登入Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian.
Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon "Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat." Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias. Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu merenggut harga dirinya. Ayura menggeleng. "Tidak, Bibi beritahukan saja padaku di mana ayah dirawat. Aku akan membiayainya sendiri mulai sekarang." Pamela, menatap Ayura dengan sorot tajam. Tampak seperti ingin menelan gadis itu bulat-bulat. Pamela sudah menduga ponakannya itu akan bereaksi seperti ini, tapi mau bagaimana pun, rencana yang sudah ia susun harus berhasil. "Bukan seperti itu yang kumau, Ayura. Ayahmu ada di tempat yang baik, dan dia hanya butuh para dokter hebat di sampingnya. Lagipula percuma jika kau hendak menemuinya." Ayura terpaku sejenak. "P-percuma? Kenapa?" Pikirannya sudah panik. "Ayahmu ada di luar negeri. Aku dan pamanmu sengaja memilih rumah sakit yang lebih bagus dan bisa menjamin kesembuhan ayahmu. Kau tidak akan mampu pergi ke sana dengan uang tabunganmu yang tidak seberapa itu, tapi apa jadinya jika kau membatalkan kesepakatan ini dengan tidak mematuhiku, Ayura?" Pamela menatap penuh intimidasi ke mata Ayura yang berkaca-kaca. "Kau tahu sendiri apa akibatnya." Ayura meremas samping gaunnya. Tubuhnya gemetar antara marah dan perasaan tidak berdaya. Uang lagi, masalahnya adalah tentang uang. Dan Ayuta tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana? Brahms, paman Ayura yang sejak tadi duduk di bangku sembari merokok dan menghitung uang di tangannya, ikut menyeletuk. "Biarkan saja, Pamela. Jika dia tidak mau, cukup kita batalkan saja pembayaran rumah sakit ayahnya untuk satu bulan ke depan." Ayura melotot. "Paman!" "Itu benar, 'kan? Kau tidak ingin menuruti kami, padahal jika nantinya Brian menikah denganmu, kau jugalah yang akan untung." Tapi bukan itu yang Ayura inginkan. Itu menjijikan dan tidak beradab sama saja dengan menjual diri, bahkan lebih parah. Ayura tidak bisa memikirkan solusi lain dan hanya bisa terdiam. "Tidakkah kau paham? Ini bukan lagi tentang egomu sendiri, ada ayahmu yang berjuang antara hidup dan mati." Pamela sengaja menekan kata-katanya. "Apa di saat seperti ini kau masih mementingkan diri sendiri?" seloroh Pamela. "Lagipula apa susahnya tidur dengan Brian?! Toh kau pasti sudah pernah melakukannya dengan pacarmu! Jadi jangan sok suci!" Ayura mengatupkan rahangnya, matanya berkilat marah. Pacar apanya? Ia bahkan tidak punya waktu untuk belajar, apalagi berkencan-bukan berarti selama ini ia ingin berkencan. Tapi lagi dan lagi ancaman paman dan bibinya membuat Ayura tunduk. Ayura tidak punya pilihan lain. Setelah menenangkan diri, ia keluar dari kamar paman dan bibinya. Seperti yang sudah ia duga, Brian tengah menunggunya di depan Ferrari miliknya, pria itu tampak dua kali lipat lebih tampan dibandingkan biasanya meski itu sama sekali tidak menggugah suasana hati Ayura. Ia bisa melihat sorot kesal di mata Brian. Pria itu terpaksa menunggunya untuk berangkat bersama ke acara prom atas paksaan Nyonya Elena, ibu Brian. Kedekatan antara Helena dan bibinya bukan karena mereka berteman atau apa pun, tapi karena keloyalan Helena terhadap pelayan yang mengabdi setia selama berpuluh tahun. Ayura memasang senyum palsunya. "Brian, apa aku cantik?" Brian melihat jejak memerah di mata Ayura, seperti habis menangis, tapi pria itu memilih mengabaikannya. Lalu memalingkan wajah setelah melihat keseluruhan wajah Ayura yang jelita. Telinganya memerah. Pria itu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Ayura. Ayura menyusul, daduk di samping Brian. "Apa kita akan berdansa bersama nanti? Kuharap kita bisa berpasangan, Brian." Suara lembut Ayura mengalun di telinga Brian. Brian tidak menjawab, sibuk melajukan mobilnya meninggalkan Mansion. "Sebenarnya ada beberapa pria yang mengajakku berdansa, mereka terus mengirimiku pesan, padahal aku sudah bilang aku akan berdansa bersamamu." Ayura sengaja mengarang cerita untuk melihat reaksi pria itu. "Brian, jangan cemburu, ya?" ledek Ayura dengan wajah polos. Brian melihatnya sejenak. Melempar tatapan sengit. "Bohong, tidak ada yang mau mengajakmu berdansa." Ayura bisa mendengar kalimat itu penuh cemoohan meski diucapkan datar. Apakah pria itu sedang mengungkit kakinya yang pincang? Brian benar, pernah mengancam seisi sekolah untuk tidak pernah mengajak Ayura berteman atau berinteraksi. Pria itu sengaja menyudutkan nya karena merasa jengah. Tapi tidak tahu saja ancaman itu tidak berlaku selamanya karena Ayura masih memiliki teman meski sedikit. Mungkin hanya Brian yang masih menganggapnya tidak berteman dengan siapa-siapa di sekolah. Ayura tidak berbicara apa-apa lagi, sibuk memikirkan rencana paman dan bibinya yang membuat kepalanya hampir pecah. Sementara Brian, diam-diam mencuri pandang. Ia sedikit heran dengan diamnya Ayura malam ini. Apalagi gadis itu tidak menyangkal kalimatnya terakhir kali, apa tujuan Ayura berbohong? Semua terasa membingunkan, Ayura lagi dan lagi merayunya dengan setengah hati. Dan itu sangat terlihat jelas. Brian membatin sambil membayangkan Ayura merayunya dengan mata berbinar-binar. Kemudian kepalanya menggeleng pelan, kenapa juga dia harus memikirkan wanita seperti Yura?! Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di lobi hotel. Tanpa menunggu Ayura, Brian berjalan cepat. Ia sengaja menghindari Ayura. Melihat dirinya ditinggal Ayura menghela nafas berat. Ia tidak berusaha mengejar Brian. Ia juga butuh jarak. Saat ini Ayura justru merasa gugup luar biasa. Tangan mungilnya meremas kantong gaun dengan gemetar, disana ada botol kecil yang menjadi misinya malam ini. Pikirannya tidak lagi terpaku pada acara dansa seperti yang tadi dicelotehkannya di mobil, tapi pada rencana untuk menjebak Brian. ***PENGUMUMAN!!! JANGAN LUPA FOLLOW DAN KOMEN DI CERITA INI. KALAU KOMENTAR LEBIH DARI 5 BESOK SIANG UPLOAD BAB BARU LAGI.... YUK RAMAIKAN!!! **********"****** "Apa statusmu sekarang?" Ayura menelan salivanya. "Um, menikah?" "Nama belakangmu?" "Widjaja," jawab Ayura pelan. Ia sudah tahu ke mana arah percakapan ini. Girsa menatapnya tajam. "Jika kau menikah denganku, otomatis kau memilih untuk melepaskan kebebasan masa mudamu, Yura. Kau tidak bisa bertingkah sembarangan di depan publik." Suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung tekanan yang jelas. "Kau menyandang nama Widjaja. Semua orang mengenalmu dan haus akan berita tentangmu. Jika muncul rumor buruk yang menjatuhkan nama keluargaku, apa yang bisa kau lakukan? Menangis? Meminta maaf?" Ayura semakin menunduk. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu membalas. "Sungguh istri yang patuh," sindir Girsa dingin. "Sekarang kau berani keluyuran malam tanpa meminta izin dariku." Ayura mengangkat wajahnya, mencoba membela d
Girsa merotasi bola matanya melihat Heidy sibuk memotret makanan yang terhidang di atas meja. Dia merasa waktu yang dimilikinya terbuang sia-sia. Sejujurnya dia tidak senang dengan perasaan ketika merasa jengkel terhadap Heidy—wanita itu adalah kesayangannya, tapi sekarang? Rasanya berbeda. Girsa mengerutkan kening, menjulurkan tangan untuk menyingkirkan ponsel Heidy yang menghadap ke arahnya. "Jangan memotretku." "Apa?" Alis gadis itu menyatu dengan tajam. "Kenapa?! Aku tidak akan mengunggahnya sebelum kau bercerai, tenang saja." "Aku tetap tidak ingin kau memotret ku, Heidy. Jangan memaksaku," tegas Girsa, memandang dingin Heidy dan membuatnya terintimidasi. Tidak ingin membuat keadaan memanas diantara mereka, Heidy menyerah, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Suasana menjadi kaku dan canggung, membuatnya memakan makanannya dengan berat hati, ia diam-diam melirik Girsa yang sedang menatap ponselnya. Sebuah pemandangan yang familiar sejak dulu. Girsa memang sering kali sibu
Belum lama Girsa terlelap. Ia menikmati kenyamanan dalam dekapan istrinya, tubuhnya yang masih hangat bersandar pada Ayura yang tertidur pulas di sisinya. Untuk beberapa saat yang singkat, pikirannya terasa kosong—bebas dari tekanan pekerjaan, bebas dari intrik yang selama ini menjerat hidupnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian kamar. Girsa mengerang pelan. Dengan malas ia melepaskan satu tangannya yang sedang melingkari tubuh Ayura, lalu meraba meja samping tempat tidur hingga menemukan ponselnya. Alisnya berkerut kesal saat melihat nama yang muncul di layar. Dengan rahang yang mengeras, ia menggeser tombol hijau. “Ada apa?” tanyanya dingin tanpa basa-basi. Dari seberang telepon, suara Heidy langsung menyembur dengan nada tinggi. “Apa kau lupa bahwa sore ini kita akan berkencan untuk pertama kalinya setelah sekian lama?! Kau keterlaluan, Girsa!” Girsa menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat. Suara p
Hari itu Ayura berencana pergi ke kantor Girsa untuk membawakan bekal makan siang. Ia sebenarnya sudah bisa menebak bagaimana akhirnya nanti. Girsa kemungkinan besar akan menolak bahkan sebelum bekal itu sampai ke tangannya. Namun Ayura tetap ingin melakukannya. Ia ingin menunjukkan usaha—setidaknya membuktikan bahwa perasaannya pada pria itu tidak pernah berubah. Ayura menoleh ke arah Largo yang berdiri tak jauh darinya. “Tolong tunggu di sini dan jaga bekalnya. Jangan sampai ada yang menyentuhnya, mengerti? Aku tidak akan lama.” “Ya, Nona.” Ayura lalu berjalan menuju kamar. Hari ini ia harus berdandan lebih dari biasanya. Cantik… bahkan sedikit berani. Selama ini ia hanya sampai di lobi kantor dan bertemu dengan resepsionis untuk menitipkan bekal. Namun kali ini berbeda. Ia akan menemui Girsa langsung di ruang kerjanya. Selama ini Ayura diam-diam memperhatikan sikap suaminya itu. Ia tahu bagaimana cara memancing reaksi Girsa. Pria itu mudah terpancing jika ditant
Hari ini Girsa pulang lebih awal, bahkan sebelum jam makan siang. Beberapa bulan terakhir keadaan perusahaannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Setelah melewati masa kerugian yang cukup berat, ritme kerja di kantor kini menjadi lebih fleksibel. Banyak urusan sudah dapat diselesaikan oleh para direktur divisi tanpa harus menunggunya turun tangan langsung. Begitu mobilnya berhenti di depan mansion Widjaja, suasana yang menyambutnya terasa terlalu sunyi. Rumah itu sangat besar—terlalu besar untuk terasa hidup ketika sebagian penghuninya tidak ada. Girsa berjalan melewati lorong panjang dengan langkah santai. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer yang mengilap. Para pelayan mungkin sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing. Ibunya kemungkinan sedang keluar bersama teman-teman sosialita nya untuk makan siang atau berbelanja. Bisa juga ia sedang tidur siang di kamarnya yang selalu tertutup. Ayahnya masih berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Brian tent
Malamnya, Girsa pulang tepat waktu. Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri tersebut kembali ke kamar. Ayura tidak melihat Largo disekeliling mereka, pria itu sudah menghilang sejak tadi, dia akan menghilang jika Girsa datang, dan muncul saat dibutuhkan. Keberadaannya tidak bermanfaat, nyatanya hanya dia yang diberi pengawasan sampai ke dalam rumah oleh Girsa, sedangkan yang lain tidak.Melihat Girsa keluar dari kamar mandi dan langsung duduk memangku laptop, membuat Ayura melangkah mendekat. "Apa kau ingin kupijat?" tanya Ayura berbasa-basi, padahal sebenarnya ia ingin lekas beristirahat. Namun demi membangun hubungan yang baik dengan Girsa, Ayura masih harus membuat ptia itu setidaknya menyukainya. "Mungkin aku bisa merilekskan tubuhmu yang kaku." Girsa mengalihkan pandangan dari laptopnya ke arah Ayura, lagi-lagi rautnya sulit dibaca. "Apa kau sengaja melakukannya?" Girsa menyipitkan mata, nada suaranya terasa merendahkan Ayura. . "Apa maksudmu?" Ayura gagal paha
Elena melebarkan matanya ketika melihat Brian berlari sembari menggendong Ayura yang pingsan. Ia buru-buru mengejarnya. Wanita berkepala lima yang masih lincah karena sering yoga dan berolahraga itu menghentikan Brian dan bertanya dengan raut terkejut. “Ada apa ini, Brian? Apa yang terjadi pada Y
Ayura merasa tidak enak badan, ia tidak flu, tapi tubuhnya lemas dan tidak bertenaga sehingga ia hanya berbaring di sofa tanpa melakukan apa-apa. Ia memeluk perutnya, menahan sakit. Ayura pikir ini wajar setelah melihat bercak darah ketika buang air tadi. Ini adalah hari pertamanya datang bulan
Seperti sudah menjadi kebiasaan, Ayura selalu bangun pagi. Hanya saja kini ia bukan lagi seorang pelayan. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan sebagai istri Girsa di pagi hari. Girsa sendiri belum kembali sejak pria itu pergi. Dan entah mengapa, hal itu justru cukup melegakan. Ayura memu
Ayura tidak mengira kejadian ini berubah menjadi menjadi yang sangat besar. Ia sempat optimis akan dibuang atau disuap uang, lalu diusir dengan penuh drama. Keluarga Wijaya memang bukan tipe keluarga yang suci dan taat, tapi Daren, sang kepala keluarga amat menjunjung tinggi moralitas dan tanggun







