Share

Bab tiga

Author: Ariess_an
last update Last Updated: 2026-01-09 18:34:20

"Sayang, lihat pelayan itu!"

Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak.

"Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?"

Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia sedikit pincang."

Girsa kembali menjatuhkan pandang pada gadis yang baru saja mengantarkan makanan mereka. Jika dilihat lagi, cara berjalannya memang terlihat sedikit kesulitan.

Namun, Girsa merasa tidak ada yang penting dan kembali berkutat pada ponselnya. "Ya, mungkin memang seperti itu cara berjalannya," kata Girsa acuh.

Sedetik kemudian, ponsel yang dipegang Girsa direnggut Heidy.

Girsa melemparkan tatapan protes ke arah gadis itu.

"Kenapa kamu terus bermain ponselmu saat kita sedang menikmati waktu bersama?" Heidy terlihat kesal meski nada bicaranya masih terdengar manja.

“Ada urusan kantor di Swiss yang harus tetap kupantau dari sini. Beberapa laporan belum selesai,” jawab Girsa.

Heidy menghela napas panjang. “Bukankah kamu bilang kita pulang untuk berlibur sebelum pernikahan?”

Girsa terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil. “Maafkan aku.” Ia menyimpan ponselnya. “Baiklah. Apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

Heidy tersenyum samar, sorot matanya penuh isyarat. Sebelah tangan gafisbitu bergerak menyentuh kancing blus yang dia kenakan.

Girsa yang memahami maksud itu hanya terkekeh pelan. Bagaimana kalau melihat-lihat foto masa kecilku bersama keluargaku?”

Heidy mengernyit. Ia tahu—lagi-lagi ia ditolak. “Apa kau tidak ingin lebih dekat denganku? Kau tidak ingin tidur denganku? ” tanyanya dengan bibir sedikit cemberut.

“Bukan begitu,” jawab Girsa tenang. “Kita masih punya banyak waktu untuk itu. Untuk saat ini aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku.”

Meski tidak sepenuhnya puas, Heidy tetap mengikutinya.

Menurut Heidy, Girsa hampir seperti orang suci. Padahal pria itu jelas bukan lelaki polos—ia terbiasa dengan kehidupan malam, kasino, dan dunia hiburan kelas atas. Namun anehnya, Girsa selalu menjaga jarak dalam urusan berbagi ranjang sebelum pernikahan. Tatapan-tatapan penuh hasrat dari perempuan lain justru membuatnya tidak nyaman. Setidaknya, hal itu menguntungkan Heidy.

Namun kekecewaan tetap mengendap di hatinya. Selama dua tahun berpacaran, hubungan mereka nyaris tak pernah melampaui batas. Paling banter mereka berciuman dan saling memuaskan. Bahkan, sering kali justru Heidy yang lebih dulu berinisiatif.

Namun, bukan berarti Girsa tidak mencintainya. Girsa tetaplah pria terhormat terlepas dari hobi malamnya yang seperti lelaki brengsek. Sikapnya ramah dan menjunjung tinggi batasan.

Mungkin itu wajar karena darah bangsawan yang mengalir di nadinya adalah darah seorang Wijaya yang dikelilingi hingar-bingar, dibatasi dengan kesopanan, kehormatan dan martabat yang tertanam di jati dirinya, yang telah mendarah daging.

***

Ayura masih harus mengantar camilan sore untuk Brian karena suruhan bibinya. Ia mengetuk pintu kamar Brian beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. 'Apa dia tidak mendengarnya?' Batin Ayura.

"Tuan Brian, ini aku," seru Ayura lebih keras.

Tak lama, Ayura mendengar suara yang mempersilakannya untuk masuk.

Netra Ayura mengamati sekeliling tempat yang sudah familiar baginya itu. Ruangan tersebut gelap, seluruh tirai ditutup, hanya menyisakan celah kecil yang tenggelam dalam kegelapan.

Ayura merasa heran, tapi ia tak tertarik mengetahuinya lebih lanjut. Pandangannya bertemu dengan sosok Brian yang sedang duduk di kursi gaming-nya, anehnya pria itu memiliki gelagat yang mencurigakan.

Samar-samar, Ayura mencium bau aneh, tapi ia tak tahu apa.

"Cepat selesaikan urusanmu dan pergi dari sini," usir Brian.

Ayura menaruh nampan di meja yang terletak cukup jauh dari Brian.

Saat Ayura hendak pergi dari sana, matanya menangkap banyak remasan tisu di bawah kursi yang diduduki Brian, sekilas ia melihat kilatan cairan di lantai tersebut.

Apa para lelaki tidak terbiasa rapi? Semua itu tampak berantakan di mata Ayura sebagai seorang pelayan yang terbiasa bersih-bersih.

Itu membuatnya risih.

Ayura berjalan mendekat, "Lantainya kotor, aku akan membersihkannya."

"Tidak usah!" ucap Brian tergesa-gesa berdiri menghalangi Ayura.

Ayura menyipitkan matanya menatap Brian yang tampak gelagapan, pria itu kemudian menyadari laptopnya masih terbuka, lantas menutupnya dengan kasar. Hal itu membuat Ayura mengernyit, sepertinya dia melihat gambar dirinya di laptop itu.

Mungkin salah lihat.

"Keluar dari kamarku!"

Ayura hampir mendengus kesal mendengar ben takkan Brian. Jika Brian setidak suka itu padanya kan bisa bicara baik-baik, kenapa harus sampai berteriak?

Namun begitu, Ayura tetap berusaha menunjukkan keramahannya.

"Baik, aku akan keluar. Nikmati waktumu," ujarnya dengan nada flat.

Ayura keluar dari kamar Brian.

Gadis itu memutar bola matanya, sambil berguman pelani. 'Orang aneh.'

Sementara didalam kamar, Brian menghela napas kasar dan mengusap wajahnya. Ia melihat piring berisi sandwich telur kesukaannya dan jus buah yang baru diantar Ayura. Brian memilih duduk di sofa dan mengambil sandwich tersebut, mmengamati sandwich itu seperti membayangkan itu adalah Ayura.

"Dasar gadis menyebalkan"

Baginya, Ayura selalu membingungkan—kadang terlihat tulus dan lembut, kadang menatapnya dengan dingin yang sulit ditebak.

Kemudian seakan terkejut, Brian membulatkan matanya, tubuhnya mematung.

'Apa tadi Yura melihat kearah celanaku?' batin Brian.

Masalahnya sesuatu di sana masih terlihat menggembung. Dengan kasar, Brian mengacak rambutnya. Ia berharap Yura tidka melihat apa yang tadi dia lakukan.

Makan malam keluarga berlangsung lebih ramai dari biasanya. Sementara itu, Ayura memilih lembur demi mendapatkan tambahan uang. Ia menabung untuk satu tujuan: biaya perawatan ayahnya.

Setelah lulus, ia bertekad meninggalkan Mansion Wijaya dan hidup mandiri. Jika mendapat kesempatan, ia ingin melanjutkan kuliah di jurusan desain busana—mimpi yang tak pernah padam. Jika tidak, ia akan bekerja sekeras mungkin demi ayahnya.

Semuanya berjalan seperti biasanya hingga akhirnya hari kelulusan tiba.

Prom night digelar di hotel mewah yang menunjukkan sekolahnya bukanlah sekolah biasa. Murid seangkatan Ayura memakai gaun cantik dan tuksedo elegan, termasuk Ayura yang berhasil membuat gaun prom-nya sendiri.

Gaunnya tidak telalu heboh, tapi terkesan anggun dan manis dan itu semua berkat tangan berbakat Ayura sendiri yang merancang nya.

Namun alih-alih bahagia, hatinya gelisah. Ia menatap botol kecil di tangannya. Rencana yang tak pernah ia inginkan.

Obat perangsang!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab delapan

    Sebuah teriakan nyaring membangunkan Girsa yang masih terlelap setelah semalaman penuh menggempur sendirian. Matanya membelalak, terkejut, menoleh ke sekeliling sembari sesekali menyipitkan mata menyesuaikan cahaya lampu yang masih menyala hingga pagi hari. Ironisnya, wajah bantalnya terlihat bagus dipandang terlepas dari bagaimana dia bertindak ketika kehilangan kendali. "Apa-apaan ini, Girsa?!" Pekikan itu kembali menyentaknya. Girsa mengerjap, belum sepenuhnya sadar. "Ibu?" Sorot lampu yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata. Perlahan lahan, kesadarannya pulih. Ibunya berdiri di hadapannya dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan marah. Bukan hanya Elena. Ayahnya, Brian, serta beberapa pelayan juga berada di sana, menatapnya dengan pandangan ngeri. Terutama Tuan Darren—tatapan ayahnya itu tajam dengan sorot yang penuh amarah, seakan ingin menebasnya saat itu juga. "Kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Girsa, berusaha terdengar tenang meski kebingungan jela

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tujuh

    Ayura sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Brian?" Shanina menatap bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Brian justru ada di kamar Girsa di ujung sana. Bagi Ayura, Kamar Tua Girsa menjadi tempat yang pantang untuk dilewati semenjak kepulangan putra sulung keluarga Wijaya itu. Meski hanya pernah bertemu beberapa kali, Ayura bisa merasakan Girsa tidak menyukainya, tatapan Girsa juga membuat Ayura merasa diintimidasi. "Ayura, bawa sini!" Perintah itu menyadarkan Ayura dari lamunan. Dengan hati-hati Ayuraa berjalan menghampiri Brian. "Ini, teh madu untukmu." "Berikan saja pada kakakku." "Tapi katanya-" Ayura menghentikan ucapannya. "Baiklah." Ujarnya lagi. Ia tidak ingin berdebat atau berlama lama dengan Brian. Ia menyodorkan nampan tersebut. "Taruh sendiri di sana." Brian menunjuk ke dalam kamar kakaknya-Girsa. "Tapi-" Ayura ingin protes tapi suara dering ponsel Briann memotong ucapannya. Ayura menghentikana memutar bola mata saat Brian tidak menghadapnya. "H

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab enam

    "Yura!" Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya. Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura. "Ayura, kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga can

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Lima

    “Apa yang terjadi di sini?!” Seorang bartender bertubuh kekar menerobos kerumunan dengan wajah garang. Begitu melihat kondisi bar yang porak-poranda—bangku terbalik, pecahan gelas dan botol alkohol berserakan—emosinya langsung memuncak. Seorang pria tergeletak dengan wajah babak belur, sementara beberapa orang lain sibuk menahan seorang pria yang mengamuk, berusaha terus menghajarnya. Kerugian itu membuat darah sang bartender mendidih. “Hentikan! Jangan membuat kekacauan di sini! Kalian harus mengganti semua kerusakan ini! Sialan!” Pengunjung lain berseru gaduh. Beberapa wanita memekik ngeri menyaksikan perkelahian brutal tersebut. “Girsa! Girsa, kendalikan dirimu!” Girsa sama sekali tidak mendengar teriakan temannya. Ia masih sibuk memukuli pria yang sudah tak berdaya. Empat orang temannya segera datang menahan tubuh Girsa. Namun, tenaga pria itu terasa tidak masuk akal, terlebih dalam kondisi mabuk dan kehilangan kendali sepenuhnya. “Sialan! Bajuku basah karena kec

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab empat

    Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian. Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon "Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat." Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias. Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu me

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tiga

    "Sayang, lihat pelayan itu!" Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak. "Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?" Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia sedikit pincang." Girsa kembali menjatuhkan pandang pada gadis yang baru saja mengantarkan makanan mereka. Jika dilihat lagi, cara berjalannya memang terlihat sedikit kesulitan. Namun, Girsa merasa tidak ada yang penting dan kembali berkutat pada ponselnya. "Ya, mungkin memang seperti itu cara berjalannya," kata Girsa acuh. Sedetik kemudian, ponsel yang dipegang Girsa direnggut Heidy. Girsa melemparkan tatapan protes ke arah gadis itu. "Kenapa kamu terus bermain ponselmu saat kita sedang menikmati waktu bersama?" Heidy terlihat kesal meski nada bicaranya masih terdengar manja. “Ada urusan kantor di Swiss yang harus tetap kupantau dari sini. Beberapa laporan belum selesai,” jaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status