang ke kota kecil cuma untuk bekerja di galeri pinggiran kota. Bahkan pagi-pagi sekali Chatrine sudah siap dengan pakaian super rapi dan stylish. Seolah dia akan memimpin rapat penting di pusat kota bisnis dunia. Aron parfum yang dipakai oleh Chatrine sangat harum semerbak, lembut sekaligus segar. Liam berusaha fokus pada lawan bicaranya yang terlalu cerdik dan cerdas. Ribuan kali Liam harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing pikiran gila. "Jam berapa kita berangkat?" Chatrine sudah benar-benar siap dan nampak profesional, cekatan, bersemangat. "Galeri buka jam sembilan. Ini baru setengah tujuh." "Oh, kalian pemalas sekali memulai hari!" Kritik itu keluar begitu saja dari bibir Chatrine yang terbiasa hidup disiplin. "Bisa tidak, kita mulai lebih pagi?" Chatrine tidak mau menunggu terlalu lama. "Tidak!" Liam l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status