Share

Bab empat

Penulis: Ariess_an
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 18:34:28

Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian.

Tapi Ayura tidak mau!

"Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon

"Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat."

Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias.

Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu merenggut harga dirinya.

Ayura menggeleng. "Tidak, Bibi beritahukan saja padaku di mana ayah dirawat. Aku akan membiayainya sendiri mulai sekarang."

Pamela, menatap Ayura dengan sorot tajam. Tampak seperti ingin menelan gadis itu bulat-bulat. Pamela sudah menduga ponakannya itu akan bereaksi seperti ini, tapi mau bagaimana pun, rencana yang sudah ia susun harus berhasil.

"Bukan seperti itu yang kumau, Ayura. Ayahmu ada di tempat yang baik, dan dia hanya butuh para dokter hebat di sampingnya. Lagipula percuma jika kau hendak menemuinya."

Ayura terpaku sejenak. "P-percuma? Kenapa?" Pikirannya sudah panik.

"Ayahmu ada di luar negeri. Aku dan pamanmu sengaja memilih rumah sakit yang lebih bagus dan bisa menjamin kesembuhan ayahmu. Kau tidak akan mampu pergi ke sana dengan uang tabunganmu yang tidak seberapa itu, tapi apa jadinya jika kau membatalkan kesepakatan ini dengan tidak mematuhiku, Ayura?" Pamela menatap penuh intimidasi ke mata Ayura yang berkaca-kaca. "Kau tahu sendiri apa akibatnya."

Ayura meremas samping gaunnya. Tubuhnya gemetar antara marah dan perasaan tidak berdaya. Uang lagi, masalahnya adalah tentang uang. Dan Ayuta tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana?

Brahms, paman Ayura yang sejak tadi duduk di bangku sembari merokok dan menghitung uang di tangannya, ikut menyeletuk. "Biarkan saja, Pamela. Jika dia tidak mau, cukup kita batalkan saja pembayaran rumah sakit ayahnya untuk satu bulan ke depan."

Ayura melotot. "Paman!"

"Itu benar, 'kan? Kau tidak ingin menuruti kami, padahal jika nantinya Brian menikah denganmu, kau jugalah yang akan untung."

Tapi bukan itu yang Ayura inginkan. Itu menjijikan dan tidak beradab sama saja dengan menjual diri, bahkan lebih parah. Ayura tidak bisa memikirkan solusi lain dan hanya bisa terdiam.

"Tidakkah kau paham? Ini bukan lagi tentang egomu sendiri, ada ayahmu yang berjuang antara hidup dan mati." Pamela sengaja menekan kata-katanya. "Apa di saat seperti ini kau masih mementingkan diri sendiri?" seloroh Pamela.

"Lagipula apa susahnya tidur dengan Brian?! Toh kau pasti sudah pernah melakukannya dengan pacarmu! Jadi jangan sok suci!"

Ayura mengatupkan rahangnya, matanya berkilat marah. Pacar apanya? Ia bahkan tidak punya waktu untuk belajar, apalagi berkencan-bukan berarti selama ini ia ingin berkencan. Tapi lagi dan lagi ancaman paman dan bibinya membuat Ayura tunduk.

Ayura tidak punya pilihan lain.

Setelah menenangkan diri, ia keluar dari kamar paman dan bibinya. Seperti yang sudah ia duga, Brian tengah menunggunya di depan Ferrari miliknya, pria itu tampak dua kali lipat lebih tampan dibandingkan biasanya meski itu sama sekali tidak menggugah suasana hati Ayura.

Ia bisa melihat sorot kesal di mata Brian. Pria itu terpaksa menunggunya untuk berangkat bersama ke acara prom atas paksaan Nyonya Elena, ibu Brian. Kedekatan antara Helena dan bibinya bukan karena mereka berteman atau apa pun, tapi karena keloyalan Helena terhadap pelayan yang mengabdi setia selama berpuluh tahun.

Ayura memasang senyum palsunya.

"Brian, apa aku cantik?"

Brian melihat jejak memerah di mata Ayura, seperti habis menangis, tapi pria itu memilih mengabaikannya. Lalu memalingkan wajah setelah melihat keseluruhan wajah Ayura yang jelita. Telinganya memerah. Pria itu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Ayura.

Ayura menyusul, daduk di samping Brian.

"Apa kita akan berdansa bersama nanti?

Kuharap kita bisa berpasangan, Brian." Suara lembut Ayura mengalun di telinga Brian.

Brian tidak menjawab, sibuk melajukan mobilnya meninggalkan Mansion.

"Sebenarnya ada beberapa pria yang mengajakku berdansa, mereka terus mengirimiku pesan, padahal aku sudah bilang aku akan berdansa bersamamu." Ayura sengaja mengarang cerita untuk melihat reaksi pria itu.

"Brian, jangan cemburu, ya?" ledek Ayura dengan wajah polos.

Brian melihatnya sejenak. Melempar tatapan sengit. "Bohong, tidak ada yang mau mengajakmu berdansa."

Ayura bisa mendengar kalimat itu penuh cemoohan meski diucapkan datar. Apakah pria itu sedang mengungkit kakinya yang pincang?

Brian benar, pernah mengancam seisi sekolah untuk tidak pernah mengajak Ayura berteman atau berinteraksi. Pria itu sengaja menyudutkan nya karena merasa jengah. Tapi tidak tahu saja ancaman itu tidak berlaku selamanya karena Ayura masih memiliki teman meski sedikit.

Mungkin hanya Brian yang masih menganggapnya tidak berteman dengan siapa-siapa di sekolah.

Ayura tidak berbicara apa-apa lagi, sibuk memikirkan rencana paman dan bibinya yang membuat kepalanya hampir pecah.

Sementara Brian, diam-diam mencuri pandang. Ia sedikit heran dengan diamnya Ayura malam ini. Apalagi gadis itu tidak menyangkal kalimatnya terakhir kali, apa tujuan Ayura berbohong?

Semua terasa membingunkan, Ayura lagi dan lagi merayunya dengan setengah hati. Dan itu sangat terlihat jelas. Brian membatin sambil membayangkan Ayura merayunya dengan mata berbinar-binar. Kemudian kepalanya menggeleng pelan, kenapa juga dia harus memikirkan wanita seperti Yura?!

Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di lobi hotel. Tanpa menunggu Ayura, Brian berjalan cepat. Ia sengaja menghindari Ayura.

Melihat dirinya ditinggal Ayura menghela nafas berat. Ia tidak berusaha mengejar Brian. Ia juga butuh jarak. Saat ini Ayura justru merasa gugup luar biasa. Tangan mungilnya meremas kantong gaun dengan gemetar, disana ada botol kecil yang menjadi misinya malam ini.

Pikirannya tidak lagi terpaku pada acara dansa seperti yang tadi dicelotehkannya di mobil, tapi pada rencana untuk menjebak Brian.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh Sembilan

    Hari ini Girsa pulang lebih awal, bahkan sebelum jam makan siang. Beberapa bulan terakhir keadaan perusahaannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Setelah melewati masa kerugian yang cukup berat, ritme kerja di kantor kini menjadi lebih fleksibel. Banyak urusan sudah dapat diselesaikan oleh para direktur divisi tanpa harus menunggunya turun tangan langsung. Begitu mobilnya berhenti di depan mansion Widjaja, suasana yang menyambutnya terasa terlalu sunyi. Rumah itu sangat besar—terlalu besar untuk terasa hidup ketika sebagian penghuninya tidak ada. Girsa berjalan melewati lorong panjang dengan langkah santai. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer yang mengilap. Para pelayan mungkin sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing. Ibunya kemungkinan sedang keluar bersama teman-teman sosialita nya untuk makan siang atau berbelanja. Bisa juga ia sedang tidur siang di kamarnya yang selalu tertutup. Ayahnya masih berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Brian tent

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh Delapan

    Malamnya, Girsa pulang tepat waktu. Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri tersebut kembali ke kamar. Ayura tidak melihat Largo disekeliling mereka, pria itu sudah menghilang sejak tadi, dia akan menghilang jika Girsa datang, dan muncul saat dibutuhkan. Keberadaannya tidak bermanfaat, nyatanya hanya dia yang diberi pengawasan sampai ke dalam rumah oleh Girsa, sedangkan yang lain tidak.Melihat Girsa keluar dari kamar mandi dan langsung duduk memangku laptop, membuat Ayura melangkah mendekat. "Apa kau ingin kupijat?" tanya Ayura berbasa-basi, padahal sebenarnya ia ingin lekas beristirahat. Namun demi membangun hubungan yang baik dengan Girsa, Ayura masih harus membuat ptia itu setidaknya menyukainya. "Mungkin aku bisa merilekskan tubuhmu yang kaku." Girsa mengalihkan pandangan dari laptopnya ke arah Ayura, lagi-lagi rautnya sulit dibaca. "Apa kau sengaja melakukannya?" Girsa menyipitkan mata, nada suaranya terasa merendahkan Ayura. . "Apa maksudmu?" Ayura gagal paha

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tigapuluh Tujuh

    Ayura sudah bersiap dengan pakaian formal paling bagus yang ia miliki. Wajahnya dipoles dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya, merubah fitur murni nan lugunya menjadi lebih dewasa dan tajam. Setelah mempersiapkan berkas-berkas untuk melamar pekerjaan, ia melangkah keluar kamar. Ia membuka pintu dengan hati damai, tapi sepenuhnya terkejut ketika melihat Largo berdiri di samping pintu, tubuhnya terlonjak. "Kau mengagetkanku!" kesal Ayura. Largo menunduk sedikit. "Maafkan saya, Nona." Ayura hanya mendengus. Ia merapikan rambutnya sebentar sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun, Largo mengikutinya. Ayura berbalik dan menatapnya tegas. "Kali ini apa kau akan mengikutiku juga?" "Ya, Nona." Ayura mengetatkan rahangnya, menahan kekesalannya. Lagi-lagi dia harus menjaga emosi seseorang. Perkataan Girsa kembali terngiang di kepalanya. Largo adalah sosiopat, dia mungkin berbahaya jika lepas kendali. Pandangannya yang tenang dan emosinya yang seakan ter

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh Rnam

    Pagi itu suara dering ponsel berbunyi nyaring, membangunkan Ayura dari tidurnya. Dari celah matanya, Ayura melihat Girsa terbangun dan mengambil ponsel di atas nakas. Ia memilih untuk berpura-pura tidur, namun dalam diam memerhatikan Girsa yang berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Pagi ini dia tidak mood bertingkah manis di depan Girsa—sejak subuh dia sudah berencana, lebih baik bangun setelah pria itu berangkat bekerja. Ayura mendengar Girsa menghela napas lelah. "Kukira ada apa, Heidy, ternyata hanya karena ini kau menghubungiku pagi-pagi buta." Ayura tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Heidy di seberang telepon—dia tidak peduli. "Ya, aku juga merindukanmu," kata Girsa, matanya melirik Ayura yang masih terlelap, napas gadis itu begitu teratur. Girsa turun dari kasur karena tidak ingin membangunkan Ayura. Girsa berhenti di dekat pintu kaca yang menghubungkan ke balkon, menaruh sebelah tangannya di atas pinggang. "Bersabarlah sebentar lagi. Jangan k

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tigapuluh lima

    "Turunkan aku! Siapa kau?!" pekik Ayura, sambil tangannya bergerak memukuli pria itu. "Anda harus segera diobati, Nona." "Apa? Apa kau gila?! Aku bahkan tidak mengenalmu!" "Maaf menakuti Anda," katanya sopan, tapi tanpa emosi apa pun. "Saya terlambat memperkenalkan diri, saya Largo, saya pengawal yang ditugaskan Tuan Girsa untuk menjaga Anda." Ayura tidak bisa mencerna kalimatnya secara langsung. Lidahnya terlalu kehabisan kata-kata. Dari semua orang yang mengirimkan pengawal adalah Girsa—bukan yang lain, tapi Girsa? Namun, Ayura tidak melihat kebohongan dalam wajahnya yang datar dan tanpa emosi. Orang itu—Largo, membawanya ke lantai tempat kamar Girsa berada, tapi alih-alih memasuki kamarnya, pria itu membawanya ke sofa di dekat balkon. Mendudukkannya di atas sofa dengan hati-hati. Pandangan pria itu bergeser ke arahnya, tatapan mereka kembali bertemu dalam jarak yang amat dekat. "Bisakah Anda menunggu sebentar? Saya akan mengambilkan obat." Ayura mengangguk dalam d

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh empat

    Setelah beberapa hari, Ayura akhirnya berhasil menemukan apa yang ia cari. Ayura hendak pulang setelah mengunjungi seseorang yang bisa melacak keberadaan ayahnya. Dia menyadari bahwa paman dan bibinya tidak akan pernah memberitahu apa-apa, karena mereka menggunakan ayahnya untuk memerasnya—entah sampai kapankapan. Ayura tidak bisa terus hidup mengikuti keinginan mereka. Ayura akui, paman dan bibi memang menolongnya dulu, memberinya makan ketika uang tabungan orangtuanya habis, membayar tunggakan uang sekolah, pajak, dan sebagainya, tapi bukan berarti utangnya harus dibayar dengan kehidupannya. keputusan Ayura sudah bulat, ia mencari cara untuk menemukan keberadaan ayahnya. Melalui internet, ia banyak membaca forum dan berbagai postingan orang-orang yang memiliki nasib yang sama dengannya. Untuk mencari seseorang yang hilang. Akhirnya dia menemukan sebuah jasa yang bekerja melakukan pencarian orang-orang hilang tersebut. Hanya saja bayaran untuk jasa tersebut cukup mahal,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status