Share

Bab Tigapuluh Rnam

Author: Ariess_an
last update publish date: 2026-03-13 19:02:20
Pagi itu suara dering ponsel berbunyi nyaring, membangunkan Ayura dari tidurnya.

Dari celah matanya, Ayura melihat Girsa terbangun dan mengambil ponsel di atas nakas. Ia memilih untuk berpura-pura tidur, namun dalam diam memerhatikan Girsa yang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.

Pagi ini dia tidak mood bertingkah manis di depan Girsa—sejak subuh dia sudah berencana, lebih baik bangun setelah pria itu berangkat bekerja.

Ayura mendengar Girsa menghela napas lelah.

"Kukira ada
Ariess_an

Selamat membaca

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab 43

    PENGUMUMAN!!! JANGAN LUPA FOLLOW DAN KOMEN DI CERITA INI. KALAU KOMENTAR LEBIH DARI 5 BESOK SIANG UPLOAD BAB BARU LAGI.... YUK RAMAIKAN!!! **********"****** "Apa statusmu sekarang?" Ayura menelan salivanya. "Um, menikah?" "Nama belakangmu?" "Widjaja," jawab Ayura pelan. Ia sudah tahu ke mana arah percakapan ini. Girsa menatapnya tajam. "Jika kau menikah denganku, otomatis kau memilih untuk melepaskan kebebasan masa mudamu, Yura. Kau tidak bisa bertingkah sembarangan di depan publik." Suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung tekanan yang jelas. "Kau menyandang nama Widjaja. Semua orang mengenalmu dan haus akan berita tentangmu. Jika muncul rumor buruk yang menjatuhkan nama keluargaku, apa yang bisa kau lakukan? Menangis? Meminta maaf?" Ayura semakin menunduk. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu membalas. "Sungguh istri yang patuh," sindir Girsa dingin. "Sekarang kau berani keluyuran malam tanpa meminta izin dariku." Ayura mengangkat wajahnya, mencoba membela d

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab 42

    Girsa merotasi bola matanya melihat Heidy sibuk memotret makanan yang terhidang di atas meja. Dia merasa waktu yang dimilikinya terbuang sia-sia. Sejujurnya dia tidak senang dengan perasaan ketika merasa jengkel terhadap Heidy—wanita itu adalah kesayangannya, tapi sekarang? Rasanya berbeda. Girsa mengerutkan kening, menjulurkan tangan untuk menyingkirkan ponsel Heidy yang menghadap ke arahnya. "Jangan memotretku." "Apa?" Alis gadis itu menyatu dengan tajam. "Kenapa?! Aku tidak akan mengunggahnya sebelum kau bercerai, tenang saja." "Aku tetap tidak ingin kau memotret ku, Heidy. Jangan memaksaku," tegas Girsa, memandang dingin Heidy dan membuatnya terintimidasi. Tidak ingin membuat keadaan memanas diantara mereka, Heidy menyerah, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Suasana menjadi kaku dan canggung, membuatnya memakan makanannya dengan berat hati, ia diam-diam melirik Girsa yang sedang menatap ponselnya. Sebuah pemandangan yang familiar sejak dulu. Girsa memang sering kali sibu

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab 41

    Belum lama Girsa terlelap. Ia menikmati kenyamanan dalam dekapan istrinya, tubuhnya yang masih hangat bersandar pada Ayura yang tertidur pulas di sisinya. Untuk beberapa saat yang singkat, pikirannya terasa kosong—bebas dari tekanan pekerjaan, bebas dari intrik yang selama ini menjerat hidupnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah kesunyian kamar. Girsa mengerang pelan. Dengan malas ia melepaskan satu tangannya yang sedang melingkari tubuh Ayura, lalu meraba meja samping tempat tidur hingga menemukan ponselnya. Alisnya berkerut kesal saat melihat nama yang muncul di layar. Dengan rahang yang mengeras, ia menggeser tombol hijau. “Ada apa?” tanyanya dingin tanpa basa-basi. Dari seberang telepon, suara Heidy langsung menyembur dengan nada tinggi. “Apa kau lupa bahwa sore ini kita akan berkencan untuk pertama kalinya setelah sekian lama?! Kau keterlaluan, Girsa!” Girsa menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat. Suara p

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Empatpuluh

    Hari itu Ayura berencana pergi ke kantor Girsa untuk membawakan bekal makan siang. Ia sebenarnya sudah bisa menebak bagaimana akhirnya nanti. Girsa kemungkinan besar akan menolak bahkan sebelum bekal itu sampai ke tangannya. Namun Ayura tetap ingin melakukannya. Ia ingin menunjukkan usaha—setidaknya membuktikan bahwa perasaannya pada pria itu tidak pernah berubah. Ayura menoleh ke arah Largo yang berdiri tak jauh darinya. “Tolong tunggu di sini dan jaga bekalnya. Jangan sampai ada yang menyentuhnya, mengerti? Aku tidak akan lama.” “Ya, Nona.” Ayura lalu berjalan menuju kamar. Hari ini ia harus berdandan lebih dari biasanya. Cantik… bahkan sedikit berani. Selama ini ia hanya sampai di lobi kantor dan bertemu dengan resepsionis untuk menitipkan bekal. Namun kali ini berbeda. Ia akan menemui Girsa langsung di ruang kerjanya. Selama ini Ayura diam-diam memperhatikan sikap suaminya itu. Ia tahu bagaimana cara memancing reaksi Girsa. Pria itu mudah terpancing jika ditant

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh Sembilan

    Hari ini Girsa pulang lebih awal, bahkan sebelum jam makan siang. Beberapa bulan terakhir keadaan perusahaannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Setelah melewati masa kerugian yang cukup berat, ritme kerja di kantor kini menjadi lebih fleksibel. Banyak urusan sudah dapat diselesaikan oleh para direktur divisi tanpa harus menunggunya turun tangan langsung. Begitu mobilnya berhenti di depan mansion Widjaja, suasana yang menyambutnya terasa terlalu sunyi. Rumah itu sangat besar—terlalu besar untuk terasa hidup ketika sebagian penghuninya tidak ada. Girsa berjalan melewati lorong panjang dengan langkah santai. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer yang mengilap. Para pelayan mungkin sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing. Ibunya kemungkinan sedang keluar bersama teman-teman sosialita nya untuk makan siang atau berbelanja. Bisa juga ia sedang tidur siang di kamarnya yang selalu tertutup. Ayahnya masih berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Brian tent

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Tigapuluh Delapan

    Malamnya, Girsa pulang tepat waktu. Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri tersebut kembali ke kamar. Ayura tidak melihat Largo disekeliling mereka, pria itu sudah menghilang sejak tadi, dia akan menghilang jika Girsa datang, dan muncul saat dibutuhkan. Keberadaannya tidak bermanfaat, nyatanya hanya dia yang diberi pengawasan sampai ke dalam rumah oleh Girsa, sedangkan yang lain tidak.Melihat Girsa keluar dari kamar mandi dan langsung duduk memangku laptop, membuat Ayura melangkah mendekat. "Apa kau ingin kupijat?" tanya Ayura berbasa-basi, padahal sebenarnya ia ingin lekas beristirahat. Namun demi membangun hubungan yang baik dengan Girsa, Ayura masih harus membuat ptia itu setidaknya menyukainya. "Mungkin aku bisa merilekskan tubuhmu yang kaku." Girsa mengalihkan pandangan dari laptopnya ke arah Ayura, lagi-lagi rautnya sulit dibaca. "Apa kau sengaja melakukannya?" Girsa menyipitkan mata, nada suaranya terasa merendahkan Ayura. . "Apa maksudmu?" Ayura gagal paha

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Duapuluh enam

    Acara berlangsung dengan lancar. Setelah Darren dan Girsa selesai bergantian memberikan pidato, kini saatnya semua orang menikmati pesta mewah tersebut. Berada di meja yang sama dengan Girsa, Ayura merasa canggung. Tiga orang yang satu meja dengan mereka adalah orang asing, kecuali satu, Heidy ya

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Duapuluh Lima

    Ayura melihat Girsa yang bertelanjang dada tengah memakai kausnya. Rambutnya masih meneteskan air. Harum sabun khas milik pria itu menggelitik hidungnya, entah mengapa membuatnya ingin mendekap pria itu. Ayura menggeleng menyadari pemikiran gilanya. Ia menyukai bau sabun Girsa. Sepertinya ia akan

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Duapuluh empat

    Ayura duduk di dalam mobil yang melaju pelan, melewati jalan-jalan yang dipenuhi dengan barisan pohon yang mulai bertunas hijau muda, tanda musim semi telah tiba. Di luar, cahaya matahari sore yang hangat menyinari aspal yang masih basah oleh hujan sore tadi. Udara segar dengan semburat aroma bu

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Duapuluh tiga

    "Jangan menyentuh ku!" desis Girsa. Netranya menyoroti Ayura tajam dan penuh rasa jijik. "Tuan, maafkan aku, tapi aku benar-benar sedang membutuhkannya. Aku akan membayarnya kembali, aku akan membayarnya dengan cepat." Alis Ayura menurun, matanya berkaca-kaca. Ayura benci saat-saat di mana diri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status