Compartir

Bab 59

Autor: Narra Azahra
last update Última actualización: 2025-04-10 17:27:27

Zaina duduk di lantai ruang tamu, mengenakan daster longgar warna biru muda serta kerudung instan. Di pangkuannya, Zaina menguncir rambut Rara putri kecil Indah. Gadis kecil itu anteng sedang asyik memainkan boneka kecilnya. Tangannya yang mungil sesekali menarik mainan yang lain, sehingga membuat Zaina mendengus. karena Rara yang tiba-tiba bergerak membuat kunciran itu tidak rapih

“Raraaa, pelan dong,” keluh Zaina sambil membenahi rambut Rara yang mulai berantakan.

Indah muncul dari dapur membawa dua gelas teh hangat. Ia duduk di sebelah Zaina sambil mengamati tingkah putrinya yang semakin lengket sejak Zaina datang.

"Gimana agak susah kan?" Tanya Indah.

Zaina meringis, "Dikit mbak, tapi tadi Rara anteng kok. iya kan Ra?"

Rara mengangguk seolah mengerti, masih dipangkuan Zaina.

“Kayaknya Rara milih tantenya daripada mamanya sendiri deh,” celetuk Indah sambil menyodorkan teh. “Kalau Rara rambutnya aku kuncir selalu gak mau, Za.”

Zaina tertawa kecil, menerima teh itu. “An
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Bab 82

    HALLO, AKU COMEBACK LAGI. MAAF BANGET YAA KALAU KALIAN NUNGGU CERITA INI BELUM DI PUBLISH BERBULAN-BULAN. AKU BENAR-BENAR GAK SEMPAT NULIS. APALAGI SETELAH AKU MAGANG DAN BARU AJA DIVONIS RADANG PARU-PARU. **** Arkana tak henti menatap Zaina. Istrinya itu entah kenapa terlihat jauh lebih cantik setelah melahirkan. Rasanya setiap hari ia jatuh cinta berulang kali. Ditambah melihat cara Zaina tersenyum pada Arzain, cara ia menepuk-nepuk punggung kecil itu, cara ia menahan lelah demi menjadi ibu terbaik. Semuanya membuat Arkana merasa seperti sedang melihat cahaya. Di depan sana, Zaina sedang menidurkan Arzain. Gerakan lembut tangannya membuat hati Arkana terasa hangat. Fokusnya pada pekerjaan menghilang begitu saja. Tak butuh waktu lama, Arzain mulai terlelap. Nafas bayi kecil itu teratur, pipinya turun naik pelan. Zaina membaringkannya ke kasur bayi, membetulkan selimutnya, lalu berjalan kembali ke samping suaminya. “Kenapa?” tanya Zaina sambil duduk. “Dari tadi liatin aku

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Bab 81

    Syifa keluar dari mobilnya perlahan. Maghrib ini, ia berniat menunaikan salat di salah satu masjid terdekat. Usai menghadiri acara fashion show, tubuhnya terasa lelah, dan hujan rintik yang terus turun membuatnya mengembangkan payung putih yang selalu ia bawa. Ia melangkah hati-hati menaiki tangga masjid, lalu berbelok menuju tempat wudhu perempuan. Seusai berwudhu, Syifa masuk ke area salat khusus perempuan. Di sana, hanya beberapa jamaah yang sedang salat atau duduk menunggu iqamah. Ia memilih saf bagian belakang, memakai mukena, dan duduk menunggu imam. Usai salat, niat awal Syifa adalah langsung pulang. Namun, hujan telah berubah menjadi sangat deras. Petir sesekali menyambar dan membuat langit seakan terbelah. Ia berdiri ragu di serambi masjid. Payungnya terasa tak akan cukup kuat menahan hujan seberat ini, dan perut besar nya yang kini mengandung delapan bulan membuatnya berpikir dua kali untuk nekat berjalan ke mobil. Ia memilih duduk di sudut serambi. Hijab panjangnya ia

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Bab 80

    “Sayang, kamu beneran mau jodohin Syifa?” tanya Arkana, masih tak percaya. Zaina mengangguk mantap. “Ya iyalah, Mas. Masak aku bercanda? Ngapain juga?” Benar saja, kini Zaina dan Arkana sudah duduk di sebuah restoran untuk mempertemukan Syifa dengan seseorang. Arkana masih menyimpan keraguan. “Kamu jodohin sama siapa, sih?” tanyanya lagi. “Nanti juga kamu tahu sendiri,” jawab Zaina sambil tersenyum misterius. Arkana merasa tak enak hati. Ia tahu betul Syifa sedang dalam masa sulit dan tengah menghindari laki-laki, apalagi urusan pernikahan. Siapa juga yang mau menikah dengan wanita yang sedang hamil dan bukan anaknya? Tapi Arkana hanya bisa diam. Sejak Zaina menjadi ibu, posisi Arkana sebagai suami takut istri. Tak lama, seorang pria mendekati meja mereka. Wajahnya sangat familiar bagi Arkana. “Nah, ini loh, Mas,” ujar Zaina sumringah. “Za, apa kabar?” sapa pria itu, Kaelan. “Baik. Kamu gimana?” balas Zaina hangat. “Alhamdulillah,” jawab Kaelan. Tatapan Kaelan kemudian tert

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Bab 79

    Syifa duduk rapi di sofa, menggenggam jemari tangannya sendiri. Perutnya yang mulai membuncit tampak samar di balik gamis longgar yang dikenakannya. Ia menunduk, menahan gelisah. Pikirannya melayang ke pesan dari Kaelan yang belum juga ia balas. Ia belum siap. Tak lama, suara langkah pelan terdengar dari arah dapur. “Maaf ya, lama,” ujar Zaina hangat, datang sambil membawa segelas air putih. Syifa cepat berdiri, tapi Zaina menahan bahunya lembut agar tetap duduk. “Aku yang minta maaf, Mbak, udah ngerepotin lagi.” Zaina tersenyum sambil duduk di sampingnya, matanya menatap Syifa penuh kasih. “Kamu itu udah aku anggap kayak adik sendiri, Sif. Jadi gak usah mikir repot atau enggak.” Syifa menunduk malu, tapi juga terharu. “Alhamdulillah... janinnya sehat, Mbak. Kata dokter perkembangannya juga bagus.” Zaina tersenyum semakin lebar. “Syukurlah. Kamu juga harus jaga makan, istirahat cukup ya. Jangan mikirin yang aneh-aneh.” Syifa hanya mengangguk pelan. Namun matanya s

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Season 2

    Dengan langkah sempoyongan, Kaelan menyusuri lorong klub yang dipenuhi lampu kelap-kelip dan suara musik yang menghantam jantung. Tubuhnya terasa panas, keringat membasahi pelipisnya. Seolah ada bara api yang menyala di seluruh tubuhnya membakar kewarasannya perlahan-lahan. Tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok perempuan yang duduk sendiri di sudut ruangan. Sesuatu dalam dirinya seperti memanggil Kaelan untuk mendekat. Wajah perempuan itu memerah, entah karena alkohol atau sesuatu yang lebih dari itu. Tanpa berpikir panjang, Kaelan melangkah mendekat. Perempuan itu berdiri, lalu tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Kaelan erat-erat. Napasnya memburu, bibirnya gemetar saat berkata, "Panas, kamu juga merasakannya, kan?" Suara itu tampak menggoda. Kaelan diam. Jantungnya berdebar. Tubuhnya berkata ya, tapi pikirannya berteriak tidak. Ia ingin mendorong gadis itu. Ingin berlari. Tapi ciuman hangat di lehernya membuat semua keinginannya lumpuh. Obat biadab itu t

  • MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN   Bab 78

    Restoran yang dipilih Kaelan tidak ramai, suasananya tenang. Mereka duduk di meja dekat jendela, diterpa cahaya matahari siang yang hangat. Obrolan mereka ringan. Tentang makanan, tentang rumah sakit, tentang cuaca yang tak menentu. Untuk sesaat, Syifa merasa seperti tidak sedang membawa beban berat di pundaknya. Kaelan bisa membuat segalanya terasa lebih ringan dan lebih nyaman. Namun setelah beberapa waktu, pembicaraan mereka terhenti. Keduanya terdiam sambil menyesap minuman masing-masing. Kaelan menatap wajah Syifa lekat-lekat. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Wajah gadis ini terlalu familiar. Bukan hanya dari pertemuan singkat sebelumnya. Seolah mereka pernah lebih dekat? "Kenapa?" tanya Syifa, menyadari tatapan itu. Kaelan cepat menggeleng sambil tersenyum. "Gak apa-apa. Cuma, merasa pernah ketemu kamu di tempat lain, tapi lupa di mana." Syifa menunduk sedikit. "Mungkin dunia ini memang kecil." Kaelan tersenyum lagi, lalu mengambil kartu nama dari dompetnya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status