LOGINZaina, seorang gadis yang baru saja kehilangan tantenya, dipaksa masuk pesantren untuk bekerja sebagai mbak dapur demi melindungi diri dari ancaman suami tantenya. Zaina terpaksa menikah dengan anak pertama kyai, karena kesalahpahaman. Mereka berdua harus saling beradaptasi, menghadapi gosip, dan mencari jalan menuju kebahagiaan meski penuh konflik.
View MorePonsel Zaina bergetar pelan di tangannya. Ia baru saja duduk di tepi ranjang ketika satu pesan masuk dari Umi Khadijah. "Zaina, Alana mau melangsungkan pertunangan. InsyaAllah minggu depan." Zaina menatap layar beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah baca. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa menunda, ia langsung bangkit dan melangkah ke arah kamar. Arkana terlihat berdiri di dekat jendela, menggendong Arzain yang kepalanya bersandar di dada. Tangannya mengusap punggung kecil itu pelan, ritmis, menidurkan dengan sabar. “Mas,” panggil Zaina pelan. Arkana tidak langsung menoleh. Fokusnya masih pada napas kecil yang teratur di lengannya. “Kenapa?” tanyanya akhirnya, suaranya dikecilkan, nyaris berbisik. “Umi barusan ngechat,” ucap Zaina sambil mendekat. “Alana mau tunangan, Mas.” “Hah?” Arkana refleks menoleh. Nadanya sedikit naik sebelum sempat ia tahan. “Gimana?” Tubuh Arzain terlonjak kecil karena perubahan nada itu, alisnya mengernyit sebentar. Un
HALLO, AKU COMEBACK LAGI. MAAF BANGET YAA KALAU KALIAN NUNGGU CERITA INI BELUM DI PUBLISH BERBULAN-BULAN. AKU BENAR-BENAR GAK SEMPAT NULIS. APALAGI SETELAH AKU MAGANG DAN BARU AJA DIVONIS RADANG PARU-PARU. **** Arkana tak henti menatap Zaina. Istrinya itu entah kenapa terlihat jauh lebih cantik setelah melahirkan. Rasanya setiap hari ia jatuh cinta berulang kali. Ditambah melihat cara Zaina tersenyum pada Arzain, cara ia menepuk-nepuk punggung kecil itu, cara ia menahan lelah demi menjadi ibu terbaik. Semuanya membuat Arkana merasa seperti sedang melihat cahaya. Di depan sana, Zaina sedang menidurkan Arzain. Gerakan lembut tangannya membuat hati Arkana terasa hangat. Fokusnya pada pekerjaan menghilang begitu saja. Tak butuh waktu lama, Arzain mulai terlelap. Nafas bayi kecil itu teratur, pipinya turun naik pelan. Zaina membaringkannya ke kasur bayi, membetulkan selimutnya, lalu berjalan kembali ke samping suaminya. “Kenapa?” tanya Zaina sambil duduk. “Dari tadi liatin aku
Syifa keluar dari mobilnya perlahan. Maghrib ini, ia berniat menunaikan salat di salah satu masjid terdekat. Usai menghadiri acara fashion show, tubuhnya terasa lelah, dan hujan rintik yang terus turun membuatnya mengembangkan payung putih yang selalu ia bawa. Ia melangkah hati-hati menaiki tangga masjid, lalu berbelok menuju tempat wudhu perempuan. Seusai berwudhu, Syifa masuk ke area salat khusus perempuan. Di sana, hanya beberapa jamaah yang sedang salat atau duduk menunggu iqamah. Ia memilih saf bagian belakang, memakai mukena, dan duduk menunggu imam. Usai salat, niat awal Syifa adalah langsung pulang. Namun, hujan telah berubah menjadi sangat deras. Petir sesekali menyambar dan membuat langit seakan terbelah. Ia berdiri ragu di serambi masjid. Payungnya terasa tak akan cukup kuat menahan hujan seberat ini, dan perut besar nya yang kini mengandung delapan bulan membuatnya berpikir dua kali untuk nekat berjalan ke mobil. Ia memilih duduk di sudut serambi. Hijab panjangnya ia
“Sayang, kamu beneran mau jodohin Syifa?” tanya Arkana, masih tak percaya. Zaina mengangguk mantap. “Ya iyalah, Mas. Masak aku bercanda? Ngapain juga?” Benar saja, kini Zaina dan Arkana sudah duduk di sebuah restoran untuk mempertemukan Syifa dengan seseorang. Arkana masih menyimpan keraguan. “Kamu jodohin sama siapa, sih?” tanyanya lagi. “Nanti juga kamu tahu sendiri,” jawab Zaina sambil tersenyum misterius. Arkana merasa tak enak hati. Ia tahu betul Syifa sedang dalam masa sulit dan tengah menghindari laki-laki, apalagi urusan pernikahan. Siapa juga yang mau menikah dengan wanita yang sedang hamil dan bukan anaknya? Tapi Arkana hanya bisa diam. Sejak Zaina menjadi ibu, posisi Arkana sebagai suami takut istri. Tak lama, seorang pria mendekati meja mereka. Wajahnya sangat familiar bagi Arkana. “Nah, ini loh, Mas,” ujar Zaina sumringah. “Za, apa kabar?” sapa pria itu, Kaelan. “Baik. Kamu gimana?” balas Zaina hangat. “Alhamdulillah,” jawab Kaelan. Tatapan Kaelan kemudian tert


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews