تسجيل الدخولDelapan tahun lalu, keluarga Bexley memperoleh gelar bangsawan rendahan yang nyaris tak diperhitungkan siapa pun dalam lingkaran aristokrat. Semua berubah ketika cucu perempuan mereka, Freya Bexley, menghadiri pesta debutnya dan seketika mencuri perhatian seluruh kalangan atas.
Rambut pirangnya yang dibiarkan terurai bebas, gaunnya yang kerap melanggar aturan berpakaian, seharusnya membuatnya dicemooh—namun yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang yang hadir seolah tak mampu mengalihkan pandangan darinya. Gresida masih ingat betul bagaimana dulu ia harus bersusah payah demi mendapat perhatian bangsawan berpengaruh, sementara Freya hanya perlu tersenyum untuk mendapatkan hal yang sama. Pangeran Ketiga bahkan pernah berusaha menjadikan gadis itu selir, dan Freya menolaknya tanpa ragu sedikit pun—sesuatu yang tak akan berani dilakukan bangsawan lain mana pun. "Nyonya sudah mencoba mengucilkannya dari lingkaran bangsawan, bukan?" tanya Eva pelan, sambil merapikan gaun majikannya. "Sudah. Lebih dari sekali." Suara Gresida mengeras. "Tapi orang-orang tetap mengelilinginya seperti lebah yang tertarik pada bunga yang sedang mekar. Bahkan setelah keluarganya bangkrut, dia masih berjalan-jalan di kota dengan kepala tegak, seolah kehancuran itu tidak berarti apa-apa baginya." Gresida mendengus, lalu menatap tajam ke arah pantulan dirinya sendiri di cermin. "Selama bertahun-tahun kukira aku tak akan pernah punya kesempatan untuk menghancurkan kesombongannya. Tapi ternyata aku salah." Eva menahan napas, tak berani menanggapi lebih jauh. Ia sudah cukup lama melayani Gresida untuk tahu kapan sebaiknya diam saja mendengarkan. Gresida telah menunggu dengan sabar selama bertahun-tahun, keberuntungan kembali berpihak kepadanya. Ketika mengetahui rahasia kutukan Ryan, Gresida segera mengusulkan agar Freya dibawa ke kediaman Dalton sebagai selir. Namun Ryan menolak gagasan itu tanpa berpikir dua kali. Ia bahkan tampak marah saat usulan tersebut disampaikan. Meski demikian, Gresida tidak menyerah. Hari demi hari, ia terus membicarakan kemungkinan perang yang akan segera pecah di perbatasan. Ia terus mengingatkan Ryan bahwa para ksatria membutuhkan pemimpin mereka, serta kerajaan membutuhkan Duke Dalton untuk berdiri di garis terdepan. Kutukan itu harus dipindahkan secepat mungkin. Lambat laun, pertahanan Ryan mulai runtuh. Pada akhirnya, pria itu setuju. Namun dengan syarat yang berbeda dari rencana awal. Freya tidak akan dibawa sebagai selir. Ia akan dinikahi secara resmi sebagai istri kedua. Lebih buruk lagi, Ryan bersikeras memberikan kesempatan kepada Freya untuk menerima atau menolak lamaran tersebut. Keputusan duke membuat Gresida frustrasi. Memiliki istri kedua dipandang buruk oleh sebagian besar masyarakat. Biara bahkan hanya mengizinkan praktik tersebut bagi keluarga kerajaan dalam keadaan khusus, biasanya demi memperoleh lebih banyak keturunan. Untungnya, alasan yang sama dapat digunakan untuk meyakinkan pihak biara. Semua orang mengetahui bahwa selama lebih dari seratus lima puluh tahun terakhir, keluarga Dalton jarang memiliki lebih dari satu atau dua anak dalam setiap generasi. Atau setidaknya itulah yang diyakini masyarakat. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Keluarga Dalton hidup dalam ketakutan terhadap kutukan yang diwariskan turun-temurun. Mereka tidak benar-benar memahami cara kerja kutukan tersebut. Sebagian besar pengetahuan mereka hanyalah dugaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itulah mereka selalu berhati-hati dan menghindari risiko sekecil apa pun. Sejujurnya, Gresida tidak terlalu peduli dengan hasil akhirnya. Meski jika Freya menolak tawaran itu, ia tetap akan memperoleh kemenangan. Seorang wanita yang dipulangkan hanya beberapa minggu setelah pernikahannya akan menjadi bahan pembicaraan seluruh kerajaan. Reputasinya akan hancur. Tidak akan ada bangsawan terhormat yang bersedia menikahinya setelah itu. Namun jika rencananya berhasil, maka hasilnya akan jauh lebih memuaskan. Freya akan terikat pada keluarga Dalton seumur hidupnya. Ia akan berada tepat di bawah kendalinya. Pikiran itu membuat senyum tipis muncul di bibir Gresida. Ia tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang dengan susah payah. "Eva, bawakan benda itu." "Baik, Nyonya." Pelayan pribadinya segera membungkuk sebelum meninggalkan ruangan. Gresida menatap jendela di hadapannya. Waktunya tidak banyak. Ryan sedang menyelesaikan proses surat perceraian. Jika dokumen itu selesai lebih cepat dari perkiraannya, seluruh rencananya akan berantakan. Gresida tidak pernah membiarkan sesuatu yang diinginkannya lepas begitu saja. Karena itu, ia harus bergerak sebelum semuanya terlambat. Mungkin benda laknat itu bisa membantunya. Baik Freya maupun Ryan, tak akan mampu melawannya jika keduanya telah mengkonsumsinya. "Oh Freya," ucapnya disertai suara tawa yang menggema dengan licik.Setahun setelah Freya kembali ke Kadipaten Dalton, musim semi datang lebih awal dari biasanya. Pepohonan di halaman bermekaran seolah merayakan sesuatu yang telah lama dinantikan.Para pelayan tampak lebih sibuk dari biasanya. Sementara itu, Doria, yang entah bagaimana selalu tahu kapan harus muncul, sudah duduk santai di kursi goyang dekat perapian sejak pagi, mengupas apel sambil bergumam pelan.Ryan tidak meninggalkan sisi Freya sejak fajar. Bukan karena diminta, ia terus muncul di depan pintu kamar dengan wajah yang berusaha tampak tenang, meskipun jelas gagal menyembunyikan kegelisahannya.Freya tidak memiliki cukup tenaga untuk menyuruhnya pergi.Doria melirik ke arahnya. "Tuan Duke, kalau tanganmu terus gemetar seperti itu, lebih baik keluar saja."Ryan menatap tangannya sendiri. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, tetapi tetap tidak beranjak.Freya tertawa kecil di sela napasnya yang berat. "Biarkan dia."Ryan tidak dapat mendengar suara itu. Namun, ia dapat melihatnya, dan it
Hal yang belum selesai itu adalah kata-kata yang belum sempat diucapkan.Dua bulan setelah kejadian itu, Duke Ryan masih menetap di penginapan bersama Freya dan Andrew. Freya tahu pria itu seharusnya sudah kembali, sebab Kadipaten Dalton membutuhkan tuannya.Urusan tanah dan pajak menunggu untuk diselesaikan, sementara ratusan pelayan menanti perintah darinya. Namun, setiap pagi, Ryan tetap duduk di meja makan dan menyeruput teh sambil memandangi Andrew yang berlarian di halaman.Tatapannya tidak pernah berubah. Khas seorang pria yang belum siap melepaskan.Freya memahaminya. Tapi, memahami bukan berarti ia mampu mengubah kenyataan. Hubungan mereka telah berakhir, setidaknya itulah yang selalu ia yakinkan kepada dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur.Tapi suatu malam, Freya sedang duduk sendirian di balkon belakang penginapan ketika ia mendengar langkah kaki yang begitu dikenalnya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.Ryan duduk di sampingnya tanpa mengucapk
Rasa takut adalah naluri yang menjauhkan manusia dari bahaya.Itulah sebabnya tubuh Freya gemetar, seolah memaksanya untuk berbalik dan pergi. Namun, ia tidak bisa. Ia harus berada di sini dan melakukannya, bahkan jika ini adalah hal terakhir yang ia lakukan dalam hidupnya.Freya dan Conan bersembunyi sesuai rencana. Begitu mereka cukup dekat dengan pondok tua milik penyihir itu, pintu berderit terbuka dari dalam.Rambut hitam panjang Shana menjuntai hingga menyentuh tanah. Tubuhnya mengerikan, begitu kurus hingga tampak seperti tulang yang hanya dibalut kulit. Dengan gaun hitam panjang yang dikenakannya, ia menyerupai malaikat maut yang baru bangkit dari kegelapan."Aku mencium sesuatu yang kotor, dan kini aku tahu apa itu. Keturunan si pembohong," katanya, matanya langsung tertuju pada Duke Ryan.Cara Shana bergerak tidaklah manusiawi. Tubuhnya meliuk dalam sudut-sudut yang aneh, seolah ia telah lama melupakan bagaimana caranya menjadi manusia."Aku datang untuk menawarkan apa pun y
Shana adalah penyihir yang telah menentang hukum alam. Itulah yang Doria ceritakan kepada Freya sebelum mulai menuturkan kisah-kisah yang pernah ia dengar tentang perempuan itu.Tidak ada yang tahu berapa usianya atau dari mana ia berasal. Mungkin bahkan Shana sendiri telah lupa siapa dirinya dahulu, bagaimana ia pernah hidup sebagai manusia biasa, dan bagaimana akhirnya menjadi seperti sekarang.Kabar yang beredar menyebutkan bahwa karena usianya yang amat tua, ia telah kehilangan minat terhadap segalanya. Tidak ada lagi yang berharga dan layak diperjuangkan, ia hanya menjalani hari demi hari dengan harapan samar bahwa suatu saat hidupnya akan kembali terasa menarik.Hari-hari itu menumpuk menjadi ratusan tahun. Hingga suatu hari, sesuatu yang berbeda terjadi.Ia menolong seseorang yang membutuhkan, bukan karena kebaikan hati, melainkan karena sudah lama sekali tidak menggunakan sihirnya. Sebagai ungkapan terima kasih, orang itu memberinya sekeranjang jeruk dari pohon-pohon di sekita
Berhari-hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan Gowndale sebelum fajar hari itu. Jalan yang mereka tempuh semakin jauh dari kota, semakin dekat ke arah yang tidak pernah dijelajahi peta mana pun.Di sepanjang perjalanan itu, pikiran Freya berkali-kali melayang jauh ke belakang.Tiga setengah tahun yang lalu, ketika perjalanan ini dimulai bersama Conan, Freya tenggelam dalam lingkaran kesengsaraan yang tak berujung. Mereka terus berpindah tanpa henti, tanpa jeda untuk sekadar bernapas.Freya membenci bau penginapan yang mereka singgahi dan kasur besi yang keras serta dingin. Setiap kali mereka mulai terbiasa dengan suatu tempat, waktu untuk pergi selalu tiba lebih cepat dari yang diharapkan.Mencari jalan keluar dari kutukan Andrew jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan. Tak ada tabib yang mampu menyembuhkan kutukan, sehingga satu-satunya pilihan adalah mencari para penyihir yang mungkin mengetahui sesuatu yang berguna. Sayangnya, semua penyihir yang mereka temui ternyata
Benda apa kiranya yang mengikat kutukan pada keluarga Dalton? Bagaimana mereka akan menghadapi penyihir paling kuat di Barat itu, dan mampukah mereka mengalahkannya?Begitu banyak pertanyaan yang berputar dalam benak Freya. Tapi untungnya, putranya segera membuyarkan lamunannya."Ibu, aku sudah selesai memilih. Aku membawa ini untuk Paman Conan, Tuan Ryan, dan yang lainnya," kata Andrew. Lalu ia mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi permen merah. "Ini rasa ceri kesukaan kita. Kita makan bersama-sama ya, Bu."Freya memeluk putranya erat tanpa berkata apa pun. Andrew, putra tersayangnya, selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu.Doria, alias ibu baptis Wilson, benar. Andrew pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik.Freya berjanji pada dirinya, setelah semua ini usai, ia akan menemukan jalan hidupnya dan Andrew agar bisa selalu bersama seperti ini.Malam itu, setelah Andrew tertidur, Freya menyelinap keluar dari kamarnya dan menuju kamar Doria, berharap bisa mendapatkan lebih bany







